BOCAH MISTERIUS Oleh Yusuf Mansur

"Hey kamu....ayo sini," sapa Luqman dengan halus kepada seorang bocah yang 
dengan sengaja menganggu anak kecil lain yang sedang Berpuasa. "Siapa namamu? 
Dari mana asal kamu?" tanya Luqman sambil memegang lengan bocah itu. Sebenarnya 
Luqman gemas, tapi ia tahan kegemasan itu. 

Meski ditanya dengan sopan, bocah itu malah balik mendelik ke arah Luqman dan 
tertawa menyeringai! Tawa bocah itu membuat Luqman segera melepaskan 
pegangannya seketika. Luqman merasa bocah ini bukanlah anak sembarangan. 
Sungguh pun penampilannya kayak bocah biasa. Kaos plus celana pendek. Agak 
lusuh tapi bersih. 

Luqman melihat mata bocah itu. Mata itu bukanlah mata anak manusia pada 
umumnya. Ditambah lagi, sebelumnya Luqman tidak pernah melihat bocah itu 
dikampungnya, kampung Ketapang,Tangerang. Luqman sudah bertanya kesana kemari, 
adakah tetangga atau orang dikampungnya yang mengenali siapa bocah itu dan 
siapa keluarganya. Semua orang yang ditanya Luqman menggelengkan kepala, tanda 
tak tahu. 

************ *******

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia 
mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda 
anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang 
kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu 
menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi 
daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, 
lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es 
tersebut. Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung 
melihatnya bukan pada bulan puasa! 
Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak 
orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja 
menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga 
hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya. 
Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu. Mereka 
tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan 
bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. 
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan 
sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan 
memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan 
melarangnya. 

************ ********* **

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, 
belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. 
Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin 
dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! 

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan 
menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan 
ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu 
tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan 
matanya akan keluar Luqman. 

"Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia 
kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia 
akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah 
beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya 
bocah itu. 

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan 
Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan 
membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya 
dari orang-orang yang melihatnya. 

" Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging 
ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, 
seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih 
lekat menatap tajam pada Luqman. 
"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan 
halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya 
ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu.." 

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. 
Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih 
tajam lagi. 
"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih 
sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan 
kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar 
bulan puasa? 

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan 
menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?

Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang 
menangis? 

Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, 
sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian 
menjemput ajal..?!

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk 
menahan lapar dan haus? 
Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali 
pada kerakusan kalian..!?"

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk 
menyela.
Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan 
terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. 
"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa 
meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa 
kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja. 

Dan ketahuilah juga, juatru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang 
menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian 
sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?

Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang 
luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya 
denga istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? 

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada 
bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.

Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas 
bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya 
lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti 
kami...! 

Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?
Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?

Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan 
tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? 
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada 
penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat. Tahukah Tuan akan adanya 
azab Tuhan yang akan menimpa?

Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan..., jangan 
merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, 
jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak..."

************ ********* *

Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat 
meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. 
Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!
Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.

Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja 
meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. 
Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu 
sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya 
kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, 
tapi ia tidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia 
tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, 
orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat 
bocah itu keluar dari rumah Luqman! 
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!

Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil 
sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk 
akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul 
adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran 
yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat. 
Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang 
tidak memiliki penghidupan yang layak. 

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang 
berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali 
menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan 
mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. Marilah berpikir tentang dampak 
sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, 
sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. 

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar 
biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. 
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, 
ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus 
menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, 
kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga 
bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. 

Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah 
lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan 
tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak 
itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah. 

************ ********

Luqman teringat kisah salah satu legenda tentang kampung yang tenggelam dan 
berubah menjadi danau. Ia lupa persisnya. Saat itu, ada nenek tua renta yang 
mengetuk hampir seluruh pintu penduduk kampung, yang saat itu sedang makmur 
hidupnya. Nenek itu meminta dengan mengiba, agar ada kiranya setetes air yang 
bisa melewati tenggorokannya yang kering. Tapi semua tak peduli bahkan menutup 
hidungnya, tak sudi mencium bau nenek yang menyengat. Tak satupun penduduk yang 
sudi menawarkan bejana berisi air untuk diteguk sang nenek. 

Nenek itu akhirnya putus asa dan marah. Ia lalu pergi ke alun-alun dan 
menancapkan tongkatnya ditengah-tengahnya. Semua orang tak memperhatikan 
kemarahan sang nenek kecuali hanya terbengong sesaat ketika sang nenek kemudian 
menghilang. 
Dan semua awalnya tak mempedulikan, hingga pada suatu hari, berbulan-bulan 
setelah sang nenek menancapkan tongkatnya dan menghilang, mereka dilanda 
kekeringan dan kemarau yang berkepanjangan. Sawah mengering, panen pun jadi 
gagal. Ternak mereka kurus dan mati kelaparan. Tiada lagi anak-anak yang kuat 
dan berlari kesana kemari. Semuanya lesu, semuanya tidak punya energi. 

Saat itulah, tetua kampung mengingatkan akan kejadian beberapa bulan yang lalu, 
kejadian mengenai sang nenek yang tidak dipedulikan penduduk kampung. Seketika 
mereka jadi ingat akan tongkat tersebut. Mereka menduga, tongkat sang nenek 
itulah yang menyebabkan timbulnya kekeringan air. Maka diperintahlah orang yang 
terkuat untuk mencabut tongkat tersebut. Tapi satu inci pun tidak terangkat. 
Mulailah rasa sesal datang. 

"Kalau tahu begini, dulu aku suguhi dia sapiku yang terbaik," kata seorang 
penduduk. "Iya,kalau tahu bakal begini, dulu aku tidak meludahi dia," sahut 
yang lainnya. Sesal kemudian sering tiada berguna. 

