Kunci dari segala kebingunan para politisi dalam menanggapi dan mengantisipasi 
berbagai jenis bencana juga berbagai tipe tafsiran / pendapat para ahli, karena 
kurangnya "kultur pendidikan" di negara ini. Negara ini dibangun lebih condong 
mengagungkan 'kekuasaaan dan pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada kekuasaan" 
beda dengan negara tetangga yang membangun karakter bangsa melalui kultur 
pendidikan yang berkelanjutan, sinergi, dan "ngeh" terhadap kebutuhan elemen 
dasar pendidikan bangsa. Kita tidak. Ini memang masalah kultur yang sudah 
sistematis terbangun di bangsa ini. 
  Biarkan saja, toh..., kalau mau hancur yaa..ben hancur semua saja. Alam 
memang sedang stress jiwa dan perasaannya karena pembangunan selama ini lebih 
mengedepankan eksploitasi yang melebihi perasaan alam itu sendiri..., tunggu 
kehancurannya...
  Masih ada bencana yang lebih besar lagi yang akan merepotkan bangsa ini......
  tapi jangan putus asa, kita masih berjuang untuk meraih kemerdekaan di bangsa 
ini....
  Salam, gus hend

Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Mnurutku "kebenaran" apa yang dipikirkan para ahli belum tentu sesuatu yang
dapat diimplemetasikan. Jadi sulit kalau tolok ukur implementasi menjadi
sebuah tolok ukur menentukan bener dan salah secara ilmiah.

Ambil contoh kontroversial saat ni adalah kebijakan Kyoto Protocol tentang
perubahan iklim global. Walopun scientis Amerika banyak yang yakin kalau
pemanasan global akibat emisi karbon, tetap saja pemerintah Amrik tidak
(belum) meratifikasi Kyoto protocol.
Mengapa ?
Menurutku karena Amerika belum siap dengan ratifikasi itu. Implemetasi
politis tidak menguntungkan Amrik.
Apakah Amrik tidak menggunakan science dalam keputrusan politiknya ?
Wehehehe Tentusana aku yakin Amrik menggunakan kajian ilmiah dalam mengambil
keputusnnya. Tetapi yang dimaksud ilmiah bukan sekedar science saja. Ilmu
politik, ilmu sosial, ilmu pertahanan serta ilmu hidup mereka dikaji dengan
ilmu-ilmu dsara ilmiah juga. Misalnya dengan perhitungan matematis khusus,
atau discision making tool yang tepat dengan paramater sos, pol, han - kam,
dsb.

Walaupun demikian, setiap keputusan akan bias dengan "kepentingan" pemimpin
itu akan selalu saja ada (lah wong namanya saja politik). Tetapi, kalau
dimat-amati, mereka di Amrik tidak terburu-buru didahului kepentingan sesaat
"saja". Bias ini selalu saja akan ada pada tahap akhir keputusan pengambilan
"action".

Itulah sebabnya saya menyarankan untuk berpikir dengan dasar ilmiah terlebih
dahulu apa adanya. Jangan buru-buru "mengarahkan" kepentingan sebelum kajian
ilmiahnya selesei. Soal pengambilan keputusan itu tentunya "tidak hanya"
didasarkan pada kajian ilmiah saintifik fisis saja (termasuk geologi). Dan
bukan berarti bahwa kalau dijalankan pemerintah itu berarti sebuah
legitimiasi kebenaran science looh.

rdp


On 2/6/07, Andang Bachtiar wrote:
>
> Saya mendadak jadi sangat tergelitik dengan kesan umum di kalangan "para
> ahli" bahwa "dari dulu para ahli sudah teriak2 tentang hal ini (banjir)".
> Pernahkah kita sadar, bahwa "para ahli" pun punya banyak masalah dalam
> memutuskan "bersama" mana yang benar dan mana yang salah dalam suatu
> masalah. Bukan hanya tentang banjir, tentang optimisme dan pesimisme
> peningkatkan produksi migas-pun sudah dicontohkan dalam milis ini bahwa
> ahli
> mineral economics Dr Kurtubi-pun berbeda pendapat dengan ahli ttg hal yg
> sama yaitu Dr Purnomo Yusgiantoro. Nah, kebetulan yang terakhir itulah
> yang
> mempunyai kekuasaan untuk menentukan pendapat mana yang dapat dipakai
> untuk
> diimplementasikan dan mana yang tidak. Maka, sementara ini, kebenaran
> "para
> ahli" terletak pada siapa yang punya akses terhadap "kekuasaan untuk
> mengimplemantasikan menjadi kebijakan operasional". Belum lagi kalau kita
> bicara soal "Lumpur Sidoardjo" ..... apakah itu akibat gempa, akibat
> pemboran, akibat aktifitas geothermal,... apakah itu bisa dihentikan, atau
> hanya dihambat, atau sama sekali tidak bisa dihentikan,.... apakah itu
> yang
> salah alamnya, manusianya, prosedurnya, perushaannya, lembaganya, atau
> pemberi ijin-nya (atau rakyat-nya) ...... tidak akan pernah terjadi kata
> sepakat dari para ahli, karena sejauh menyangkut masalah saintifik akan
> selalu ada dissenting opinion .... Nah, maka: bingunglah para politisi.
>
> Salam
>
> adb
>
> ----- Original Message -----
> From: "yogi priyadi" < [EMAIL PROTECTED] >
> To: 
> Sent: Tuesday, February 06, 2007 3:49 PM
> Subject: Re: Hal: [iagi-net-l] Banjir Lagi
>
>
> > bung...bukannya para ahli emang udah dari dulu teriak2 tantang hal
> > ini..sebenernya yang paling penting mah kemauan dari pihak pemerintah,
> mau
> > ga mereka denger dan mengacu pendapat para ahli selagi tawaran untuk
> bikin
> > mal, perumahan,kawasan bisnis dan belanja lebih menggiurkan secara
> > ekonomi...lagian toh banjir besar cuma dateng tiap 5 tahun, dan paling
> > lama
> > 2 minggu aja kerendem.. orang jakarta mah tahan banting, ntar juga lewat
> > sebulan udah lupa...lagian 5 tahun kedepan belum tentu kepilih
> lagi...hehe
> >
> > rgds,
> > yogi priyadi
> >


 
---------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels 
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.

Kirim email ke