Pak Arief,

Betul bahwa yang muncul dari bawah adalah fluida, tapi dugaan saya itu
terjadi karena efek tekanan lithostatik pada kedalaman sumber lumpur yang
memperoleh rongga pelepasan. Tekanan ini kemudian dapat diterjemahkan menjadi
perubahan momentum atau lebih sederhananya lagi perubahan kecepatan keluarnya
lumpur. Muncratnya lumpur di permukaan menunjukkan bahwa tekanan di permukaan
tidak nol, yang kemudian coba diimbangi dengan "mudstatik".

Walaupun demikian, sistem yang ada bukan sistem yang statik, tapi dinamik.
Artinya, masih ada lumpur yang datang dari bawah dengan kecepatan yang
tinggi. Ini sama saja dengan dua orang yang saling mendorong dan sama kuat,
lalu tiba-tiba salah seorang ditabrak dari belakang oleh orang lain, pasti
kesetimbangannya terganggu.

Saya justru lemparkan ide eksperimen ini karena kalau bisa dibuktikan, tentu
banyak manfaatnya.

LL

-----Original Message-----
From: Arief Budiman [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, September 01, 2006 2:16 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Pandangan dari atas.

Pak Leo,

Pak Leo,

Simulasi itu menarik untuk dicoba, akan saya coba pak di rumah pada week end
ini.

Namun ada yg perlu saya koreksi, 
Bahwa subjek yg kita bahas adalah tekanan lumpur yg berwujud fluid.

Setahu saya, 

P = rho x g x h

P = fluid pressure
Rho = fluid density
g = gravity
h = fluid column height


1) h = kedalaman titik pengukuran/perhitungan P.  h diukur dari permukaan
kolom fluida
2) h tidak diukur dari mean sea level, bila fluidanya bukan air yg
berhubungan dengan laut dan densitas rata2nya di dalam reservoir tidak sama
dengan densitas air laut

Di dalam kolom fluida, ke arah bawah dari permukaan fluida tekanan fluidanya
meningkat.
Tekanan fluida di permukaan kolom fluida tersebut sama dengan nol, relatif
terhadap tekanan sekitarnya.  Pada kondisi ini fluida berada dalam kondisi
statik.

Karena itu prinsip dasar usul saya adalah menyelimuti kolom lumpur itu agar
lumpur tidak muncul sebelum atau di bawah permukaan potensial kolomnya.

Tentang tekanan dari bawah yg dimaksud Pak Leo dg menggunakan nilai Rho
(rock) dan h (rock) adalah tekanan matriks batuan, atau kadang orang
menyebutnya dg stress batuan.  Nilai tekanan ini tidak relevan untuk analisis
yg saya kemukakan.

Baik tekanan lumpur di permukaan maupun tekanan lumpur di bawah permukaan
atau tekanan lumpur di kedalaman manapun di dalam kolom lumpur tersebut
adalah tekanan fluida.


Mohon dikoreksi bila ada yg kurang tepat.

 
 
A R I E F   B U D I M A N
Pertamina - Eksplorasi Sumatra
Phone    : (021) 350 2150 ext.1782
Mobile   : 0813 1770 4257 / (021) 70 23 73 63


-----Original Message-----
From: Leonard Lisapaly [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, August 29, 2006 12:52 PM
To: [email protected]
Cc: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)
Subject: RE: [iagi-net-l] Pandangan dari atas.


Kalau saya melihat ide peninggian tanggul ini dari sisi berlawanan. Tekanan
di permukaan akibat lumpur adalah rho(lum) ge ha(lum), dimana ha(lum) adalah
ha lumpur dan rho(lum) adalah rho lumpur. Sedang tekanan dari bawah mestinya
adalah rho(rock) ge ha(rock) dimana rho(rock) adalah rho batuan dan ha(rock)
adalah adalah ha batuan. Jika masih ada perbedaan tekanan, dimana tekanan
bawah lebih kuat dari atas, mestinya lumpur tetap keluar.

Sekedar eksperimen sebelum membangun tanggul : Buatlah sebuah bak dan di alas
bak diberikan selang yang memuncratkan air vertikal ke atas. Lalu tambahkan
air ke dalam kotak sama dengan atau sampai melebihi tinggi muncratan air.
Amatilah apakah airnya berhenti. Setelah itu, perbesar tekanan air misalnya
dengan membuka kran lebih besar, dan amati apa yang terjadi.

LL

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, August 29, 2006 12:12 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Pandangan dari atas.

Den Bagus Arif,
Meninggikan tanggul itu memang yg mudah. Dengan catatan tanggul dibuat
sesuai dengan peruntukannya. maksudku tanggul yg selama ini dibuat
adalah peninggian dari tanggul darurat dimana, dasar tanggul tidak
tertanam.
handicapnya hanyalah rembesan seperti yg saya wanti2 sebelumnya dan
terbukti dari foto2 itu. Bahwa gorong-gorong menjadi penyebab ambrol
dan jebolnya tanggul. Mekanisme rembesannya ya masih berkutet karena
rumus hidrostatik. Wah ampuh tenan rumus "rho ge ha " ini. digambarku
aku tulis H dan Rho (BJ) saja. Soale grafitasi ini relatip konstant
ditempat itu.

Kendala lainnya dengan selubung jebolnya lubang lama yg pernah muncrat
juga. Ini menandakan dibawah sono banyak rekahan2nya. Mungkin dicoba
dideteksi saja dengan metode seismic ya ... hehehehe ... ya tinggal
naruh geophone aja trus dimonitor. kan harga geophone juga ga mahal
kok. Sapa tahu bisa jadi thesisnya dosen ITS ... Terinya mestinya
seperti teori gunungapi yg memonitor bawah permukaan. Tremor2 kecil yg
terrekam aku rasa dapat dipakai sebagai acuan teoritis.

Soal cost
Kalau melihat kerusakan lokal disini mnurutku masih relatif kecil,
tetapi "colateral damage" karena terganggunya nadi transportasi ini yg
sulit diperkirakan.

rdp

On 8/29/06, Arief Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kang Vicky,
> Melanjutkan ide pembicaraan tentang pembangunan "selubung" lumpur untuk
menciptakan kondisi hidrostatik lumpur di lokasi semburan, yg memiliki
risiko kegagalan yg paling kecil adalah dengan meninggikan tanggul yg ada
sampai 2 atau 3 meter di atas semburan maksimal.  Namun yg aku tidak tahu
adalah berapa estimasi biayanya, dan akankah lapindo mau/mampu membiayainya?
Untuk itu adakah gambar dari permukaan yg menunjukkan geometri dan dimensi
tanggul yg sekarang ada? Mas soffian atau yg lain yg bekecimpung di bidang
geologi teknik mungkin punya rekan civil engineer yg dapat membuat perkiraan
tentang biayanya?  Hehehe jangan sampe saya usul sesuatu yg gak mungkin atau
naif secara ekonomi.
>
>
> Catatan :
> 1) Data yg saya ketahui semburan tertinggi = 25 ft di atas permukaan atau
36 ft di atas muka laut.
> 2) Beberapa hari yang lalu ada kabar bahwa terjadi semburan setinggi 50 m.
Menurut saya semburan 50m kemungkinan akibat tersumbatnya lubang sesaat oleh
material padat, atau ada peningkatan fraksi air yg berakibat pada penurunan
densitas fluida (lumpur) .  Untuk itu perlu kejelasan apakah ada kenampakan
bertambahnya fraksi air, adakah gas H2S terdeteksi saat semburan 50m?.  saya
yakin tekanan formasi masih relatif konstan.
> 3) Informasi via sms dari mas Soffian, area yg tergenang adalah 240 ha.
>
> Apakah usulan say tentang peninggian tanggul sampai 3m di atas tinggi
semburan maksimal :
> 1) Masuk akal secara teknis?
> 2) Tidak berlebihan dalam skala ekonomi bencana?
>
> Mohon rekan2 IAGI memberi pencerahan.
>
>
> Terima kasih & salam,
>
>
> A R I E F B U D I M A N
> Pertamina - Eksplorasi Sumatra
> Phone    : (021) 350 2150 ext.1782
> Mobile  : 0813 1770 4257 / (021) 70 23 73 63
>
>
> -----Original Message-----
> From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, August 29, 2006 7:52 AM
> To: [email protected]
> Cc: migas indonesia; HAGI-Net; [EMAIL PROTECTED];
[email protected]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[email protected]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
> Subject: [iagi-net-l] Pandangan dari atas.
>
> Gambar dan foto lengkap ada di Dongeng Geologi :
http://rovicky.wordpress.com
>
> Pandangan dari atas.
>
> Untuk memberikan gambaran dalam skala ruang (peta). Berikut saya
> lampirkan foto-foto yang diambil dari atas. Berapa luas daerah yg
> terkena dampak lumpur ini ?. Mungkin sulit bagi yg tidak sempat
> melihat. kalau sebelumnya geologi hanya melihat bawah permukaan saja,
> sekarang bagaimana seorang geologi melihat dampak di permukaannya.
>
> Pandangan dari atas (satelite view).
> Perhatikan luas area yg terpengaruh. Seberapa skala yg diakibatkan
> oleh lumpur, bayangkan dari sebuah lubang pengeboran sumur berukuran
> sekian inci itu (+/- 10 inci) mampu membuat rekahan yg akhirnya
> mengeluarkan material sebanyak itu. Seberapa besar pressure atau
> tekanan dibawah tanah. Tekanan yang mampu mendorong seluruh material
> (lumpur) ke permukaan dengan debit 50 000 m kubik sehari.
>
> Juga jangan lupa perhatikan skala jarak 500 m yang ada disebelah kiri,
> ini bisa dipakai untuk melihat skala luas dampak yg ditimbulkannya.
> Nantinya dengan pandangan skala ini bisa dibayangkan seberapa besar
> kemungkinan akan menenggelamkan sebuah kota atau sebuah desa ?
>
> Berikutnya disamping kiri ini adalah pandangan miring dari helikopter
> (helicopter view) ada juga yg menyebutnya "bird view".
>
> Sekarang kita lihat sama-sama pandangan dari helikopter secara miring
> ini. Bisa terlihat seandainya jalan itu hanya kecil membelah
> kolam-kolam lumpur. Digambar ini terlihat bagaimana jalan tol di
> tengah membelah kolam ini dan bagaimana ketika tanggul disekitar tol
> ini jebol. Ya kita dapat melihat dan memperkirakan risiko berada jalan
> tol. Foto ini diambil 29 july lalu. Terlihat bagaimana dampak jebolnya
> dinding atau tanggul yg membanjiri perumahan disebelahnya.
>
> Disamping ini gambaran yg diambil pada tanggal yang sama 29 July 2006
> dilihat dari sisi sebelahnya. Terlihat perumahan yg tersapu terendam
> banjir lumpur akibat jebolnya tanggul sehari sebelumnya.
>
> Sangat cepat penjalaran banjir lumpur ini. Hanya dalam sehari saja
> sudah menghabiskan berpuluh-puluh rumah penduduk.
>
> Masih seperti pandangan diatas memperlihatkan lokasi jebolnya tanggul
> pada tanggal 28 July 2006 lalu. Serta alirannya yang menyebar
> kemana-mana. Karena topografi daerah ini sangat landai maka penyebaran
> lumpur ini akan terkonsentrasi di lokasi semburan, dan menyebar
> kesegala arah.
>
> Gorong-gorong sering merupakan titik lemah dalam tanggul. Seperti yg
> saya gambarkan sebelumnya disini, bahwa bagian dasar dari tanggul ini
> merupakan daerah yg menerima beban tekanan tinggi kolom air yang
> terbesar. Gambar sebelah membuktikan bahwa aliran dari bawah ini yg
> harus diamati ketika ketinggian kolom lumpur sudah mencapai titik
> maksimum tanggul. Rembesan-rembesan kecil harus diawasi karena akan
> menjadikan awal jebolnya tanggul. Selain itu kondisi awal atau denah
> /peta lingkungan sebelum dibangunnya bendung atau tanggul ini perlu
> diketahui dengan baik untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya
> kebocoran dan jebolnya tanggul-tanggul yg sudah dibuat saat ini.
>
> Sisi pandangan lain dari luapan lumpur ini juga memperlihatkan desain
> pembangunan tanggul-tanggul yg sudah direncakan dengan sistem buka
> tutup untuk mengantisipasi melubernya air. Ada sedikit kendala
> tentunya. Salah satunya adalah bahwa lumpur ini terdiri dari 30%
> material padatan yg akan mengendap sehingga akan mendangkalkan
> kolam-kolam ini dengan sangat cepat.
>
> Sekali lagi saya tampilkan delta buatan yang merupakan hasil rekayasa
> yang berada di sebelah utara kota Gresik. Kali ini saya tampilkan
> delta yang ada dengan lebih detil lagi. Kita sebut saja Delta Pangkah.
> Apa saja yang dapat kita pelajari dari gambar disebelah ini ?.
>
> Warna biru muda (turquoise) menunjukkan pola penyebaran sedimen yg
> diangkut oleh aliran air laut yg melalui Selat Madura. Batuan yg
> keluar dari lubang semburan di Porong ini juga sama secara genetika
> (pembentukannya). Jadi warna biru muda (turquoise) itu adalah
> endapan-endapan halus berukuran lempung yg menyebar dan terendapkan
> didasar-dasar laut.
>
> Perhatikan skala pembanding yang ada. Dimensi dari kanal buatan yg
> konon dibuat sekitar 100 tahun yang lalu ini memiliki panjang 15 Km.
> Bandingkan dengan ukuran kolam-kolam di lumpur Sidoarjo pada gambar
> paling atas. Terlihat bahwa ukuran kolam itu tidak seberapa kalau
> dibandingkan lumpur alami yg mendangkalkan laut. Dengan demikian
> menurut saya kita tidak perlu takut dengan pendangkalan yg mungkin
> terjadi akibat memasukkan atau mengalirkan lumpur ini ke laut. Namun
> ada hal lain yg perlu difikirkan yaitu komposisi kimiawi. Menurut
> penelitian ITS sebelumnya menunjukkan bahwa tidak perlu ditakutkan
> juga karena dianggap aman untuk biota-biota laut.
>
> Selain itu bisa juga dilihat kan ? Banyak tambak-tambak ikan dan udang
> di delta yg 'baru' ini. Lah kalau memang bisa menjadi sumber ekonomi
> baru lak malah bagus tah ? Nah, kita jangan buru-buru ketakutan dengan
> perubahan. Jelas tidak mungkin tidak terjadi perubahan lingkungan.
> Usaha menghitung ulang kerugian dengan mengembalikan ekosistem seperti
> sebelumnya justru malah usaha sia-sia, namun usaha bagaimana
> beradaptasi dengan lingkungan ini yg lebih penting.
>
> Mnurutku Menteri KLH justru bertugas untuk membuat lingkungan yang
> berubah-ubah ini tetap menjadi lingkungan yang layak huni dan layak
> pakai. Biarkan saja kalau Lapindo membuang "sampah"nya ke pantai.
> Namun KLH "melawan" dengan membuat studi khusus untuk membuat
> lingkungan tempat pembuangan ini menjadi layak pakai. Dan masih
> mungkin membebankan ongkos studinya ke siapa saja yg merubah kondisi
> itu. Jadi KLH mestinya berpikir foreward (kedapan) bukan hanya
> mencegah supaya tidak berubah, tetapi lingkungan boleh merubah asalkan
> masih tetap layak huni.
>
>
> --
> http://rovicky.wordpress.com/
>
> ---------------------------------------------------------------------
> -----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
> -----  Call For Papers until 26 May 2006
> -----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> -----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
> -----  Call For Papers until 26 May 2006
> -----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


-- 
http://rovicky.wordpress.com/

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke