Patut juga kita berharap pada RUU tata ruang. Namun yang lebih faktual, ke 
depan adalah siapa yang menyusun tata ruang. paradigma uu tata ruang selama ini 
adalaha pertumbuhan ekoonomi, yaitu mengatur fungsi ruang permukaan untuk 
kepentingan ekonomi, sementara tata ruang yang ramah lingkungan dalam diktum 
pasal-pasalnya lebih condong pada pemoles dari sebuah keputusan tata ruang. 
Beberapa hari yang lalu, Dept.PU menyelenggarakan Lokakarya Tata Ruang berbasis 
Bencana di Yogyakarta. Kita bisa lihat, kesadaran itu muncul setelah Bangsa ini 
dihujani berbagai bencana alam, sejak gempa dan tsunami Aceh, desember 2004 
lalu, sehinga semua elemen bangsa ini berpikir "agak serius" tentang penataan 
ruang yang paradigma-nya tidak sekedar pertumbuhan ekonomi dan tidak sekedar 
permukaan, tapi perencanaan ruang yang lebih memperhatikan proses-proses 
kebumian dan karakter bawah permukaan. (jika disetujui lho...). Bahkan saya 
dengar, urusan tata ruang selama ini yang menempel di PU bisa jadi
 akan menjadi unit kementrian tersendiri. Hal ini mengingat begitu amburadulnya 
tata ruang di berbagai tempat di indonesia. 
Dalam suatu kesempatan di tahun 2006 saya mendapat kesempatan untuk menilai 
Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Sindoro - Sumbing di Jawa Tengah oleh Dinas 
Permukiman dan Tata Ruang / Dinas Kimtaru Prop.Jateng. Jauh sebelum forum itu 
digelar, saya dikirimi dokumen RTR dan juga sedikit mempelajari karakter 
kebumian dari kawasan sindoro-sumbing (yang melingkupi 4 kab: Magelang, 
Wonosobo, Temanggung, Purworejo). Saat itu, beberapa diktum perencanaan yang 
saya kritisi adalah : masalah cekungan air tanah; masalah kerawanan bencana 
gerakan tanah dan bencana kegunungapian versus dengan alokasi permukiman dan 
alokasi kawasan industri, masalah penambangan pasir-batu produk gunungapi yang 
berada di sepanjang koridor jalan negara, penambahan jumlah kawasan lindung 
(misal : area lindung mata air diperluas, area lindung resapan air tanah 
diperluas baik dst. Hal yang masih janggal, stake-holder dalam pembahasan RTR 
tersebut, pihak kehutanan tidak hadir. Akhir dari lokakarya tersebut, maka
 pihak Kimtaru bersedia merevisi hasil perencanaannya. Namun yang terjadi dalam 
diskusi saat itu, betapa alot-nya unsur-unsur kebumian dan proses kebumian, 
kami masukkan sebagai diktum perencaaan kawasan. Setelah itu, saya tidak tahu, 
karena produk RTR tersebut katanya akan segera dibahas di DPRD Propinsi Jawa 
Tengah. 

Untuk pak Turidho, pada permasalahan yang hampir sama (Desember 2006), saya 
mendapat kiriman dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Laut Pemkotamadya Batam, 
yang merupakan hasil revisi dari RTRW Kotamadya Batam. Nah, pada saat diskusi 
dg Walikota Batam, saya buka blak-blak-an bahwa ternyata RTR Kotamadya Batam 
(yang nyusun adalah Bepeda Batam dan konsultan), tidak mengakomodir 
fungsi-fungsi ekonomi pertambangan pasir darat dan maupun kerawanan banjir dan 
gerakan tanah. Fakta yang timbul ketika polimik penambangan pasir darat di 
wilayah Kotamadya Batam
muncul pada periode (Agustus - November 2006), adalah kerawanan kerusakan 
lingkungan akibat penambangan pasir darat yang tersebar dimana-mana, tanpa 
alokasi pencadangan wilayah penggalian yang jelas, serta munculnya kerawanan 
gerakan tanah dan banjir yang cukup mengganggu perekonomian setempat dst.dst.
Hikmahnya : sekalipun nanti RUU tata ruang yang saat ini sedang dibahas oleh 
pejabat-pejabat dan politisi; yang lebih penting adalah implementasi dari 
proses perencanaan tata ruang; apakah proses pembelajaran konflik-konflik ruang 
yang segala sumber masalahnya pada bumi yang kita huni ini, sudah dikenali 
karakter dan proses secara lokal untuk sebuah perencanaan ruang yang ramah 
lingkungan, nantinya. Ini sebetulnya bisa menjadi "medan tempur dan pengabdian" 
semua elemen IAGI baik di PP-IAGI atau Pengda-pengda untuk memobilisasi baik 
secara konseptual maupun teknis untuk membantu mengurai benang kusut-nya tata 
ruang di berbagai wilayah nusantara.

mari kampanyekan program PP-IAGI (kayaknya ada tuh...) : geosain untuk 
perencanaan tata ruang yang lebih implementatif.....

Salam
Agus Hendratno



----- Original Message ----
From: Turidho (TURIDHO) <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, February 7, 2007 8:54:15 AM
Subject: RE: [iagi-net-l] Mengapa 20 tahun aman kok sekarang banjir ?

Satu hal lagi yang patut menjadi harapan bahwa RUU mengenai tata ruang
menyebutkan adanya sangsi bagi pejabat pemberi ijin mendirikan bangunan
yang ternyata menyalahi RUTR. Semoga sangsi ini benar2 akan ditegakkan
secara adil sehingga tidak sembarang ijin bisa diberikan.   

-----Original Message-----
From: Winderasta, Wikan (wikanw) 
Sent: Wednesday, February 07, 2007 8:47 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Mengapa 20 tahun aman kok sekarang banjir ?

Sebuah diskusi di RCTI tadi malam mengenai banjir antara lain Pak Sekda
DKI, seorang Pak Marco (Ahli Tata Kota), dan seorang bapak anggota
Komisi DPRD

Hal yang menjadi kesimpulan, Jakarta tidak akan bisa sendirian dalam
mengatasi banjir. Karena seperti Pak Ismail sebutkan di bawah, tata
ruangnya sudah terlanjur campur aduk. Kepentingan ekonomi lebih
berbicara (peralihan lahan untuk perumahan dan bisnis). Kalau mau dibuat
tambahan situ-situ penampungan di dalam kota, sudah tidak ada tempat
lagi dan harga tanahnya terlalu mahal. Ekspektasi terhadap Banjir Kanal
Timur dinilai terlalu besar, padahal ini menjadi andalan untuk mengatasi
banjir. Dengan kata lain Pemda DKI menyerah soal banjir ini.

Adapun rencana ke depan (nggak tahu berapa tahun lagi) mengenai
penyelesaian banjir meliputi :

- Penyelesaian banjir kanal timur (2010 ?)- diestimasi hanya dapat
mengurangi banjir sebesar 20-25%. Sebagai catatan kanal ini bukan
sodetan bagi Kali Ciliwung, tapi bagi jaringan kali-kali yang lain di
sebelah timur Jakarta/Ciliwung. Persoalan penyelesaian lebih bersifat
budget (dana yang tidak tuntas) dan sosial (pembebasan tanah).

- Penataan terpadu konsep Megapolitan Jabodetabek plus Bopunjur : konsep
ini akan menyangkut hilir (Jadetabek) dan hulu (Bopunjur). Akhirnya kota
Jakarta akan bergantung kepada daerah sekitarnya untuk menampung
kelebihan air dan juga mengurangi jumlah aliran air ke kota. Beberapa
masalah adalah
1) Draft Tata Ruang Jakarta yang sudah dibuat sejak tahun 2003 (komitmen
Pak Sutiyoso setelah banjir 2002) ternyata belum selesai sampai
sekarang, apalagi kalau diperluas hingga konsep Megapolitan/Bopunjur. 
2) Terdapat kondisi negosiasi yang lemah antar pemda termasuk dprd saya
kira, sehingga sulit sekali menyatukan visi konsep tersebut (contoh
kasus soal TPA sampah). Pak Sekda ingin menawarkan sharing budget kepada
pemda Jabar (Puncak/Cianjur) sebagai kompensasi, atau alternatifnya
adalah ada badan yang lebih besar (entah dibentuk oleh presiden atau
konsorsium pemda sendiri) yang punya kewenangan budget, politik, dan
eksekusi. PR yang sangat berat tentunya.

Dalam tataran teknis, tentunya konsep kawasan Megapolitan plus Bopunjur
harus meliputi aspek kebumian sebagai dasar perencanaan tata ruang, agar
tidak melulu kepentingan ekonomi. Nah lembaga mana yang bisa bersatu dan
memberikan wawasan/referensi agar proses negosiasi dan penyamaan visi
antar pemda bisa terwujud ? IAGI, PT, BPPT/LIPI ? Semoga demikian, saya
hanya bisa berharap.

Salam,
WW

-----Original Message-----
From: ismail zaini [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 06, 2007 8:55 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Mengapa 20 tahun aman kok sekarang banjir ?

Sebetulnya setelah pengalaman Banjir 2002 ada Proyek Banjir kanal Timur
( pada waktu banjir 96 belum kepikiran karena Istana belum klelep ) yang
mulai dibangun 2003 dg Panjang 23 Km dan akan selesai seharusnya 2007
ini , namun karena terkendala masalah tanah maka baru selesai
pembebasannnya 7 an Km , makanya kemrin menteri PU sudah akan
menggunakan Penpres 36/2005 ttg pembebasan tanah untuk kepentingan umum
( setelah ada Banjir kemarin ). 
Tentunya kepurtusan untuk membuat Banjir Kanal Timur ini ( Oleh PU )
sudah melalui kajian dari berbagai bidang dan termasuk Geologi , lha
wong waktu itu Dirjen Pengairannya nya PU adalah anggota IAGI yang
sekarang Ketua Timnas LUSI ( kalau tdk salah lho ). Problem utamanya
adalah penggunaan lahan yang tdk terkontrol..  jadi masalah penegaan
hukumnya , dimana yang boleh untuk resapan , untuk tinggal , untuk taman
, untuk pertokoan , dst sudah campur aduk gak karuan , sekarang ini
lahan kosong tinngal 9 % , yang seharusnya minimal 30 persen, demikian
diskusi pakar kemarin di Elsinta.
Kalau bajir kanal Timur ini jadi maka misalnya kalau lebarnya 50 m dan
dalamnya 4 m , maka akan ada tempat air baru 4,6 juta meter kubik, kalau
misalnya kemarin ketinggian genangan banjir rata rata 1 m maka ada 460
Ha yang bisa diselamatkan._Paling tidak ini bisa mengurangi genangan
banjir. 
tidak untuk menghilangkan banjir ( ini sekedar itung itungan asal
wae......) Sebetulnya dari namanya saja , Jakarta ini kan tempat air ,
ada Rawa Badak , Rawa Belong , Rawajati , Rawa Buaya , Rawa lumbu, dst (
memang daerah Rawa 2 alias tempat air ) dan ada sungai besar ditengah (
Ciliwung ) Kiri luar ( Cisadane ) dan Kanan Luar ( Kali Bekasi ) ada
kiri dalam ( Kali asanggrahan  ) ada kanan dalam ( kali cipinang ) dst ,
dan kalau dihitung dan dikumpulkan termasuk sungai sungai kecilnya sudah
menjadi Kesebelasan Persija ( Persatuan Sungai Jakarta ) Oleh karena itu
konsep pembangunannya harus Vertikal , tidak horisontal yang banyak
memakan tempat , lha kalau Vertikal kan kalau banjir bisa lihat lihat
dari atas semua. Jadi sekarang justru "Banjir" ini seharusnya jadikan
ikon Jakarta , tinggal merubah pemukiman menjadi rumah rumah susun (
vertikal) , siapa tahu kalau musim banjir banyak turis datang...........

ISM


----- Original Message -----
From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; "migas indonesia" 
<[EMAIL PROTECTED]>; <[email protected]>
Sent: Tuesday, February 06, 2007 8:44 AM
Subject: [iagi-net-l] Mengapa 20 tahun aman kok sekarang banjir ?


Mengapa 20 tahun aman kok sekarang banjir ? Februari 4th, 2007 - Rovicky
|Posted in Dongeng Geologi
<http://id.wordpress.com/tag/dongeng-geologi/>.

[image: Foto Kompas]Tentunya banyak yang terkaget-kaget dengan banjir di
Jakarta. Rumah yang dahulunya dinilai aman ternyata sekarang banjir
cukup sedeng .... sedengkul !

