Saya kutip dari tulisan Sdr. Sunu Widjanarko : Intisarinya : Gunung Kidul
Kaya Banget Air !!
HARTA TERPENDAM DI GUNUNG KIDUL
SATU PER SATU DIKETEMUKAN
---------------------------------------
Sunu Widjanarko
Kabar ini tentu mengejutkan banyak pihak. Termasuk Pemerintah Daerah sendiri
yang belum pernah merasa adanya laporan tentang ditemukannya harta terpendam
tersebut. Harta tersebut sebenarnya ditemukan oleh warga masyarakat sendiri
dengan dibantu pihak-pihak dari luar wilayah, Kabupaten Gunung Kidul, bahkan
juga orang-orang dari luar negeri.
Bahkan sebenarnya harta tersebut sudah dimanfaatkan dengan sebesar-besarnya
untuk masyarakat. Tidak lain adalah "emas putih", yang berupa aliran sungai
bawah tanah (s.b.t), yang mengalir di gua-gua di Kabupaten Gunung Kidul.
Jumlah aliran tersebut tidak terbayangkan sebelumnya, paling tidak sampai
tahun 1982, dengan datangnya ahli hidrogeologi dan speleologi dari Inggris
atas undangan Departemen Pekerjaan Umum saat itu. Harta terpendam lainnya
adalah berupa keindahan ornamen gua, fosfat, dan mineral kalsit. Dan yang
saat ini banyak diincar adalah sarang burung walet.
"Emas Putih"
Bagi masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Gunung Kidul, memang layak
jika ketersediaan air dianggap sebagai harta yang nilainya sangat besar
dibandingkan emas sekalipun. Karena harta ini tidak akan bisa habis, jika
dikelola dengan baik dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang merusak
siklusnya. Bahkan warga masyarakat sendiri lebih menyukai jika jaringan
distribusi air dapat berkembang masuk ke sampai pedesaan yang terpencil dari
pada jaringan listrik.
Bisa dibayangkan jika air yang dulu hanya bisa diambil dengan menggunakan
tangga-tangga bambu dan tali plastik dengan menentang maut menyusuri
gua-gua, terkadang harus menghirup gas beracun dan oksigen tipis. Sekarang
dapat dinikmati hanya dengan membuka keran dari saluran-saluran perumahan.
Suatu temuan harta terpendam dan karunia dari Tuhan yang tak terkirakan.
Sebenarnya, seberapa banyak harta terpendam yang sebenarnya dimiliki oleh
warga Gunung Kidul ? Dari air tanah yang ada di sistem Gua Bribin-Baron
saja, adalah: 5.684 liter per detik. Jika saja 1 liter per detik cukup untuk
mencukupi kebutuhan 1000 orang per hari, maka dari sistem Bribin-Baron saja
cukup untuk lima juta jiwa! (Bambang Soenarto, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Sumber Daya Air, Bandung). Suatu angka yang fantastis
bagi masyarakat yang mendiami kawasan yang selama ini dikenal sebagai
kawasan yang kering kerontang.
Sistem Bribin-Baron ini tidak sendirian. Masih ada lagi gua-gua lain yang
dialiri sungai bawah tanah cukup besar, bertebaran di kawasan Gunung Sewu
yang berada dalam wilayah Kebupaten Gunung Kidul.
Misalnya gua Jomblang di desa Karangasem, Kecamatan Ponjong. Yang
termanfaatkan baru sedikit sekali, sekitar dua liter per detik. Yaitu di
lorong bagian atas saja, dan hanya kurang dari 25 meter di bawah permukaan
tanah. Padahal jauh di bawah sana, di kedalaman sekitar 130 meter, terdapat
aliran yang jumlah debitnya puluhan kali lipat. Dan dari penelitian, bahwa
akhirnya aliran di gua ini juga melewati gua Bribin. Gua Ngobaran di desa
Kanigara, Kecamatan Saptosari, mensuplai 68.700 jiwa dengan memanfaatkan 70
lt/detik saja, itupun memang tidak semuanya dimanfaatkan.
Dan yang akhir-akhir ini cukup besar diusahakan, adalah sungai bawah tanah
yang mengalir di Gua Seropan, Desa Gombang. Direncanakan dari gua ini dapat
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 230.000 jiwa,
sekalipun sekarang baru memenuhi sekitar 68.000 jiwa.
Belum lagi gua-gua berikutnya yang ditemukan oleh berbagai kelompok pencinta
alam dan kelompok speleologi di Yogyakarta. Disamping itu sudah banyak
yang dilakukan oleh Proyek Pengembangan Air Baku (dahulu Proyek Pengembangan
Air Tanah) untuk mengatasi kekeringan dengan pemanfaat aliran air bawah
tanah tersebut. Dengan melaksanakan pembangunan pengangkatan air tanah dan
mendisitribusikan ke tempat-tempat yang strategis. Disamping itu juga
beberapa kali juga melakukan kegiatan survai sungai bawah tanah dengan
beberapa MAPALA di Yogyakarta.