Tiba-tiba sang nenek datang dengan tersenyum. Dengan entengnya ia cabut tongkat 
itu, dan seketika keluarlah air dari bekas lubang tongkat itu. Penduduk 
menyambutnya dengan suka cita. Meledak tawa di seluruh penjuru kampung. Sayang, 
sorak-sorai penduduk kampung itu tidak bertahan lama. Air yang keluar tersebut 
makin lama makin bertambah besar dan makin besar saja, hingga menenggelamkan 
separuh desa. 

Ajal mendekat. Sebagian yang tersisa bersujud di hadapan Sang Khaliq, agar sudi 
kiranya menahan keluarnya air yang teramat dahsyat itu. Mereka tidak lagi 
mempedulikan harta bendanya yang terlanjur hanyut dibawa air. Mereka memohon 
diberi kesempatan hidup untuk memperbaiki diri. Air memang berhenti keluar, 
tapi kampung sudah menjadi danau. 

Sayang Luqman lupa akan nama danau dan kampung pada legenda itu. Ia percaya, 
tidak akan ada legenda bila tidak ada kenyataan yang mendahului. Perihal besar 
dan kecilnya legenda, itu hanya bumbunya. 

Terbukti, kini Luqman mengalami sendiri kejadian yang begitu aneh. Pertemuan 
dengan bocah misterius itu bagaikan sebuah legenda. 
Luqman tidak mau penduduk negerinya terus menerus tidak menginjak bumi dan 
tidak mengindahkan aturan-aturan Allah. Sehingga ketika sadar, kesadaran itu 
telah terlambat seperti kesadarannya penduduk yang separuh desanya menjadi 
danau tersebut. 

Luqman berniat, akan terus menggunakan lisannya untuk bersuara dan tangannya 
untuk menulis "agar seribu tahun" lagi kita masih mendengar tawanya anak bangsa 
dalam keadaan ceria.... Ah, bocah kecil, dimana kau berada...? 

************ ********

Di setiap tetesan nikmat yang kita rasakan, ada baiknya kita mengingat bahwa 
ada orang lain yang juga berhak untuk merasakannya.
__._,_.___ 

Sena Reksalegora <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Dalam artikel aslinya tidak begitu 
jelas arti dari
penurunan produksi. Apakah turun dari prediksi
penurunan ? ataukah turun tetapi masih diatas prediksi
penurunan ?. Hubungan antara kenaikan cost recovery
dengan kedua kasus diatas tentunya harus dilihat
secara berbeda dan perlu dianalisa lebih jauh. 

Supaya jelas dulu permasalahannya, sehingga tidak
langsung jump to conclusion...


-Sena


--- heri ferius wrote:

> Alangkah bijak bila mau mengkoreksi diri sendiri.
> 
> Katakanlah suatu perusahaan minyak dengan membawa
> presentasi full color
> dengan kecap nomor satu nya, apa BP Migas tetap
> mangut-mangut, walaupun
> tingkat uncertainty tinggi. Ideal nya BP Migas itu
> si mbah-e para G&G dan
> PE, para G&G perminyakan kudu pekerja yang idealis
> dengan QUALITY, salah
> siapa bila hasil jeblok, apa G&G dan PE atau sengaja
> dibikin oleh
> perusahaan dengan memasukan risiko dalam cost
> recovery.
> 
> Malah pekerja minyak (maaf ) yang perlu diaudit,
> terutama Nasionalisme, atau
> hanya sekedar mempertahankan kedudukan dan tidak
> bisa disangkal
> lagi idealnya memang BP Migas kudu si MBAH-E para
> G&G dan PE.
> 
> Berikut guyon G&G exploration yang pernah saya
> dengar tentang pemboran suatu
> prospek. Berikut bunyinya : Belum lahir aku, sudah
> tahu aku disana tidak
> minyak, masih aja di bor, kenyataannya apa .....
> zonk.
> 
> Salam
> HF
> Pemerhati
> 
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: "Oki Satriawan"
> 
> To: 
> Sent: Monday, November 06, 2006 1:31 PM
> Subject: RE: [iagi-net-l] Pengelolaan Minyak
> Nasional Tidak Efisien
> 
> 
> > Memang BP Migas perlu diaudit....saya setuju, tapi
> kenaikkan cost
> > recovery tidak bisa dianggap kesemuanya karena
> ketidakefisienan pada
> > pengolaha MIGAS. Perlu diketahui semakin hari
> mencari minyak dan gas
> > bumi juga semakin sulit dan mahal (potensi semakin
> hari semakin
> > berkurang), pun pula didukung oleh biaya yang
> harus ditanggung pengelola
> > migas juga bertambah...seperti harga sewa
> peralatan, harga tanah, upah
> > pekerja, bahan baku dll...so kenaikan biaya
> produksi seharusnya (belum
> > tentu) menaikkan produksi minyak
> > nasional
> >
> > salam
> > OQ
> >
> >
> 
> 
> __________________________________________________
> Apakah Anda Yahoo!?
> Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki
> perlindungan terbaik terhadap spam 
> http://id.mail.yahoo.com 
> 
>
---------------------------------------------------------------------
> ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November
> 2006
> ----- detail information in
> http://pekanbaru2006.iagi.or.id
>
---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1:
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2:
> http://groups.yahoo.com/group/iagi
>
---------------------------------------------------------------------
> 
> 





____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.
http://new.mail.yahoo.com

---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------



 
---------------------------------
Sponsored Link

For just $24.99/mo., Vonage offers unlimited local and long- distance calling. 
Sign up now.

Kirim email ke