*(sumber foto Kompas) *

*Mengapa ?*

Ada beberapa alasan mengapa banjir ini tidak seperti yang dahulu ditahun
2002. Banjir tahun 2002 cukup membuat Jakarta lumpuh. Namun kali ini di
tahun 2007 hampir 60% kota Jakarta terendam.

*Curah hujan.*

Curah hujan yang terjadi kali ini relatif lebih besar dibanding tahun
2002.
Pada tahun 2002 ketika Istana negara terkena banjir, hanyalah
diakibatkan banjir kiriman dari Bogor. Namun tahun 2007 ini curah hujan
tidak hanya di Bogor, bahkan di Jakarta sendiri juga terjadi hujan cukup
deras hingga lebih dari tujuh jam pada hari Kamis malam (1/02-07).

Curah hujan yang cukup deras ini memang ada yang menganggap akibat
perubahan cuaca dan perubahan iklim global.

*Kenaikan Muka Air Laut*

Pemanasan global memang menunjukkan kenaikan muka air laut. Namun
kenaikan ini tidak terasa dalam lima tahun terakhir. Walopun saat ini
sangat "diwanti-wanti" atau di peringatkan untuk mulai melihat perkotaan
yang berada di kawasan pantai landai misalnya Palembang, Jakarta,
Semarang dan Surabaya.

Kenaikan muka air laut ini tidak hanya karena global, karena kenaikan
global ini sangat pelaan. Tetapi kenaikan karena air pasang sangat
mungkin mempengaruhi. Kalau tidak salah saat ini kan sedang bulan
purnama.
Sehingga
terjadi pasang purnama.

Kenaikan muka air laut akan membuat air lebih lambat mengalir ke laut.
Beda
ketinggan yang sebelumnya mampu mengalirkan air dengan cepat dengan gaya
gravitasi menjadi berkurang. Kelampabatan pengaliran inilah yang
menjadikan air semakin lama surut.

*Perubahan topografi*

Kalau melihat lokasi banjir yg cukup parah di Jakarta seperti yang
trelihat dalam peta
sebelumnya<http://rovicky.wordpress.com/2007/02/02/whalllah-banjir/>.
Terlihat bahwa banjir ini lebih banyak pada lokasi yang sudah menjadi
pelanggan banjir. Namun banyak juga yag merasa rumahnya baru kali ini
terkena banjir.

[image: Klick untuk
memperbesar]<http://dongenggeologi.wordpress.com/files/2007/02/banjir-jk
t.jpg>Banjir
tahun 2002 sangat mengagetkan, sehingga banyak sekali penanganan banjir
dilakukan dengan pencegahan antara lain meninggikan tanggul, meninggikan
rumah. Dan selain itu juga pembangunan perumahan-perumahan baru atau
reklamasi kompleks kumuh sebelumnya menjadi kawasan yang dianggap lebih
tertata. NAmun perubahan topografi ini banyak yang tidak disadari oleh
pemilik rumah yang merasa aman di tahun 2002. Sehingga tahun 2002
menjadi tolok ukur "keamanan" dari banjir.

Gambar diatas menunjukkan beberapa karakterisktik lokasi-lokasi banjir
di Jakarta. Dimana ada tempat yang selalu banjir, ada yang selalu aman,
dan ada yg menajdi lokasi banjir ditahun 2007 padahal dahulunya aman.

Nah dimana rumah anda ?
 Posted in Dongeng Geologi
<http://id.wordpress.com/tag/dongeng-geologi/>.


--
http://rovicky.wordpress.com/


------------------------------------------------------------------------
----
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual
Convention and Exhibition, 
Patra Bali, 19 - 22 November 2007
------------------------------------------------------------------------
----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------------------
----
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual
Convention and Exhibition, 
Patra Bali, 19 - 22 November 2007
------------------------------------------------------------------------
----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual Convention 
and Exhibition,
Patra Bali, 19 - 22 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------








 
____________________________________________________________________________________
Don't get soaked.  Take a quick peak at the forecast
with the Yahoo! Search weather shortcut.
http://tools.search.yahoo.com/shortcuts/#loc_weather

Kirim email ke