Permasalahan utama dari unsur subsurface adalah: 1. bisa nggak erupsi lumpur dihentikan oleh manusia ? Kalau bisa diusahakan, sampai kapan target waktunya ? Kalau tidak berhasil apakah semakin meluas ? Pembuangan material apakah mampu menyelesaikan masalah ? 2. bagaimana kelanjutan dari gejala subsidence ? Semakin meluas ? Mendalam ? Atau justru tidak akan berlanjut ?
Point pertama menyangkut harapan untuk tetap hidup ataupun menempati kembali desa/dusun terutama bagi penduduknya. Permasalahan sosial yang muncul adalah relokasi (kemana ?) dan penataan ruang (baik kalau erupsi sudah berhenti atau malah kalau nggak berhenti). Point kedua menyangkut infrastruktur yang besar (jaringan transportasi, listrik, pipa, maupun industri). Bagaimana penataan segala fasilitas/infrastruktur apabila berada di wilayah dengan subsidence aktif tersebut ? Untuk menjawab hal tersebut kajian ilmiah serta simulasi/prediksi sangat-sangat diperlukan, yang didukung oleh surveillance terhadap gejala alam yang terjadi secara terjadwal (siapa yang bertindak sebagai pelaksanana ? Voluntary atau badan resmi pemerintah ? Kenapa dari segi ini pemerintah tidak terlalu menggebu untuk menyediakan anggaran ?) Bagi ahli kebumian ya kontribusinya memberikan referensi ilmiah dan mitigasinya. Persoalannya, kalau kajian ilmiah/mitigasi tidak dipercaya untuk bertindak, lha terus mau percaya sama siapa ? Mencari tahu penyebab gejala jelas-jelas sangat-sangat diperlukan. Kalau kita tidak tahu penyakitnya, bagaimana kita tahu obatnya ? Hal yang jelas adalah belum disepakati dan disosialisasikan secara ilmiah (bukan berita yang tendensius/politik) dan diterima pengambil keputusan/masyarakat apakah sebenarnya ini kejadiannya bencana atau aman-aman terkendali saja ? Benarkah membiarkan penduduk memiliki harapan untuk kembali tinggal adalah yang terbaik ? Apakah tidak adanya penetapan zona bahaya secara hukum dengan segala konsekuensinya adalah bijaksana (mohon diingat peristiwa pecahnya pipa gas) ? Bagaimana kalau kereta api yang lewat terguling karena relnya selip ? Atau mobil lewat jalan tol tersapu lumpur akibat tanggul jebol tiba-tiba ? Kalau kalangan netral (IAGI/HAGI, Universitas) tidak diberikan kesempatan untuk menjadi referensi, Media Center Lusi akan diposisikan sebagai aksi bela diri saja. Lha kalau semuanya secara ilmiah disepakati, kenapa harus berkecil hati untuk menyuarakannya ? Tidak lupa dibalik bencana selalu mengandung hikmah bahkan berkah. Bagaimana bisa memanfaatkannya dengan AMAN ? Panas bumi/sumber energi ? Material lumpur untuk industri ? Tourism ? Lab akademik ? Semoga para korban tetap diberikan ketabahan menghadapi cobaan ini, WW -----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, December 06, 2006 7:11 AM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Tr : [iagi-net-l] diuji saja secara ilmiah ( science) --> Acara IAGI di Swara Yak Tul, Mas Kartiko ... Penanganan dari sisi geoscientist ini yang sering aku mendapat kritikan dari banyak orang awam. Mengapa geologist lebih konsen menyatakan ini kejadian alam, ini bencana, ini kecelakaan kerja. Dan jarang yg membahas penanggulangan. Coba baca Media Center Lusi (edisi 1-7). Bahkan edisi & terakhir aku baca semua berkisah tentang Gunung Lumpur. Mungkin bagi geologist (komunitas milist ini) sudah mengerti apa yang terjadi (karena sudah diajari disekolah/kuliah), namun masih sangat mungkin di lapangan (masyarakat) masih banyak yg belum "ngeh" apa itu mud volkano. Wajar juga sih, karena naluri geologist ketika melihat kejadian alam memang bukan untuk dihambat tetapi diantisipasi untuk 'dihindari' dampak negatipnya. Yang saya tahu sih banyak geologist sudah banyak membantu TIMNAS, memang yg masuk diverita hanya penjelasan ini adalah mud volkano, ini adalah kejadian alam, ini adalah kecelakaan kerja dsb ... Kalau dilihat lebih dalam, permasalahan saat ini bukan hanya kejadian tetapi dampak penanggulangan yang semakin-semakin saja dari hari kehari. Karena kejadian atau faktor alamnya yang meningkat, debit meningkat, amblesan meningkat, dampak sosial dan dampak permukaan semakin jelas kelihatan, sehingga terkesan TIMNAS tidak ngapa-ngapain. Padahal aku yakin mereka (timnas) sudah banting kupluk .... memang ada hal-hal serta porsi buat ahli kebumian berkiprah tentang kejadian alam ini. namun seperti yg ditulis Mas WBS bahwa mencari tahu penyebab hanya penting utk soal tanggung jawab, bukan penanganan dalam suasana "emergency". Lebih-lebih sudah menyangkut legal bahkan berbau politis ... waddduh jelas diluar kompetensi kita. RDP On 12/5/06, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > kalaupun alasannya salah satu, salah dua, atau salah tiga dari hal > tersebut. > kok enggak dibahas cara ngatasinya ? present is the key to the past, > tapi kalau enggak ada action untuk ke depannya ya gimana ? > > Regards > > Kartiko SAMODRO > > Telp : (0 )147443540 > > > > ----- Réacheminé par Kartiko SAMODRO/DEF/FR/EP/Corp le 05/12/2006 > 16:41 > ----- > > "Rovicky Dwi > Putrohari" > <[EMAIL PROTECTED] A > m> [email protected] > cc > 05/12/2006 16:08 > Objet > [iagi-net-l] diuji saja secara > Veuillez répondre ilmiah (science) --> Acara IAGI di > à Swara > <[EMAIL PROTECTED] > .id> > > > > > > > > > karena ada 3 pendapat , Lusi ini karena 1. Kesalahan pemboran 2. > Bencana Alam 3. Adanya mud volkano. > Mari kita uji dengan cara ilmiah. Misal falsifikasi ..... Apakah ada > yang "tidak mungkin" diantara ketiganya ? > Uji dengan "Ockham's razor" mana penjelasan paling mudah. > Uji dengan "Scientific method" > (menurut wikipedia) Scientific method is a body of techniques for > investigating phenomena and acquiring new knowledge, as well as for > correcting and integrating previous knowledge. It is based on > gathering observable, empirical, measurable evidence, subject to the > principles of reasoning[1]. > - Observable > - Empirical > - Measurable > - Reasoning > > Yang jelas hasil uji ilmiah bisa saja berbeda dengan uji hukum (legal). > > RDP > > On 12/5/06, ismail zaini <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Komentar Pojok / Rehatnya Republika 5 Des 2006 = Aspemigas : Ahli > > geologi bahas lumpur lapindo > > " Dibuang tidak Dibahas..........." > > Masih dalam koran yang sama , bahwa pertemuan para ahli ini ( > > geologi,geofisika,perminyakan ) yg digagas Aspermigas tsb untuk > menyamakan > > pandangan tentang penyebabnya , karena ada 3 pendapat , Lusi ini > > karena > 1. > > kesalahan pemboran 2. Bencana Alam ( gempa ) dan 3 adanya mud > > volkano. ( Republika 5 des 2006 ) Nah apakah nanti setelah pertemuan > > hanya ada satu statmen dari para ahli tsb tentang penyebabnya ? ( > > salah satu dari 3 pandangan tsb ) > > > > Ism > > > > --------------------------------------------------------------------- > ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006 > ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit > IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara > Mulia No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > > > --------------------------------------------------------------------- > ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006 > ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > -- http://rovicky.wordpress.com/ --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006 ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006 ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

