Wah ketemu lagi Mas Taufik Manan,
Global temperatur naik selama 120 th terakhir, th 1880 hingga kini.
Kenaikannya adalah 1 derajat Fahrenheit selama 120 th terakhir, th
1880-2000. Sekala lain, skala Celcius, besaran itu adalah 0.6 derajat
Celcius/120 th. Harga kenaikan temperatur 0.005 derajad Celcius/th.
Besaran itu adalah gradien garis lurus grafik temperatur vs waktu. Ini
superimpose ("jumlahan") dengan fungsi garis itu, adalah fungsi
sinusoidal pereode 70 th, dengan amplitudo maximum 0.35 derajad Celcius.
Simpangan amplitudonya : nol pada th 1930, maximum pada th 1952, 0 pada
th 1965, minimum pada th 1982, nol pada th 2000, akan maximum pada th
2022.
Umumnya scientist berpendapat, bahwa kenaikan itu akan terus
berlangsung, dengan gradien kenaikan itu. Pendapat saya, adalah global
temperatur dengan siklus sebanding dengan Calender SALAM. Garis lurus
tadi adalah fungsi sinusoidal pereode yang panjang (700 th, 7000 th,...,
7 Ga.), dan th 2022 adalah simpangan amplitudo sinusoidal pereode 700 th
yang maximumnya. Grafik menunjukkan pendinginan sesuadh th 2022.
Ya, dengan kenaikan global temperatur, maka es kutub, juga yang ada di
puncak gunung, akan mencair. Seluruh es itu, seandainya mencair, akan
menaikkan muka laut sebesar 6 m saja (Study Geoph, 1990).
Dengan kalimat di atas, maka pertanyaan Anda sudah terjawab. Lalu saya
tambahkan info sbb:
JAWAH, yang saya tekankan adalah jumlah air hujan di bumi, atau sumber
air tawar. Air hujan, ini tentunya tak akan signifikan menaikkan muka
laut. Ini besarnya untuk JKT 1700 mm/m2/satuan_waktu. (Satuan waktunya,
apakah hari, bulan, atau tahun, untuk besaran itu ?). Tapi ini mungkin
per hari. Simpangan maximum 2000 mm/m2, dan minimum 1500 mm/m2. Sehingga
untuk jumlah air hujan yang jatuh pada suatu daerah pertahun (misalnya
Jabar, Jawa, kalimantan, Indonesia, yang tahu km2 luasnya), akan bisa di
hitung. Lalu proyeksikan dengan jumlah kebutuhan air per orang, juga
projeksi jumlah orangnya versus waktu.
Yang jelas, kenaikan temperatur global, berkorelasi dengan penurunan
jumlah air hujan pada masa kini.
Yang menarik bahwa, penurunan jumlah air hujan itu, juga mencairnya es
kutub (atas kenaikan global temperatur), muka laut malah naik. Ini
menunjukkan bahwa kedua faktor itu tak dominan mempengaruhi naik
turunnya muka laut. Data memperlihatkan pemanasan global tadi, yang
berkorelasi dengan penurunan dasar laut (batuan dasar), penurunan
lithosfer. Ini menunjukkan pemanasan global akibatkan pemuaian bumi,
lalu mengembanglah jari-jari bumi, juga lithosfer (extention, divergent,
akibatkan sedimentasi synrift), muka laut naik.
Kenaikan muka laut selama 120 th terakhir ini adalah 1.2 mm/th (0.012
m/th), superimpose grafik sinuoidal pereode 70 th, dengan maximum
amplitudo 0.5 m. Tentu dengan simpangan nol pada th 1930, maximum pada
th 1952, nol pada 1965, minimum pada 1982, nol pada th 2000, dan akan
maximum pada 2022. Kenaikan ini, cukuplah merepotkan, terjadi banjir,
muka laut naik pada negara yang 30 % negaranya dibawah muka laut,
Belanda, pada th 1952 itu, akibatkan milyartan dollar kerugian. Ya wong
30 % seluruh negara maju...
Bagimana dengan kota-kota pantai Indonesia :JKT, Semarang, Surabaya, dst
? Ingat, kenaikan muka laut ini, juga karena penurunan basement, juga
bisa di tambah dengan akibat pemampatan sediment lho.
Maximum elevasi lithosfer terkhir, adalah pada 245 Maa "Millian annum
ago", PermianTriasik, semua benua menjadi satu, satu daratan saja,
latinnya "Pangaea", juga dikenal sebagai Pangea saja. Fungsi ini
bersesuaian dengan siklus pereode 700 th terdingin. Lalu di dalamnya ada
fungsi 70 Ma sinusoidal juga. Terakhir terdingin siklus 70 Ma adalah 50
Maa, Mid Eosen. Amplitudo sinusoidal elevasinya bisa mencapai 4 km (CSB
"Central Sumatra Basin", atau umumnya Indonesia).
Haq (Bilal U), juga Peter Vail, perlihatkan perubahan muka laut saja
(bukan lithosfer), adalah sesuai dengan kalender itu, dengan amplitudo
simpangan sinusoidal pereode 700 Ma yang 125 m. Ini tentunya tak
seberapa signifikan terhadap perubahan muka laut yang rata-rat 4000 m
kini.
Ini dulu ah...
Salam,
Maryanto.
-----Original Message-----
From: Taufik Manan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, December 20, 2006 12:25 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] JAWAH - SALAM Calendar
Pak Maryanto
Menarik sekali intisari artikel anda.
Namun saya baca dalam suatu artikel di sebuah koran bahwa prediksi
mendatang suhu bumi tambah panas. Akibatnya adalah kemungkinan
mencairnya es di kutub utara.
Mohon penjelasannya
Salam
TAM
dari pedalaman Sulawesi
----- Original Message ----
From: Maryanto (Maryant) <[EMAIL PROTECTED]>
To: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)
<[EMAIL PROTECTED]>; [email protected]
Sent: Friday, December 15, 2006 5:28:12 PM
Subject: [iagi-net-l] JAWAH - SALAM Calendar
JAWAH ("Journal Atmospheric Water Affecting History") Dan Kalender
SALAM.
Oleh : Maryanto, 15 Desember 2006.
Tantangan 35 th kedepan adalah kekurangan air, akibat terutama oleh
semakin sedikitnya curah hujan. Setelah separo 70 th yang banyak hujan
(tahun 1965-2000), kini akan separo 70 th yang sedikit hujan
(2000-2035). Apa yang perlu di lakukan ?
Kalender SALAM berupa grafik simpangan sinusoidal versus tahun, dari Big
bang hingga 70 Giga tahun kemudian. Simpangan itu juga merefleksikan
jumlah curah hujan. Air, atau juga air hujan di duga ada sejak 3.2 Gaa
"Giga annum ago", di tandai dengan fosil prokariot mulai ada. Lalu
perubahan biota 70 juta tahunan, di tandai dengan berbedanya biota, yang
menjadikan berbeda nama-nama umur berikut, mulai Kambrium,
OrdovisianSilur, Devon, Karbonaferous, PermianTriasik, Jurasik,
Kretaseous, dan Senozoik. Lalu evolusi primata pereode 7 Ma, sesuai
dengan pereode "stage", sejak 49 Maa "Millian annum ago", atau lalu
pereode 700 Ka "Kilo annum" sejak Australopititicus, volume otak tambah
200 cc tiap pereode. Juga sejarah dengan siklus 700 th budaya sejak 2800
SM. Grafik hujan ini di sebut Grafik JAWAH "Journal Atmospheric Water
Affecting History".
Grafik JAWAH pada pereode sinusoidal 70 th terakhir, sebagai berikut:
jumlah curah hujan global tahunan, mengecil dari th 1930 hingga terkecil
th 1952, lalu membesar hingga maximum th 1982, lalu mengecil hingga
terkecil tahun 2022, lalu membesar lagi hingga maximum th 2052, lalu
mengecil lagi, dst.
Jumlah curah hujan JKT sejak 1860 hingga kini, sesuai dengan kurva itu.
Data satu lokasi itu mempunyai simpangan yang besar (sekitar 20 %). Di
duga, seandainya daerahnya lebih luas maka harga simpangan akan lebih
kecil (Maryanto, 2004).
Dugaan itu terbukti, yakni untuk daerah yang lebih luas, seluas DAS
"Daerah Aliran Sungai" Citarum, yakni seluas hampir seluruh Jawa Barat,
tahun 1960-2000. Curah hujan membesar sejak th 1960, maksimum sekitar
1982, lalu mengecil hingga th 2000 (HAGI Convention, Semarang, November
2006). Korelasi kedua grafik, yakni grafik JAWAH dengan tsb bisa sekitar
90 %.
Prediksi selanjutnya adalah bahwa curah hujan 35 th kedepan akan kecil,
setelah curah hujan banyak pada era orde baru (1965-2000). Dugaan lain
adalah bunga bank yang rendah, inflasi rendah. Paper 2004, 2005, 2006,
bicara prediksi parameter lain. Faktor penunjang kekurangan air kedepan
lain adalah : pemakai (penduduk) yang semakin banyak, hutan yang
berkurang (gundul), sawah yang menjadi bangunan rumah/industri. "Jawah"
(Bahasa Jawa kromo Inggil) berarti "udan" (Jawa ngoko), yang bhs
Indonesianya "hujan".
Wassalam,
Maryanto.
Sempol, Harjo Binangun, Pakem, Sleman, (sudah ada akronimnya semua)
Ngayojokarto Hadiningrat.
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara
Mulia No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara
Mulia No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------