Friday, 08 December 2006, Berita Utama (Hlm Luar)
RATUSAN WARGA SAKSIKAN FENOMENA ALAM GUNUNGKIDUL; Bukit Boyo Semburkan Api

WONOSARI (KR) - Munculnya semburan api dan asap belerang (sulfur) di bukit
Boyo, Buyutan, Ngalang, Gedangsari menjadi perhatian banyak orang. Apalagi
bau asap belerang sangat menyengat, sehingga membuat masyarakat semakin
yakin adanya gunung api 'tiban', meski belum ada penelitian yang
membuktikan.

Sampai Kamis (7/12), ratusan orang terus berdatangan menyaksikan fenomena
alam yang dinilai ganjil dan terjadi tujuh bulan pasca gempa 27 Mei lalu.
Tak hanya warga sekitar, tetapi juga dari Klaten dan Yogya. Lokasi semburan
api dan asap di bukit Boyo itu berada di kawasan perbatasan Gunungkidul
dengan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang dicurigai sebagai patahan (sesar)
Nglanggeran dan lempeng Semilir atau lebih dikenal sebagai Patahan Opak.

Sebagaimana dikatakan Ngatijo (40) warga Dusun Buyutan, Ngalang kepada KR di
lokasi kejadian, semburan api dan asap belerang ini terjadi sekitar tiga
hari yang lalu.

Pemilik tanah Ny Adi Wiyono (48) terperangah setelah menyaksikan ladang
perbukitan miliknya yang ditanami tanaman keras dan merupakan lahan
pertanian itu mendadak bersuhu panas. Tak hanya cuaca di sekitarnya. Tetapi
dalam radius seratus meter, tanah-tanah di sekitarnya juga berubah panas.
Bahkan puluhan tanaman keras seperti pohon sono keling, clerecede, mangga
dan lainnya mati dalam kondisi merangas.

Sekitar lokasi semburan, bukit yang semula berbentuk pegunungan, pada bagian
puncak bukit longsor dan ambles akibat tanahnya panas. Beberapa warga yang
datang ke lokasi ragu-ragu menginjakkan kaki tanpa alas. Sedangkan longsoran
bukit yang berada tepat pada titik semburan itu masih terus terjadi.
Terlebih dalam dua hari kemarin kawasan sekitar bukit Boyo diguyur hujan
deras. Erosi tanah yang terbawa arus air dari atas bukit menutup lubang
semburan. Tetapi sekalipun asap tidak lagi terlihat pada siang hari, bau
belerang masih saja menyengat dalam radius dua ratus meter.

Sejauh ini, belum diketahui apakah kejadian di bukit Boyo tersebut merupakan
kemunculan aktivitas baru vulkanik. Baik itu kemungkinan munculnya gunung
api baru, atau pun adanya proses aktivitas magma dari gunung api lama.

Namun menurut pengajar Fakultas Geografi yang juga Mantan Ketua Pusat Studi
Bencana Alam (PSBA) UGM, Dr Sudibyakto, perlu penelitian lebih lanjut
mengenai aktivitas ini. Apalagi pasca gempa bumi telah menimbulkan kejadian
baru yang di luar kebiasaan.

Menurut Sudibyakto, sebelum munculnya aktivitas di bukit Boyo, sebelumnya
juga muncul kejadian pasca gempa bumi, seperti bunyi dentuman di Kali Oyo,
sumur-sumur yang mengering, longsornya bukit-bukit di pantai selatan dan
lainnya.

"Perlu diketahui, di beberapa belahan bumi, selalu muncul fenomena alam. Ini
perlu dicermati lebih jauh," ujar Sudibyakto.

Serpihan Batu

Dari pantauan, lengkah-lengkah bukit tempat semburan asap ini, memasuki hari
kedua kemarin mulai gosong. Bahkan serpihan batu semakin banyak dan juga
ditemukan pasir yang diduga berasal dari dalam tanah.Untuk mencapai lokasi
ini memang cukup sulit. Secara geografis, kawasan bukit Boyo merupakan
daerah perbukitan dan terletak arah barat laut kota Wonosari sekitar 15
kilometer. Dari arah Yogya, sampai di simpang tiga Sambipitu ke arah kiri
menuju arah Kecamatan Gedangsari. Dari jalan raya Sambipitu-Nglipar jaraknya
kurang lebih empat kilometer.

Beberapa warga sekitar lokasi mengaku pasca gempa lalu, intensitas gempa
terutama di sekitar lokasi ini cukup banyak dibanding daerah lain. Hal ini
memang masuk akal, kata Kabid IPPE Bappeda Gunungkidul Birowo Adie MT.
Karena di sekitar bukit Boyo adalah merupakan titik patahan atau lempeng
formasi Nglanggeran dengan lempeng Semilir. Pasca gempa tektonik lalu
intensitas gesekan yang kemudian dirasakan warga sekitar sebagai gempa
susulan lalu rutinitasnya meningkat. Karena di dalam bumi terdapat endapan
vulkanik menjadi salah satu penyebab keluarnya api maupun asap belerang
tersebut.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Gunungkidul Sukardi ketika dihubungi dalam
kesempatan terpisah usai mengadakan kunjungan di lokasi kejadian meminta
pemerintah kabupaten segera melakukan langkah-langkah positif menyusul
ditemukannya semburan api dan asap belerang ini. Dalam hal ini pemerintah
kabupaten agar berkoordinasi dengan Fakultas Geologi Universitas Gajah Mada
(UGM) untuk segera melakukan penelitian. Hasil penelitian itu cukup penting
untuk mengetahui layak tidaknya kawasan ini dihuni masyarakat. Mengingat
sekitar lokasi semburan merupakan daerah pemukiman. (Bmp/Ewi/Jon)-n.

Kirim email ke