Mas Awang,
Terimakasih koreksinya. Iya, ingat Maret bulan ke tiga, lalu saya tulis
di situ Ketigo sebagai awalnya Maret.  

Malah pernah analisa. Mongso, yang di jadikan 12 Musim itu, di dasarkan
posisi Matahari. Awal Mongso 1, tgl 22 Juni, adalah dekat dengan ketika
matahari di paling utara, 23 Juni. Awal Monso pada separo tahun
kemudian, yakni awal Mongso ke7, disebutkan tgl 22 Desember, ternyata
dekat sekali dengan ketika Matahari di paling selatan, yakni 23
Desember.

Lalu awal mongso pada 1/4 tahun, dan 3/4 tahun, ada ketika Matahari
dekat Katulistiwa. Awal Mongso ke 4, tgl 18 September, adalah 5 hari
sebelum Matahari di Katulistiwa tgl 23 September. Awal Mongso ke 10,
yakni tgl 26 Maret, adalah 3 hari sesudah Matahari di Katulistiwa tgl 23
maret.

Lalu setiap Mongsonya, mempunyai umur, yang sepertinya sesuai posisi
Matahari diatas kepala hingga ke paling Utara, dengan sudut kemiringan
30 derajat, 60 derajat, dan 90 derajat.

Hebatnya pembuat kalender ini, yang telah tahu astronomi. Sultan Agung,
membuat kalender syamsiah ini pada th 1633 M. Ada pengaruh Hindu, dan
beliau membuat kalender itu, juga menetapkan pembuatan Kalender Jawa
(lunar) 

Kalender Jawa yang lunar, angka tahunnya melanjutkan tahun Saka saat
itu, th 1555 C. Sunan Paku Buwana VII, menyempurnakan kalender itu.

Salam,
Maryanto. 

-----Original Message-----
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, January 02, 2007 6:55 PM
To: [email protected]; Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI);
[email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] RE: [HAGI-Network] [iagi-net-l] JAWAH - SALAM
Calendar - ALON

Mas Maryanto, 

Saya sedikit koreksi ya  ulasan "Pranatamangsa"-nya (penanggalan
pertanian Jawa).  

Setiap wilayah (di Jawa Tengah dan Yogyakarta dalam hal ini) punya
kondisi kosmografis, kosmologis dan meteorologis pranatamangsa masing2
(dengan variasi yang kecil antar daerah). Untuk daerah Surakarta dan
sekitarnya misalnya, mongso/mangsa/musim "Katiga" (musim kering) terbagi
atas tiga bulan : kasa, karo, katelu dengan total panjang  musim selama
88 hari. Bulan ke-1 (kasa) mulai pada tanggal Masehi 22 Juni, bulan ke-2
(karo) mulai pada tanggal 2 Agustus, bulan ke-3 (katelu) mulai pada
tanggal 25 Agustus. Maka, Mas Maryanto, bulan ke-3 di Pranatamangsa itu
bukan bulan Maret, tetapi bulan Agustus-September (25 Agustus-17
September). 

Kalau di langit malam mulau muncul rasi bintang "lumbung" (crux) dan
sumur mengering serta angin berdebu, maka mongso katelu telah datang.
Secara meteorologis, musim Katiga ini memang musim kemarau dengan 72 %
sinar Matahari diterima (insolusi) -paling banyak dibandingkan mangsa2
lain, kelembaban udara 60,1 % -paling kering dibandingkan mangsa2 lain,
dan curah hujan hanya 32-67 mm setiap mangsanya (kasa-katelu) -paling
sedikit dibandingkan mangsa2 lainnya. 

Pranatamangsa ini mempunyai efek sosiokultural yang akan dipatuhi oleh
para petani sebab pelanggaran terhadapnya akan menyebabkan musibah. Dari
berbagai pengalaman salah tindak atau pelanggaran terhadap tata mangsa,
dikumpulkanlah bermacam-macam pantangan dalam buku primbon. Ini pun
kemudian menjadi pedoman baru untuk menjamin selamatnya usaha atau
tindakan orang. Hanya, dalam perkembangannya pedoman tersebut
dicampur-aduk dengan berbagai perhitungan mistik yang tak masuk akal. 

Beberapa pantangan yang logis misalnya, pantang berpindah rumah pada
mangsa katelu karena bisa mengakibatkan musibah kena rampok atau
kebakaran. Ini logis sebab mangsa katelu (September) adalah mangsa yang
panas dan kering serta angin kencang -mudah menimbulkan kebakaran, juga
kekurangan pangan akibat sedikit air sehingga perampokan sering terjadi.


Lain halnya dengan mangsa Katiga,  adalah mangsa "Rendheng" (total 95
hari, 22 Desember - 25 Maret) yaitu mangsa banyak air dan mangsa
pertamanya yaitu "kapitu" (22 Desember-2 Februari) - Januari adalah
musim puncak hujan. Para petani di Jawa menyebut bulan ini "jan ana
warih" (benar-benar ada air). Bila Bimasakti jelas terlihat di langit,
itulah awal Rendheng. 

Mas Maryanto, awal musim hujan pun tentu ada dalam pranatamangsa, yaitu
yang dikenal dengan Mangsa Labuh (mangsa kapat, kalima, kanem) yang
total lama mangsanya 95 hari (18 September - 21 Desember). Akhir musim
penghujan pun ada, yaitu yang dikenal dengan nama Mangsa Mareng (mangsa
kasapuluh, desta, sadha) yang total lama mangsanya 86 hari (26 Maret -
21 Juni).

Diurut terhadap kalender Masehi, maka urutan pranatamangsa adalah sbb. :
(1) Rendheng (22 Desember-25 Maret), (2) Mareng (26 Maret-21 Juni), (3)
Katiga (22 Juni-17 September), (4) Labuh (18 September-21 Desember).
Setiap mangsa punya karakter kosmografis, meteorologis, dan
sosiokultural masing-masing. 

Seperti kata Pak Nathan Daldjoeni (alm) (ahli geografi sosial
Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga,  penulis produktif buku2 dan
artikel2 geografi,  yang pernah meneliti masalah pranatamangsa dalam
Proyek Javanologi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta, 1983
: "Penanggalan pertanian Jawa Pranatamangsa : peranan bioklimatologi dan
fungsi sosiokulturalnya"), Pranatamangsa adalah siklus yang kelihatannya
cukup ruwet, tetapi kalau ditelaah dengan baik kita akan menemukan latar
belakang kosmografis dan simetri yang mengagumkan. Apalagi, jika
tabel-tabel yang berisikan data mengenai bulan, zodiak, deklinasi
matahari, bintang pedoman, angin, kelembaban udara serta pengaruhnya
atas kehidupan makhluk dipelajari, kita akan menemukan pula kausalitas
yang menarik di belakang itu semua.  

Urang Sunda pun mengenal pranatamangsanya, yang sama dengan
pranatamangsa Jawa Tengah. Usum Ngijih = mangsa Rendheng ("usum hujan,
ngecrek saban poe" - musim hujan, ngecrek -bunyi hujan,  setiap hari).
Usum Dangdangrat = mangsa Mareng ("hujan jeung halodo kakapeungan" -
hujan dan kemarau sekali-sekali"). Usum Katiga = Usum Halodo = mangsa
Katiga) (halodo = kemarau). Usum Mamareng = mangsa Labuh ("usum mimiti
rek ngijih"- musim mulai akan hujan). Musim-musim ini berhubungan dengan
keadaan sosiokultural masyarakat. Usum paceklik (kurang pangan)
berhubungan dengan usum halodo. Usum pagebug ("usum loba nu gering
parna, loba nu maot" - musim banyak yang sakit parah, banyak yang
meninggal) berhubungan dengan usum dangdangrat dan mamareng, yaitu musim
pancaroba dengan cuaca yang tidak jelas.  

Salam,

awang

 

Maryanto wrote :

 

> Budaya Jawa kenal 12 musim, di sebut "Mongso", dengan umur yang

> bervariasi dari 27 hari hinga 44 hari disebut ke : 1, 2, 3, ..., 12.

> Yang paling di kenal, adalah masa mulai kemaru (tidak terkenal yang

> mulai hujan), yakni ke 3, Tiga, "tigo", "telu", adalah bulan Maret,

> yang langsung lazimkan masa kemarau adalah Mongso Ketigo (Tak

> ke-sekawan, ke gangsal, dst).

        -----Original Message----- 
        From: Maryanto (Maryant) [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
        Sent: Fri 12/29/2006 3:22 PM 
        To: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI);
[email protected] 
        Cc: 
        Subject: [iagi-net-l] RE: [HAGI-Network] [iagi-net-l] JAWAH -
SALAM Calendar - ALON
        
        
         

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke