Betul pak Awang,
saya duga mestinya ada artefak di bawah ketinggian 725 m (ini adalah
kontur di sekitar Hotel Holiday Inn di jln. Dago - Jln. Sultan Agung).
Karena di bawah ketinggian 725 m umumnya jadi perkotaan, maka sudah sangat
sulit mencarinya.

Pantai danau yang "baru" (setelah saya pelajari topografi yang sekarang)
tidak melebihi ketinggian 715 m (itulah kontur topografi tertutup cekungan
Bdg di sekitar Padalarang sekarang ini, tentunya di luar lembah Citarum
sekarang; analisis bisa dibaca di makalah kami di Majalah Geologi
Indonesia IAGI Vol. 17 No. 3 Des 2002).

Jadi pantai danau menurut saya turun pada ketinggian 710 - 715 m yaitu
untuk di Bandung barat-utara kira-kira di Perumahan Cijerah, Ciroyom, Jln.
Kebon Kawung - Cicendo, sepanjang Jln. Aceh (Balai Kota Bdg - Stadion
Siliwangi), Jl. Lombok, Jl. Citarum (Masjid Istiqomah) dan terus ke arah
Pusdai dan Cikutra.

Hasil penelitian Dam (1994) pun tidak pernah menemukan endapan danau di
atas ketinggian 700 m.

Beberapa teman dari Geografi UPI dan Jurusan Sejarah UNPAD menemukan
artefak pada elevasi bawah, tetapi umumnya sudah memasuki masa-masa
kerajaan Hindu, seperti contohnya Candi Bojongmenje di Rancaekek itu.

Salam,
BB


> Pak Budi,
> Hanya, artefak flakes mikrolit dari obsidian yang ditemukan di
> situs-situs Bandung Utara, Padalarang, Cicalengka, Banjaran, Soreang,
> sampai ke sebelah barat Cililin itu berada pada garis ketinggian sekitar
> 725 meter. Sehingga, memberikan dugaan bahwa situs-situs tersebut
> terdapat di sekitar pinggir suatu badan air (danau) dengan muka airnya
> berada pada ketinggian 725 meter di atas permukaan laut. Saya pikir,
> kalau Danau Bandung pada 6000-3000 tahun yang lalu sudah tinggal sekedar
> rawa-rawa (ranca), tak akan menghalangi penemuan situs yang jauh lebih
> rendah dari 725 m. Teman2 ahli geologi dan arkeologi yang tergabung di
> dalam KRCB saya yakin mempunyai penjelasan tentang kronologi Danau
> Bandung dengan aspek kebudayaannya. Salam,
> awang
>
> -----Original Message-----
> From: Budi Brahmantyo [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, January 03, 2007 2:48 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Bagaimana Hasil Pentarikhan Umur Absolut
> Manusia Pawon ?
>
> Wah Abah,
> saya juga awam tentang arkeologi, hanya sering baca saja.
> Tapi menarik juga pertanyaan Abah yang luar biasa ini. Jangan-jangan
> manusia Pawon adalah Mongoloid pertama yang ditemukan pada daerah
> pegunungan.
> Mungkin ada yang lebih tahu...?
>
> Ngomong-ngomong soal Danau Bandung, ada beberapa informasi lagi:
>
> 1.
> Gua Pawon tidak menghadap ke Danau Bandung purba. Hamparan danau berada
> jauh di selatan dari Bukit Pawon, terhalang perbukitan
> Citatah-Rajamandala. Gua Pawon menghadap ke cekungan kecil berupa
> rawa-rawa (hingga sekarang dikenal sebagai Kampung Cirawamekar), bagian
> dari DAS Cimeta (Citarum Purba sebelum terbendung endapan letusan G.
> Tk.parahu di Ngamprah).
>
> 2.
> Umur danau perlu kritis menyimaknya. Yang menyatakan berumur 3000 - 6000
> th yl adalah Koenigswald (1935), dan itupun relatif dengan membandingkan
> temuan mikrolit di Dago Pakar dengan produk budaya sejenis di Sulawesi.
> Jadi Koenigswald hanya mengasumsikan bahwa manusia yang hidup di dago
> Pakar adalah manusia yang hidup sejaman dengan Danau Bandung Purba, atau
> ketika danau masih tergenang.
>
> 3.
> Cek disertasi M.A.C. Dam (1994) the Late Quaternary Evolution of the Bdg
> Basin: endapan terakhir (termuda) danau Bandung dg absolut dating C-14
> berumur 16.000 tahun yang lalu! Jadi danau Bdg sudah tidak ada (kering)
> sejak 16.000 tahun yang lalu. Saya yakin ketika manusia Dago Pakar atau
> Manusia Pawon hidup (3 - 6 ribu th yl), dataran Bandung hanya tinggal
> rawa-rawa yang luas, tetapi bukan danau. Hingga sekarang masih tersisa
> banyak ranca dan nama daerah berawalan ranca (alias rawa) di cekungan
> Bdg.
>
> Salam,
> BB
>>
>>>
>>      Budi 
>>
>>      Kalau PemDa masih hare hare mah kudu diCIWIT ,
>> lamun masih hare hare 
>>      keneh mah
>> tajong bae geura hehehe.
>>       Tapi 
>> kalau  itu ras mongolid , kok hidupnya dipegunungan ya ? 
>>       Apa memang setelah datang kebumi
>> Nusantara mereka terus bergerak 
>>      
>> kepedalaman ?
>>       Maaf pertanyaan dari
>> orang yang awam arkeologi .
>>      
>>      Si-Abah ( Urang Bandung pituin)
>>
>>     
>> _____________________________________________________________________
>>
>>      IAGI netters ysh.
>>>
>>> Terima kasih pak Awang atas pancingannya, sehingga saya coba
>> informasikan
>>> fakta terakhir tentang Gua Pawon (saya harap juga
>> nanti bisa ditambahi
>>> oleh pak Sujatmiko, dan teman-teman KRCB
>> yang lain).
>>>
>>> 1.
>>> Promosi dulu:
>>>
>> Jika berminat buku "Amanat Gua Pawon" dan "Bandung
>> Purba" terbit April
>>> 2004 masih bisa didapatkan di jaringan
>> outlet Mahanagari/Victory Bandung:
>>> Jl. Dago/tiga rumah sebelah
>> utara yoghurt Columbia, di CiWalk Jl.
>>> Cihampelas, dan di Braga
>> City Walk; tersedia juga di Gramedia Jl. Merdeka
>>> Bdg, tapi
>> "Amanat" sudah habis dan belum saya suplai lagi.
>>> Buku
>> hanya diedarkan di Bandung, itung-itung kekhasan "Oleh-oleh
>> Bandung"
>>> selain kripik, batagor, dll.
>>>
>>> 2.
>>> Sedikit promosi lagi: ada buku lain yang kami susun
>> tentang Bandung
>>> diterbitkan oleh KRCB dan Badan Geologi:
>> GEOWISATA SEJARAH BUMI BANDUNG.
>>> Buku bisa didapatkan di
>> Perpustakan Museum Geologi Bandung. Seluruh
>>> halaman full color,
>> kertas metz paper, dengan peta dan foto-foto yang
>>> menarik.
>> Harga sesuai dengan informasi itu.
>>>
>>> 3.
>>>
>> Kerangka sudah dideskripsi dan sedimen di Gua Pawon sudah didating
>> dengan
>>
>>> C-14 oleh Balai Arkeologi Bandung (Drs. Lutfi Yondri, MHum;
>> yang juga
>>> digunakan untuk menyusun tesis S2-nya di Jurusan
>> Arkeologi UI; lulus
>>> 2005).
>>> Hasilnya kira-kira
>> demikian:
>>> - fosil terlipat yang utuh: Ras Mongoloid.
>>>
>> - jenis kelamin belum diketahui (tapi kok saya menduga: perempuan?)
>>> - dikubur terlipat: sangat langka.
>>> - C-14 dating, bagian
>> atas kira-kira 5.6 yr.BP
>>> - C-14 dating bagian bawah yang
>> selevel lapisan dengan kerangka +/- 9.5
>>> yr.BP
>>>
>>> Kalau dating benar, maka inilah ras Mongoloid paling tua yang
>> ditemukan di
>>> seluruh Indonesia! 9.5 ribu. Tetapi para arkeolog
>> masih teguh berpendapat
>>> bahwa Mongoloid tidak lebih tua dari 5
>> - 6 ribu.
>>> Bisa saja orang-orang Mongoloid pada 5 - 6 ribu
>> menggali lapisan lantai
>>> gua yang lebih dalam (pada lapisan yang
>> berumur 9.5 ribu itu) untuk
>>> mengubur orang yang mereka hormati
>> itu.
>>>
>>> 4.
>>> Status Bukit Pawon sekarang
>> sebagai Situs Arkeologi (dilindungi UU No.
>>> 5/1992 ttg Benda
>> Cagar Budaya), batas lindung (katanya) dalam radius 1 km.
>>>
>> Pemprov Jabar sebenarnya telah merancang Bukit Pawon (dan kawasan
>> Ciletuh)
>>
>>> untuk dijadikan "Cagar Geologi" sesuai Perda Jabar
>> No. 2/2002 tentang
>>> Perlindungan Lingkungan Geologi. Namun, DPRD
>> Jabar masih belum ketok palu
>>> juga. Entah ada agenda politik apa
>> sehingga peresmian sebagai cagar
>>> geologi tertunda terus sampai
>> sekarang.
>>> Status tata ruang sekarang (Kab. Bdg): kawasan budi
>> daya non-pertanian
>>> (artinya industri, tambang, pariwisata,
>> apapun asal bukan pertanian oke).
>>> Terakhir tgl 30 Des 2006, dr.
>> Ko (sesepuh speleolog Indonesia) ketika
>>> menerima penghargaan
>> pariwisata dari Pemprov Jabar sempat menyampaikan
>>> pesannya
>> untuk melindungi karst Citatah kepada Danny Setiawan, Gub Jabar.
>>> Mudah-mudahan terrealisasi.
>>> Ancaman baru adalah:
>> pembentukan Kabupaten Bandung Barat yang dipastikan
>>> menjadikan
>> Citatah sebagai sumber PAD.
>>>
>>> 5.
>>>
>> Penambangan batu kapur resmi dan liar masih terus mengancam kawasan
>> karst
>>
>>> Citatah, padahal masih banyak bentukan-bentukan geomorfologis,
>> dan gejala
>>> geologis yang belum diteliti tuntas. Bahkan lokasi
>> tipe Formasi
>>> Rajamandala (Tagogapu Bed; Harting, 1929) di
>> Gunungmasigit sudah hancur
>>> porak poranda digali. BUkan tidak
>> mungkin dalam 5 tahun ke depan, lokasi
>>> tipe harus dicari
>> gantinya. Tetapi strato tipe nya masih cukup "aman" di
>>> tebing 125 Pasir Pabeasan, karena tebing ini jadi ajang latihan
>> panjat
>>> tebing. Namun kiri-kanannya sudah digali habis-habisan.
>>
>>>
>>> Sekali lagi, terima kasih pak Awang atas share
>> kepedulian karst Citatah.
>>> KRCB sudah expose di Gedung Sate
>> bulan Sept 2004 (beritanya bisa dibaca di
>>> Berita IAGI Nov. 2004
>> dan Feb. 2005), tetapi pemprov Jabar dan pemkab
>>> Bandung dalam
>> istilah Sundanya masih "hare-hare" (tidak peduli).
>>>
>>
>>> Begitu informasinya,
>>> Salam,
>>> BB
>>>
>>
>>>
>>>> KRCB (Kelompok Riset Cekungan Bandung) dan BAB
>> (Balai Arkeologi Bandung)
>>>> melakukan serangkaian penelitian
>> geologi dan arkeologi di Gua Pawon dan
>>>> sekitarnya, Citatah,
>> Padalarang pada 1998-2003. Penelitian-penelitian
>>>> ini
>> berhasil menemukan berbagai artefak (Desember 2000) yang menunjukkan
>>>> bahwa Gua Pawon pernah dihuni manusia (purba). Lalu, sebuah
>> penemuan
>>>> penting terjadi pada Oktober 2003 ketika empat
>> kerangka manusia dan
>>>> serpihan tulang hewan ditemukan di
>> lubang ekskavasi pada kedalaman dua
>>>> meter.
>>>
>>>> Keempat kerangka manusia tersebut terdiri atas dua buah
>> tengkorak
>>>> lengkap dengan rahang dan gigi. Dua buah kerangka
>> lainnya relatif masih
>>>> utuh mulai dari kepala sampai tulang
>> kaki dalam posisi terlipat
>>>> (meringkuk). Diperkirakan, bahwa
>> manusia pemilik kerangka ini pernah
>>>> hidup menghuni Gua
>> Pawon pada masa antara 11.000-10.000 tahun yang lalu
>>>>
>> (spesies : Homo sapien). Berdasarkan ciri-ciri tengkoraknya diduga
>> kuat
>>
>>>> mereka merupakan generasi pertama manusia ras Mongolid.
>>>
>>>> Kalau perkiraan umur kerangka/manusia itu benar,
>> maka penemuan manusia
>>>> Pawon ini penting dalam sejarah
>> kepurbakalaan Jawa Barat sebab inilah
>>>> penemuan pertama
>> kerangka manusia (purba) di Jawa Barat. Sebelumnya, di
>>>>
>> beberapa tempat di Jawa Barat hanya ditemukan artefak-artefak tanpa
>>>> manusia pembuatnya.
>>>
>>>> Situs arkeologi
>> Gua Pawon menjadi semakin menarik dan penting sebab
>>>> secara
>> geologi situs ini berlokasi di tepi ”Danau
>> Bandung” –danau
>>>> yang pernah
>> terjadi menenggelamkan lokasi Bandung (sekarang) dan
>>>>
>> sekitarnya akibat terbendungnya aliran Sungai Citarum oleh material
>>>> letusan Gunungapi Tangkuban Perahu dan mungkin penurunan
>> tektonik pada
>>>> sekitar 125.000 – 5000
>> tahun yang lalu (terdapat beberapa interpretasi
>>>> atas umur
>> masa Danau Bandung ini).
>>>
>>>> Di situs Pawon pun
>> ditemukan artefak berupa perkakas/senjata terbuat
>>>> dari
>> batuan obsidian. Kita tahu perkakas/senjata dari obsidian pun
>>>> banyak ditemukan di situs Dago Pakar, Bandung. Di kedua situs
>> tersebut
>>>> tidak terdapat bukit/gunung terbuat dari obsidian
>> yang menjadi bahan
>>>> dasar pembuatan perkakas/senjata. Para
>> ahli pernah menyimpulkan bahwa
>>>> obsidian tersebut berasal
>> dari Gunung Kendan di sekitar kawasan Nagrek,
>>>> Garut.
>> Artinya, bahwa pada masa purba tersebut telah terjadi transaksi
>>>> jual beli bahan mentah atau juga para manusia purba ini telah
>> mengembara
>>>> mencari bahan mentah yang bagus jauh dari tempat
>> asalnya. Apakah mereka
>>>> mengembara dengan berjalan kaki
>> ratusan km ? Atau, bisa saja dengan
>>>> mengendarai rakit di
>> sekeliling Danau Bandung.
>>>
>>>> Lalu, apa hubungan
>> manusia Pawon ini dengan temuan kerangka manusia di
>>>> situs
>> Batujaya dan Cibuaya, Karawang Utara yang belum lama ini ditemukan
>>>> ? (pernah kita diskusikan di milis ini). Belum jelas selama
>> belum ada
>>>> data pentarikhan absolut kerangka-kerangka
>> manusia purba ini.
>>>
>>>> Menyusul penemuan penting
>> kerangka manusia di situs Gua Pawon ini
>>>> terjadi semacam
>> polemik antara KRCB dan BAB dengan Pemerintah Kab.
>>>> Bandung
>> dan para pengusaha kapur di Citatah. Penemuan penting ini
>>>>
>> terjadi di sekitar gua-gua gamping yang dari hari ke hari bisa kita
>>>> lihat pengrusakannya akibat digali dan diledakkan untuk
>> kepentingan
>>>> ekonomi. Pencagaran situs ini dan sekitarnya
>> jelas penting mengingat
>>>> sejarah purbakala Jawa Barat masih
>> gelap, sekarang sedikit mulai terkuak
>>>> dengan penemuan situs
>> Gua Pawon, lalu apakah akan segera gelap lagi
>>>> seiring
>> lenyapnya bukit-bukit gamping di Citatah ?
>>>
>>>>
>> Tulisan-tulisan geo-arkeologi di sekitar penemuan situs Gua Pawon,
>>>> Padalarang dikumpulkan di dalam buku ”Amanat Gua
>> Pawon” (KRCB, April
>>>> 2004) yang disunting oleh
>> Budi Brahmantyo (ITB) dan T. Bachtiar (UNINUS)
>>>>
>> – dari KRCB. Menarik, membaca kedua puluh artikel di
>> dalam buku ini.
>>>> Artikel2 ini ditulis oleh berbagai penulis
>> dengan aneka latar belakang,
>>>> dari ahli geologi, ahli
>> arkeologi, wartawan, penyair, sampai pemanjat
>>>> tebing
>> Citatah. Buku lain yang seumur dan membahas juga Gua Pawon adalah
>>>> ”Bandung Purba” (T. Bachtiar dan Dewi
>> Syafriani, - Masyarakat
>>>> Geografi Indonesia, April 2004).
>> Buku terakhir ini diberi kata pengantar
>>>> oleh Prof.
>> Koesoemadinata yang membahas sejarah Danau Bandung dan
>>>>
>> manusia Sunda purba (Ki Sunda).
>>>
>>>> Sayang, di dalam
>> kedua buku itu tidak ditemukan hasil pentarikhan umur
>>>>
>> (dating) absolut kerangka manusia purba Gua Pawon. Saya rasa, ini yang
>>>> sering terjadi dengan penemuan-penemuan arkeologi di negeri
>> Indonesia.
>>>> Penentuan umur absolutnya baru datang belakangan
>> – cukup lama
>>>> menantinya. Apakah hanya
>> dengan dating Carbon-14 kita pun (baca :
>>>>
>> laboratorium-laboratorium geokronologi di Indonesia) tak bisa
>>>> melakukannya ? Saya pikir bisa. Hal ini pun terjadi dengan
>> situs
>>>> Batujaya. Untuk men-dating umur kerangka di situ
>> didatangkan ahli khusus
>>>> dari Prancis dan membawa sampelnya
>> untuk diperiksa di Prancis. Belum ada
>>>> kabarnya lagi berapa
>> umur absolut kerangka manusia Batujaya itu.
>>>> Padahal, data
>> umur absolut itu begitu pentingnya untuk menempatkan suatu
>>>>
>> temuan dalam posisi kronologi yang benar.
>>>
>>>> Pak
>> Budi Brahmantyo atau Pak Sujatmiko (KRCB, juga anggota milis ini)
>>>> barangkali dapat berkomentar soal status kemajuan penelitian
>> manusia Gua
>>>> Pawon ini : umur absolutnya dan status
>> pencagaran Gua Pawon, setelah
>>>> tiga tahun sejak penemuannya
>> ?
>>>
>>>> ”Kesuksesan sebenarnya kegiatan
>> ekskavasi bukan bergantung kepada
>>>> penemuan menggemparkan
>> yang jarang terjadi, tetapi kepada pengumpulan
>>>> data dan
>> informasi yang diperoleh sedikit demi sedikit dari waktu ke
>>>>
>> waktu dengan penuh kesabaran dan usaha-usaha yang nantinya akan
>>>> memberikan gambaran yang jelas”
>> – Sir Leonard Wooley, 1932 –
>>>> arkeolog Mesopotamia Selatan
>>>
>>>> Tak akan
>> ada penemuan menggemparkan tanpa ketekunan dan kesabaran
>>>>
>> terus-menerus.
>>>
>>>>
>>>>
>>>>
>> salam dan selamat tahun baru 2007,
>>>>
>>>> awang
>>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>> ---------------------------------------------------------------------
>>> ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
>>>
>> ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
>>>
>> ---------------------------------------------------------------------
>>> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
>>
>>> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
>>
>>> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>>> Pembayaran
>> iuran anggota ditujukan ke:
>>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia
>> Jakarta
>>> No. Rek: 123 0085005314
>>> Atas nama: Ikatan
>> Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>>> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>>> No. Rekening: 255-1088580
>>> A/n: Shinta Damayanti
>>> IAGI-net Archive 1:
>> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
>>> IAGI-net
>> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>>>
>> ---------------------------------------------------------------------
>>>
>>>
>
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> -----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
> -----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
> --------------------------------------------------------------------- To
> unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> ayo bersiap untuk PIT IAGI ke-36 tahun 2007!!!
> semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional...
> ---------------------------------------------------------------------
>
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
ayo bersiap untuk PIT IAGI ke-36 tahun 2007!!!
semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional...
---------------------------------------------------------------------

To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke