Maaf sekali lagi, sebetulnya rumusan yang saya kemukakan itu bukan pendapat
saya, saya masih mempunyai "open mind" mengenai LUSI ini.
Tetapi itulah yang seyogianya yang harus di rumuskan oleh Panitya Perumus
International Geological Worshop of LUSI yang mengikuti tekanan dari pihak
tertentu, mungkin demi kepentingan nasional, mungkin demi kepentingan lainnya.
Dengan demikian tidak terjerumus untuk mengabaikan kebenaran / kaidah-kaidah
ilmiah. Sekarang sih sudah lewat, apa mau diralat?
Saya sangat memahami karena Ketua Umum IAGI juga adalah pejabat mungkin berada
dalam tekanan, sehingga ia harus sangat bijaksana dalam mengarahkan jalannya
workshop ini (mungkin dia ketua steering committee?). Walaupun saya sendiri
belum pernah menjadi seorang pejabat pada echelon mana pun, tetapi saya dapat
sangat memahami dan memaklumi. Surat terbuka saya ini adalah mengenai 'wisdom'
sebagai maka Sdr. Andang kemukakan. Bahwasanya rumusan itu sesuai dengan
definisi dalam Wilkipideia, itu kebetulan saja, karena saya sendiri mempunyai
definisi sendiri serta klasifikasi bencana (kalau tidak salah dimuat dalam
blog-nya Sdr. Rovicky)
Itu saja yang ingin saya luruskan. Semoga tidak menimbulkan perseteruan lebih
lanjut.
RPK
----- Original Message -----
From: Supardan
To: [email protected]
Sent: Friday, March 09, 2007 9:56 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Silaturahmi ===> Re: [iagi-net-l] Ahli Geologi
Saling Berseteru
Saya sangat setuju dengan pendapat bapak kita (Bp. RPK) yang terakhir ini.
Perdebatan mengenai penyebab terjadinya semburan lumpur, saya kira masih butuh
waktu panjang untuk diperoleh kesepakatan-kesepakatan dan semua pihak tidak
perlu memaksakan kesepakatan kelompoknya adalah yang paling benar. Yang
demikian itu pada akhirnya kan hanya menimbulkan peseteruan dan perpecahan.
Setiap bencana (jenis apapun) tentu akan menghasilkan orang-orang miskin
baru. Tapi yang kita heran, setiap bencana ternyata juga meghasilkan
orang-orang kaya baru. Moga-moga teman-teman IAGI dan teman-teman geosains pada
umumnya serta pakar dari disiplin ilmu apapun di negeri tercinta ini tidak
memanfaatkan musibah untuk mendulang rupiah. Amien.
Pardan
Dinas ESDM Prop. Jatim.
On 3/8/07, R.P. Koesoemadinata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Maaf, saya tidak bermaksud kasar seperti tercantum di bawah ini.
Saya kira alangkah bijaksananya kalau rumusan akhir dari Workshop ini
menyatakan:
..."Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai penyebab dari semburan lumpur
panas Sidoarjo ini, namun mengingat bahwa gejala ini telah berkembang menjadi
gunungapi lumpur yang dahsyat sehingga di luar kendali manusia, maka seyogianya
gejala ini dinyatakan sebagai (murni) bencana alam"
Saya kira pernyataan ini adalah cukup bijaksana dan elegant yang mungkin
dapat dterima oleh fihak2 yang berseteru.
Wasalam
RPK
----- Original Message -----
From: R.P. Koesoemadinata
To: [email protected]
Sent: Thursday, March 08, 2007 8:57 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Silaturahmi ===> Re: [iagi-net-l] Ahli Geologi
Saling Berseteru
Saya kira workshop ini hanya bertujuan untuk menghimpun pendapat bahwa
Lusi ini adalah murni bencana alam dan tidak ada hubungan dengan pemboran.
Jadi hanya untuk membebaskan tanggung jawab yang melakukan pemboran.
Namanya juga International Geological Workshop.
RPK
----- Original Message -----
From: Untung M
To: [email protected]
Sent: Thursday, March 08, 2007 4:17 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Silaturahmi ===> Re: [iagi-net-l] Ahli
Geologi Saling Berseteru
Assalaam'ulaikum wr.wb.,
Saya senang sekali membaca pendapat geosaintis tentang LUSI di milis
ini. Banyak kandungan ilmiah dalam pendapat itu. Akan tetapi saya duga
sepertinya hanya adu intektualitas saja. Bukan itu yang kita kehendaki. Rakyat
maunya real work. Jadi "Just do it" jangan hanya NATO. No action talk only.
Oleh karena itu bersilahturrahmi dengan mengadakan "Technical Workshop" Undang
seluruh geosaintis yang dianggap bisa memberi kontribusi yang berarti dari
segala bidang termasuk orang-orang sosial. Ini bukan sekedar seminar. Selesai
seminar hilang tak ada bekas. Hasil technical workshop ini harus dipakai
sebagai pedoman kerja. Hasil ini sudah melalui penggodokan yang betul-betul
matang. Tentunya disetujui oleh setiap peserta technical workshop. Demikan
saran saya. Semoga dapat dilaksanakan. Ta' ada masalah di dunia ini yang tidak
dapat dpecahkan.
Wassalaam'ulaikum wr.wb.,
M. Untung
----- Original Message -----
From: Andang Bachtiar
To: [email protected]
Sent: Wednesday, March 07, 2007 9:39 PM
Subject: [iagi-net-l] Silaturahmi ===> Re: [iagi-net-l] Ahli Geologi
Saling Berseteru
"Perseteruan" internal di komunitas IAGI (re: Surat Terbuka dari Prof
RPK) tentang Lumpur Sidoardjo bukan sekedar karena "hal-biasa" yang disebut
sebagai perbedaan "pendapat ilmiah" yang menyangkut hasil analisis tentang
apakah penyebab-pemicu semburan tersebut adalah pemboran BJP-1 atau proses alam
(gempa bumi) yang diluar kuasa pengetahuan manusia saat ini untuk memprediksi
kejadian-nya dalam skala waktu manusia (bukan skala waktu geologi),.....
tetapi lebih ke masalah pengorganisasian pertemuan ilmiah, kematangan bersikap,
"wisdom", dan etika ilmiah dalam hal-hal berikut:
1. Menyimpulkan permasalahan kontroversial saintifik yang punya
implikasi hukum-politik-bisnis semata-mata dari suatu acara diskusi yang minim
interaksi yang digelar dengan stempel "workshop" tetapi pada kenyataannya
adalah "seminar" atau lebih parahnya menurut sebagian peserta adalah
"sosialisasi pendapat sepihak" bisa dikatakan sebagai jauh dari etika -
sistimatika pengambilan kesimpulan ilmiah. Untuk menyimpulkan basis ilmiah yang
punya implikasi sepenting itu diperlukan "workshop" yang benar-benar
"workshop", dimana setiap konsep diuji sampai tuntas dalam session-session
tersendiri, yang dalam hal ini mungkin dibutuhkan lebih dari 2 hari untuk
melaksanakannya.
2. Mekanisme penyelenggaraan workshop tidak secara seimbang
menampilkan presentasi dan diskusi tentang berbagai konsep-pendapat, tetapi
lebih cenderung ke salah satu konsep, padahal para ahli berbagi konsep lain
juga hadir di acara tersebut - tetapi tidak diberi kesempatan presentasi dan
diskusi secara proporsional seperti yang lainnya.