Diyakini masih banyak sistem-sistem sungai besar yang lain, yang berterbaran
di wilayah Gunung Kidul. Terbukti masih banyak temuan-temuan sungai bawah
tanah oleh para penelusur gua yang tergabung dalam berbagai kelompok
pencinta alam.
Lantas, dimana hulu sungai-sungai bawah tanah itu? Sebenarnya sulit
menentukan suatu titik awal dari sebuah aliran sungai bawah tanah yang
dianggap sebagai hulu (pethit). Namun mungkin lebih tepat bahwa harus
diperhitungkan apa yang disebut dengan daerah pengaliran sungai (dps). Dari
hasil penelitian, dps sungai bawah tanah yang mengalir di Gua Bribin adalah
dimulai dari sekitar Kecamatan Ponjong bagian utara, memanjang ke arah
Selatan. Sedangkan untuk sungai bawah tanah di Gua Seropan, belum
diketemukan. Namun dilihat dari ilmu speleologi, dugaan kuat adalah juga
dari sekitar Kecamatan Ponjong. Sedangkan untuk s.b.t di Gua Ngobaran,
dugaan sementara adalah daerah-daerah disebelah utara dan barat laut.
Daerah sekitar Ponjong, sangat besar pengaruhnya terhadap sistem tata air di
kawasan karst Gunung kidul ini. Banyak mata air dan munculan sungai bawah
tanah yang muncul di kawasan ini, seperti misalnya Sumber Beton, sumber
Gedaren, sumber Ponjong, Gua Nggremeng, di daerah tinggian sekitar Sawahan.
Kemudian menjadi sungai permukaan dan mengalir di sepanjang bagian bagian
utara ke arah barat, akhirnya bermuara di Sungai Oya. Sepanjang
pengalirannya banyak dimanfaatkan untuk irigasi dan aktifitas manusia yang
lainnya. Sungai Oya sendiri juga mempengaruhi daerah yang cukup luas, karena
panjangnya aliran, bahkan sampai ke Kabupaten Bantul bagian Timur dan
Selatan. Bisa dibayangkan betapa luas daerah yang dipengaruhi oleh Kecamatan
Ponjong ini. Sedangkan aliran air yang melewati bawah tanah, mengalir kearah
selatan, dan sebagian melewati Gua Bribin, Gua Seropan, Gua Grubug, dan
masih banyak gua lagi.
Hasil penelitian hidrogeologi mulai tahun 1982, telah menunjukkan bahwa
sebagian sungai bawah tanah mengalir ke arah selatan dan bermuara di
Samudera Indonesia, baik yang muncul sebagai gua-gua, misalkan Gua Bekah,
ataupun muncul dibawah permukaan air laut, misalnya di Pantai Baron dan
Pantai Ngrenean.
Keindahan Gua
Perjalanan air saat melewati celah dan lapisan batugamping, sambil
melarutkan batu gamping yang terdiri dari senyawa penyusun utama kalsium
karbonat (CaCO3), sehingga air menjadi mengandung kalsium karbonat. Air
celah ini yang kemudian muncul menetes dari atap-atap gua, dan meninggalkan
partikel kalsium karbonat tersebut di atap, dan proses ini berlangsung terus
menerus dan tumbuh menjadi apa yang disebut stalactite. Karena perbedaan
kadar kalsium karbonat dan bentuk rekahan, antara satu kawasan dengan
kawasan lain, menyebabkan stalactite tersebut bisa berbeda-beda bentuk.
Sebagian tetesan air tersebut menetes sampai ke lantai, kemudian menguap
sambil meninggalkan senyawa kalsium karbonat tadi. Dan tinggalan kalsium
karbonat tersebut tumbuh makin tinggi dan disebut stalagmite. Jika suatu
saat, stalactite dan stalagmite tersebut bertemu akan menjadi bentuk tiang
dari lantai sampai atap yang disebut pilar atau column. Ornamen-ornamen yang
terjadi akibat tetesan air ini disebut batu tetes atau drip stone.
Jika air celah dan air perlapisan tersebut muncul dari dinding-dinding gua,
dan meninggalkan kalsium karbonat tersebut menjadi berbagai ornamen gua yang
sangat unik dan indah. Seperti misalnya bentuk seperti payung (disebut
canopy), gordyn, karena memang teksturnya berlengkok-lengkok seperti gorden
yang sedang menggantung. Kelompok ornamen jenis gua ini disebut batu alir
(flow stone).
Keindahan dalam gua inilah yang menarik perhatian orang untuk mencoba
mengunjunginya, dan menjadi salah satu harta terpendam Kabupaten Gunung
Kidul. Hal ini menjadi suatu obyek wisata minat khusus yang potensial.
Fosfat Guano
Sementara itu, harta yang lainnya yang bernilai adalah fosfat guano yang
terdapat di lantai gua. Fosfat guano ini terdiri dari senyawa P2O5 yang
banyak membawa manfaat bagi kehidupan manusia. Pupuk yang menggunakan fosfat
sebagai salah satu senyawa penyusunnya terbukti sangat baik. Selain itu
sosfat dapat sebagai bahan bubuk mesiu.
Fosfat guano ini terjadi dari endapan kotoran (tahi) kelelelawar. Endapan
ini bertumpuk dan tertimbun dalam jangka waktu yang relatif lama. Bukan
kotoran kelelawar yang fresh (masih baru). Sedangkan jenis kelelawar yang
dapat menghasilkan fosfat guano yang baik mutunya, adalah jenis kelelawar
pemakan serangga misalnya species hipposideras diadema.
Laboratorium Penelitian
Gua dapat diambil manfaatnya sebagai sebuah laboratorium. Bayangkan saja,
untuk menemukan jenis tanaman apa yang cocok untuk kawasan karst, WANAGAMA
butuh bertahun-tahun untuk melakukan penelitian. Karena memang sekarang
tidak diketahui jenis tanaman endemis yang dahulu pernah ada di kawasan
karst Gunung Kidul ini. Sedangkan di Serawak dan semenanjung Malaysia, para
ahli kehutanan cukup dengan melakukan penelitian palinologi sedimen gua atau
sedimen di dasar-dasar luweng. Akan dapat lebih mudah dan singkat melacak
jejak sejarah jenis tumbuhan dari endapan yang ada di lantai-lantai gua,
karena endapat tersebut sebagian besar hasil pengendapan erosi dari
permukaan tanah yang kemungkinan besar juga membawa unsur-unsur kehidupan
masa lalu.
Dan lagi, ada laporan bahwa di beberapa lokasi di Gunung Kidul ditemukan
peninggalan jaman prasejarah. Salah satunya adalah di Gua Braholo (Kecamatan
Karangmojo) melengkapi temuan-temuan yang ada di Gelaran, Sokoliman,
Bleberan, Munggur, Gondang, Gunungbang, Kajar, dan Wonobudo. Dan ini
melengkapi pula dugaan para ahli bahwa untuk daerah yang lebih luas lagi,
yaitu kawasan karst Gunung Sewu atau bagian selatan Pulau Jawa, gua-gua di
kawasan ini telah menjadi hunian manusia sejak 10.000 tahun yang lalu.
Terbukti ditemukan juga peninggalan di gua-gua di Pacitan, Ponorogo,
Tulungagung, dan Jember. Dan ternyata kerangka manusia atau peninggalan
tersebut bukanlah nenek moyang masyarakat Jawa sekarang ini. Karena
diperkirakan adalah ras Mongolia dan Austromelanised yang sekarang sudah
punah.
Temuan-temuan kerangka binatang jenis Tapirus dan Rhinoceros, di pinggiran
utara oleh von Koeningswald pada tahun 1935 yang berumur Plestosin Tengah,
menunjukkan bahwa Gunung Sewu pada saat itu merupakan kawasan basah yang
berhutan lebat. Dan tidak heran, bahwa jenis tumbuhah yang besar pun masih
banyak ditemukan di dasar-dasar luweng besar, seperti misalnya di Luweng
Jomblang, Desa Pacarrejo, Semanu. Di beberapa gua, para penelusur gua masih
sering menemukan kerangka binatang, tinggal menunggu para ahli paleontologi
untuk mengungkap jenis dan menentukan umurnya.
Bentang alam karst yang ada di bagian selatan, mencirikan bentuk yang khas
tipe karst tropikal dan langka. Tipe ini sangat spesifik dan memiliki nilai
estetik geomorfologi yang sangat tinggi sehingga para ahli menjulukinya tipe
karst Gunung Sewu. Tidak heran, jika para ahli geologi, geomorfologi, dan
speleologi, mengunjungi daerah ini dan melakukan penelitian-penelitian yang
terkait. Karena kekhasan dan uniknya, maka banyak lembaga yang mengusulkan
bahwa kawasan ini untuk ditetapkan kawasan konservasi bahkan sampai dengan
status World Heritage (Warisan Dunia), seperti juga Gua Mammoth di Kentucky,
Amerika Serikat.
Beberapa penelitian biospeleologi yang telah dilakukan oleh kalangan
akademisi, telah membuktikan peran yang sangat besar dari gua-gua ini
sebagai hunian jenis fauna yang berperan besar dalam menjaga keseimbangan
ekosistem di luar gua. Sehingga manusia yang mendiami kawasan ini pun secara
tidak langsung memperoleh manfaat yang sangat besar. Sekalipun seringkali
mereka tidak mengetahuinya.
Penyangga Ekosistem
Salah satu fungsi gua-gua adalah sebagai penyangga ekosistem. Sebenarnya
ekosistem dipermukaan banyak dikendalikan oleh keberadaan gua-gua. Dari
salah satu saja biota yang hidup di gua, kelelawar misalnya, sudah
menunjukkan seberapa besar fungsi gua sebagai penyangga ekosistem.
Kelelawar adalah jenis binatang yang yang hidup di zona peralihan
(trogloxene habitual). Dan dia melakukan aktifitas mencari makanan diluar
gua. Ada jenis kelelawar yang dalam kehidupanya sehari-hari potensial
sebagai penyerbuk bunga tumbuhan tertentu, hingga memberikan andil dalam
pelestarian hutan dan buah-buahan, jenis kelelawar ini mempunyai nama Latin
eonicteris spelaea. Kelelawar jenis lain adalah pemakan serangga, yang
beberapa diantaranya adalah pemakan larva hama wereng.
Penyakit Potensial di Kawasan Karst
Masalah berbagai penyakit yang tidak terdata di lembaga-lembaga studi
penyakit, dan itu mungkin terjadi di kawasan karst Gunung Kidul. Harap
diwaspadai kemungkinan banyaknya penderita penyakit batu ginjal. Hal ini
bisa diakibatkan oleh mengkonsumsi air-air dari gua yang banyak mengandung
zar kapur. Penyakit lain yang mungkin dapat timbul adalah histoplasmosis
paru-paru. Penyakit ini disebabkan terhirupnya spora histoplasmosis
capsulatum dari udara yang tumbuh di guano kelelawar atau walet.
Penyakit lain yang mungkin dapat timbul adalah weil (leptospirosis) akibat
terkontaminasinya sumber air oleh air kencing binatang pengerat penghuni
gua-gua dan mengandung baksil leptospira.
Selama ini elum ada penelitian yang menghubungkan antara tingginya angka
bunuh diri di beberapa wilayah kabuaten gunung kidul dengan mikroelemen di
kawasan itu yang memegang peranan penting dalam patogenesis penyakit maupun
kelainan sosial. Hal yang positif yang perlu diteliti adalah; sebab musabab
tingginya angka harapan hidup di Kabupaten Gunung Kidul, juga rendahnya
angka penderita anemia.
Memang lebih tepat jika diistilahkan harta temuan. Karena memang
ketersediaanya bukan merupakan hasil usaha kita sendiri sebelumnya. Tinggal
menemukan dan menggali saja.
Harta yang terpendam itu, satu-persatu sudah termanfaatkan. Kebijaksanaan,
yang mungkin dapat dimiliki semua orang, adalah merupakan landasan cara
pemanfaatan karunia tersebut. Kehidupan jangka pendek atau jangka panjang,
adalah ditentukan oleh keputusan yang hidup saat ini. Akankah anak cucu kita
akan kita beri peninggalan ataukah tidak, juga tergantung kepada kita
sendiri.
ยท Penulis adalah Sekretaris Yayasan Acintyacunyata, Yogyakarta
----- Original Message -----
From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Friday, November 10, 2006 10:46 AM
Subject: [iagi-net-l] Fwd: [Dongeng Geologi] Comment: "Airtanah? Apa dan
Bagaimana Mencarinya?"
Ada yg bisa bantu soal mencari air tanah di gunung kidul ?
---------- Forwarded message ----------
New comment on your post #386 "Airtanah? Apa dan Bagaimana Mencarinya?"
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Asal kalimat:
Saya mempunyia kakek yang tinggal di daerah kering gunung kidul,
terkenal sebagai daerah yang sering mengalami kessulitan air bersih
terutama dimmusim kemarau. saat ini dari warga terdapat wacana untuk
mencoba teknologi sumur artesis.
Yang ingin saya tanyakan adalah :
1. Adakah kriteria kondisi tanah tertentu dalam mecari sumur artesis?
Karena saya pernah membaca tidak semua pengeboran sumur artesi
berhasil menemukannya.
2. Apakah teknologi pengeboran sumur sama dengan pengeboran air tanah
biasa?
3. Kira-kira berapa biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan 1 sumur
artesis?
wassalam
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------