Kalau boleh saya urun rembuk, menurut pengamatan saya, cukup banyak
geoscientist yang berpendapat seperti sdr kabul bahwa  pada akhirnya bencana
ini harus diterima sebagai fenomena alam yang terlanjur diusik dan manusia
tidak bisa mengontrolnya, dengan technologi yang ada sekarang dan dengan
biaya yang wajar. Masalahnya sampai pada batas mana manusia c/o Lapindo dan
pemerintah harus angkat tangan dan mulai menjadikan worst case option
sebagai jalan yang harus di ambil, yang seperti sdr Kabul sebutkan yaitu
memperkirakan daerah yang akan terkena dampak dari bencana ini secara
geologi, merelokasi semua sarana dan memulai hidup dengan berdampingan
dengan efek dari LUSI. Menentukan titik batas ini yang sulit, karena
berbagai kepentingan berbenturan disini, baik ekonomi, politik, bisnis dsb
dsb. Tanpa harus menjadi naif, Mungkin sudah dilakukan suatu pertemuan
khusus untuk mengevaluasinya dari berbagai sisi, menarik batas batas dan
segera membuat suatu perencanaan yang jelas dan terbuka, menganggap masalah
ini suatu yang sulit diterima oleh masyarakat awam adalah suatu sikap yang
sudah tidak sesuai dalam era keterbukaan informasi seperti sekarang ini.
Kalau mau menunggu, sampai kapan kita (/o warga sidoarjo)harus menunggu dan
LAPINDO harus berusaha, sementara banyak dari kita di kalangan geoscientist
yang beranggapan bahwa LUSI tidak bisa diprediksi kapan akan berhenti....
Harus ada suatu batas dimana pemerintah harus menyatakan secara resmi bahwa
ini adalah bencana nasional dan harus ditangani dengan kadar yang sama
dengan Tsunami di Aceh dan gempa di Bantul.

Harry RW

-----Original Message-----
From: Kabul Ahmad [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, November 28, 2006 5:31 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Banjar Panji : what if...?? No Choice.....

Saya orang yang tidak percaya atau paling tidak ,pesimistis bahwa relief
well akan berhasil mengatasi masalah si LUSI ini.-- Mohon maaf kepada pak
Rudy Rubiandini ).Secara geomechanic dan terjadi nya subsidence yang sudah
sangat parah juga kondisi dimana aliran mud flow ke atas adalah thermal
drive mechanism...panas geothermal vulkanik yang mendorong steam ( uap panas
) di bawah sana yang diperkirakan > 400 deg.C ( jelas bukan air lagi, tapi
panas bumi ). Saya pribadi kurang yakin dengan teori tektonik yang
menggerakkan "mudvulkano" ini...tapi benar-benar panasbumi yang menggodok
air formasi menjadi uap panas yang menerobos melalui lobang bor panjang yang
tak diselubung dan disemen itu dan membawa serta lapisan formasi lempung/F. 
Kalibeng itu. Kalau disebut sebagai gejala shale diapir, mengapa suhu
dipermukaan berupa uap panas hingga > 215 deg.F atau 100 deg C?? persis
sumur-sumur di Kamojang sana ? Dan mengapa tak berhenti ? Bila diapir
tentunya setelah tekanannya release, maka akan berhenti. Lalu berapa suhu
dibawah sana > 9000 kaki ? Tarik dan hitung  saja thermal gradientnya. Ingat
loksai kita si LUSI ini berdekatan dengan zona vulkano ( G. Arjuna, G. 
Welirang, G. Penanggungan ).
Untuk mematikannya, secara teori ya didinginkan dulu sumbernya kemudian di
sumbat dengan semen. namun akan butuh berapa ribu ton semen dan air dingin
?...pabrik semen jangan-jangan malah tekor. Paling tidak harus mem"balance" 
antara yang keluar dengan yang dimasukkan untuk menyumbat. Yang keluar sudah
> 50,000M3 /hari. ( total sekarang sudah berapa ya ??? ). Jika radius
subsidence ( amblasan ) sudah > 4 km,....ya tinggal kalikan saja dengan
kedalaman amblesan trus dihitung berapa material dibutuhkan untuk menyumbat.

Selain kerongkongan keluarnya lumpur juga sudah banyak spot dan membesar
hingga beberapa meter lebarnya., jadi sudah "caving" yang besar sekali,
selain gerak amblesan yang sangat cepat, secepat aliran lumpur itu sendiri.

Namun, karena relief well ini adalah tuntutan pihak asuransi ( the last
choice to be taken action ) ya...mau tidak mau mesti di bor...dengan resiko
bahwa akan "blow out" lebih besar lagi karena memang tidak ada pompa
tersedia yang bisa mengatasi dengan > lebih dari 100.000  horse power
tekanan mud flow ini.

Sebaiknya, biarkan mudflow ini keluar, evakuasi rakyat sesuai daerah bahaya
yang sudah dipetakan, alirkan lumpur ke sungai porong dengan pompa yang
diperbesar dayanya dan juga secara aliran gravitasi, tutup jalan tol, jalan
rel KA, pindahkan pipa gas, listrik dll.  Saya kira ini sudah diputuskan
oleh sidang Kabinet yang lalu.
Petakan segera daerah yang akan ambles ( subsidence ) hingga beberapa tahun
kedepan ( 20-30 tahun ) sesuai dengan peta bawah permukaan ( seismik,
isopach clay ( Formasi Kalibeng )dan penyebarannya. ). Pindahkan segera
pemukiman,pabrik, infrastruktur dll keluar arena wilayah bahaya tersebut
selamanya.- Sudah mulai dilaksanakan saya kira.
Perkuat bendungan dan tanggul menjadi lebih permanen. Rencanakan Kimpraswil
nya dengan matang untuk daerah ini.  <-- Sudah dilakukan juga saya kira.

Jadikan LUSI sebagai obyek wisata geologi seperti Bledug Kuwu, Mrapen ( api
abadi ), Dieng dengan kawah-kawahnya -ada yang beracun juga lho, atau Geyser
di YellowPark Wyoming.

Berdayakan warga sekitar dengan sumber material baru tersebut dengan
pendirian pabrik keramik, batu bata, genteng, atau juga lulur pengencang
kulit..agar awet muda !
Export lumpur ke manca negara sebagai komiditi bahan baku keramik yang nomer
wahid ! Atau mungkin ke Singapore yang daripada masih suka mencuri pasir
dari Kep. Riau, mendingan export lumpur ini kesana untuk menambah wilayah
daratan negara pulau itu.



----- Original Message -----
From: "Cahyo L.A.," <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, November 28, 2006 8:31 AM
Subject: [iagi-net-l] Banjar Panji : what if...??


> Rekan IAGInet,
>
>
>
> kondisi di Banjar Panji sendiri saat ini kok semakin nggak jelas yah..
> kondisi relief well progressnya sampe mana (drillingnya udah mencapai 
> target
> apa belum?), status kill well nya bagaimana? pengutan tanggul bagaimana...
>
>
>
> dan yang paling penting, bagaimana jika relief well ini tidak berhasil...
> udah ada skenario lain?
>
>
>
> salam,
>
>
>
> Cahyo
> 



---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke