Rekan2 IAGI ysh.,
  Menanggapi tulisannya Mas Eko, berikut saya forwardkan diskusi ttg lumpur 
Lapindo dari segi kajian lingkungannya untuk bahan pengetahuan kita semua.

Eko Prasetyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
    Rekan-rekan,
.... deleted .... 
Mungkin ide ini perlu dikonfron ke pihak-pihak "penyayang lingkungan"
dengan meminta data-data apa yang mendasari mereka menolak ide
membuang airnya ke laut. ......deleted ..... 
   
   
  Berikut saya forwardkan diskusi ttg lumpur lapindo dari segi lingkungannya 
untuk bahan kajian kita semua.
  Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca.
  
---------- Forwarded message ----------
Date: Tue, 22 Aug 2006 15:13:50 +0700
From: Kukuh Hadianto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Subject: Re: [Itb] Problem lumpur Lapindo: Pencemaran Lingkungan

:)

Kalo saya setuju dg mas basuki .....

Coba mas moko lihat lebih detil lagi, kandungan fenol yg dikandung 
lumpur itu yg bagaimana, radikal bebas atau jenis lain pengaruhnya beda lho 
...
(rekan-rekan dari jurusan kimia/teknik bisa menjelaskan), kemudian 
adanya kandungan merkuri ..... kesemua itu adalah hasil uji pada pertengahan 
juni.....
Jangan lupa kalau didaerah sumur tersebut adalah daerah persawahan dan
daerah industri (ada pabrik jam dan asbes), jadi bisa saja limbah² tersebut 
adalah hasil dari pabrik itu, bukan berasal dari lumpurnya
Ini belum termasuk tatacara pengambilan samplenya lho ... :)

Untuk sakit ISPA ... ya jelas aja ..... gak usah ada semburan lumpur, 
kalau sedang musim pancaroba (angin besar, banyak debu) banyak yang sakit ISPA 
.. ;-)
iritasi kulit, coba lihat di siaran TV, berapa banyak orang yang keluar
masuk --nyebur-- kelumpur (termasuk tim SAR dan ABRI), apakah mereka 
lalu sakit semua ?

Kalau bicara volume lumpur (3-5 juta meter kubik) .... bandingkan 
dengan volume tailing di freeport .....

-kukuh-


> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
> Behalf Of Moko Darjatmoko
> Sent: Tuesday, August 22, 2006 2:20 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [email protected];
> [EMAIL PROTECTED]; [email protected];
  > Subject: [Itb] Problem lumpur Lapindo: Pencemaran Lingkungan
>
> Komentar Dimas Basuki:
> | aku setuju dibuang ke laut pak Moko :-) itu lumpur adalah
> marine clay
> | (lumpur laut) dari hasil SEM (Scanning electron Microscope)
> di dapat
> | fosil foraminera dan moluska (fosil binatang laut) kadar air > 53 %
> | kala di endapkan, saring maka akan air akan bisa dialirkan ke laut
> *****
>
> Begini Bas ... setelah berjuta tahun mengendap di kerak bumi,
> bercampur dengan segala macam chemical (hydrocarbon, etc) ini
> bukan sekedar "lumpur laut" biasa yang bisa dikembalikan
> kelaut begitu saja. Apa saja "isi" lumpur Lapindo ini ...
> sayangnya sampai saat ini belum ada yang melakukan atau
> mengumumkan hasil analisa lab secara lengkap. [Sementara ini
> aku cuma bisa ambil "bit and pieces" dari yang dimuat koran
> saja.]. Tetapi jelas ratusan penduduk sekitar semburan lumpur
> ini musti masuk rumah sakit -- umumnya infeksi saluran
> pernapasan dan iritasi kulit.
>
> Dari berita koran aku catat (1) Uji lab dari sampel lumpur
> yang dilakukan oleh PU/Bina Marga Jatim menunjukkan kandungan
> fenol yang cukup tinggi. (Kompas, 19/6/06). (2) Lily
> Pudjiastuti (ITS) mendapati 9 dari10 kandungan fisika dan
> kimia (yang dijadikan parameter) telah jauh melampaui ambang
> batas limbah. Sebagai contoh kandungan merkuri (Hg) yang
> didapati 2,565 mg/liter Hg, padahal ambang batasnya 0,002
> mg/liter Hg (Koran Tempo, 16/6/06).
>
> Now, how in the hell are you going to remove the mercury from
> the water/slurry? Pertama itu butuh teknologi yang kita tidak
> punya, dan dalam sejarah belum pernah melakukannya. Kedua
> urusan logistik dan waktu (seandainya ada know-how dan duit)
> -- ini urusan volume jutaan meter kubik, bukan cuma satu tangki 
tinja.
>
> Persetujuan memang sudah diberikan oleh Menteri LH Rachmat
> Witoelar, yang berulang menekankan setelah lumpur dipisahkan
> antara material tanah dan air. [Air yang sudah diolah menjadi
> air normal yang diperbolehkan di buang ke laut. Sedangkan
> mengenai material lumpurnya yang kering tetap dipertahankan
> di darat.] Masalahnya, siapa yang bakal melakukan treatment
> ini [Lapindo? with its sloppy record], proses apa yang akan
> dipakai [sejauh ini aku cuma kolam pengendapan -- no mercury
> removal, huh?], lalu siapa yang akan memonitor proses
> pengolahan (treatment) dan kualitas air yang akan disalurkan
> kelaut itu. In short, it's not going to happen!
>
> Sendainya merkuri ini sampai masuk ke laut (Selat Madura),
> tragedi Minamata atau Buyat akan terulang lagi. Dan sekali
> masuk ke laut aku tidak bisa membayangkan lagi bagaimana cara
> meng-karantina daerah tercemar ini karena bukan saja air
> bergerak (arus, ombak) tetapi merkuri ini juga dibawa oleh
> fauna laut yang mobilitasnya luas.
>
> Seperti halnya di Minamata, yang sudah dipelajari sampai
> tuntas, begitu masuk ke dasar laut, merkuri ini dirubah oleh
> bakteri methanogenic (bakteri purba yang menghasilkan
> methane) menjadi methylmercury (MeHg) dengan menambahkan satu
> atom carbon. Bakteri dimakan jasad renik (plankton), plankton
> dimakan ikan dan komunitas benthic (dasar laut), ikan kecil
> dimakan ikan besar, yang selanjutnya dimakan ikan yang lebih
> besar lagi --satu proses yang disebut bio-magnification,
> makin besar (keatas) makin tinggi kadar MeHg nya, bisa sampai
> jutaan kali lipat-- sampai akhirnya diujung paling atas (at
> the top of food chain) manusia-manusia seperti kita ini yang
> dengan enaknya menyantap kepiting Sidoarjo, bandeng asap
> Gresik, kupang Kenjeran, kerang rebus, dsb.
>
> MeHg ini sangat beracun dan kalau dimakan 90% diserap oleh
> tubuh dan berakhir di nervous system (syaraf). Bahkan tanpa
> ditelanpun racun ini bisa meresap langsung ke kulit karena
> afinitasnya yang tinggi dengan protein dan lemak
> (lipophilic). Sepuluh tahun yang lalu, Dr. Karen Wetterhahn
> (Dartmouth U) terekspos oleh setetes MeHg yang ternyata
> karena sangat soluble menembus sarung tangan lateks. Lima
> bulan kemudian beliau mulai susah bicara, penglihatan
> menyempit dan akhirnya coma dan meninggal dunia. Analisa
> post-mortem menunjukkan kadar merkuri 80 kali lethal dose.
>
> Kembali ke urusan lumpur Lapindo, uraian diatas itu bukan
> untuk menakut-nakuti, tetapi  gambaran dari satu "worst
> scenario" yang bisa terjadi, seandainya kita mengambil
> keputusan yang keliru. Memang pilihannya susah, tanggul bisa
> jebol sewaktu-waktu, tetapi membuang kelaut menurutku adalah
> pilihan yang paling beresiko, bukan saja luas paparannya
> tetapi juga long-term effectnya. Bayangkan kalau Selat madura
> menjadi 'dead zone' -- tetapi tokh nelayan masih cari ikan
> disitu, karena tidak ada pilihan lain, dan akhirnya semuanya
> kembali ke kita juga. What comes around turn around.
>
> Kalau aku lihat foto-foto di koran, yang disebut "tanggul"
> ini memang dalam ukuran modern engineering ya boleh dibilang
> cuma "ala kadarnya." Tumpukan tanah dan/atau pasir-batu itu
> memang punya limit alamiah sekian meter (tepatnya pakai
> ukuran "slope", tetapi untuk lebar tapak yang
> tertentu/terbatas, tingginya juga terbatas). Seharusnya kita
> tidak bisa cuma mengandalkan tanggul tanah/batu saja, tetapi
> memakai turap baja, yang bukan saja menambah kekuatan
> struktur tetapi juga memberikan kekedapan air yang lebih
> baik. Lebih mahal memang, tetapi apa boleh buat, lagi pula
> ini teknologi yang sudah mapan dan tidak terlalu rumit.
>
> Sebagai manusia biasa aku bisa mengerti posisi Rachmat
> Witoelar yang aku yakin "under strong political pressure",
> tetapi sebagai civil engineer dan terutama sebagai
> environmental engineer aku tidak bisa tidak bilang bahwa
> keputusan pemberian ijin membuang (air lumpur) kelaut ini
> bukan satu kedogolan (stupidity) nasional. Apapun harus
> dilakukan untuk mencegah pencemaran "secara sengaja" ke laut.
> Musibah lumpur panas sudah terjadi, itu bisa dianggap
> "kecelakaan" (from stupidity and perhaps greed), tetapi
> tragedi pencemaran kolosal ini belum terjadi, masih bisa
> dicegah dengan keputusan dan usaha yang benar. Apapun harus
> dilakukan untuk "mengurung" lumpur ditempatnya.
>
> Mungkin kobakan lumpur Lapindo ini bisa dijadikan semacam
> monumen nasional -- sebagai memento bagi anak-cucu,
> peringatan akan akibat kebodohan dan ketamakan kita sendiri.
>
> Moko/
>
> *****
> At  8/21/06, Basuki Suhardiman wrote:
> | On Sun, 20 Aug 2006, Moko Darjatmoko wrote:
> | >
> | > Buang kelaut?
> | >
> | > Satu hal yang aku kuatirkan adalah rencana "membuang
> lumpur kelaut" ... ini bakal jadi enviromental disaster yang
> paling besar di abad ini. Please, don't even think about it.
> Logika sederhana saja deh, lha wong waktu lumpurnya masih
> terkumpul di satu tempat saja sudah kewalahan dan bingung
> bagaimana menanganinya, apalagi kalau lumpur ini sudah
> tersebar kemana-mana dilaut (Selat Madura). Ekosistim dan
> mata-pencaharian penduduk pantai akan hancur dan mungkin
> tidak akan kembali dalam beberapa puluh tahun. Solusi "buang
> lumpur kelaut" ini tidak memecahkan masalah, tetapi hanya
> memindahkan problem dari lokasi A ke lokasi B, dan
> kemungkinan sangat tinggi untuk menimbulkan masalah lain yang
> jauh lebih besar (wide-scale environmental disaster).
> | >
> |
> | aku setuju dibuang ke laut pak Moko :-) itu lumpur adalah
> marine clay 
  > | (lumpur laut) dari hasil SEM (Scanning electron Microscope)
> di dapat
> | fosil foraminera dan moluska (fosil binatang laut) kadar air > 53 %
> | kala di endapkan,saring maka akan air akan bisa dialirkan ke laut
> | endapan nya bisa dipadatkan ..
> |
> | sepertinya itu sekarang yang akan dilakukan Lapindo ..
> |
> | -bsd-
> _______________________________________________
> Itb mailing list
> [email protected]
> http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/itb
> Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca.

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.

Kirim email ke