Dari lap keuangan EMP 2006 , disebutkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk Lusi ini akan dibayarkan oleh pemerintah ( cost recovery )dg alasan sesuai dg PSC nya , meskipun si Panji 1 ini adalah smr eksplorasi tapi masih dalam satu blok yang sudah berproduksi , demikian berita hari ini di Media.Disisi lain dari perhitungan pemerintah sementara biaya yang hrs disediakan mencapai 3,8 T.untuk LusiIni semua akan menjadi tarik ulur untuk menentukan "Siapa" yg hrs menanggung, EMP/Lapindo , Pemerintah atau masing masing yang menjadi kurbannya. Nah untuk menentukan si "Tertuduh" tsb Kuncinya adalah Ini kesalahan Manusia ( Prosedur , dll ) atau Alam ( jadi tidak dicampur adukan ). Disnilah permasalahannya ( tentang sebab musebab tsb ) Makanya Tidak pernah selesai , karena akan menempuh jalan panjang mungkin sampai Arbitase Internasional.Nah kalau sudah masuk arbitase Internasional itu biasanya pihak pemerintah itu Kalah ( inget kasus kasus beberapa waktu lalu ttg KBC , dll )karena dalam hal pernjanjian kontrak kontrak biasannya ada kelemahan di pihak pemerintah.Kalau diperhatikan di Lusi ini, Pihak Timnas konsentrasinya adalah ke Penanggulangan Dampaknya ( inipun sudah kedodoran , spt pompa macet, tanggul jebol, dll ) sedangkan untuk mengetahui Sebab musebabnya rupanya karena ini nantinya menyangkut segi Hukum , maka yang lebih konsen di lembaga Penyidik , karena ini masalah Teknis dan sains ( G&G, PE , dll ) maka dibutuhkan analisis yang tepat oleh orang yang berpengalaman, celakanya di lembaga Penyidik ini hampir semuanya orang Legal. Mungkin kedepan dg berbagai permasalahan sekarang ini sudah waktunya para G&G masuk ke institusi Penyidik ( Siapa tahu suatu Ketika Jaksa Agung adalah seorang anggota IAGI dan disisi lain Juga siapa tahu ada seorang pengacara juga anggota IAGI , mungkin sekali kali IAGI perlu sosialisasi ke lembaga penyidik 2 tsb ) . Kalau sekarang ini di FH ada pelajaran Hukum Perbankan / Ekonomi , dll maka kedepan mungkin perlu juga mata kuliah Hukum Alam ( baik yang menyangkut Bencananya maupun SDA serta aspek aspek didalamnya )Pada waktu kasus di Arbitase dulu terenyata ada salah salah satu kampeny yang mengajukan Pengacaranya dg background / mengetahui ttg eksplorasi dg baik dan si kampeni tsb ternyata menang yang akhirnya negara/pemerintah hrs bayar ratusan juta dollar.Kalau soal tenaga ahli baik G & G , PE atau yang lain saya kira tidak kekurangan , dan karena sdh menyangkut masalah Nasioanal , bahkan sudah ada Keppresnya , masalah yang menyangkut akses data dan informasi sampai apapun tidak ada masalah ( Toh di UU Migas juga sudah jelas bahwa semua Data apapun yang menyangkut survai pendahuluan , Eksplorasi dan eksploitasi adalah milik Negara )
ISM > Banyak pendapat yang menolak mengkaitkan kasus LUSI adalah > murni > bencana alam, tulisan terakhir dari Pak Kusuma terhadap > kasus ini > mengkategorikan sebagai bencana alam akibat ulah manusia > Sebagai > seorang WSG kebanyakan pendapat kita terhadap LUSI memang > baru > berdasar atas informasi yg terbatas (dari mailing list dan > media > lainnya), padahal bukan hal yg susah kalau mau melibatkan > WSG dalam memandang kasus ini, record data drilling > parameter dari Mudlogging dan formation data lainnya bisa > memberi keputusan yg tepat atas > kronologis drilling saat itu. Apa lagi Timnas sendiri diberi > keleluasaan dalam mengakses data tersebut, kalaupun masih > ada > keengganan dari pihak terkait untuk memberi data tersebut > ..maka > jasa-jasa teman-teman data engginer, mudlogger ataupun wsg > yg pernah mengalami blowout disertai terbakarnya rig atau > rigloss ditempat lain bisa dimanfaatkan, saya teringat saat > rekan Amir dan Vera (sekarang domisili di Houston) terlibat > akan blowout dan terbakarnya Rig maera di total, bagaimana > mereka harus dikarantina oleh Pihak total untuk tak > berhubungan dengan pihak luar, maksudnya mungkin untuk > menggali informasi dan menyeragamkan statement ke luar, > artinya lagi > orang-orang yang pernah mengalami kejadian seperti ini > tentunya > memahami betul bagaimana trik-trik perusahan mencoba > mengkebiri/menahan data dan informasi mengalir kepihak luar. > Sebelumnya juga pernah dilontarkan bahwa informasi dari > well proposal adalah cara termudah untuk mencari tahu apa > mereka melakukan kesalahan prosedur saat drilling, dari > keputusan mengextend set casing saja bisa dikejar apaka > langkah tersebut benar, kalau menurut Pak Rudy keputusan > tersebut tak salah atas consider fraction pressure sepanjang > open > hole, namun keputusan tersebut harus di kaitkan juga apakah > target TD mereka di well proposal memang akan drilling > sampai menembus high > pressure zone?, dan lagi apakah di well proposal high > pressure zone tersebut sudah diprediksi sebagai drilling > hazard? (artinya mereka well known terhadap kondisi well > tersebut), maka kalau jawabnya YA, jelas terjadi kesalahan > prosedur. > Bagaimana kalau sejak awal mereka akan stop drilling sebelum > high > press zone?, tapi tetap menembus hi press zone?, ada dua > kemungkinan : 1. kesalahan korelasi atau juga top horison hi > pressnya datang lebih awal (hal seperti ini sifatnya sangat > technical..susah dianggap > sebagai kesengajaan), > 2. Ada order untuk continue drilling sampai sengaja atau tak > sengaja menembus hi press, maka ini bisa dikategorikan > kesalahan (perubahan drilling program di beberapa company > selalu ada persetujuan secara hirarki, baik melalui intranet > atau faxcimile, susahnya kalau order hanya berdasarkan by > phone==ada kemungkinan akan saling mengelak). > > Kalau mereka memang tak menduga adanya high pressure zone, > maka ini hal biasa di drilling practise, menembus > unpredictable zone, data tak cukup, ada unsur tak > kesengajaan. Tapi tinggal kearifan saja , > masakah??, offset well kan sudah ada, sudah ada beberapa > sumur yg bisa jadi reference. > Kasus LUSI menurut saya tetap sebagai Natural dissaster > akibat > kesalahan drilling yg disengaja atau tak sengaja. > > Ada beberapa hal yg tak menarik logika kita di kasus LUSI > ini, seperti pertanyaan sdr,.ADB.bagaimana pihak kepolisian > mengkorek informasi dari Pakar geologi yang tak begitu > memahami pemboran atau juga > bagaimana malah pihak ahli Drilling (diwakili mungkin pak > Rudi dkk), malah begitu gigih melihat hal ini adalah murni > masalah technical > drilling, sementara mungkin kebanyakan ahli Geologi > mengkaitkannya sebagai bencana alam, ini aneh..karena > biasanya dilapangan kalau ada kasus begini dikaitkan atas > gejala alam/geological maka pihak drilling akan senang, tak > ada lagi beban bagi mereka dari sisi technical > drilling karena semua sebab dilimpahkan ke alam. > Tak menarik secara logika lainnya adalah seperti yang > dinyatakan oleh Kediv.hukum BP Migas bahwa biaya penanganan > lusi bisa dicost > recoverykan apabila tidak ada kesalahan pemboran, lantas > secara > berjamaah banyak ahli geologi (banyak juga yang plat merah) > berfatwa bahwa ini memang bencana alam.. coba berapa uang > negara yang akan dirugikan akibat terjadinya distorsi > opini??. > On 1/1/07, Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> Setahu saya Tim IAGi dan juga Tim-nya Pak Rudi Rubiandini >> (dulu) semuanya punya akses terhadap data2 tersebut. Data >> pemboran, cuttings, drilling report, mud report, bahkan >> sampai ke geolograph dan continuous form di data unit yang >> mencatat perkembangan dari waktu ke waktu soal WOH, WOB, >> Mud in and out, Gas, ROP, dsb ....... >> >> Repotnya,.... sepengetahuan saya: Tim Geologi yang membantu >> Pak Rudi kebanyakan akademisi dan kemungkinan tidak >> memperhatikan data-data tersebut. Topik bahasan mereka pada >> umumnya hal-hal besar seperti Sesar Watukosek, rekaman >> gempa, geologi kwarter, stratigrafii "Kalibeng", dan >> hal-hal yang sifatnya regional. >> >> Repotnya juga: Tim IAGI juga tidak begitu intensif >> menganalisis data2 tersebut (seperti saya sebutkan dalam >> email pertama: WSG2 kita disana kurang "didayagunakan") >> >> Sebenarnya kalau mau dan ada good-will, kita minta saja >> anda-anda spt Taufik OK, Ismed, Amir, dll untuk sekalian >> bergabung dg kawan2 WSG di Tim IAGI dan mulai ngoprek2 >> data2 pemboran tersebut (belum terlambat koq,......) >> >> Gimana IAGI? >> Gimana Pak Novi, Pak Ai'? >> >> adb >> >> >> ----- Original Message ----- >> From: <[EMAIL PROTECTED]> >> To: <[email protected]> >> Sent: Tuesday, January 02, 2007 10:54 AM >> Subject: Re: [iagi-net-l] Lapindo Harus Sediakan Rp 3, 8 T >> - 2 Pakar Geologi Kuak Misteri Lumpur Sidoarjo >> >> >> > >> > Lalu:.... bagaimana dengan para ahli WSg kita?? >> > >> > Mas Andang, >> > pertanyaannya...kenapa tim penanggulangannya minus WSG >> > atau..kok ga ada WSG >> > ahli yang ikut berkomentar? >> > >> > Saya yakin kita punya banyak WSG yang kompeten, hanya >> > masalahnya...para WSG >> > khan menganalisa dan menarik kesimpulan dari data2 >> > pemboran dan rekaman2 kejadian hari-perhari (Daily >> > Drilling Report) dan dibandingkan juga dengan Drilling >> > Program-nya, sekarang yang menjadi pertanyaan >> > adalah..apakah mereka punya akses untuk melihat data2 >> > tersebut?...kalo datanya aja mereka ga pernah lihat (cuma >> > denger2 kata orang), riskan juga kalo harus menarik >> > kesimpulan >> > >> > >> > >> > Regards, >> > >> > Y O G I P R I Y A D I >> > G e o l o g i s t >> > H a n d i l A s s e t T e a m >> > GSR / H T I / G & G >> > ext. 2 6 2 1 >> > >> > >> > >> > |---------+----------------------------> >> > | | "Andang Bachtiar"| >> > | | <[EMAIL PROTECTED]| >> > | | t.id> | >> > | | | >> > | | 01/02/2007 10:59 | >> > | | AM | >> > | | Please respond to| >> > | | iagi-net | >> > | | | >> > |---------+----------------------------> >> > >> > >> > >---------------------------------------------------------------------------------------------------------------|>> >> > > | >> > | >> > | To: <[email protected]> >> > | >> > | cc: >> > | >> > | Subject: Re: [iagi-net-l] Lapindo Harus >> > Sediakan Rp 3, 8 T - >> > 2 Pakar Geologi Kuak Misteri Lumpur | >> > | Sidoarjo >> > | >> > >> > >> > >---------------------------------------------------------------------------------------------------------------|>> >> > > >> > >> > >> > >> > Kuncinya sebenarnya ada di "integration" dan >> > "comprehensiveness" dari analisis para ahli kebumian yang >> > selama ini dijadikan rujukan oleh masyarakat (baca: >> > media) maupun kepolisian. Kalau kita perhatikan, >> > kebanyakan (hampir keseluruhan) ahli kebumian yang >> > dirujuk tidak begitu mendalami alias menghindarkan diri >> > dari menganalisis data teknis dan kronologis pemboran >> > "yang berkaitan langsung dengan kejadian semburan". Pada >> > umumnya para ahli tersebut mengatakan bahwa "itu urusan >> > drilling engineer", >> > >> > dan mereka merasa tidak berkompeten untuk ikut-ikutan >> > menganalisis data-data >> > tersebut secara lebih mendalam, padahal banyak sekali >> > informasi tambahan yang bisa diperoleh dari data pemboran >> > tersebut untuk menjelaskan apa yang terjadi secara >> > dinamis. Hal ini bisa dimaklumi karena pada umumnya para >> > ahli >> > yang dirujuk adalah saintist berbasis akademis (bukan >> > practicioner) atau saintist dari disiplin ilmu yang lebih >> > berat ke aplikasi permukaan (geoteknik dsb). Tentunya >> > akan sangat tidak professional kalau mereka ikut-ikutan >> > menganalisis data pemboran tanpa dasar pengetahuan dan >> > pengalaman yang kuat. Namun kita lupa bahwa kawan-kawan >> > wellsite geologist, >> > >> > operation geologist, exploration-operation geologist, >> > ataupun >> > production-operation geologist: mereka mempunyai >> > kompetensi yang kita butuhkan untuk ikut menjembatani gap >> > antara kejadian pemboran dengan semburan yang akhirnya >> > memicu proses alam menjadi semakin membesar membentuk >> > mud-volcano. Dalam tim IAGI sebenarnya ada 2 orang >> > operation geologist yang >> > >> > mumpuni, tetapi sejauh yang saya tahu mereka berdua >> > jarang sekali terlibat (atau dilibatkan) dalam day-to-day >> > evaluation tim secara keseluruhan. Untuk >> > >> > menekankan pentingnya "kunci" tersebut coba anda semua >> > perhatikan ungkapan Professor Sukendar Asikin berikut >> > "Saya bukan ahli pemboran, tapi berdasarkan fakta-fakta >> > dan saya telah mempelajari kasus serupa di tempat lain, >> > termasuk browsing internet dan membaca literatur di luar >> > negeri, saya >> > >> > yakin ini mud volcano," katanya (DetikCom 28 Desember >> > 2006: "2 Pakar Geologi >> > Kuak Misteri Lumpur Sidoarjo"). >> > >> > Kebanyakan dari para ahli kebumian tersebut diatas hanya >> > melihat "hasil akhir yang dinamis" (perkembangan dari >> > semburan kecil menjadi mud-volcano) dan "fenomena awal >> > yang statis" (sejarah tektonik, sedimentasi, data >> > seismik, data permukaan, bertebarannya mud volcano >> > fenomena di jalur kendeng, dsb). Jembatannya yang berupa >> > "pemboran" dan disisi lain "gempa" dalam kaitannya dengan >> > proses awal semburan hampir-hampir tidak disentuh (bahkan >> > seringkali dihindari). >> > >> > Jadi, pertanyaannya: pada kemana para ahli WSG kita? >> > >> > Longsor-banjir di Panti Jember, di Pacet Mojokerto, dan >> > diberbagai tempat lainnya adalah bencana alam. >> > Penggundulan hutan, perubahan fungsi lahan, dan >> > perencanaan pemukiman yang salah adalah penyebabnya. >> > Siapa yang bertanggung-jawab? Penggundul hutan, pengubah >> > fungsi lahan, perencana dan pelaksana tata ruang >> > seharusnya bertanggung-jawab. Tapi karena jarak waktu >> > antara kejadian dengan penyebab-nya terlalu jauh, maka >> > kita kesulitan untuk >> > >> > mengejar-ngejar penanggung-jawabnya. >> > >> > Dalam kasus Lumpur Sidoardjo, jarak waktu antara kejadian >> > dan "yang dicurigai" jadi penyebabnya sangat dekat. >> > Makanya, tidak heran kalau dengan >> > >> > gampang massa (media), pemerintah, dsb langsung bisa >> > tunjuk jari memaksa "yang dicurigai jadi penyebab" untuk >> > bertanggung-jawab. Sementara itu soal kecurigaan tsb >> > (bahasa ilmiahnya: hipothesis) masih belum juga bisa >> > dibuktikan secara komprehensif dan integratif, karena tim >> > ahli kebumiannya masih minus WSG. >> > >> > Lalu:.... bagaimana dengan para ahli WSg kita?? >> > >> > >> > Salam >> > >> > adb >> > arema >> > >> >> --------------------------------------------------------------------->> >> ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006 >> ----- detail information in >> http://pekanbaru2006.iagi.or.id >> --------------------------------------------------------------------->> To >> unsubscribe, send email to: >> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email >> to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >> Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> IAGI-net Archive 1: >> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net >> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> --------------------------------------------------------------------->> >> > > > -- > OK TAUFIK > > ---------------------------------------------------------------------> ----- > PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006 > ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id > ---------------------------------------------------------------------> To > unsubscribe, send email to: > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net > Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006 ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

