Pak BG,
Thanks banget untuk detil pencerahannya. Sangat bermanfaat sekali dan
gampang dicerna.
Kalo boleh saya ingin mengajukan pertanyaan lagi (ini kalo boleh lho).
1. Dalam kondisi seperti apa water wet atau oil wet itu terjadi. Apa bisa
berpijak dari pore geometri misal untuk karbonat adanya isolated vug,
fracture atau micro-porosity seperti chalky dan sebagainya.

2. Adakah metode (log dan atau core analysis) untuk mengetahui apakah
reservoir itu ada di situasi water wet atau oil wet. Saya pernah mendengar
bahwa perbedaan wettability tersebut dapat ditentukan (salah satunya) oleh
log NMR. Kata yang jual alat ini, oil wet akan dicirikan oleh adanya
shifting T2 distribuation dari short menjadi long. Artinya bahwa short T2
mencirikan adanya waktu polarisasi yang sangat singkat (di bawah 3 ms)
mencirikan adanya clay bound water dan kalo Log T2 akan mencirikan adanya
hidrocarbon yang mempunyai waktu polarisasi jauh lebih lama. Namun begitu,
si penjual juga mewanti wanti, asumsi ini akan cukup reasonable kalo
ternyata ada atau hampir tidak ada distribusi T2 yang berada di bawah 3 ms.
Kata dia lagi, harus hati hati diterapkan di carbonate mengingat distribusi
pore geometri yang cukup beragam. Long T2 distribution bisa aja mencirikan
adanya vuggy porosity.

Tolong dong pencerahannya lagi .... trims sebelumnya.

Salam

Shofi





On 12/11/06, BAMBANG GUMILAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Informasi tentang Wettability/ kebasahan menjadi penting jika kita akan
mengukur tekanan kapiler batuan untuk memodelkan perubahan saturasi fluida
di batuan tersebut.

Secara genesis (kita sering keliru menulisnya sebagai genesa, padahal kita
menulis thesis = tesis tidak tesa khan?) semua batuan reservoir (klastik
maupun karbonat) pada awalnya memiliki sistem basah-air. Karena media
pengendapan yang umum (kecuali aeolian) adalah air (laut, danau, sungai)
tidak ada batuan sedimen yang terendapkan dan terbentuk di danau/lautan
minyak.

Hanya pada saat migrasi hidrokarbon ke pori-pori batuan menyebabkan
kebasahannya berubah. Kebanyakan minyak bumi mengandung senyawa berkutub
(polar compounds) yang dapat mengubah kebasahan batuan dari suka-air ke
suka-minyak atau ke kondisi campuran (mixed wettability).

Jadi asumsi awal adalah bahwa reservoir itu basah-air dan langkah inisiasi
dalam pengukuran tekanan kapiler di laboratorium adalah dengan "membasahi"
sampel dengan "wetting fluid". Sampai sampelnya tersaturasi penuh (fully
saturated).Untuk sistem merkuri - udara (Hg-air), udara adalah "wetting
phase"-nya.

Jika sudah tersaturasi penuh (jenuh), langkah Pertama adalah
menginjeksikan fluida "non-wetting" dengan sedikit demi sedikit menaikkan
tekanan injeksinya. Volume "wetting fluid"yang terdesak keluar dari rongga
pori diukur dan dipadankan dengan harga tekanan yang bekerja. Tekanan dan
volume "non-wetting fluid"ditingkatkan terus hingga "semua" fluida (wetting)
yang berada di batuan terdesak keluar. Siklus ini disebut "Drainage", yang
dianalogikan dengan cara hidrokarbon mendesak air di batuan. Tetapi,
walaupun dipaksa sehebat apapun oleh penjajah eh... "non-wetting fluid"
tadi, masih ada segelintir "wetting fluid" yang bertahan di batuan. Air sisa
ini lah yang populer disebut sebagai "Irreducible Water".

Langkah kedua adalah proses "Imbibition"(minum). Karena berkuranganya
perbedaan tekanan antara fase "wetting" dan "non wetting", maka sebagian
wetting fluid akan kembali memasuki rongga pori batuan secara alamiah.
Fenomena ini dianalogikan dengan kejadian jika kita memproduksi hidrokarbon
di atas oil-water contact-nya. Secara perlahan air akan bergerak ke atas
menggantikan minyak yang terproduksi - sering disebut coning atau cresting
(di sumur horizontal)

Langkah ketiga adalah proses "Forced Imbibition" (minum kepaksa (^_^)
he..he..he..). Dimana tekanan dari "wetting phase" dinaikkan lebih tinggi
daripada "non-wetting"-nya dan memaksa batuan meminum lagi air yang tadi
sudah dipaksa keluar sehingga "non-wetting" diusir lagi dari rongga pori
batuan. Jika dilakukan terus sampai tidak ada "non wetting fluid" yang bisa
mengalir keluar lagi. Walaupun begitu sebagian "penjajah/non-wetting" ini
masih ada yang jatuh cinta dan kawin dengan pribumi di batuan tersebut.
Kondisi ini dianalogikan dengan memproduksi minyak dari zone yang sudah
"depleted". Seperti, memaksa tetes-tetes minyak terakhir keluar dari Bekasap
Sands di Minas Field dengan waterflood. End-point dari Imbisisi Paksa dapat
dianggap sebagai cara yang paling baik untuk mengestimasi residual
hydrocarbon saturation, Sor.

Lebih jauh lagi adalah proses "Secondary Drainage", analoginya adalah
injeksi gas yang mendesak OWC yang sudah naik untuk turun ke level semula
atau bahkan lebih rendah dari OOWC-nya.

Baiklah, sekarang kita tarik benang merah diskusi OBM vs WBM untuk coring.

1. Jika interval yang akan di-core adalah water bearing dan jelas-jelas
water wet. Maka WBM adalah pilihannya.

2. Jika interval yang akan di-core adalah " fully oil saturated, virgin
oil bearing", tapi batuannya basah air (water wet), maka pemakaian OBM tidak
akan mengubah wettability-nya. Karena minyak di batuan sudah jenuh, tidak
ada peluang buat filtrat OBM untuk menggusur Irreducible Water-nya.
Sebaliknya jika batuannya oil-wet, maka filtrat OBM akan "memperkaya"
recharge minyak di dalam rongga pori. Kebasahan tidak akan berubah, hanya
Initial Oil Saturation-nya yang berubah. Penggunaan WBM akan sedikit
mengganggu keseimbangan minyak-air yang ada. Tambahan filtrat WBM akan
memaksa batuan berada pada tahap "Forced Imbibition".

3. Jika intervalnya "Depleted Oil Zone" maka penggunaan OBM dan WBM tidak
ada yang 'favourable'. Karena jika pakai OBM, maka reservoir akan mengalami
"Forced Drainage"dan jika pakai WBM, akan terjadi "Forced Imbibition".
Teknologi low-invasion belum jadi no-invasion coring. Jadi, coring company
juga tidak berani jamin bahaw tidak akan ada invasi filtrat ke core-nya.

Jika kita mau tahu Variasi KEBASAHAN, maka artinya kita ingin mengukur
tekanan kapiler dalam sistem basah-air. Biasanya sampel yang akan diukur,
dibuat menjadi sistem Minyak-Air dan dianggap dalam kondisi "sedang
berimbibisi" akibat invasi mud filtrat OBM/WBM. Sebelum dilakukan pengukuran
tekanan kapilernya, sampel core selalu harus berada dalam kondisi "Aged".
Proses "Ageing" mengacu pada cara men-saturasi-kan sampel batuan dengan
"live crude" atau bisa juga minyak sintetis untuk mensimulasi pengembalian
keadaannya seperti pada saat Primary Drainage terjadi (awal migrasi minyak
ke batuan dengan mendesak airnya keluar). Proses ini bisa berlangsung
berminggu-minggu (4 ~ 5 minggu). Baru Langkah Pertama di atas dilakukan.

Nah jika reservoir di Central Sumatra rata-rata sudah depleted, penggunaan
OBM atau WBM untuk mem-preserve wettability-nya (hese nya nulis istilah
inggris di indonesia keun) tidak begitu berpengaruh. Yang penting proses
"ageing"-nya yang lebih diperhatikan. Tetapi, sepengetahuan saya, penggunaan
OBM di Sumatra (khususnya untuk Telisa Sands) lebih kepada isu seputar
keberadaan mineral lempung, smectites/montmorilonites and the gangs daripada
isu tentang basah-basahan ini.

My two cents from Brunei. Semoga bisa membantu Rai Barkah mendesain coring
program-nya.

Wassalam,
-bg


[EMAIL PROTECTED] wrote:


Pak shofiyudin,
Pengukuran wettability pada core yang dikontimanasi (OBM) menjadi kurang
tepat, itu karena adanya perubahan yang sangat besar pada interaksi fluida
dengan matrix batuan dalam pori2 corenya,
Batuan yang pada awalnya water wet condition akan berubah menjadi oil wet
condition, sehingga pengukuran wettability jadi tidak tepat..
Terlebih pada sandstone yang mempunyai permeability besar, tentunya akan
semakin besar displacement dari fluid insitu nya.

Dampak tersebut akan berkurang bila menggunakan WBM.

Salam
Romdoni





Shofiyuddin
12/08/2006 05:26 PM
Please respond to iagi-net


To: [email protected]
cc:
Subject: Re: [iagi-net-l] Coring @ Directional Well



 Shofi

Kirim email ke