Setahu saya Kyoto Protocol memang dimaksudkan untuk mengurangi emisi gas
rumah kaca seperti CO2 di negara-2 Industri. Disini Kyoto Protocol juga
diatur tentang jual beli emisi dengan negara yang mempunyai emisi dibawah
kuota. Kalo nggak salah Indonesia sudah mendukung protokol ini sejak 2004,
jadi bisa mendapatkan insentif. Sayangnya Amerika sebagai salah satu sebuah
negara pembuang emisi terbesar tidak bersedia mendukung protokol ini.cmiiw.

According to a press release from the United Nations Environment
Programme<http://en.wikipedia.org/wiki/United_Nations_Environment_Programme>
:
"*The Kyoto Protocol is an agreement under which industrialised countries
will reduce their collective emissions of greenhouse
gases<http://en.wikipedia.org/wiki/Greenhouse_gas>by
5.2% compared to the year 1990 (but note that, compared to the emissions
levels that would be expected by 2010 without the Protocol, this target
represents a 29% cut). The goal is to lower overall emissions of six
greenhouse gases - carbon dioxide<http://en.wikipedia.org/wiki/Carbon_dioxide>,
methane <http://en.wikipedia.org/wiki/Methane>, nitrous
oxide<http://en.wikipedia.org/wiki/Nitrous_oxide>,
sulfur hexafluoride
<http://en.wikipedia.org/wiki/Sulfur_hexafluoride>,
HFCs<http://en.wikipedia.org/wiki/Hydrofluorocarbon>,
and PFCs <http://en.wikipedia.org/wiki/Perfluorocarbon> - calculated as an
average over the five-year period of 2008-12. National targets range from 8%
reductions for the European Union and some others to 7% for the US, 6% for
Japan, 0% for Russia, and permitted increases of 8% for Australia and 10%
for Iceland.*" salam,
Fauzi


2006/11/17, Snow White <[EMAIL PROTECTED]>:

Dear Pak Awang,

Sangat menarik membaca uraian Pak Awang tentang "Impact from the Deep".
Mengutip alinea terakhir tentang kadar CO2 yang cukup tinggi saat ini,
kenaikan pertahunnya dan hubungannya dengan mekanisme pemusnahan kehidupan,
apakah ada tindakan lebih lanjut untuk mengurangi kadar CO2 di atmosfere
terutama yang datangnya dari gas fields dimana kandungan CO2nya cukup
significant, apakah ada tindak lanjut mekanisme penyimpanan CO2 (CO2
sequestration) akan dilakukan setidaknya dipikirkan pemerintah di masa yang
akan datang, at least membantu mengurangi effect dari CO2, salah satunya
global warming?

Terima Kasih.

Salam,
Putri

----- Original Message ----
From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, November 17, 2006 9:06:03 AM
Subject: [iagi-net-l] "Impact from the Deep" : Pandangan Baru Kepunahan
Massal dalam Sejarah Bumi


"Deep Impact" kita tahu adalah judul sebuah film terkenal yang
menceritakan bagaimana sebuah komet/asteroid bisa memunahkan kehidupan di
Bumi. Tetapi, "Impact from the Deep" adalah judul sebuah teori baru yang
pada intinya menyatakan bahwa kepunahan masal justru datang dari Bumi
sendiri.

Kepunahan massal (mass extinction) selalu menarik untuk dikaji. Telah
cukup banyak buku dan artikel ilmiah ditulis untuk menampung argumen-argumen
yang ada. Simposium khusus pun telah beberapa kali diadakan, terutama
setelah teori Alvarez dikemukakan pada tahun 1980. Walter dan Luis Alvarez,
pasangan anak-bapak (anaknya ahli geologi, bapaknya ahli fisika)
mengemukakan teori bahwa dinosaurus punah pada Kapur Akhir 65 Ma (million
years ago) akibat Bumi dihantam sebuah komet (deep impact). Teori ini
kemudian terbukti benar karena banyak bukti fisik di lapangan ditemukan
akibat benturan itu : a.l. (1) lapisan iridium ditemukan di mana-mana di
seluruh dunia pada lapisan berumur 65 Ma (di Indonesia belum ada yang
menelitinya), (2) impact debris, termasuk semua batuan dengan ciri
petrografi pressure-shocked tersebar di seputar globe (3) kawah benturan
(impact crater) berumur 65 Ma ditemukan terkubur di Semenanjung Yucatan
Mexico yang disebut Kawah Chicxulub. Unsur Iridium langka
ditemukan di Bumi, tetapi berlimpah di extra-terrestrial bodies seperti
meteor, komet, dan asteroid. Berdasarkan lebar kawah Chicxulub, ditaksir
komet/asteroid pemusnah kaum dinosaurus itu berdiameter 10 km.

Karena kepunahan di K-T (Kapur-Tersier) boundary itu terbukti benar oleh
extra-terrestrial impact, maka setiap periode kepunahan di Bumi selalu
dihubungkan dengan hantaman komet/asteroid. David Raup, paleontologist
penulis buku "Extinctions : Bad Genes or Bad Luck ? " (terbit awal 1990an)
menyatakan begitu, memang impacts selalu disalahkan sebagai penyebab major
extinctions, penyebab lain mungkin ada, tetapi tak dominant. Apakah benar
begitu ?

Paling tidak, di dalam 500 juta tahun terakhir ini bisa kita catat telah
terjadi lima kali kepunahan massal yang besar : (1) pada 443 Ma (ujung
Ordovisium), (2) pada 374 Ma (ujung Devon), (3) pada 251 Ma (ujung Perem),
(4) pada 201 Ma (ujung Trias),dan (5) pada 65 Ma (ujung Kapur).  Kepunahan
pada 251 Ma (ujung Perem atau ujung Paleozoikum) adalah kepunahan terbesar
yang menghapus 90 % penghuni lautan dan 70 % penghuni daratan bahkan sampai
sekecil serangga pun. Kepunahan ujung Perem adalah "great dying" atau "the
mother of mass extinctions" tulis Douglas Erwin di majalah Scientific
American edisi Juli 1996. Apakah kepunahan Permian ini juga akibat asteroid
impact ? Peter Ward, profesor biology-earth and space sciences dari
University of Washington melaporkan penemuan baru tentang kepunahan masal
terbesar di ujung Permian ini (Scientific American, Oktober 2006, p. 42-49).

Lima tahun lalu, sekelompok ahli geologi dan ahli kimia organik mulai
mempelajari kondisi-kondisi lingkungan pada masa-masa kritis dalam sejarah
Bumi. Pekerjaan mereka meliputi mengekstraksi residu zat kimia dari
lapisan-lapisan berumur tertentu berusaha mencari fosil molekuler kimiawi
yang dikenal sebagai biomarker yang ditinggalkan organisme yang telah punah.
Karena kuatnya, suatu biomarker masih terawetkan di sedimen2 meskipun jazad
organismenya telah lenyap meluruh. Analisis biomarker telah biasa dilakukan
di petroleum geochemistry.

Biomarker ini merupakan  kunci ke pengetahuan kondisi seperti apa yang
terjadi di Bumi pada saat kehidupan suatu organisme  berlangsung. Sampling
dan penelitian telah dilakukan pada periode-periode kepunahan masal. Dan
para ilmuwan tersebut mendapatkan kejutan bahwa data dari periode2 mass
extinction selain pada periode K-T boundary, selalu menunjukkan kondisi
lingkungan yang menunjukkan bahwa lautan2 purba telah beberapa kali berada
pada kondisi kandungan oksigen yang sangat rendah (anoxia). Bersamaan dengan
kondisi ini ditemukan biomarker dalam jumlah besar berupa green sulfur
bacteria yang bisa melakukan fotosintesis. Pada zaman sekarang, bakteri
sejenis itu ditemukan berupa green-purple sulfur bacteria di tempat2 dalam
laut stagnant seperti Laut Hitam yang mengoksidasi H2S sebagai sumber
energinya dan mengubahnya menjadi belerang. Gas H2S adalah gas beracun bagi
banyak makhluk hidup. Kelimpahan bakteri ini pada periode2 kepunahan massal
yang seperiode dengan turunnya
kandungan oksigen secara ekstrim telah membuka wawasan baru tentang
penyebab kepunahan masal.

Para ilmuwan telah tahu bahwa pada setiap periode kepunahan masal level
oksigen selalu lebih rendah daripada biasanya. Juga, mereka tahu bahwa
banyak volkanisme terjadi pada setiap periode kepunahan masal – volkanisme
adalah teori tandingan asteroid impact bagi kepunahan masal. Volkanisme bisa
meningkatkan CO2 di atmosfer, mengurangi kadar oksigen, dan menyebabkan
global warming.  Tetapi, volkanisme dan berlimpahnya CO2 di atmosfer tak
langsung menjelaskan punahnya banyak hewan laut pada ujung Permian juga
punahnya tanaman darat, justru tanaman darat akan berlimpah dengan banyaknya
CO2. Lalu, apa hubungan antara kelimpahan sulfur bacteria, depleted oxygen,
volkanisme yang meningkat, global warming dan kepunahan masal ? Adakah
kaitan satu dengan yang lainnya, bagaimana ?

Kuncinya ternyata ada di biomarker. Biomarker dari oceanic sediments
berumur ujung Permian dan juga dari batuan Trias akhir menghasilkan bukti
kimia tentang adanya suatu kelimpahan yang luar biasa bakteri pengkonsumsi
H2S di lautan-lautan Permian dan ujung Trias. Karena mikroba ini hanya dapat
hidup di lingkungan yang bebas oksigen (an-aerob) tetapi tetap membutuhkan
cahaya Matahari untuk melakukan fotosintesis, keberadaan bakteri ini di
suatu lapisan batuan Permian mengindikasikan bahwa lingkungan laut pada saat
itu adalah juga suatu marker yang menunjukkan laut tanpa oksigen tetapi kaya
H2S.

Di lautan-lautan sekarang, keterdapatan oksigen dan H2S terjadi dalam
keadaan setimbang. H2S terdapat di tempat2 dalam di wilayah yang stagnan. Di
kawasan H2S yang beracun ini hidup organisme pencinta H2S tetapi pembenci
oksigen. Hal yang unik, karena sirkulasi air, oksigen berdifusi ke bawah,
sedangkan H2S berdifusi ke atas, akhirnya lapisan oksigen dan lapisan H2S
bertemu di tengah di suatu level yang disebut "chemocline" yang bisa
setimbang, tetapi bisa juga terganggu.Gangguan atas batas chemocline ini
bisa berakibat dahsyat dan inilah yang terjadi di ujung Permian yang
menyebabkan kepunahan masal yang paling besar dalam episode sejarah Bumi.

Perhitungan oleh dua ahli geologi dari Pennsylvania State University : Lee
Kump dan Mike Arthur menunjukkan apabila level oksigen drop di lautan,
kondisinya akan sangat menguntungkan bakteri an-aerob dari tempat dalam,
yang akan menghasilkan sejumlah besar gas H2S. Dalam perhitungannya, bila
konsentrasi H2S lautdalam ini melampaui batas kritis selama periode oceanic
anoxia (laut miskin oksigen), maka lapisan chemocline akan mengerucut ke
atas (seperti gejala water coning) dan akhirnya semburan gas H2S beracun
dari tempat dalam akan masuk ke atmosfer.

Studi Kump dan Arthur menujukkan bahwa pada penghujung Permian telah
terjadi toxic H2S gas upwelling yang telah menyebabkan kepunahan di daratan
dan lautan. Kemudian, model yang dibangun oleh Pavlov dari University of
Arizona menunjukkan bahwa semburan H2S Permian ini telah merobek lapisan
ozon Bumi pada Permian sehingga radiasi ultraviolet (UV) yang mematikan
menerobos masuk membunuh setiap makhluk hidup di daratan dan lautan. Bukti
terhadap model ini datang dari fosil spora berumur ujung Permian di
Greenland, yang menunjukkan deformitas (perubahan bentuk) akibat exposure
terhadap high level of UV.

Kump dan Arthur menghitung bahwa jumlah gas H2S yang memasuki atmosfer di
ujung Permian itu 2000 kali lebih banyak daripada yang dierupsikan oleh
semua gunungapi2 sekarang. Efek mematikan H2S meningkat seiring naiknya
temperatur, bila pada saat yang sama terjadi greenhouse effect dan global
warming, maka permusnahan akan semakin efektif ! Urutan model pemusnahan
dengan cara ini adalah sebagai berikut : (1) kegiatan volkanik yang
meningkat melepaskan CO2 dan metan ke atmosfer, (2) rapid global warming,
(3) laut yang menghangat akan mengurangi daya serap oksigen dari atmosfer ke
laut, (4) terjadi kekurangan oksigen – anoxia di lautan, (5) keadaan anoxia
akan mengganggu kesetimbangan chemocline – chemocline yang semula datar
menjadi mengerucut dengan kolom dissolved oxygen berkurang sedangkan
dissolved H2S meningkat, terjadi H2S upwellling, (6) green & purple sulfur
bacteria berlimpah sementara mahkluk lautan yang bernafas dengan oksigen
musnah akibat hilangnya oksigen dan
naiknya gas H2S yang beracun, (7) gas H2S yang menyembur membunuh makhluk
daratan, (8) gas H2S naik terus ke atmosfer dan akhirnya merobek perisai
ozon, (9) radiasi UV menerobos via celah di perisai ozon membunuh kehidupan
di Bumi yang masih tersisa, (10) kepunahan masal.

Mekanisme pemusnahan kehidupan seperti di Permian dan Triassic telah
terjadi, apakah kelak bisa terjadi lagi ? Kepunahan hebat pada ujung Permian
terjadi pada saat kadar CO2 di atmosfer telah mencapai sekitar 3000 ppm,
kadar CO2 di atmosfer kita sekarang berada pada 385 ppm. Apakah kita tidak
perlu takut ? Tunggu dulu, kepunahan pada ujung Triassic terjadi pada saat
CO2 di level 1000 ppm, dan CO2 kita sekarang meningkat 2-3 ppm setiap tahun.
Bila dihitung secara linier peningkatan itu akan kita temukan bahwa pada
tahun 2200 nanti kadar CO2 di atmosfer kita bisa mendekati 900 ppm –suatu
kondisi yang sangat bisa mendorong keadaan stress anoxia di lautan dan
rentetan efek2 mematikan berikutnya seperti ditulis di atas.

The past is the key to the future. Bumi menyediakan catatan hariannya,
semoga kita bisa arif membacanya buat kepentingan kehidupan masa mendatang.

Salam,
awang


---------------------------------
Sponsored Link

Mortgage rates near 39yr lows. $510,000 Mortgage for $1,698/mo -
Calculate new house payment



---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


Kirim email ke