IAGI netters ysh.

Terima kasih pak Awang atas pancingannya, sehingga saya coba informasikan
fakta terakhir tentang Gua Pawon (saya harap juga nanti bisa ditambahi
oleh pak Sujatmiko, dan teman-teman KRCB yang lain).

1.
Promosi dulu:
Jika berminat buku "Amanat Gua Pawon" dan "Bandung Purba" terbit April
2004 masih bisa didapatkan di jaringan outlet Mahanagari/Victory Bandung:
Jl. Dago/tiga rumah sebelah utara yoghurt Columbia, di CiWalk Jl.
Cihampelas, dan di Braga City Walk; tersedia juga di Gramedia Jl. Merdeka
Bdg, tapi "Amanat" sudah habis dan belum saya suplai lagi.
Buku hanya diedarkan di Bandung, itung-itung kekhasan "Oleh-oleh Bandung"
selain kripik, batagor, dll.

2.
Sedikit promosi lagi: ada buku lain yang kami susun tentang Bandung
diterbitkan oleh KRCB dan Badan Geologi: GEOWISATA SEJARAH BUMI BANDUNG.
Buku bisa didapatkan di Perpustakan Museum Geologi Bandung. Seluruh
halaman full color, kertas metz paper, dengan peta dan foto-foto yang
menarik. Harga sesuai dengan informasi itu.

3.
Kerangka sudah dideskripsi dan sedimen di Gua Pawon sudah didating dengan
C-14 oleh Balai Arkeologi Bandung (Drs. Lutfi Yondri, MHum; yang juga
digunakan untuk menyusun tesis S2-nya di Jurusan Arkeologi UI; lulus
2005).
Hasilnya kira-kira demikian:
- fosil terlipat yang utuh: Ras Mongoloid.
- jenis kelamin belum diketahui (tapi kok saya menduga: perempuan?)
- dikubur terlipat: sangat langka.
- C-14 dating, bagian atas kira-kira 5.6 yr.BP
- C-14 dating bagian bawah yang selevel lapisan dengan kerangka +/- 9.5 yr.BP

Kalau dating benar, maka inilah ras Mongoloid paling tua yang ditemukan di
seluruh Indonesia! 9.5 ribu. Tetapi para arkeolog masih teguh berpendapat
bahwa Mongoloid tidak lebih tua dari  5 - 6 ribu.
Bisa saja orang-orang Mongoloid pada 5 - 6 ribu menggali lapisan lantai
gua yang lebih dalam (pada lapisan yang berumur 9.5 ribu itu) untuk
mengubur orang yang mereka hormati itu.

4.
Status Bukit Pawon sekarang sebagai Situs Arkeologi (dilindungi UU No.
5/1992 ttg Benda Cagar Budaya), batas lindung (katanya) dalam radius 1 km.
Pemprov Jabar sebenarnya telah merancang Bukit Pawon (dan kawasan Ciletuh)
untuk dijadikan "Cagar Geologi" sesuai Perda Jabar No. 2/2002 tentang
Perlindungan Lingkungan Geologi. Namun, DPRD Jabar masih belum ketok palu
juga. Entah ada agenda politik apa sehingga peresmian sebagai cagar
geologi tertunda terus sampai sekarang.
Status tata ruang sekarang (Kab. Bdg): kawasan budi daya non-pertanian
(artinya industri, tambang, pariwisata, apapun asal bukan pertanian oke).
Terakhir tgl 30 Des 2006, dr. Ko (sesepuh speleolog Indonesia) ketika
menerima penghargaan pariwisata dari Pemprov Jabar sempat menyampaikan
pesannya untuk melindungi karst Citatah kepada Danny Setiawan, Gub Jabar.
Mudah-mudahan terrealisasi.
Ancaman baru adalah: pembentukan Kabupaten Bandung Barat yang dipastikan
menjadikan Citatah sebagai sumber PAD.

5.
Penambangan batu kapur resmi dan liar masih terus mengancam kawasan karst
Citatah, padahal masih banyak bentukan-bentukan geomorfologis, dan gejala
geologis yang belum diteliti tuntas. Bahkan lokasi tipe Formasi
Rajamandala (Tagogapu Bed; Harting, 1929) di Gunungmasigit sudah hancur
porak poranda digali. BUkan tidak mungkin dalam 5 tahun ke depan, lokasi
tipe harus dicari gantinya. Tetapi strato tipe nya masih cukup "aman" di
tebing 125 Pasir Pabeasan, karena tebing ini jadi ajang latihan panjat
tebing. Namun kiri-kanannya sudah digali habis-habisan.

Sekali lagi, terima kasih pak Awang atas share kepedulian karst Citatah.
KRCB sudah expose di Gedung Sate bulan Sept 2004 (beritanya bisa dibaca di
Berita IAGI Nov. 2004 dan Feb. 2005), tetapi pemprov Jabar dan pemkab
Bandung dalam istilah Sundanya masih "hare-hare" (tidak peduli).

Begitu informasinya,
Salam,
BB


> KRCB (Kelompok Riset Cekungan Bandung) dan BAB (Balai Arkeologi Bandung)
> melakukan serangkaian penelitian geologi dan arkeologi di Gua Pawon dan
> sekitarnya, Citatah, Padalarang pada 1998-2003. Penelitian-penelitian
> ini berhasil menemukan berbagai artefak (Desember 2000) yang menunjukkan
> bahwa Gua Pawon pernah dihuni manusia (purba). Lalu, sebuah penemuan
> penting terjadi pada Oktober 2003 ketika empat kerangka manusia dan
> serpihan tulang hewan ditemukan di lubang ekskavasi pada kedalaman dua
> meter.

> Keempat kerangka manusia tersebut terdiri atas dua buah tengkorak
> lengkap dengan rahang dan gigi. Dua buah kerangka lainnya relatif masih
> utuh mulai dari kepala sampai tulang kaki dalam posisi terlipat
> (meringkuk). Diperkirakan, bahwa manusia pemilik kerangka ini pernah
> hidup menghuni Gua Pawon pada masa antara 11.000-10.000 tahun yang lalu
> (spesies : Homo sapien). Berdasarkan ciri-ciri tengkoraknya diduga kuat
> mereka merupakan generasi pertama manusia ras Mongolid.

> Kalau perkiraan umur kerangka/manusia itu benar, maka penemuan manusia
> Pawon ini penting dalam sejarah kepurbakalaan Jawa Barat sebab inilah
> penemuan pertama kerangka manusia (purba) di Jawa Barat. Sebelumnya, di
> beberapa tempat di Jawa Barat hanya ditemukan artefak-artefak tanpa
> manusia pembuatnya.

> Situs arkeologi Gua Pawon menjadi semakin menarik dan penting sebab
> secara geologi situs ini berlokasi di tepi ”Danau Bandung” –danau
> yang pernah terjadi menenggelamkan lokasi Bandung (sekarang) dan
> sekitarnya akibat terbendungnya aliran Sungai Citarum oleh material
> letusan Gunungapi Tangkuban Perahu dan mungkin penurunan tektonik pada
> sekitar 125.000 – 5000 tahun yang lalu (terdapat beberapa interpretasi
> atas umur masa Danau Bandung ini).

> Di situs Pawon pun ditemukan artefak berupa perkakas/senjata terbuat
> dari batuan obsidian. Kita tahu perkakas/senjata dari obsidian pun
> banyak ditemukan di situs Dago Pakar, Bandung. Di kedua situs tersebut
> tidak terdapat bukit/gunung terbuat dari obsidian yang menjadi bahan
> dasar pembuatan perkakas/senjata. Para ahli pernah menyimpulkan bahwa
> obsidian tersebut berasal dari Gunung Kendan di sekitar kawasan Nagrek,
> Garut. Artinya, bahwa pada masa purba tersebut telah terjadi transaksi
> jual beli bahan mentah atau juga para manusia purba ini telah mengembara
> mencari bahan mentah yang bagus jauh dari tempat asalnya. Apakah mereka
> mengembara dengan berjalan kaki ratusan km ? Atau, bisa saja dengan
> mengendarai rakit di sekeliling Danau Bandung.

> Lalu, apa hubungan manusia Pawon ini dengan temuan kerangka manusia di
> situs Batujaya dan Cibuaya, Karawang Utara yang belum lama ini ditemukan
> ? (pernah kita diskusikan di milis ini). Belum jelas selama belum ada
> data pentarikhan absolut kerangka-kerangka manusia purba ini.

> Menyusul penemuan penting kerangka manusia di situs Gua Pawon ini
> terjadi semacam polemik antara KRCB dan BAB dengan Pemerintah Kab.
> Bandung dan para pengusaha kapur di Citatah. Penemuan penting ini
> terjadi di sekitar gua-gua gamping yang dari hari ke hari bisa kita
> lihat pengrusakannya akibat digali dan diledakkan untuk kepentingan
> ekonomi. Pencagaran situs ini dan sekitarnya jelas penting mengingat
> sejarah purbakala Jawa Barat masih gelap, sekarang sedikit mulai terkuak
> dengan penemuan situs Gua Pawon, lalu apakah akan segera gelap lagi
> seiring lenyapnya bukit-bukit gamping di Citatah ?

> Tulisan-tulisan geo-arkeologi di sekitar penemuan situs Gua Pawon,
> Padalarang dikumpulkan di dalam buku ”Amanat Gua Pawon” (KRCB, April
> 2004) yang disunting oleh Budi Brahmantyo (ITB) dan T. Bachtiar (UNINUS)
> – dari KRCB. Menarik, membaca kedua puluh artikel di dalam buku ini.
> Artikel2 ini ditulis oleh berbagai penulis dengan aneka latar belakang,
> dari ahli geologi, ahli arkeologi, wartawan, penyair, sampai pemanjat
> tebing Citatah. Buku lain yang seumur dan membahas juga Gua Pawon adalah
> ”Bandung Purba” (T. Bachtiar dan Dewi Syafriani, - Masyarakat
> Geografi Indonesia, April 2004). Buku terakhir ini diberi kata pengantar
> oleh Prof. Koesoemadinata yang membahas sejarah Danau Bandung dan
> manusia Sunda purba (Ki Sunda).

> Sayang, di dalam kedua buku itu tidak ditemukan hasil pentarikhan umur
> (dating) absolut kerangka manusia purba Gua Pawon. Saya rasa, ini yang
> sering terjadi dengan penemuan-penemuan arkeologi di negeri Indonesia.
> Penentuan umur absolutnya baru datang belakangan – cukup lama
> menantinya. Apakah hanya dengan dating Carbon-14 kita pun (baca :
> laboratorium-laboratorium geokronologi di Indonesia) tak bisa
> melakukannya ? Saya pikir bisa. Hal ini pun terjadi dengan situs
> Batujaya. Untuk men-dating umur kerangka di situ didatangkan ahli khusus
> dari Prancis dan membawa sampelnya untuk diperiksa di Prancis. Belum ada
> kabarnya lagi berapa umur absolut kerangka manusia Batujaya itu.
> Padahal, data umur absolut itu begitu pentingnya untuk menempatkan suatu
> temuan dalam posisi kronologi yang benar.

> Pak Budi Brahmantyo atau Pak Sujatmiko (KRCB, juga anggota milis ini)
> barangkali dapat berkomentar soal status kemajuan penelitian manusia Gua
> Pawon ini : umur absolutnya dan status pencagaran Gua Pawon, setelah
> tiga tahun sejak penemuannya ?

> ”Kesuksesan sebenarnya kegiatan ekskavasi bukan bergantung kepada
> penemuan menggemparkan yang jarang terjadi, tetapi kepada pengumpulan
> data dan informasi yang diperoleh sedikit demi sedikit dari waktu ke
> waktu dengan penuh kesabaran dan usaha-usaha yang nantinya akan
> memberikan gambaran yang jelas” – Sir Leonard Wooley, 1932 –
> arkeolog Mesopotamia Selatan

> Tak akan ada penemuan menggemparkan tanpa ketekunan dan kesabaran
> terus-menerus.

>
>
> salam dan selamat  tahun baru 2007,
>
> awang
>




---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke