Lah iya, wong jepang yang negaranya jadi juragan gempa ya bisa saja
membangun reaktor nuklir utk energi PLTN-nya kok. Bahkan belum ada
satu kasus kerusakan reaktor akibat gempa.


Bagaimana dengan limbah nuklirnya ?
Betul sekali mereka (pengguna nuklir saat ini) kebingungan membuang
limbah nuklir. Tetapi jarang yang juga mengamati dan menyadari bahwa
hanya mereka jugalah yg "sempat" merasakan manisnya energi nuklir
selama ini, bahkan hingga kini. Sedangkan yg belum memanfaatkan akan
terperangah dengan limbahnya "tanpa pernah" merasakan manisnya nuklir.
Dan justru lebih takut akan limbah ini.

Kita di Indonesia mungkin termasuk yang lebih memikirkan limbahnya,
mereka "sudah" merasakan manisnya lebih dulu. Kita hanya diberi ilmu
limbahnya, kita saat ini diberi ilmu serta 'concern' tentang sulitnya
membuang limbah.

Hal yang sama dengan minyak bumi. Kita saat ini dibungkus dengan
kesulitan 'Carbon Emission', Amrik jelas ngga mau ikutan dengan Kyoto
protocol karena mereka sedang emrasakan manisnya energi minyak bumi.

<joke on>
Di Indonesia energi yg dihabiskan untuk mendiskusikan energi nuklir
lebih banyak dari memanfaatkan sumber energi besar ini ...loyo sebelum
berkembang :(
<Joke off>


rdp

On 10/15/06, heri ferius <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Gempa Aceh 8,9 skala richter ternyata ngak apa-apa tuh, buat Arun Project
dipantai utara Sumatra yang dirancang mampu bertahan pada gempa 10 skala
richter. Mungkin bisa kita analogikan di Watu Jepara.

Sewaktu gempa Nias 8,2 juga terasa secara fisik di Riau, air bak malah
tumpah karena bergoncang, kabel listrik berayun-ayun, bahkan Rig drilling 3
joint pun seperti pohon kelapa ditiup angin.

Serem mana PLTN ya dengan zat pewarna, formalin, pemanis dll dsb.
Kecelakaan pesawat mungkin satu dalam seribu, tapi kecelakaan di jalan
 raya setiap jam ???.

Sewaktu kita bepergian mungkin 99% keselamatan kita serahkan pada alat /
operator, dan mungkin hanya sekitar1 % tawakaltu kita didalamnya. Dan
terahkir sudah tentu yang paling memengang peran.

HF

----- Original Message -----
From: "Ismail Zaini" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Friday, October 13, 2006 10:39 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Re: [IndoEnergy] Harga Diri yang Belum Mati


> Lokasi yang sudah dipilih untuk PLTN ( termasuk pertimbangan segi
> Geologinya ) di daerah Ujung Watu Jepara dan di Madura. Media kemarin
> memberitakan kalau Gorontalo juga akan berencana membangun PLTN, Dari
> adanya beberapa Gempa yang melanda Gorontalo beberapa waktu lalu , apakah
> hal ini Tidak membahayakan kalau mau dibangun PLTN , Kira kira dari segi
> Geologi ketiga daerah tsb , mana yang paling aman ya . Adanya Gempa Jogya
> dulu juga sempat dirasakan didaerah Kudus/Jepara , nah apakah Hasil Kajian
> tentang kegempaan untuk PLTN di Jepara perlu dilakukan evaluasi lagi dg
> adanya Gempa Jogya kemarin.( kayaknya dulu belum mempertimbangkan akan
> adanya Gempa jogya yang besar tsb ) atau mungkin juga perlu
> dipertimbangkan adanaya Lumpur Panas ( siapa tahu Jedul juga disini kan
> jaraknya relatif dekat dari Kuwu Porwodadi )
> Memang Problem Energi ini kelihatannya akan selalu menghantui ( Hari ini
> listrik di Jakarta dibeberapa tempat padam gara gara cuma Tanker BBM telat
> masuk ) Ternyata beberapa PLTU jg semula didesain dg Gas ternyta karena
> Gas nya tidak ada akhirnya kembali lagi ke BBM ( dual feul), Kok sulit
> amat ya mengurangi ketergantungan dg Minyak (BBM). Padahal Kebijakan
> Energi sudah mulai dibuat sejak tahun 80 an dg yang disebut KUBE sampai
> sekarang dengan KEN nya , tapi kok yo Tidak Bijak -Bijak
>
> ISM
> Subject: [iagi-net-l] Re: [IndoEnergy] Harga Diri yang Belum Mati

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
-----  60 papers will be orally presented in 15 sessions for 2 days
-----  To Authors: Full paper or Extended Abstract should be submitted
----- by 6 October 2006 to: ----- [EMAIL PROTECTED] AND [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke