Mas Vick, untuk timing inisiasi Patahan Opak, saya sependapat dengan pak Awang, kemungkinan memang pre-deposisi F. Wonosari atau setelah pengendapan OAF (Miosen Tengah). Dugaan saya tersebut berdasarkan pada pelamparan F. Sentolo yang hanya berkembang di bagian barat Patahan Opak (pada mandala Yogyakarta Low). Di bagian timur, ekuivalen F. Sentolo, yaitu F. Kepek, berkembang pada Wonosari Plateu. Kedua formasi tersebut, yakni F. Sentolo dan F. Kepek, dibatasi oleh Baturagung Range. Dari peta geologi lembar Yogyakarta (Rahardjo dkk., 1995), terlihat bahwa hubungan morfologi tinggian Baturagung Range dengan dataran Yogyakarta Low disebelah baratnya dibatasi oleh Patahan Opak. Mungkin saja pengangkatan Baturagung Range melalui aktifasi Patahan Opak dimulai pra-deposisi F. Wonosari dan F. Jonggrangan dan terus hingga pengendapan F. Sentolo dan F. Kepek, bahkan hingga saat ini.
Data pengeboran di sepanjang alur Sungai Opak (T. Geologi UGM, 2006) menunjukkan batuan alas aluvium Merapi di sana bukan hanya napal F. Sentolo, melainkan juga dijumpai breksi andesit F. Nglanggran. Kemungkinan secara lokal pada saat itu sudah berkembang paleo-high yang dikontrol oleh sistem Patahan Opak. Hal ini cukup jelas terlihat pada beberapa data geofisika yang pernah dilakukan oleh UGM. Bahkan hingga saat ini di daerah tersebut secara visual tinggian-tinggian lokal tersebut masih bisa dijumpai sebagai bukit-bukit kecil yang tersusun oleh F. Semilir dan terisolasi oleh aluvium Merapi, dengan kelurusan-kelurusan N-S dan NE-SW. At least, the Opak Fault System is not as simple as we thought before :-) udin On 3/2/07, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Waddduh info yang bagus Mas Udin, tapi blaik kesimpulan sementara (gambarku) jadi jadi salah deh :( Brati, apakah ada kemungkinan patahan Opak terjadi setelah Miosen ya ? Kalau memang formasi sentolo dibawah endapan Merapi di Jogja Low mencapai kedalaman 150 meter tentunya pengeboran yang dilakukan Time Geologi UPN hanya sampai 45 meter memang tidak akan menemukan apa-apa. Untuk menganalisa (bukan membuktikan) fenomena bunyi "Glung" itu sendiri bisa menjadi serius kalau saja bisa dilakukan dengan audio recorder atau dengan jejaring-geophone. Saya yakin seandainya ada getaran dari satu sumber yang sama bisa dideteksi paling gtidak dengan tiga titik untuk menentukan dimana lokasi sumber getarnya (sumber suaranya). Perubahan sistem hydrology yang aku sitir di blog itu hanyalah untuk daerah yg didominasi batugamping. Tentusaja tidak akan teramati di Yogyakarta Low. http://rovicky.wordpress.com/2007/03/01/amblong/ Din, Kalau boleh tahu lokasi pengeboran yang dilakukan oleh McDonald (1984) ini lokasinya dimana ya ? Atau kalau boleh aku minta papernya donk :) di email lewat Japri saja. Thanks salam rdp