3. Pemahaman yang parsial tentang sub-sub-disiplin, kompetensi, dan
profesi yang terkait dengan geosains dalam industri migas, sehingga proses
analisis-sintesis permasalahan menjadi tidak optimal, seperti misalnya: tidak
didiskusikannya secara rinci (spt topik2 sub-disiplin lainnya) tentang masalah
data teknis real-time-chart / geolograph selama pemboran dan implikasinya pada
kondisi geologi lubang bor dimana masalah tersebut sebenarnya adalah kompetensi
dari para ahli wellsite-operation geology,... dan lebih parahnya, tidak seperti
data primer geologi bawah permukaan dan permukaan yang berlimpah dan accessible
bagi kebanyakan ahli (seismik, trace sesar di permukaan, data satelit,
data-sampel lumpur dsb), tipe data pemboran yang tersedia (dan dipresentasikan)
adalah data sekunder (bahkan tersier) berasal dari daily drilling report, final
well report, dsb,.... genuine geolograph dan real-time-chart data tidak pernah
bisa diakses (dan diperiksa dan didiskusikan) oleh para ahli.
4. Dari 18 pembicara yang tampil, hanya 4 pembicara yang dapat
dianggap mempunyai kompetensi tentang masalah pemboran migas; dari 4 itupun
hanya 2 yang mempunyai latar belakang geosains yang diasumsikan dapat
mengekstrasi informasi geologi bawah permukaan dari data pemboran. Empat belas
(14) pembicara lainnya kebanyakan mengandalkan data geologi-geofisika (yang
punya dimensi lebih besar/regional dibanding dengan data pemboran) untuk
membuat analisis dan sintesis tentang penyebab-pemicu semburan lumpur. Dengan
demikian trend "workshop" lebih berat pada pembahasan geologi regional,
tektonik, dimensi waktu yang besar, dan kurang menyentuh analisis rinci dan
dimensi waktu yang lebih instant/pendek, termasuk kurang disentuhnya
kemungkinan-kemungkinan pemicuan semburan oleh kejadian-kejadian selama
pemboran.
"Silaturahmi" sebagai jawaban dari "perseteruan" - seperti diusulkan
oleh banyak email - mustinya dimaknai dan diimplementasikan sebagai sesuatu
yang lebih mendasar dan ber-dimensi organisasi. Seperti kita lihat dalam dalam
15 bulan terakhir kepengurusan baru PP-IAGI, organisasi kita ini hampir bisa
dikatakan sebagai tidak pernah bersilaturahmi dengan ribuan anggotanya melalui
"Berita IAGI" maupun "Majalah Geologi Indonesia", karena memang tidak satupun
media komunikasi tersebut terbit secara rutin (Berita IAGI hanya sekali terbit
menjelang PIT Nov 2006 dan MGI tidak terbit sama sekali). Harap diingat bahwa
hanya 500-600-an jumlah anggota milis IAGI-Net, yang mungkin hanya separohnya
merupakan anggota resmi IAGI, sehingga kalau ada yang mengatakan bahwa PP-IAGI
sudah berkomunikasi dengan anggotanya lewat IAGI-net, itu adalah pernyataan
yang sangat tidak berdasar. Ribuan anggota IAGI yang tersebar di 12 PengDa dan
di luar negeri, tentunya dengan berbagai macam keahlian (termasuk ahli pemboran
- ahli wellsite operation geology yang mustinya mengambil peranan lebih dalam
"workshop" IAGI yang lalu), perlu untuk disapa, disilaturahmi, dan dikunjungi.
Selain itu, "Silaturahmi" hendaknya dilakukan juga dengan membuat
sebanyak mungkin kegiatan berkumpul baik secara ilmiah maupun untuk tujuan
kekerabatan-sosial, baik di Pusat, maupun di PengDa-PengDa. Dengan makin banyak
menyelenggarakan event-event organisasi maka interaksi silaturahmi (ilmiah
maupun sosial) akan terus menerus terjalin, sehingga perbedaan-perbedaan
pendapat (ilmiah maupun sosial) punya kesempatan lebih luas, mendalam, dan
terfokus untuk dipecahkan..... bukan hanya dengan event dadakan yang kesannya
reaktif terhadap permasalahan sesaat (walalupun actual) saja.
Mudah-mudahan sumbangan pemikiran ini dapat diambil manfaatnya oleh
siapapun yang ada di komunitas geosains di Indonesia, khususnya anggota dan
pengurus IAGI kita tercinta ini.
Salam
Prihatin
Andang Bachtiar
Mantan Ketua Umum IAGI 2000-2005