Kita tengok Selat Madura yook
!<http://rovicky.wordpress.com/2006/09/10/kita-tengok-selat-madura-yook/>

Gambar (sattelite image) lengkap ada di dongeng geologi (
http://rovicky.wordpress.com)

Tidak adil rasanya kalau kita berbicara soal lumpur tetapi lupa melihat apa
yang ada di Selat Madura saat ini. Kondisi Selat saat ini sangat perlu
diketahui sebagai base level nantinya kalau … sekali lagi kalau … terpaksa
membuang lumpur ke Selat Madura.

Kali ini saya coba bermain-main dengan *ANGKA ! *angka … ah geologi ini *rada
gamang* kalau berhubungan dengan angka ini.

*Dongengan* ini merupakan sebagian dari materi yang dipresentasikan di ITS
pada tanggal 6 September kemarin. Aku yakin yg hadir engga banyak kan ? *lah
iya masak semua masuk gedung, tempat duduk kaga cukup kalee* … Kalau
dimasukkan di Weblok kan duduk di kursi sendiri2 kan ?
Sebelumnya trimakasih buat Mas Amien Widodo dari ITS yang bersedia berbagi
info ini sehingga saya bisa berbagi juga dengan pembaca dan komentator
disini (*kalau di seminar kan susah dikomentari, kan ?*).

Saya hanya akan melihat dari sisi air berserta endapannya saja ya, kan
banyak sisi lain misalnya kimiawi dan kondisi biologi, tapi kalau sempat
nanti juga aku dongengin juga deh.

Dasar Laut Selat Madura

Kondisi yang perlu diketahui dari Selat Madura adalah kedalaman … lah iya
lah ya. Dimana-mana kalau mau membuat peta laut yang diperlukan ya peta
dasar lautnya. Apa yg terlihat dari peta batimetri atau peta kedalaman laut
ini ?

Ya kita bisa lihat bahwa di Selat Madura di bagian utara dekat Surabaya -
Gresik muka air lautnya sangat dangkal. Bahkan kalau proses ini berjalan
terus, maka Pulau Madura bakalan bersatu dengan Jawa (asyik dong ya, ga usah
naik feri, bisa jalan kaki). Tapi ternyata bersatunya selat ini juga akan
mempengaruhi ekosistem disini, tentusaja. Karena pentingnya selat ini
sebagai penghubung nafas laut Jawa (di utara) dengan Selat Madura di sebelah
selatan. Itulah sebabnya ada usaha mengatasi pendangkalan selat ini dengan
membuat saluran yag terlihat pada artikel sebelumnya
disini<http://rovicky.wordpress.com/2006/08/28/pandangan-dari-atas>,
di artikel itu juga dapat dilihat pada peta Ujung
Pangkah<http://hotmudflow.wordpress.com/files/2006/08/pangkah.jpg>yang
merupakan delta baru buatan manusia.

Kalau seandainya kedua pulau ini menyatu maka harus merubah buanyak sekali
peta ya, karena Selat Madura akan hilang menjadi Teluk Madura !. Dari segi
ekologi yg ditakutkan kalau terbentuk teluk maka sirkulasi terganggu dan
sangat mungkin biota serta kondisi air laut (teluk) ini krang produkstip utk
pertanian, mungkin saja kan.
Mari kita lihat, apakah bener pendangkalan ini terjadi di Selat Madura yg
sempit ini, apakah sempitnya ini karena endapan atau karena ramuan Madura ?
*Hush *!

*Sedimen-sedimen di Selat Madura*

Ada beberapa sungai yang bermuara di Selat Madura, yaitu Sungai Bengawan
Solo, dan Sungai Brantas.

Nah yang pertama ini nih, sungai Bengawan Solo yang mengalir dari Solo
mengalir *juauuh *dan dulu sering membuat banjir di daerah Kediri dan
sekitarnya. Selain Bengawan Solo ada Sungai Brantas. Sungai ini bercabang di
daerah Porong menjadi Sungai Porong (ke selatan) dan Sungai Surabaya atau
Kalimas (Sungai Mas) ke utara.

Bengawan Solo merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Pulau Jawa.
Alirannya melewati dua propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Panjangnya ada
sekitar 600 km. Satuan Wilayah Sungainya atau yang lebih dikenal dengan SWS
atau *DAS Bengawan Solo luas totalnya ada 20.125 km persegi*. Berada di 20
kabupaten/ kota. Wah kalau dirunut sungai ini mengajak untuk menghafal
kabupaten2 di Jawa <https://rovicky.wordpress.com/> … [image: :)]

Yang terpenting disini adalah luas daerah aliran sungai Bengawan Solo seluas
lebih dari 20 000 Km persegi. Bayangkan jumlah endapan yang dibawa oleh
sungai ini. Berapa juga "sampah" kota-kota yang dilewati yang "*nunut*"
mengalir dalam aliran sungai ini. Perlu juga dilihat bagaimana rona
sungai-sungai ini. Tentunya KLH atau PU memilki data detilnya kan ?

Sungai lain yang bermuara di Selat Madura yaitu Sungai Brantas. Sungai
Brantas merupakan sungai nomor dua terpanjang di Pulau Jawa setelah Sungai
Bengawan Solo . Nah yang terpenting diketahui tentang sungai ini adalah Saat
ini Sungai Porong hanya berjarak sekitar 40 km dari hulu sungainya, dan
relatif dekat dengan jalur gunungapi (Gunungapi Anjasmoro - Kelud-Kawi).
Daerah tangkapan (*catchment area*) atau *DAS dari Sungai Brantas mencapai
11.000 km2*.

Bagaimana dengan endapan yg dibawanya. Menurut MGI (Marine Geological
Institute Indonesia) atau Geologi Kelautan Indonesia yg berkantor di Bandung
ini, endapan bawaan *Sungai Brantas mencapai 1,3 kg/m3*, yang jelas lebih
kecil dari endapan bawaan *Sungai Bengawan Solo yang mencapai 2,75 kg/m3*.
Ya jelas kan wong daerah aliran sungainya atau pengumpulan tanah hasil
erosinya juga lebih luas Bengawan Solo kan hanya separonya ?
Perubahan garis pantai dari endapan Sungai Brantas mencapai 7 m/tahun, dan
Sungai Porong mencapai 9-15 m/tahun.

Bagaimana dengan debit sungai Porong ? Menurut Tempo
interaktif<http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2006/09/01/brk,20060901-83088,id.html>,
berdasarkan perhitungan Jasa Tirta, debit air di Kali Porong dalam kondisi
banjir mencapai 1.500 meter kubik per detik. Atau kalau disetarakan skalanya
dalam satu hari, hampir mencapai *130 juta meter kubik/hari*. Kalau saja
sesuai penghitungan MGI bahwa 1,3 Kg/m3, maka endapan yang dibawa Sungai
Porong hampir *170 juta Kg endapan sungai perhari*. Sebelum berlanjut coba
bandingkan dengan *50 000 meter kubik sehari* dari luapan lumpur yang isinya
70% air dan 30% endapan. Jadi kalau saja BJ lumpur itu 2 kg/m3, maka endapan
lumpur Lapindo sekitar 30 000 Kg sehari.
Sekarang kita coba lihat dan kita amati saja bagaimana endapan ini di selat
Madura. Sebelum dihitung coba kita tengok citra satelitnya. Citra satelit
ini merupakan gambaran tahun 2004. Boleh lah kita pakai sebagai peta rona
awal. Nanti kalau terpaksa ada pembuangan lumpur, kita kan bisa lihat lagi,
apakah lumpur Lapindo itu nantinya memang bener membuat pencemaran dan
merusak.

Dalam citra satelit itu sangat jelas terlihat bahwa Bengawan Solo membawa
sedimen cukup besar dan cukup banyak bahkan saya yakin dia lebih bertanggung
jawab atas pendangkalan Selat Madura. Dan Sungai Bengawan Solo lebih
bertanggung jawab terhadap sedimentasi serta proses-proses lain di Selat
madura secara umum, namun jangan diabaikan pengaruh sungai Brantas
(Porong-KaliMas).

Nah kita lihat dulu ada apa di muara Sungai Porong ini ? Tambak !

Ya, lihat peta disamping dan *klik untuk memperbesar gambarnya*. Kalau di
Utara Gresik di Muara Sungai Bengawan Solo jelas perubahan arah dan aliran
buatan ini *malah *justru membuat tambak-tambak baru yg produktip artinya
ada dampak positip dengan endapan-endapan baru dari Delta Sungai Bengawan
Solo. Data dari MGI menunjukkan bahwa *delta Porong ini maju sekitar 9-15
meter pertahun !*

Sekarang silahkan dipikirkan sendiri-sendiri saja. Kalau Sungai Porong
digelontori tambahan endapan yang sekitar 170 Kg sehari akan terpengaruh
sangat besar ?

+Apakah volume lumpur yang 50 000 m3/hari (70 % air, 30 % lempung) atau
sekitar *30 ribu Kg* sehari ini akan berpengaruh di Selat Madura yg
digelontori *170 juta Kg* sehari ?
* **- Ya iya jelas ada pengaruhnya, lah mas Vick !** *
+ Ya, aku juga yakin pasti ada pengaruhnya, tapi sebesar apa ?
*- Bukan masalah besar-kecilnya tapi pasti kan ada pengaruh !*
+ OK lah, tapi jangan marah dulu donk ! *pengaruhnya itu positip apa negatip
? …*

Lah, itu aku juga ngga tahu ! Setahuku perubahan itu akan selalu saja ada.
Saya tidak ngajak taruhan, looh. Tetapi kalau sepakat bahwa yg terjadi
adalah sebuah bencana banjir lumpur, apa kita masih menunggu penelitian
lagi? Sayangnya debit lumpur yg keluar ini *sakenake dewe*, lumpur terus
menyembur tanpa nunggu SK Presiden maupun Menteri *je*.

Nah nanti kira-kira sepuluh atau duapuluh tahun lagi kita tinjau ulang
seperti apa rona-nya.

*Kalau ternyata ngga ngefek gimana ? *

Ya berarti kita hanya ketakutan atau paranoid seperti yg dibilang Pak
Koesoma<http://rovicky.wordpress.com/2006/09/02/klh-harus-menkaji-ulang-pengertian-pencemaran-lingkungan/>,
kita sama halnya dengan ketakutanya orang-orang wektu dulu ketika Columbus
naik kapal menyeberang Samodra. Wektu itu banyak yg ketakutan dan
nyumpah-nyumpahin Columbus supaya kecemplung laut (wong udah dilaut je),
tapi ternyata ga ada apa-apa malah Columbus jadi terkenal … *hihihi *sapa
tahu diantara kita termasuk *"paranoid/phobia"<https://rovicky.wordpress.com/>
*yg menganggap dunia datar *(flat earth). *

Referensi :

  - Dr Ir Subandono Diposaptono MEng, *DAMPAK PEMBUANGAN AIR UMPUR
  LAPINDO KE LAUT TERHADAP LINGKUNGAN PESISIR DAN LAUT*, Seminar di ITS
  7 September 2006.
  - Web site MGI (Marine Geological
Institute)<http://www.mgi.esdm.go.id/en/index2.php?page=artikel&id_artikel=17>
  - Website DPU (Dinas Pekerjaan Umum)
  <http://www.pu.go.id/Ditjen_SDA/ditjen_desa/warta/Nov%20Des/bengawansolo.htm>
  - Tempo interaktif
  
<http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2006/09/01/brk,20060901-83088,id.html>

This entry was posted on Sunday, Septem

--
http://rovicky.wordpress.com/

Kirim email ke