Kan setiap project ada indeks yang namanya "local content" yang selalu di kasih 
batas minimum dan di monitor.
atau mungkin kalau produk2 luar itu di supply oleh perusahaan lokal sudah masuk 
local content ya?
kalau barang2 seperti telepon sih sudah banyak diproduksi di Indonesia.
malahan produk electronic panasonic yang di Malaysia rata2 buatan Indonesia.
jangan2 light bulb yang dikantor juga buatan perancis.  he.   he. he...

fbs


----- Original Message ----
From: OK Taufik <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, February 2, 2007 9:22:18 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] efek berganda industri minyak was:Re: [iagi-net-l] 
Target Produksi Minyak 1,3 Juta bph Berdasarkan Perhitungan Matang


Hal yang sama kuprihatinkan , tak banyak produk dan teknologi DN yang muncul
dan dimanfaatkan dari peluang oil Industry ini..bukan tak mampu tapi
kemungkinan kebijaksanaan dan peraturan yang tak memihak, kita contoh saja
la di total (lagi-lagi total), kelihatan mereka begitu memanfaatkan benar
keberadaan Total di indonesia untuk promosi produk mereka, dari mobil , ac
unit sampai telephone set yang di pakai di lingkungan Total..semua made in
France, dari Plaform Peciko sampai Handil II mungkin tak ada produk dan
kontraktor DN yang terlibat (KSKS=koreksi saya kalau salah). Mungkin itu
yang harus dilakukan Pertamina kalau Go International, sembari carigali
minyak mungkin bisa promosi produk Indonesia.

On 2/1/07, noor syarifuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> >Tapi hal ini dibantah Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Menurutnya,
> >investasi di sektor migas tetap bergeliat. Hal ini terlihat dari jumlah
> >investasi yang besar di sektor migas pada 2006 yang mencapai 14,5 miliar
> >dolar AS. ''Ini menjadi tolok ukur peraturan perundang-undangan bisa
> membuka
> >kesempatan kepada investor,'' kata dia usai membuka forum diskusi audit
> >migas beberapa waktu lalu
>
> Yang mungkin patut dipertanyakan adalah dari 14.5 M US $ ini berapa yang
> sebenarnya dibelanjakan di Indonesia. Untuk kegiatan eksplorasi, kontraktor
> seismik dan pengeboran mayoritasnya dari luar (beruntunglah kita punya
> Medco....). Sedangkan untuk pengembangan lapangan, kita tahu persis sebagian
> besar proses fabrikasi platform dan instalasi permukaan dilakukan di luar
> Indonesia (korea, Singapura etc). Ada beberapa komponen yang sudah bisa
> difabrikasi di Batam, tapi kelihatannya proporsinya tidak terlalu besar
> mungkin ya (cmiiw).
>
> Pertanyaannya, kenapa industri minyak yang sudah 100 tahun lebih kok
> kelihatannya gagal untuk menjadi katalis bagi berkembangnya industri
> pendukungnya di Indonesia. Partnership memang dilakukan, tpai kelihatannya
> partner lokal lebih sering jadi formalitas saja.
> Dengan gagalnya proses ini, maka proses efek berganda yang diharapkan
> menjadi sangat sulit diharapkan. Kalau ini dibenahi, maka persoalan CR
> menjadi tidak terlalu "sensitive" lagi karena bagaimanapun uangnya berputar
> di Indonesia juga.
>
>
> salam,
>
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Ismail Zaini <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Friday, February 2, 2007 12:07:48 PM
> Subject: Re: [iagi-net-l] Target Produksi Minyak 1,3 Juta bph Berdasarkan
> Perhitungan Matang
>
>
> Sama sama Pakar Migas , pendapatnya bisa berbeda tergantung berada dimana
> ,
> sebagai pengamat lain dg sebagai pemerintah ..
>
> ISM
> ================================
> PELUANG DAN TANTANGAN INDUSTRI MIGAS
>
> UU Migas tidak membuat investor untung. Namun, diperas sebelum menemukan
> cadangan migas.
>
>
> Bicara soal minyak dan gas (migas) akan menjadi topik yang tetap menarik
> dibahas, mengingat keduanya menjadi kebutuhan yang sangat strategis. Kali
> ini yang menjadi topik bahasan adalah penurunan produksi minyak nasional
> yang terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Bahkan saat ini hanya
> tinggal 1 juta barep per hari (bph) dari 1,5 juta bph pada 1997.
>
> Berdasarkan data British Petroleum (BP), sejak 1995 sampai 1998 produksi
> minyak nasional Indonesia berkisar di angka 1,5 juta bph. Kemudian menurun
> menjadi kisaran 1,4 juta bph sampai tahun 2000. Pada tahun selanjutnya
> yang
> hanya berada di angka 1,3 juta bph dan 1,2 juta bph pada 2002.
>
> Penurunan ini tidak berangsur pulih. Malahan semakin terperosok. Tahun
> 2003
> sebanyak 1,183 juta bph menjadi 1,152 bph di tahun berikutnya. Pada 2005
> kembali menurun sampai 1,136 bph.
>
> Pengamat perminyakan Kurtubi, Rabu (24/1) menilai penurunan ini akibat
> kesalahan manajemen pengelola migas nasional. ''Seharusnya waktu mulai
> menurun tahun 1997, manajemen pengelola migas mengeremnya dengan
> meningkatkan investasi eksplorasi. Tapi sayang, saat itu pembuatan
> undang-undang (UU) menjadi pilihan mereka. '' katanya.
>
> Dampak kesalahan ini mulai tampak. Pada 1999 jumlah pengeboran minyak
> langsung anjlok. Semula mencapai 150 sumur per tahun menjadi sekitar 60-an
> sumur. Para investor ketakutan. Mereka menanti dengan harap-harap cemas
> produk baru bernama UU Migas itu disahkan.
>
> Harapan tinggal harapan. Pemerintah berharap investor kembali ke Indonesia
> dan menanamkan modalnya untuk mengeksplorasi lapangan minyak. Ada yang
> kembali, tapi banyak yang menahan diri. Nyatanya kegiatan eksplorasi tidak
> bertambah bergairah. Tetap saja rendah. Puncaknya sekitar 2002 sampai 2003
> yang hanya terjadi pengeboran di 30 sumur per tahun.
>
> ''Ini karena UU Migas yang tidak bersahabat dengan investor. Ketidak
> bersahabatan itu sangat nyata pada proses yang memakan waktu lama dan
> rumit.
> Sebelumnya proses investasi melalui satu atap, sekarang banyak atap,''
> kata
> Kurtubi.
>
> Aturan ini antara lain berisi pengajuan permohonan investor kepada
> Direktorat Jenderal (Ditjen) Migas Departemen Energi dan Sumber Daya
> Mineral
> (ESDM). Pendaftaran dengan beragam formulir dan pengeluaran yang harus
> dilakukan investor untuk memperoleh blok eksplorasi. Setelah itu
> mendatangi
> Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) untuk
> menandatangani
> kontrak bagi hasil production sharing contract (PSC).
>
> Belum lagi dengan permintaan izin lahan kepada pejabat daerah, seperti
> gubernur dan bupati. Kemudian lahan itu pun harus mendapatkan sertifikasi
> dari kantor pertanahan. Setelah masalah lahan usai, pengadaan alat pun
> menjadi masalah. Untuk alat-alat produksi yang didatangkan dari luar
> negeri,
> investor harus mengurusnya sendiri di pelabuhan.
>
> Di sana berhadapan dengan bea cukai yang meminta surat garansi bank.
> lantaran BP Migas bukanlah badan hukum berbentuk perusahaan, maka investor
> sebagai rekanan yang mengadakan kontrak dengan BP Migaslah yang
> mengurusnya.
> Pembiayaan pun menjadi masalah investor. Sebelum mengadakan ekslporasi,
> mereka sudah dibebankan beragam pajak dan pungutan. ''Padahal 40 tahun
> sebelumnya, pajak dan pungutan dikeluarkan investor saat sudah
> berproduksi,'' kata Kurtubi.
>
> Hal-hal inilah yang menakutkan para investor dalam berinvestasi di sektor
> migas Indonesia. UU Migas tidak membuat mereka merasakan keuntungan.
> Justru
> sebaliknya, diperas sebelum berhasil menemukan cadangan minyak.
>
> Tetap bergeliat
> Tapi hal ini dibantah Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Menurutnya,
> investasi di sektor migas tetap bergeliat. Hal ini terlihat dari jumlah
> investasi yang besar di sektor migas pada 2006 yang mencapai 14,5 miliar
> dolar AS. ''Ini menjadi tolok ukur peraturan perundang-undangan bisa
> membuka
> kesempatan kepada investor,'' kata dia usai membuka forum diskusi audit
> migas beberapa waktu lalu.
>
> Purnomo mengakui adanya penurunan produksi minyak sejak 1997. Namun
> menurutnya UU Migas bukan menjadi penyebab utama, melainkan krisis moneter
> yang mendera negeri ini. Sejak krisis moneter, anggaran belanja perusahaan
> perminyakan berkurang. Sementara tidak ada penambahan investasi.
>
> Apalagi dengan adanya rencana penerbitan UU Migas. Selama tahun 2000
> sampai
> 2002, investor lebih banyak bersikap wait and see. Pasalnya mereka
> penasaran
> untuk mengetahui arah kebijakan pemerintah sebelum membuat keputusan.
>
> Tapi UU Migas ini dinilai Kurtubi sebagai sesuatu yang menghantui
> investor.
> Sehingga wajar saja jika produksi minyak terus-menerus berkurang. Di satu
> sisi, lapangan yang berproduksi berusia tua sedangkan pengembangan
> lapangan
> baru tidak juga hadir. Bahkan sudah lima sampai enam tahun terakhir ini
> tidak ada lagi temuan sumur baru yang bisa berproduksi. ''Makanya, nyaris
> tidak mungkin bisa mencapai target produksi minyak nasional 1,3 juta
> bph,''
> kata dia.
>
> Kepesimisan ini melihat kondisi pengeboran sumur yang sangat rendah. Untuk
> mencapai target produksi minyak 1,3 bph, dibutuhkan pengeboran sumur
> sebanyak 200 sampai 250 per tahun. Namun saat ini sumur sebanyak itu
> dilakukan dalam waktu tiga tahun. Ini pun diperoleh dari lapangan lama.
> Sementara lapangan eksplorasi baru tidak juga berproduksi.
>
> Penuaan sumur-sumur, diakuinya sebagai hal yang galib. Di negara lain pun
> terjadi hal serupa. Namun di sana, pemerintah bersikap cerdas dengan
> membuka
> investasi. Sehingga marak temuan cadangan migas baru. Inilah yang
> menggiatkan investor untuk menanamkan modal lantaran pasti berproduksi.
>
> Sementara di Indonesia, kontrak baru marak namun tidak sampai pada
> eksplorasi. Pengeboran eksplorasi seismik nyaris tidak ditemukan. Keadaan
> stagnan ini berlangsung hingga sekarang.
>
> Purnomo juga menetapkan Cepu sebagai tulang punggung ketersediaan minyak
> dan
> gas untuk kebutuhan domestik. Pasalnya peak lapangan tersebut diperkirakan
> sebanyak 170 ribu bph. Sehingga pada 2009 diharapkan bisa mulai
> berproduksi.
>
> Namun, harapan ini dinilai sebagai sebuah mimpi. Kurtubi mengatakan,
> produksi Cepu mundur dari waktu yang ditetapkan. Sehingga, target 1,3 juta
> bph tetap tidak akan terpenuhi. ''Dengan kondisi saat ini mustahil bisa
> berproduksi 200 ribu bph,'' katanya. Apalagi target tambahan 300 ribu bph
> pada 2009. ''Paling-paling 2009 hanya 1 juta bph lebih sedikit,''
> imbuhnya.
>
> Sedangkan Dirjen Migas Departemen ESDM Luluk Sumiarso menyatakan,
> penurunan
> industri migas setiap tahunnya terjadi sebesar lima sampai sepuluh persen.
> Penurunan ini menurutnya lantaran masih banyaknya lapangan tua yang
> beroperasi tapi tidak diimbangi dengan penemuan lapangan baru yang
> potensial. ''Berdasarkan kajian yang diperoleh Ditjen Migas, penurunan
> produksi itu alamiah dengan laju lima sampai sepuluh persen per tahun.''
>
> Kepala BP Migas Kardaya Warnika juga sependapat. Saat rapat dengar
> pendapat
> dengan Komisi VII DPR RI Senin (22/1) ia menyatakan, pemerintah
> menargetkan
> tambahan produksi minyak tahun 2007 sekitar 80 ribu barel per hari.
> Tambahan
> produksi itu berasal dari 12 kontraktor migas. ''Dengan tambahan produksi
> itu, kami optimistis target produksi minyak sesuai APBN 2007 sebesar 1,050
> juta barel per hari dapat tercapai,'' katanya.
>
> Penambahan ini diperoleh dari empat kontraktor yang berproduksi di
> lapangan
> lama. Sementara delapan kontraktor lainnya dari lapangan yang baru.
> Keempat
> kontraktor itu adalah Chevron dari Lapangan Duri, Riau sebanyak 25 ribu
> barel per hari, PT Pertamina EP dari Lapangan Pondok Tengah, Bekasi 17
> ribu
> barel per hari, ConocoPhillips dari lapangan di lepas pantai 15 ribu barel
> per hari, dan Badan Operasi Bersama (BOB) Pertamina-Bumi Siak Pusako dari
> Lapangan Bene Bekasap, Riau 5 ribu barel per hari.
>
> ( )
>
> ----- Original Message -----
> From: "Ariadi Subandrio" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: "IAGI NET" <[email protected]>
> Sent: Thursday, February 01, 2007 2:53 AM
> Subject: [iagi-net-l] Target Produksi Minyak 1,3 Juta bph Berdasarkan
> Perhitungan Matang
>
>
> >        Semoga ketegasan yg dirancang pemerintah bener2 dijalankan dengan
> > tegas oleh seluruh stake holder migas.
> >
> >  ar-.
> >
> >
> >                 Selasa, 30 Januari 2007       Target produksi minyak
> > sebesar 1,3 juta barel per hari (bph) yang dicanangkan pemerintah
> bukanlah
> > tanpa perhitungan, bahkan, menurut Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Ekonomi
> > dan Keuangan, Novian M Thaib, target sebesar itu dihasilkan dari
> > perhitungan dan analisa yang lengkap dan matang.
> >
> >  ''Angka 1,3 juta bph dihasilkan dari analisa dan perhitungan yang
> matang
> > oleh para ahli,'' ujar SAM Menteri ESDM Bidang Ekonomi dan Keuangan
> Novian
> > M Thaib, saat memberikan keterangan kepada wartawan Senin (29/1) di
> > Jakarta. Hadir pada acara itu Gubernur OPEC Indonesia Maizar Rahman,
> Staf
> > Ahli Kepala BP Migas Abdul Muin dan pengamat perminyakan Kurtubi.
> >
> >  Pemerintah kini terus melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan target
> > produksi minyak tersebut. Selain mendorong para perusahaan kontraktor
> > migas untuk menggenjot produksinya, berbagai kebijakan juga tengah
> digodok
> > untuk menarik investor. Selain itu, pemerintah akan semakin tegas
> terhadap
> > kontraktor migas yang tidak menjalankan komitment investasi.
> >  Menurut Staf Ahli Kepala BP Migas Abdul Muin, persoalan yang dihadapi
> > produksi migas di Indonesia adalah banyaknya lapangan tua. ''Hampir 90 %
> > lapangan produksi yang ada merupakan lapangan tua dengan cadangan yang
> > semakin menipis,'' ujarnya. Namun demikian upaya mendorong produksi
> terus
> > dilakukan.
> >
> >  Sedang pengamat perminyakan Kurtubi mengungkapkan sebenarnya peluang
> > untuk meningkatkan produksi minyak di Indonesia masih terbuka lebar.
> Hanya
> > saja diperlukan syarat untuk lebih mengintensifkan lagi kegiatan
> > eksplorasi. Selanjutnya disebutkan ada sejumlah kontrak yang sudah
> > ditandatangani yang perlu untuk didorong melakukan komitment investasi.
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.
>
>
>
>
> ----------------------------------------------------------------------------
> Hot News!!!
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
> [EMAIL PROTECTED]
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual
> Convention and Exhibition,
> Patra Bali, 19 - 22 November 2007
>
> ----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>
>
> ____________________________________________________________________________________
> Do you Yahoo!?
> Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
> http://new.mail.yahoo.com
>



-- 
OK TAUFIK

----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual Convention 
and Exhibition,
Patra Bali, 19 - 22 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke