Betul mas. Jawa Timur sendiri kayaknya juga merupakan *supermarket bencana*,
sebagian besar termasuk kelompok bencana geologi, di Jatim semuanya ada deh.
Dinas ESDM Prop. Jatim sudah membuat peta rawan bencana juga, namun memang
skalanya masih relatif kecil. Mestinya - dan ini yang selalu kita sarankan
ke Pemkab/ Pemkot - mereka seharusnya yang menindaklanjuti dengan membuat
peta rawan bencana dalam skala yang lebih detil (skala 1 : 5000 ato lebih
besar lagi). Tiap tahun kita selalu sosialisasi daerah rawan bencana baik
kepada aparat maupun masyarakat, namun banyak keterbatasan dari kita yang
berada di Propinsi ini. Saya pernah kaget waktu ngecheck lokasi longsor di
Kab. Trenggalek bulan April 2006 lalu. Seorang Camat di lokasi bencana
tersebut telah membuat peta-peta rawan bencana yang menurut dia mengacu ke
Dinas ESDM. Kalo semua Camat mau kreatif seperti dia, wah.... enak juga
kerja kita. Memang untuk daerah yang kerentanannya tinggi, aparat yang kita
undang dalam rangka sosialisasi termasuk Camat dan Kades.

Saya kemarin sebetulnya sama sekali tidak ada niatan untuk menyanggah hasil
penelitian mas Amien dengan PSB-nya, bahkan saya sangat senang ikut dibantu
mas Amien cs. Namun beberapa hari terakhir ini saya agak risih (bukan dengan
mas Amien tentunya), kenapa setiap hari kok salah satu radio yang jangkauan
siarannya nasional, selalu melaporkan kejadian di Bodag tersebut? Kenapa
longsor (bukan sekedar nendatan) di Kediri yang menimbulkan kerugian
harta-benda (beberapa unit rumah rusak) tidak diberitakan segencar Bodag?
Saya khawatir hal itu akan membuat teledor semua pihak, sehingga kecolongan
di tempat lain, termasuk Pemkab Madiun yang hanya terfokus ke Bodag saja.
Masyarakat di seluruh daerah rawan kan harus selalu diberi tuntunan dan
arahan, agar mereka selalu sadar akan ancaman bencana yang bisa datang
setiap saat. Kita memang tidak bisa memprediksi dengan pasti kapan longsor
akan terjadi, namun kita bisa menentukan suatu daerah rawan longsor/ tidak,
termasuk mengetahui tanda-tanda akan terjadinya longsor maupun banjir
bandang. Kalo masyarakat faham akan hal tersebut, minimal jumlah korban jiwa
bisa ditekan. Contoh tahun 2006 lalu, ada banjir bandang yang menimbulkan
kerusakan banyak rumah di Jombang, namun karena kejadiannya masih relatif
dekat dengan kejadian banjir bandang di Jember, maka kejadian di Jombang
tersebut sama sekali tidak menimbulkan korban jiwa. Jadi pada dasarnya
masyarakat itu harus selalu diingatkan, termasuk Pemkab Madiun saat ini yang
harus selalu mengingatkan masyarakatnya yang berada di seluruh wilayah
lereng G. Wilis, tidak yang di Bodag saja.

Kita juga sering sharing informasi dengan mas Amien kok, juga dengan yang
lain ( misal mas Agus Karyo AMC, mas Agus H & mbak Dwiko cs UGM, temen2 UPN
Jogja, PVMBG Bandung, IAGI) dan lain-lain. Kita juga berharap kepada siapa
saja yang bersedia memberi masukan, khususnya para pakar kebumian termasuk
tentunya Mas Rovicky yang sangat produktif menulis.

Semoga kita termasuk orang-orang yang peduli. Amien.

Wass,
Pardan.



On 3/5/07, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Mas Pardan, Maaf saya hanya akan "excuse" saja nih ... :)
Indonesia memang suangat luaas dan hampir semua memilki kerawanan bencana
yang berbeda-beda dan sangat beragam. Ada yang rawan longsor, ada yang
rawan
banjir, ada yang rawan gempa, ada yang rawan letusan gunung api, wis
pokoke
segala jenis bencana kayaknya ada. Saat ini longsor sedang "musim",
mending
kalo musim buah ya ? Namun hanya segitu bahkan sangat sedikit yang bisa
ketahui.
Saya termasuk yang konsen dengan "tanda-tanda" sebagai tindakan
pencegahan.
Bawa nantinya ada longsor lebih besar dari Bodag saya sih yakin sangat
mungkin akan terjadi, tetapi DIMANA ? selama ini kita tidak tahu dimana
saja
yang "sebentar lagi" akan longsor. Hanya ini yang saya mampu lakukan.
Jelas
kita membutuhkan Pak Amien- Pak Amien lain untuk mengawasi daerah seluas *
total:* 1.919.440 km² (*darat:* 1.826.440 km²* dan air:* 93.000 km²).
Jangkauan "Radar Screen" pak Amien dari ITS Surabaya sudah menjangkau
Madiun
sudah lebih dari 200 Km !. Beliaupun sudah sanggup dengan memberikan no HP
serta email sebagai focal point, Salut !!
Walaupun radar pak Amien mungkin hanya mendeteksi satu, kalau saja

Soal Bodag, bagaimana kalau kita coba jadikan test case dengan "success
story, natural disaster with no fatalities" ? KIta pakai sebagai "latihan
riil".

Kalau kita menengok peta rawan bencana (termasuk rawan longsor) yang ada
di
VSI http://portal.vsi.esdm.go.id/joomla/  akan menjumpai banyak daerah
yang
rawan longsor, bahkan termasuk longsor yang diperkirakan bulan Maret 07
ini
!. Namun apakah disitu ditandai dengan awal kelongsoran, terus terang saya
ngga tahu. Sedangkan yang diulas Pak Amien lebih ke level mitigasi detil.
Sayangnya peta yang dibuat untuk publik ini sangat kecil. Skala ini bukan
skala yang pas untuk kerja tehnis. Sayang kan ?
Skala terbagus yang saya lihat ada disini :

http://portal.vsi.esdm.go.id/gallery2/main.php?g2_view=core.DownloadItem&g2_itemId=1226&g2_serialNumber=1

Aku rasa ini tepat untuk para pecinta alam bimbingannya Pak Agus H. Namun
masih terlihat banyak sekali (luas skali) daerah yng masuk kategori
bahaya.

Adakah yang tahu berapa "skala tehnis" yang pas untuk memetakan bencana
longsor ? Aku yakin Pak ADB tahu karena pernah membuat utk daerah Malang
(Pacet) beberapa thn yang lalu. Dan peta skala tehnis ini yang benar-benar
bisa dipakai dilapangan, katakanlah bisa dipakai oleh para pecinta alam
bimbingannya Pak Agus H. Mereka akan bisa langsung menengok di lapangan
dengan dasar peta dengan skala tehnis yang pas. Atau barangkali Pak ADB
mau
berbagi peta-peta yang dihasilkan sebagai conto peta landslide untuk
kebutuhan mitigasi pasca bencana.

salam

rdp

On 3/5/07, Supardan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Amien, mas Agus dan mas Rovicky,
>
> Saya jadi heran, kenapa kasus gerakan tanah di Desa Bodag, Kecamatan
Kare,
> Kabupaten Madiun, tiap hari kok di blow up terus sama sebuah radio
swasta
> (FM) yang jangkauan siarannya bersifat nasional. Menurut saya gerakan
> tanah
> di sana termasuk jenis *nendatan*, lebar mahkota (crown)-nya sekita 150
> meter, dengan panjang lebih dari 200 meter, jadi dimensinya termasuk
> kecillah. Memang nendatan tersebut bisa saja meluncur dengan cepat
menjadi
>
> sebuah longsoran, tentunya kalo terjadi hujan lebat (dengan curah yang
> ekstrim) paling tidak 2 jam ato lebih. Melihat bentuk morfologi pada
> lokasi
> nendatan dan sekitarnya, kalo toh massa tanah tersebut meluncur dan
jatuh
> ke
> sungai serta sempat menyumbat/ membendung alur di bawahnya, saya kira
air
> yang terbendung volumenya tidak akan banyak, sebab daerah tangkapannya
> terlalu sempit. Di samping itu, volume massa tanah juga tidak terlalu
> besar. Penduduk yang benar-benar terancam oleh gerakan tanah tersebut,
> sebetulnya hanya 6 KK atau sekitar 20 jiwa, karena sekelompok rumah ini
> berjarak paling dekat dengan mahkota longsor. Sedangkan di atas tanah
yang
>
> bergerak tersebut tidak ada bangunan rumah, dimana peruntukannya sebagai
> kebun dan sawah tadah hujan.
>
> Saya khawatir, perhatian yang berlebihan pada satu titik kasus gerakan
> tanah
> tersebut, akan membuat tidak terperhatikannya titik-titik rawan longsor
> lain
> di wilayah Kabupaten Madiun, sehingga di Bodag tidak ada korban jiwa,
tapi
> terjadi longsor di tempat lain yang banyak menimbulkan korban jiwa
maupun
> kerugian harta benda. Daerah Bodag masuk dalam DAS Catur yang merupakan
> bagian dari DAS Bengawan Solo. DAS Catur sendiri meliputi 4 Kecamatan,
> yaitu Kecamatan Kare, Kecamatan Dagangan, Kecamatan Wungu dan Kecamatan
> Gemarang. Nah... masih sangat luas kan daerah yang harus diwaspadai oleh
> Satlak PB Kabupaten Madiun. Kalo kita perluas lagi, maka seluruh lereng
G.
> Wilis/ G. Liman tingkat kerentanannya juga sama, sehingga masih ada 4
> Kabupaten lagi (Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung dan Nganjuk) yang juga
> harus mewaspadai lereng gunung tersebut. Tahun kemarin kejadian serupa
> terjadi juga di Ponorogo dan Trenggalek, tahun ini juga terjadi di
Kediri
> dan Nganjuk. Lereng G. Wilis bisa dibilang *wis wayahe* pada longsorlah,
> mengingat kondisi geologi, morfologi dan tentunya vegetasinya.
>
> Yang penting, namun cukup sulit adalah menciptakan masyarakat *sadar
> bencana
> *, sehingga apabila terjadi bencana maka dapat ditekan jumlah korban
jiwa
> maupun kerugian harta bendanya.
>
> Mas Agus, mohon maaf saya tidak dapat hadir di acara sarasehan di
Plaosan,
> Magetan, dimana sebetulnya saya sangat ingin hadir di acara tersebut
> karena
> tanah kelahiran saya kan Madiun mas. Tapi apa boleh buat?
>
> Mohon maaf kalo kurang ilmiah ato bahkan banyak yang salah.
>
> Wassalam.
> Pardan.
>
> On 3/4/07, Agus Hendratno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Mas Amien, sampeyan sendiri sebetulnya sudah bisa memprediksi kasus di
> > BODAG, Madiun. Hayoo..., kan sudah ke lapangan to?
> > Kemarin waktu sarasehan Pecinta alam di Lereng G.Lawu, Magetan; saya
> > kebetulan mengisi acara tersebut (juga ada teman-teman dari LSM
> Harindjing
> > Lestari / Agoes Tirto dkk, AMC arek-arek Malang) dan ketemu pimpinan
dan
> > pelaksana Satlak Madiun dan Magetan. Kemudian saya mendiskusikan
masalah
> > bencana tanah longsor di Madiun dan Magetan. Nah, sehubungan
kawan-kawan
>
> > Satlak Madiun dan Magetan sudah didampingi oleh teman-teman Pusat
Studi
> > Bencana ITS (dan saya yakin, mas Amien, pasti dibelakangnya), maka
saya
> > kemarin hanya menyarakan supaya komunikasi intensif dengan teman-teman
> > geologi di ITS lebih dimaksimalkan untuk turut penanganan bencana
tanah
> > longsor.
> > Saya kira kasus amblesan di Bodag, Kare, Madiun, nanti model
> penanganannya
> > harus hati-hati. Bicara kapan ambles secara terus menerus, dan
kemudian
> jadi
> > tidak layak huni, lalu relokasi, lalu penyiapan lahan permukiman dan
> > infrastruktu, lalu masalah sosial lainya (ini yang biasanya sangat
> rumit)
> > sebagaimana kasus di Sleman, Banjarnegara, Kulonprogo, Kebumen, dan
> Kudus,
> > dalam 2 tahun terakhir ini.
> >
> > Blaik....
> > AGus Hend
> >
> > ----- Original Message ----
> > From: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED] >
> > To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; UPN Forum <
> > [EMAIL PROTECTED] >
> > Sent: Monday, March 5, 2007 12:22:28 PM
> > Subject: [iagi-net-l] Peluang penelitian longsoran -->Fwd: [Dongeng
> > Geologi] Komentar: "Kenali tanda-tanda awal longsoran --> AWAS !"
> >
> > Bagi rekan-rekan geoteknik dan mahasiswa geoscience untuk penelitian
> yang
> > tertarik melihat perkembangan longsoran, silahkan kontak tawaran
beliau
> > (Pak
> > Amien Widodo dosen ITS)
> > foto-nya lihat disini :
> >
> >
>
http://rovicky.wordpress.com/2007/03/03/kenali-tanda-tanda-awal-longsoran-awas
> >
> > Saya rasa sih kalau tidak ada penanganan khusus dalam waktu dekat
kalau
> > terjadi hujan bisa longsor beneran (lokasi di Madiun).
> > * Tgl. 14/2 turun 0,5 m,
> > * tgl. 22/2 turun 4 m,
> > * tgl 26/2 turun 5 m,
> > * tgl 2/3 turun 6,6 m.
> >
> > rdp
> >
> > ---------- Forwarded message ----------
> > From: Amien Widodo <r>
> > Date: Mar 5, 2007 12:57 PM
> > Subject: [Dongeng Geologi] Komentar: "Kenali tanda-tanda awal
longsoran
> > --> AWAS !"
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Komentar baru pada tulisan #822 "Kenali tanda-tanda awal longsoran -->
> > AWAS !"
> > Penulis: Amien Widodo
> > E-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > URL : http://www.its.ac.id.com
> > Komentar:
> > Ternyata penggemar blog ini ada dari ITS juga.
> > Ada yang salah tulis berkaitan dengan nama desanya sebetulnya nama
> desanya
> > BODAG Kecamatan Kare Kabupaten Madiun.
> > Saat ini kita ITS mengusulkan dan merekomndasikan sbb.:
> > 1. Karena diatas lereng tersebut ada saluran irigasi yang terbuka maka
> > kita
> > menyarankan merubah menjadi saluran tertutup (dengan pralon)
> > 2. Karena arah longsoran ini menuju ke sungai yang sempit dan
> > dikahwatirkan
> > akan menutup/membendung sungai dan kemudian akan terjadi banjir
bandang
> > maka
> > kita rekomendasikan untuk meletakkan pralon-pralon 30 cm sepanjang 200
m
>
> > sebanyak 8 buah di dasar sungai. Paralon gunanya untuk mengalirkan air
> > sewaktu tertutup oleh longsor.
> > 3. Kita juga merekomendasikan pembuatan cek dam untuk menahan laju
> banjir
> > bandang
> > 4. Masyarakat tetap harus diungsikan sampai longsor terjadi, saat ini
> > kedalaman ambles 7 m (sudah seperti luweng).
> > Bagi ilmuwan yang menggeluti masalah longsor di Bodag ini betul-betul
> > contoh
> > yang baik suatu proses longsor. karena terjadi secara perlahan lahan
dan
>
> > bisa diamati. Nanti akan kita update data yang saya peroleh.
> > Ada yang TA atau thesis atau disertasi ini betul-betul contoh kasus
yang
> > bagus. Kontak saya lewat [EMAIL PROTECTED] atau hp 08121780246.
> > Mungkin ada saran-saran yang bisa kita pertimbangkan??
> >
> > AW
> >
> > Anda bisa melihat semua komentar pada tulisan ini disini:
> >
> >
>
http://rovicky.wordpress.com/2007/03/03/kenali-tanda-tanda-awal-longsoran-awas/#comments
> >
> >
> > --
> > http://rovicky.wordpress.com/
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
____________________________________________________________________________________
> > Looking for earth-friendly autos?
> > Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.
> > http://autos.yahoo.com/green_center/
>



--
http://rovicky.wordpress.com/

Kirim email ke