Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah bola-bola itu dapat benar-benar 
menyumbat seperti yang diharapkan. Densitas bola itu kalau gak salah 2.4 ( ~20 
ppg), sedangkan lumpurnya mungkin sekitar 1.5 (12 ppg - dynamic).  Apa dengan 
beda  8 ppg sudah cukup untuk membuat bola itu jatuh ke mulut semburan dan 
menutup atau paling gak bertahan terhadap dorongan lumpur, atau jangan-jangan 
cuman mengapung?  Barangkali ceritanya akan lain kalau memasukkannya dengan 
didorong, bukan didrop pake crane. 
   
  Kalaupun kemudian bisa menyumbat, apakah sudah diantisipasi munculnya 
semburan baru di tempat lain. Pengalaman waktu kecil, waktu bikin bendungan 
buat nurap kolam ikan, kalau menambal bendungan bocor dari belakang akan muncul 
bocoran baru di tempat lain, kecuali kalo nambal dari depan. Yang akan 
dilakukan mirip-mirip dengan ini, walaupun memang sudah disebutkan bahwa 
tujuannya hanya mengurangi aliran bukan menyumbat.
   
  Bagaimana kalau metoda cement grouting, apa kendalanya kok gak dicoba?
   
  Salam
  BPJ
  

Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Saya rasa memang ga ada salahnya mencoba.
Dan memang harus disadari apapun tindakan selalu ada risikonya.
Termasuk diem saja ngga ngapa-ngapainpun juga berisiko, kan ?
Emangnya kalau diem ngga diapa-apain trus semburan itu bisa dikontrol.
Lah wong didiemin aja tanggul jebal-jebol terus kok. Artinya kita
hanya mencoba memahami perilakunya saja sudah susah, apalagi
mengontrol, gitu kan Abah ?

Yang penting mnurut saya segalanya mesti dihitung sesuai pengetahuan
yang ada. Kalau sekarang ada simulasi ya coba disimulasikan. Kalau
data masih kurang ya diambil dulu datanya, yang penting jangan
spekulasi !. Trus kalau terjadi sesuatu ya kita tangani bareng2.
Supaya bisa ditangani bareng tentunya perlu sosialisasi setiap
tindakan yang dilakukan. jangan sampai menutup2i sesuatu ... kalau
tiba-tib tak terkontrol malah disalah-in runyem deh :(

Aku rasa timnas perlu sosialisasi setiap tindakan yang akan diambil.
Bukan untuk minta pendapat atau merubah program, sekedar sosialisasi,
pa yang akan dilakukan. Saya dengar di HAGI akan ada seminar ttg cara
yg diusulkan ini. Bagus juga kalau bisa terbuka untuk umum.

salam

RDP


On 1/18/07, [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
>
> >
> Vick
>
> Mungkin energi
> yang mendorong lumpur keluar akan mendorong bola bola , YANG
>
> KARENA bentuknya akan berputar dan bersinggungan satu sama lain
> dengan demikian
> energi tidak akan keluar secara vertikal
> akan tetapi akan ber - putar2 di"tempat"
>
> sembari bermain bola bola.
> Berangkali begituuuu .
>
> Ada yang bisa membuat animasi - nya ?
>
>
> Si Abah.
>
> btw, yang saya
> takutkan munculnya semburan-semburan liar disekitarnya
> > yang
> saat ini kondisinya sudah terpecah2 akibat subsidence. ditandai
> >
> munculnya semburan2 kecil disekitarnya.
> >
> > Yang menjadi
> menarik adalah sensor2 yang diletakkan di dalam bola
> > beton ini.
> Entah metode apa yg dipergunakan untuk positioningnya, alat
> >
> pengukurannya dan mengirimkan sinyalnya dsb. Sebagai bagian dari
> > pengenalan fenomena Mud Volcano, kalau saja data-data ini bisa
> > diperoleh dengan baik saya rasa ini menjadi bahan (data) penelitian
>
> > menarik.
> >
> > Moga-moga saja berhasil.
> >
> > rdp
> > ===========================
> >
> Rabu, 17 Jan 2007,
> > Sumbat dengan Bola Beton 2 Minggu Lagi
> >
> > Hentikan Semburan, Pakai Metode ITB
> > JAKARTA -
> Pemerintah menyatakan penghentian semburan lumpur Lapindo di
> >
> Sidoarjo dengan metode relief well gagal. Karena itu, dana yang selama
> > ini dipakai untuk membiayai teknik pengeboran tersebut akan
> dialihkan
> > untuk pembangunan kanal pembuangan lumpur dan
> mengatasi dampak sosial.
> >
> > Sebagai gantinya, dalam dua
> pekan mendatang Tim Nasional (Timnas)
> > Penanggulangan Semburan
> Lumpur akan menerapkan teknik baru yang diberi
> > nama killing mud
> softly. Dalam metode yang dicetuskan pakar fisika
> > dari Institut
> Teknologi Bandung (ITB) itu, penghentian lumpur
> > dilakukan
> dengan menjatuhkan bola-bola beton seberat 400 kilogram di
> >
> pusat semburan.
> >
> > "Technically, it's impossible,
> dengan berbagai kondisi yang ada
> > sekarang untuk menghentikan
> semburan lumpur tersebut," kata Menteri
> > Energi dan Sumber
> Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro usai membuka
> > Indogas
> 3th Conference and Exhibition di Jakarta Convention Center
> >
> kemarin.
> >
> > Juru bicara Timnas Rudi Novrianto
> menjelaskan detail teknik killing
> > mud softly. "Satu
> rangkaian terdiri atas empat bola," jelas Rudi. Dua
> > di
> antaranya berjari-jari 40 sentimeter, sedangkan dua yang lain
> >
> berjari-jari 20 sentimeter.
> >
> > Nanti rangkaian
> bola-bola beton itu dimasukkan ke lubang di pusat
> > semburan
> lumpur. "Kesulitannya memang menentukan titik semburan,"
> > ungkap Rudi. Diharapkan saat dijatuhkan, rangkaian bola-bola beton
> tak
> > meleset dan bisa masuk tepat ke lubang semburan.
> "Untuk menjatuhkannya
> > digunakan crane," jelas Rudi.
> Cara lain menggunakan semacam tali
> > jemuran yang bisa
> digerakkan.
> >
> > Menurut dia, metode tersebut terus
> dimatangkan oleh tim pakar dari
> > Timnas. Senin (22/1) depan,
> kata Rudi, diadakan rapat kembali
> > menyangkut pematangan
> penerapan metode tersebut. "Kontraktor yang
> > menangani
> pengerjaan bola-bola beton adalah PT Wijaya Karya,"
> >
> ungkapnya.
> >
> > Rudi menyebut, bahan bola-bola itu
> seperti halnya beton biasa.
> > "Mungkin biar agak berat,
> pasirnya dicampur bijih besi. Selebihnya
> > sama. Ada semen,
> pasir, dan rangka dari besi," paparnya.
> >
> > Kapan
> metode tersebut dilakukan? Rudi belum memastikan. Namun, dia
> >
> memperkirakan pembuatan bola-bola tersebut selesai dalam dua minggu.
> > "Yang jelas, upaya itu hampir pasti dicoba di sini,"
> ujarnya.
> >
> > Dia mengatakan, prinsip kerja metode itu
> sebenarnya cukup sederhana.
> > Lumpur di pusat semburan, kata
> Rudi, diharapkan tak bisa langsung
> > menyembur ke luar. Lumpur
> panas itu harus melewati sela-sela bola
> > beton yang ada.
> "Lumpur akan dibuat sibuk terlebih dulu," katanya.
> >
>
> > Selanjutnya, metode yang masih pertama diterapkan itu
> diharapkan bisa
> > mengurangi debit semburan lumpur hingga 70
> persen. "Tapi, turun 50
> > persen saja sudah sangat
> bagus," ungkap Rudi. Biaya yang dibutuhkan
> > mencapai
> sekitar RP 1,6 miliar. Menurut Rudi, akan disiapkan 500
> >
> rangkaian bola-bola beton.
> >
> > Apakah Timnas optimistis
> terhadap metode tersebut? Rudi hanya
> > mengatakan, tak ada
> salahnya mencoba. Dari paparan yang pernah
> > diterima, kata dia,
> metode itu memang pantas dicoba.
> >
> > Menurut Rudi, tim
> pakar sempat mempertanyakan kalau bola-bola itu ikut
> > menyembur
> ke luar. "Atau, bagaimana kalau bola-bola itu terlempar
> >
> kembali seperti pelor," katanya.
> >
> > Ternyata,
> jelas Rudi, penggagasnya sudah mengantisipasi kondisi itu.
> >
> Justru energi semburan lumpur akan diredam. Selanjutnya, energi yang
> > sangat besar itu diubah menjadi energi getaran, rotasi, friksi, dan
>
> > translasi oleh bola-bola beton yang ada.
> >
> >
> Teknik semacam itu disebut teknik high density chained balls (HDCB).
> > Yaitu, memasukkan material dengan densitas tinggi yang berbentuk
>
> > rangkaian bola. "Jadi, teknik itu tidak men-counter
> tekanan, tapi
> > merekayasa tekanan," jelasnya.
> >
>
> > Prosesnya pun dilakukan pelan-pelan (gradual). Penurunan debit
>
> > semburan lumpur terjadi karena pengecilan permukaan sembur oleh
>
> > susunan HDCB. Selain itu, sifat lumpur yang kental makin
> mendukung
> > kinerja bola-bola tersebut. "Semoga saja itu
> bisa berhasil," harap
> > Rudi.
> >
> > Setiap
> hari, rencananya dimasukkan antara 25 sampai 100 bola.
> >
> Selanjutnya, digunakan sensor khusus yang dipasang di rangkaian
> >
> bola-bola tersebut. Sensor itu dipasang untuk mengetahui tekanan dan
> > arah bola. Pada tekanan tertentu, sensor akan terlepas dan naik
> > sehingga bisa dipakai lagi.
> >
> > Saat ini volume
> semburan lumpur mencapai 100 meter kubik per hari.
> > Sejak
> menyembur pertama pada 29 Mei 2006 lalu, total volume lumpur
> >
> yang sudah ke luar sekitar 10 juta meter kubik.
> >
> >
> > Lapor SBY
> >
> > Hari ini sejumlah tokoh di Jawa
> Timur akan menghadap Presiden Susilo
> > Bambang Yudhoyono. Mereka
> akan menyampaikan protes karena
> > penanggulangan semburan lumpur
> tidak optimal.
> >
> > Para tokoh Jatim itu tergabung dalam
> sebuah wadah bernama Forum Peduli
> > Musibah Lumpur Panas Porong
> (FPMLPP) yang dipimpin Ketua Pimpinan
> > Wilayah NU Ali Maschan
> Musa. Selain Ali, ada 19 nama lain yang ikut
> > menghadap SBY. Di
> antarnya Dekan FISIP Universitas Airlangga (Unair)
> > Prof Hotman
> Siahaan, Wakil Ketua DPRD I Jatim Ridwan Hisjam, dan
> > mantan
> Pemred Jawa Pos Sholihin Hidayat.
> >
> > "Kami ingin
> memberikan masukan kepada presiden. Sebab, ada indikasi
> >
> informasi yang sampai ke presiden dari pihak birokrasi tak sesuai
> > dengan fakta di lapangan. Kami ingin menyampaikan yang sesungguhnya
>
> > soal penanganan lumpur panas," kata koordinator FPMLPP KH
> Abdi Manaf.
> >
> > Dia mencontohkan informasi tentang pompa
> dan spill way. Menurut dia,
> > pompa yang dioperasikan untuk
> menyedot lumpur tidak berfungsi optimal.
> > "Fungsinya hanya
> 20 persen. Mungkin presiden tidak tahu itu,"
> > jelasnya.
> >
> > Begitu juga spill way. Fakta di lapangan menunjukkan
> saluran itu juga
> > tak mampu mengalirkan lumpur dengan baik.
> "Spill way jadi kering
> > karena timbunan lumpur sehingga
> lumpur tidak mengalir," jelasnya.
> >
> > FPMLPP juga
> akan bercerita banyak soal dampak sosial lumpur. Mulai
> > kondisi
> ekonomi, perumahan rakyat hingga semakin banyaknya
> > pengangguran
> akibat pabrik dan usaha kecil yang terendam lumpur panas.
> >
> > "Selama ini dampak sosial tidak tersentuh seluruhnya. Padahal,
> semakin
> > lama dampaknya semakin buruk. Rakyat semakin sengsara
> dan ekonomi
> > makin hancur. Ini juga jadi fokus pembicaraan
> nanti," timpal Sholihin
> > Hidayat.
> >
> >
> Buruknya penanggulangan lumpur dan dampak sosial itu, kata Sholihin,
> > menjadi indikasi bahwa kinerja Timnas tidak becus. "Debit
> semburan
> > semakin tinggi, tanggul sering jebol, dan semakin
> banyak desa yang
> > terendam lumpur. Itu indikasi Timnas tidak
> berhasil menangani lumpur,"
> > tegas pemerhati NU itu.
> (dyn/iw/fid)
> >
> > --
> >
> http://rovicky.wordpress.com/
> >
> >
> ---------------------------------------------------------------------
> > ayo bersiap untuk PIT IAGI ke-36 tahun 2007!!!
> >
> semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional...
> >
> ---------------------------------------------------------------------
> >
> > To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website:
> http://iagi.or.id
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123
> 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> > IAGI-net Archive 1:
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net
> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> >
> ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
>
>
>


-- 
http://rovicky.wordpress.com/

---------------------------------------------------------------------
siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini???
ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau Dewata!!!
semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional...
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------



 
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.

Kirim email ke