Lombok North di samping concern terhadap deep-water, juga banyak sumur
gagal di wilayah ini atau di sekitar wilayah ini. Benar Pak Bambang,
kelihatannya hanya source dan/atau timing of generation-migration vs
trapping yang berisiko di trend Baluran ini. Contoh sumur gagal terbaru
adalah Agung-1 (Santos 2005) yang dibor di North Bali-1. Reefnya bagus
sekali dan besar serta kualitas reservoir bagus. Walau diapit dua
kitchen (Baluran Deep di utara dan sebuah deep lain di selatan Agung
reef) tak ada tanda-tanda minyak ditemukan. Kelihatannya, depresi yang
akan menjadi kitchen ada, apa daya source-quality sediments tak pernah
diendapkan di situ.

Paper Bransden & Matthews (1992) mungkin yang menunjukkan relict
pre-Tertiary sediments itu di wilayah Kangean, yang kalau digabung
dengan papernya Pak Kustomo Hasan (1991) di wilayah Sulawesi Selatan
bisa menuju rekonstruksi endapan pra-Tersier di wilayah
Kangean-Paternoster ini. Hanya, berdasarkan analisis geokimia minyak,
saya tak melihat kontribusi endapan source rocks pre-Tersier yang
signifikan ke minyak2 di wilayah ini. 

Akan halnya minyak di JS 53 A atau L46 yang sama2 ditemukan di Ngimbang
(karbonat dan klastik) sama saja secara geokimia dikontribusi oleh
middle Eocene Ngimbang SR (Phillipi et al. 1991).

Saya sekali waktu (1993) pernah mempelajari Zagros Thrust Belt di utara
Irak-Iran untuk mencari aplikasi model thin-skinned tectonics ke Barito
Basin (dipublikasi di Proceedings PIT IAGI 1993). Waktu itu, analognya
adalah sbb. Meratus = Zagros, Arabian Plate = Schwaner micro-plate,
Eurasian Plate = Paternoster micro-plate. Karena saya pikir setting
tektoniknya adalah benturan dan suture, maka Zagros dijadikan model. 

Di Zagros kita bisa bagi provinces of structures-nya ke imbricated zone
(yang didominasi basement-ilvolved/thick-skinned tectonics) dan ke
simply folded belt yang thin-skinned tectonics. Lapangan2 minyak
banyaknya ada di simply folded belt. Di Barito Basin pun seperti itu,
hanya semua lapangan di Barito adanya di wilayah thick-skinned
tectonics. Di wilayah lebih ke baratnya (yang mungkin thin-skinned
tectonics, sudah terlalu stabil, dan jauh dari kitchen active di Barito
Foredeep. Semuda pun termasuk di wilayah thick-skinned tectonics,
mencoba mencari perangkap di horst-block yang diapit dua graben - apa
daya tak ada minyak signifikan lari ke situ. Sementara sumur Miyawa-1
(trend) dan Miyawa-2 (Trident) benar2 di imbricated zone lereng Meratus
dengan trap yang hancur.

Ya Zagros mestinya sebuah suture zone antara Arabian Plate dan Eurasian
Plate collision yang berbenturan terutama mulai pada Miosen Akhir.
Sebagian besar merupakan ofiolit sisa Tethys, yang tak terjepit masih
terbuka di Teluk Persia.

Semua giant-supergiant fields di sebelah barat Zagros juga merupakan
asymmetrically thrusted anticlinal folds yang dibentuk oleh kompresi
Miosen. Jadi semua lapangan di Irak dan Iran itu adalah terdapat di
foreland basin relatif terhadap collision Zagros. Saya membayangkannya
juga analognya bisa terjadi di foreland basin banyak collision zones di
Indonesia seperti di East Sulawesi atau selatan Papua Central Ranges.

Radiolarian shales di Zagros mungkin hanya variasi kecil dan tak dominan
sebab SR yang dominan di Zagros Fold Belt terutama adalah karbonat dan
silisiklastik sejak dari Cambrian supra-Hormuz Fm, Silurian Gahkum
siliclastics dan Jurassic Sargelu Fm carbonates, juga Lower Cretaceous
Garau dan Kazhduni Formation shales dan carbonates, dan Late Cretaceous
Gurpi organic-rich shales yang TOC-nya mencapai 6.9 % (Versfelt Jr.,
2001).

Kalau radiolarian chert ya wajar di tempat dalam sebab lumpur/selut
radiolaria (radiolarioan ooze) biasa terjadi di kedalaman 13.000 -
25.000 ft - sudah mencapai kedalaman palung.

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Bambang Murti [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, November 13, 2006 1:09 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Source Rock & Petroleum System

Setuju pak Awang.
Mungkin model ini yang musti dikejar lebih lanjut keberadaannya. Kalau
North Lombok, hmmm, area segede itu koq sumurnya minim banget yah,
apakah karena deep water-nya atau concern mengenai petroleum systemnya.
Atau, he..he, mau minta kredit investasi tapi ndak berani bilang ke pak
Awang... :)

Rasanya saya dulu pernah lihat paper yang membicarakan adanya
pre-Tertiary (? relict) depositional system yang berada dibawah Tertiary
deposit di daerah tersebut. Kalau dibandingkan dengan model Iran-Irak
dan seram tersebut, dan itu bisa dibuktikan, wuih, bisa seru tuh disana.
Jadi, ini bisa in addition to RMKS tail system. Coba saja trend Baluran
- ST-Alpha - Paternoster...etc, kayaknya seal, trap dan reservoir bukan
merupakan concern, tetapi mungkin timing dan kitchen-nya yang belum
terdefinisikan.
Barangkali pak Awang juga bisa share ttg petroleum system di JS-53?
Sepertinya itu anomaly ya? Berbeda banget dengan model Pagerungan (yang
published di IPA lho) di selatannya.

Kalau East Natuna, rasanya Gabus & older system "terbenam" dalam-dalam,
sulit juga untuk melihat di seismic. Ndak tahu kalau disebelah utaranya.

Balik ke model Iran-Irak tadi, hamper semua field-field yang dijumpai
terletak di sebelah Barat-nya Zagros thrust belt. Ini ofiolit belt kah?
Kapan ya emplacement-nya ? Lha mengingat SR-nya di radiolarian
marl-shales, hmmm, ini kalau disini kan asosiasinya dengan
endapan-endapan palung. Kalau "disana", dibilang "basinal associated",
ini yang saya belum bisa menebak. Maklum,publikasi yg saya punya
minimum. Kalau model ini bisa berlaku umum, mungkin kita bisa menjumpai
system yang sejenis, katakanlah, disebelah barat Meratus (ada beberapa
sumur yang menunjukkan HC show-nya, Semuda, etc, cuma sih, denger-denger
dr Tom Darin, kayaknya SR-nya masih dari Tanjung eqv juga). 

Kalau kita melihat asosiasi ofiolit belt yang disini, yang dijumpai
justru radiolarian chert, seperti di Karangsambung dan Soroako. Bukan
radiolarian shale. Ndak tahu apakah ini karena carbonate compensation
depth-nya ("CCD") yang sudah jauh dilewati atau mungkin traveling
distance-nya menjadi jauh sekali. Tetapi, kalau ada radiolarian shale di
shallow marine, dimana CCD-nya masih belum terlewati, unik juga ya.
Atau, jangan-jangan yang di "sono" merupakan kondisi yang khusus.
Jangan-jangan, itu merupakan indikasi HC yang berasal dari non-organic
origin.

Hmmm, memang "terra incognito" deh...

Bambang


-----Original Message-----
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, November 13, 2006 9:11 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Source Rock & Petroleum System

Pak Bambang,

Deep lacustrine SR yang diendapkan di poros syn-rift memang sudah
jaminan mutu dan volumetrik buat generasi minyak yang bagus dan dalam
jumlah besar, tetapi itu bukan satu-satunya.

Di Indonesia Timur, cukup banyak marine SR yang dibentuk di luar sistem
synrift tetapi juga tak kalah volumetriknya. Minyak2 di Salawati dan
Sulawesi Timur berasal dari marine marlstone SR yang mengandung kerogen
tipe II/III dan diendapkan di kondisi sub-oxic, ekivalen dengan Klasafet
Formation (Late Miocene). SR ini telah mengisi semua minyak di lapangan2
besar seperti Walio dan Kasim.

Atau, kita tengok lapangan minyak di Seram (Bula, East Nief, Oseil), uji
geokimia pada minyaknya menunjukkan bahwa SR minyak2 ini adalah
Triassic-Jurassic marine carbonate SR yang mengandung kerogen tipe II
dan diendapkan di lingkungan anoxic (anoxic tak mesti di dalam synrift,
bisa saja ia hanya terhalang barrier di suatui laguna). Bukti umur
Mesozoik dinyatakan oleh tak hadirnya oleanane, pristine/phytnane
rendah, dan C26 24-nordiacholestane.

Di Timor pun ada beberapa rembesan yang menunjukkan bahwa SR-nya adalah
terrigeneous-influenced marine carbonate SR yang diendapkan di
lingkungan lebih oxic dan mengandung tipe kerogen II/III.

Kujung III shales mestinya bukan marine, tetapi ia lebih terrestrial
sebab kelompok batuan ini diendapkan sesaat setelah mid-Oligocene
unconformity (Rupelian to Chattian stages) yang besar (walaupun
singkat)mengangkat banyak tempat di dunia, termasuk Jawa Timur. Baru
masuk ke Kujung II apalagi Kujung I semuanya marine transgressive
sequences.

Deep-water Lombok North (Bali Basin) mungkin saja punya marine SR,
tetapi kelihatannya ia lebih punya debris2 SR klastik dari paparan
utaranya (timur Kangean) yang dierosi saat lowstand, hanya apakah
paparan sempat tersingkap saat lowstand itu jadi pertanyaan sendiri
sebab model deltaic shales/coals seperti di Kutei Basin yang diendapkan
ulang di deep-water Makassar Strait kelihatannya tak bisa diaplikasikan
di Lombok North. Harapannya ada ekor RMKS
(Rembang-Madura-Kangean-Sakala) zone yang masih terangkat di timur
Kangean yang kemudian bisa jadi provenance SR ke Lombok North.

East Natuna, karbonat Terumbu yang hanya jadi reservoirnya, dan mungkin
bertanggung-jawab buat tingginya CO2 di East Natuna (natuna D-Alpha/L
structure) kalau ada reservoir karbonat yang masuk ke overmature window
di depocenter East Natuna. Tetapi kelihatannya gas-nya tetap dari SR
terrestrial di synrift pre-Gabus.

Maka, sejauh ini, saya pikir, contoh marine SR (karbonat dan
asosiasinya) di Indonesia hanya ditampilkan di Indonesia Timur.

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Bambang Murti [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, November 06, 2006 10:46 AM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Source Rock & Petroleum System

Wah, gara-gara ngeliat sidang-nya saddam, aku koq jadi melenceng melihat
petroleum system lapangan-lapangan di sebelah barat Zagros folding
system, yang memanjang mulai dari Iran di sebelah selatan, trus ke utara
hingga ke Kirkuk - Mossul, Ain Zalah, dst. 

Yang menarik, source rock-nya disebutkan berasal dari Lower-Middle
Cretaceous BASINAL RADIOLARIAN MARLS/SHALES. 

Wuihh, ini menarik, karena selama ini  aku senantiasa "berpatokan" kalau
kitchen yang efektif  "musti" berasal dari lacustrine deposit, pada
syn-rift section. Yah, ada juga anomaly di Kutei yang bilang
intraformational fluvio deltaic coal di Balikpapan, tetapi ini karena
sedimennya tebel banget. Di case Ain Zalah-Butmah (sekitar 1 MMMBO lho,
sekelas-nya Banyu Urip tuh), reservoirnya ndak aneh, Middle Cretaceous
Neritic Limestone, fractured, sealnya Upper Cretacesous- Tertiary
Globigerina marls. Jadi, semua system tersebut berasal dari marine.

Kira-kira ada kesebandingannya di Indonesia ndak ya? Kali di Indonesia
bagian Timur ? Deep water Lombok North? East Natuna? Barangkali Kujung
shale (ini juga marine ya?) bisa juga menjadi source rock? Tapi aneh
juga, kondisi preservasi-nya mungkin harus unik.

BSM

----------------------------------------------------------------------
This e-mail, including any attached files, may contain confidential and
privileged information for the sole use of the intended recipient.  Any
review, use, distribution, or disclosure by others is strictly
prohibited.  If you are not the intended recipient (or authorized to
receive information for the intended recipient), please contact the
sender by reply e-mail and delete all copies of this message.

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke