metode "killing mud softly" akhirnya diplesetkan
menjadi "killing me softly" yang kalau dalam konteks
LUSI (Lumpur Sialan) di Porong, diartikan "tenggelam
pelan-pelan dan menghanyutkan segala jiwa raga serta
harapan dari ribuan pengungsi dan sejumlah asset yang
sulit di-angka-kan"

metode ini dicoba sebagai bentuk alternatif dari
segala upaya untuk mengurungi debit semburan lusi,
disaat metode relief well "ketiban masalah terlalu
banyak". Yaa..kita berdoa saja semoga sembuh
lumpurnya. 

Yang dikhawatirkan adalah bagaimana geometri dari
"pusat semburan" yang banyak diyakini mempunyai
"ketidak-teraturan retakan". Ketidak-teraturan
tersebut bisa jadi sudah meluas, pelan namun pasti..,
amblesan terus terjadi, bukaan retakan juga terus
mengikutinya. Karena tekanan dari bawah jalan terus.

Namun demikian teknologi ini perlu dicoba...
Dalam waktu dekat sekumpulan ahli geologi, geofisika,
geodinamik, drilling, perminyakan, teknik fisika,
teknik geodesi, dll dari sekelompok orang yang peduli
terhadap pemikiran-pemikiran / cara-cara mencari
solusi dalam kasus LUSI ini, akan melakukan roundtable
meeting. Saya sendiri sudah mendapat kabar, meeting
ini tertutup oleh pers atau juga tertutup oleh anggota
milis IAGI atau malah diperbolehkan bergabung. Mohon
maaf, bang, saya cerita ini di milist. 

Akhirnya : ...."ketika isi perut bumi dimuntahkan
oleh-Nya...." begitu penggalan sebagian Ayat-ayat
Tuhan.

Salam
GUSHEND

--- "Maryanto (Maryant)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> Ya, saya pun mengkhawatirkan hal ini: penutupan
> lubang (utama) malah
> memunculkan banyak lubang baru (yang lebih tak
> terkontrol), muncul di
> tempat relatif tak terduga (sebelumnya). Sejak ada
> ide penutupan lubang
> permukaan, sayapun melihat bahaya kemunculan lubang
> (baru) ini. Termasuk
> sa'at itu ketika ada ide pembuatan cerobong lubnag
> utama. Cuma ya, tak
> punya ide untuk menutupnya (mengatasinya), kecuali
> terus mengkontrol
> yang sudah (terus) keluar, 3 ribu tahun. Dengan
> elevasi yang 10 ft (m?)
> dari muka laut, ini bisa akan lebih rendah, dan air
> laut bisa masuk ke
> sini (?). MYT.
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: Rovicky Dwi Putrohari
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Wednesday, January 17, 2007 7:22 AM
> To: [email protected]
> Cc: HAGI-Net; [EMAIL PROTECTED]; migas
> indonesia
> Subject: [iagi-net-l] Sumbat dengan Bola Beton 2
> Minggu Lagi
> 
> btw, yang saya takutkan munculnya semburan-semburan
> liar disekitarnya
> yang saat ini kondisinya sudah terpecah2 akibat
> subsidence. ditandai
> munculnya semburan2 kecil disekitarnya.
> 
> Yang menjadi menarik adalah sensor2 yang diletakkan
> di dalam bola beton
> ini. Entah metode apa yg dipergunakan untuk
> positioningnya, alat
> pengukurannya dan mengirimkan sinyalnya dsb. Sebagai
> bagian dari
> pengenalan fenomena Mud Volcano, kalau saja
> data-data ini bisa diperoleh
> dengan baik saya rasa ini menjadi bahan (data)
> penelitian menarik.
> 
> Moga-moga saja berhasil.
> 
> rdp
> ===========================
> Rabu, 17 Jan 2007,
> Sumbat dengan Bola Beton 2 Minggu Lagi
> 
> Hentikan Semburan, Pakai Metode ITB
> JAKARTA - Pemerintah menyatakan penghentian semburan
> lumpur Lapindo di
> Sidoarjo dengan metode relief well gagal. Karena
> itu, dana yang selama
> ini dipakai untuk membiayai teknik pengeboran
> tersebut akan dialihkan
> untuk pembangunan kanal pembuangan lumpur dan
> mengatasi dampak sosial.
> 
> Sebagai gantinya, dalam dua pekan mendatang Tim
> Nasional (Timnas)
> Penanggulangan Semburan Lumpur akan menerapkan
> teknik baru yang diberi
> nama killing mud softly. Dalam metode yang
> dicetuskan pakar fisika dari
> Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, penghentian
> lumpur dilakukan
> dengan menjatuhkan bola-bola beton seberat 400
> kilogram di pusat
> semburan.
> 
> "Technically, it's impossible, dengan berbagai
> kondisi yang ada sekarang
> untuk menghentikan semburan lumpur tersebut," kata
> Menteri Energi dan
> Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro usai
> membuka Indogas 3th
> Conference and Exhibition di Jakarta Convention
> Center kemarin.
> 
> Juru bicara Timnas Rudi Novrianto menjelaskan detail
> teknik killing mud
> softly. "Satu rangkaian terdiri atas empat bola,"
> jelas Rudi. Dua di
> antaranya berjari-jari 40 sentimeter, sedangkan dua
> yang lain
> berjari-jari 20 sentimeter.
> 
> Nanti rangkaian bola-bola beton itu dimasukkan ke
> lubang di pusat
> semburan lumpur. "Kesulitannya memang menentukan
> titik semburan,"
> ungkap Rudi. Diharapkan saat dijatuhkan, rangkaian
> bola-bola beton tak
> meleset dan bisa masuk tepat ke lubang semburan.
> "Untuk menjatuhkannya
> digunakan crane," jelas Rudi. Cara lain menggunakan
> semacam tali jemuran
> yang bisa digerakkan.
> 
> Menurut dia, metode tersebut terus dimatangkan oleh
> tim pakar dari
> Timnas. Senin (22/1) depan, kata Rudi, diadakan
> rapat kembali menyangkut
> pematangan penerapan metode tersebut. "Kontraktor
> yang menangani
> pengerjaan bola-bola beton adalah PT Wijaya Karya,"
> ungkapnya.
> 
> Rudi menyebut, bahan bola-bola itu seperti halnya
> beton biasa.
> "Mungkin biar agak berat, pasirnya dicampur bijih
> besi. Selebihnya sama.
> Ada semen, pasir, dan rangka dari besi," paparnya.
> 
> Kapan metode tersebut dilakukan? Rudi belum
> memastikan. Namun, dia
> memperkirakan pembuatan bola-bola tersebut selesai
> dalam dua minggu.
> "Yang jelas, upaya itu hampir pasti dicoba di sini,"
> ujarnya.
> 
> Dia mengatakan, prinsip kerja metode itu sebenarnya
> cukup sederhana.
> Lumpur di pusat semburan, kata Rudi, diharapkan tak
> bisa langsung
> menyembur ke luar. Lumpur panas itu harus melewati
> sela-sela bola beton
> yang ada. "Lumpur akan dibuat sibuk terlebih dulu,"
> katanya.
> 
> Selanjutnya, metode yang masih pertama diterapkan
> itu diharapkan bisa
> mengurangi debit semburan lumpur hingga 70 persen.
> "Tapi, turun 50
> persen saja sudah sangat bagus," ungkap Rudi. Biaya
> yang dibutuhkan
> mencapai sekitar RP 1,6 miliar. Menurut Rudi, akan
> disiapkan 500
> rangkaian bola-bola beton.
> 
> Apakah Timnas optimistis terhadap metode tersebut?
> Rudi hanya
> mengatakan, tak ada salahnya mencoba. Dari paparan
> yang pernah diterima,
> kata dia, metode itu memang pantas dicoba.
> 
> Menurut Rudi, tim pakar sempat mempertanyakan kalau
> bola-bola itu ikut
> menyembur ke luar. "Atau, bagaimana kalau bola-bola
> itu terlempar
> kembali seperti pelor," katanya.
> 
> Ternyata, jelas Rudi, penggagasnya sudah
> mengantisipasi kondisi itu.
> Justru energi semburan lumpur akan diredam.
> Selanjutnya, energi yang
> sangat besar itu diubah menjadi energi getaran,
> rotasi, friksi, dan
> translasi oleh bola-bola beton yang ada.
> 
> Teknik semacam itu disebut teknik high density
> chained balls (HDCB).
> Yaitu, memasukkan material dengan densitas tinggi
> yang berbentuk
> rangkaian bola. "Jadi, teknik itu tidak men-counter
> tekanan, tapi
> merekayasa tekanan," jelasnya.
> 
> Prosesnya pun dilakukan pelan-pelan (gradual).
> Penurunan debit semburan
> lumpur terjadi karena pengecilan permukaan sembur
> oleh susunan HDCB.
> Selain itu, sifat lumpur yang kental makin mendukung
> kinerja bola-bola
> tersebut. "Semoga saja itu bisa berhasil," harap
> Rudi.
> 
> Setiap hari, rencananya dimasukkan antara 25 sampai
> 100 bola.
> Selanjutnya, digunakan sensor khusus yang dipasang
> di rangkaian
> bola-bola tersebut. Sensor itu dipasang untuk
> mengetahui tekanan dan
> arah bola. Pada tekanan tertentu, sensor akan
> terlepas dan naik sehingga
> bisa dipakai lagi.
> 
> Saat ini volume semburan lumpur mencapai 100 meter
> kubik per hari.
> Sejak menyembur pertama pada 29 Mei 2006 lalu, total
> volume lumpur yang
> sudah ke luar sekitar 10 juta meter kubik.
> 
> 
> Lapor SBY
> 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
Finding fabulous fares is fun.  
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel 
bargains.
http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097

---------------------------------------------------------------------
siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini???
ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau Dewata!!!
semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional...
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke