sejak kapan ikan air tawar bisa hidup di air asin?

tapi....ada catatan juga, kalau dibuang ke sungai porong, bagaimana
perubahan salinitasnya, ?
dari presentasinya Pak Bambang sih, debit lumpurnya kurang dari 1%
dari debit sungai porong.
Atau sengaja nunggu musim hujan supaya salinitasnya jadi lebih rendah..?


salam,

---------------
"Kami ingin tahu benarkah air dalam kolam lumpur ini layak jadi tempat
hidup ikan," kata Ali Subhan, ketua FPLP. Untuk mengukur daya tahan
hidup ikan mas, tombro, sepat, maupun bader , tim menggunakan stop
watch. "Ikan-ikan itu hanya tahan hidup 25 menit. Ikan sepat
kelenger," kata tokoh petambak itu.

-------------------------


umat, 08 Sept 2006,
Lumpur Nyaris Mustahil Disumbat

Geolog Juga Sebut Ambles 5 Cm Per Bulan
SURABAYA - Pusat semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, sekitar 150
meter sebelah barat sumur eksplorasi Banjar Panji 1 (BP 1) yang
dioperasikan Lapindo, nyaris mustahil dapat disumbat.

Ini berdasar analisis geologis yang dipaparkan ahli geologi independen
Dr Ir Andang Bachtiar. Dia kemarin menjadi narasumber dalam simposium
nasional di ITS, membahas rencana pembuangan air lumpur Lapindo ke
laut.

"Memang ini masih probabilitas. Tapi, berdasar data yang ada, besar
kemungkinan ini adalah fenomena mud volcano yang hampir tidak mungkin
dihentikan," kata mantan ketua umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia
(IAGI) tersebut.

Andang melanjutkan, berdasar analisis gradasi butiran lumpur yang
keluar ke permukaan bumi, diketahui lumpur berasal dari lapisan
lempung di kedalaman 3.580 kaki-4.241 kaki (sekitar 1.047-1.272
meter).

Lapisan lempung tidak stabil dan terbentuk sejak jutaan tahun lampau.
Lapisan ini dapat menyembur keluar dalam bentuk mud volcano bila
terjadi getaran yang cukup keras di dalam permukaan tanah. Misalnya,
gempa bumi.

"Data yang saya punya menunjukkan bahwa fenomena mud volcano ini
bahkan sudah pernah terjadi di Porong, sekitar 10 ribu-100 ribu tahun
lalu," kata doktor lulusan Prancis itu.

Namun, semburan yang terjadi pada 29 Mei itu cenderung dikaitkan
dengan pengeboran Lapindo. Andang memperkirakan, saat itu terjadi
underground blowout akibat aktivitas pengeboran di sumur eksplorasi BP
1. Akibatnya, lapisan lempung yang tidak stabil itu menyembur keluar
dari dalam permukaan bumi melalui celah-celah yang ada.

Kata Andang, itu dibuktikan oleh data seismik miliknya. "Datanya
menunjukkan, kondisi di bawah lapisan lempung itu normal. Jadi,
sumbernya jelas dari lapisan lempung itu dan tidak berhubungan dengan
sumur Banjar Panji (sumur eksplorasi BP 1, Red)," tutur dia. Karena
pusat semburannya tidak berhubungan dengan sumur eksplorasi BP 1,
mustahil semburan lumpur itu dapat disumbat, termasuk dengan relief
wells yang saat ini tengah dibangun di tiga titik untuk "mengepung"
pusat semburan.

"Tapi, boleh saja orang mencoba (relief wells, Red). Kalau berhasil,
itu bonus dan berarti teori saya salah," tandasnya. "Tapi, kemungkinan
keberhasilannya sangat kecil."

Akibat lain, areal dalam radius 2 kilometer dari pusat semburan
lumpur, secara perlahan tapi pasti, akan ambles. Bahkan, kata Andang,
sejak sekitar Juni lalu, proses tersebut sudah berlangsung.
Diperkirakan, kawasan itu sudah menurun sekitar 5 sentimeter per
bulan. "Saat ini sedang kami cek dengan GPS apakah penurunannya
konstan atau tidak. Kalau konstan, dalam setahun, kawasan itu akan
ambles sekitar 60 sentimeter atau 6 meter dalam 10 tahun mendatang,"
tandas dia.


Soal Air Lumpur

Narasumber lain, Lily Pudjiastuti dari Jurusan Teknik Kimia FTI ITS,
mengatakan bahwa tempat pembuangan air lumpur Lapindo paling aman ke
laut. Memang sejumlah parameter, yakni COD, BOD, TSS, TDS, dan fenolik
(fenol terlarut), masih melebihi ambang batas.

"Tapi, kalau sudah di-treatment, insya Allah aman dibuang ke laut,"
ujar Lily yang tergabung dalam tim terpadu ITS, KLH, Bappedal Jatim,
Dinas LH Sidoarjo, dan Lapindo.

Menurut Lily, ditemukan dari hasil pengujian tersebut menunjukkan
kadar fenolik mencapai 0,2 ppm-0,8 ppm. Ambang batasnya 1 ppm. Fenol,
kata Lily, adalah sejenis bahan kimia berupa gas yang dapat
mengakibatkan gatal-gatal di kulit dalam konsentrasi rendah atau
gangguan pada jantung dalam konsentrasi tinggi. "Yang berbahaya adalah
fenol bebas," kata dia yang mengaku belum punya alat pengukurnya.

Lily menambahkan, kesimpulan sementara itu dia peroleh setelah
melakukan uji laboratorium (secara independen) terhadap sampel yang
diambil ITS pada 31 Agustus dan 3 September lalu. Sampel-sampel
tersebut sudah melalui proses water treatment.

Pengujian itu menggunakan metode pengujian toksikologis yang disebut
Toxity Characteristic Leaching Procedure (TCLP). Untuk menguji
konsentrasi air lumpur yang aman, digunakan pengujian LC50 (Lethal
Concentration 50) atau konsentrasi bahan pencemar yang menyebabkan 50
persen hewan uji mati.

"Prosesnya, air lumpur itu diencerkan dengan konsentrasi yang
berbeda-beda sehingga ditemukan kadar yang paling mematikan. Kami
memakai hewan uji berupa udang," jelas dia. Dari berbagai tingkat
konsentrasi bahan pencemar itu, akhirnya ditemukan tingkat yang aman
dari air lumpur untuk dibuang ke laut. Lily mengatakan, tanpa
treatment, air lumpur itu memang belum memenuhi baku mutu.

Sementara itu, Forum Peduli Lingkungan Pesisir (FPLP) menguji coba
ketahanan hidup ikan dalam genangan air lumpur di pond-pond Desa
Renokenongo, Porong, Kamis (7/9). Hasilnya, mereka menyebut ikan-ikan
yang diujicobakan mati hanya dalam waktu sekitar 25 menit.

"Kami ingin tahu benarkah air dalam kolam lumpur ini layak jadi tempat
hidup ikan," kata Ali Subhan, ketua FPLP. Untuk mengukur daya tahan
hidup ikan mas, tombro, sepat, maupun bader , tim menggunakan stop
watch. "Ikan-ikan itu hanya tahan hidup 25 menit. Ikan sepat
kelenger," kata tokoh petambak itu.

Lokasi itu, kata Ali, pernah diteliti oleh Dinas Lingkungan Hidup (LH)
Sidoarjo. Hasilnya, air lumpur disebut tidak berbahaya bagi kehidupan
ikan. Namun, hasil uji coba sederhana kemarin itu berbeda. Dia
menyebut, uji coba ini disaksikan 15 orang, termasuk petambak, warga,
dan pejabat Kementerian LH. Hasil uji coba itu bakal dilaporkan ke KLH
di Jakarta untuk mengukur kelayakan air lumpur sebelum dibuang ke
laut.

Bagaimana bila air lumpur sudah di-treatment baru dibuang ke laut? Ali
menilai rencana itu sangat bagus. Namun, air setelah di-treatment itu
pun harus diuji coba dengan memasukkan ikan ke dalamnya. Jika air
setelah treatment tidak mengakibatkan ikan mati atau bisa tetap hidup,
itu berarti air lumpur yang di-treatment layak dibuang ke laut.

Sementara itu, Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) menyatakan
belum menerbitkan izin untuk membuang lumpur ke Kali Mati di Gempol,
Pasuruan.

"Untuk membuang lumpur ke Kali Mati, harus ada izin dari menteri (LH).
Sampai sekarang, kami belum menerbitkan izin untuk itu," tegas Rasio
Ridho Sani, asisten deputi menteri LH urusan limbah B3 sumber
pertambangan energi dan migas, kemarin.

Saat ini, KLH menunggu informasi lengkap tentang letak Kali Mati
tersebut. "Ini untuk menetapkan syarat-syarat teknis," tandas dia.
"Yang jelas, penempatan lumpur tidak boleh mendekati daerah banjir
agar lumpur tidak terbawa ke perairan. Kalau terbawa ke perairan, itu
membahayakan," imbuh Rasio.


DPU Siapkan Tol Layang

Departemen Pekerjaan Umum (DPU) kini sedang menyiapkan rencana
alternatif untuk menyelamatkan jalur tol Surabaya-Gempol, terutama
ruas Porong-Sidoarjo, dari rendaman lumpur Lapindo. Dua alternatif
sudah disiapkan, yakni membuat jalan layang serta membuat jalan
lingkar.

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menyatakan, dua rencana
alternatif itu masih dihitung untung-ruginya. Rencananya, pekan depan,
rencana itu dipresentasikan di sidang kabinet sebelum diputuskan
sebagai rencana cadangan bila semburan lumpur tidak bisa dihentikan.

"Kalau setelah ditinggikan 2,5 meter masih bahaya, terpaksa jalan tol
kami naikkan menjadi jalan layang. Panjangnya sekitar satu kilometer,"
jelas Djoko di Kantor Presiden kemarin.

Departemen PU memperkirakan, pembuatan jalan layang itu membutuhkan
dana sedikitnya Rp 250 miliar. Jauh-jauh hari, Lapindo Brantas telah
menyatakan sanggup menanggung biayanya. "Itu (pembuatan jalan layang,
Red) kan akibat Lapindo. Jadi, Lapindo harus bertanggung jawab," tegas
mantan Sekjen DPU tersebut.

Alternatif kedua adalah membuat jalur lingkar Sidoarjo-Porong yang
mengalihkan jalan tol dari kolam-kolam penampung lumpur di kawasan
eksplorasi Lapindo Brantas. Panjangnya sekitar dua kilometer dan
lebarnya minimal 100 meter.(sat/roznoe/tom)



On 9/8/06, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Nah kalau 'Dokter' sudah angkat tangan gantian Pak Dukun yg bekerja :)
upst !!
Jumatan duluuuu

RDP

On 9/8/06, soegiri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kamis, 07 September 2006  20:58:00
> Andang Bachtiar: Luapan Lumpur Panas Lapindo tak Bisa Dihentikan
>
>
> Surabaya-RoL-- Geolog yang mantan Ketua Umum IAGI (Ikatan Ahli Geologi
> Indonesia), Dr Ir Andang Bachtiar MSc berpendapat bahwa luapan lumpur
> panas
> Lapindo di Porong, Sidoarjo sejak 29 Mei 2006 itu, tidak bisa dihentikan.
>
>
>




--
***********************************
Amir Al Amin
Operation/ Wellsite Geologist
(62)811592902
amir13120[at]yahoo.com
amir.al.amin[at]gmail.com
************************************

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] ---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke