RESPON-1 ATAS SURAT TERBUKA KEPADA KETUM IAGI-1
Bapak Dr. R.P. Koesoemadinata yang sangat saya hormati dan sangat saya
banggakan. Seperti pernah saya katakan dalam milis ini bahwa sangat
nikmat membaca surat Bapak kepada saya sebagai Ketum IAGI, nikmat karena
saya membaca surat tersebut bukan sebagai kritik tetapi sebagai nasehat
sang begawan geologi perminyakan kepada muridnya yang telah terjun ke
hutan belantara yang penuh bahaya baik yang kasat mata maupun yg tak
Nampak ("un-foreseeable"). Dalam surat saya ini, ijinkanlah saya
menyampaikan berbagai ilustrasi yang tidak langsung terkait dengan LULA
(LUMPUR LAPINDO)tapi mendasari sikap saya dan cara saya berpikir,
sehingga surat ini menjadi panjang, mudah2-an tdk mengganggu waktu bagi
mereka yang membaca.
Saya sangat menghargai kepada semua guru walaupun diantara mereka belum
pernah mendidik saya, apaLAGI Guru Besar (emeritus) seperti P'
Koesoemadinata yang banyak memberikan bekal kepada saya terutama sewaktu
saya belajar geologi di ITB. Saya sangat menjunjung tinggi petuah2 semua
guru yang pernah mendidik saya baik di bangku sekolah dasar, sekolah
menengah maupun perguruan tinggi. Misalnya apa yang dikatakan P' Purbo
Hadiwidjojo "Ular tidak akan pernah menjadi naga kalau tidak pernah
makan ular (menurut beliau seseorang tidak akan pernah menjadi besar
kalau tidak pernah mengakomodasi/mencontoh karya orang lain -ini berarti
kita wajib banyak membaca dan mengamalkan kalau mau maju-). Sehubungan
dengan itu dalam merespon surat P' Koesoemadinata akan banyak kutipan
dari para pakar walaupun saya ambil dari buku non-geologi. Hormat saya
kepada guru makin jadi ketika syukuran wisuda di gedung Dept Teknik
Geologi ruang 7101, dalam ruangan ini ada spanduk bertuliskan "selamat
jalan putra-putra terbaik bangsa". Waktu itu P' Rubini Soerjaatmadja
(Almhm) diminta memberikan sambutan, beliau maju kedepan sambil melihat
tulisan di spanduk dan langsung berkomentar, kalau para lulusan ini
putra2 terbaik lha kita2 ini apaan. P' Rubini (Almhm) lanjut
bertutur"kalau ada seseorang berhasil dlm pendidikan, maka yang
pertama-tama berhasil adalah orang tua dan gurunya". Menurut hemat saya
banyak para alumni geologi itb yang berhasil dan salah satu professor
yang memberikan bekal ilmu adalah P' Koesoemadinata.
Dalam seminar geologi minggu ketiga Februari yang lalu tentu saya punya
tujuan terlepas tujuan itu sejalan dengan pihak lain atau tidak. Dalam
setiap tindakan saya selalu men-set up tujuan karena saya teringat
pernah ditegor oleh P' Sampurno sewaktu mengikuti kuliah geologi teknik,
karena keisengan saya maka P' Sampurno bertanya "apa tujuan saudara
berbuat itu?" saya jawab hanya iseng saja Pak, langsung beliau bertutur
"HANYA ORANG GILA DI DUNIA INI YANG BERBUAT SESUATU TIDAK PUNYA TUJUAN".
Apa tujuan diadakan seminar tsb akan saya sampaikan dalam epilog bukan
dalam prolog sedang dibaca sekarang ini. Dalam menyampaikan pesan perlu
memperhatikan momentum agar tidak kehilangan kesempatan/peluang. Kata
mentor saya pada waktu matrikulasi Mas Adi Dharma (EL'71) bertutur "ada
sesuatu yang kita tunggu2 tapi tak kunjung datang, begitu sedikit kita
lengah maka dia akan lewat begitu saja tanpa mafaat, siapakah dia? Dia
adalah kesempatan". Sebelum pertengahan tahun lalu IAGI pernah
mengeluarkan statement atas LULA bahwa: "Semburan lumpur panas (LULA)
tidak bisa dimatikan dalam waktu dekat, kalau berhasil dimatikan
disemburan ini akan muncul ditempat lain; Berdasarkan peneletian lab
atas contoh lumpur dari berbagai mudvolcano termasuk LULA tidak
ditemukan unsur yang membahayakan kehidupan, disarankan lumpur dibuang
ke laut; Perlu dilakukan evakuasi total karena potensi terjadi
subsidence sangat besar". Mungkin momentum-nya waktu itu kurang tepat
sehingga tidak ada yang mau mendengar, karena waktu itu semua pihak
sangat menaruh harapan akan keberhasilan relief well yang dijanjikan
akan bias mematikan LULA pada Agustus 2006. Karena itu IAGI ingin
berseru lagi dalam momentum yang pas, karena waktu itu kerja timnas akan
berakhir tanggal 8 Maret 2007, maka minggu ketiga Februari 2007 dinilai
waktu yang paling strategis untuk IAGI melakukan seruan tentang LULA
melalui suatu seminar, dan kebetulan menurut teman2 minggu ketiga ini
merupakan jadwal para ahli kebumian dari Jepang berkunjung ke Indonesia,
kenapa tidak kita synergikan saja.
Mengapa IAGI mengajak LIPI, BPPT, dan BG (Badan Gelogi), mestinya
lembaga2 inilah yang seharusnya melakukan kajian dan berpendapat tentang
LULA karena lembaga2 ini hidupnya dibiayai lewat APBN dan pendapatan
Negara diantaranya dari pajak. Memang BG agak berat merespon ajakan
IAGI, mungkin punya pertimbangan lain. Lha kalau semua diam atau tidak
berpendapat terhadap LULA yang masalahnya sudah meluas mungkin sudah
menjadi masalah nasional, RASANYA KITA BAGAIKAN HIDUP DALAM REPUBLIK
TOGOG SEPERTI LAKON YANG DIBAWAKAN OLEH THEATER KOMA. Saya mengerti
kalau Pak Koesoema yang terhormat menyarankan agar IAGI tidak melibatkan
diri dalam suatu geological controversy kalau hal ini akan melibatkan
kepentingan2 tertentu (surat ke-3). Menurut Pak Koesoemadinata gagasan
membumikan geologi oleh Andang Bachtiar (ADB) sangat baik, selama tidak
menimbulkan kepentingan konflik non-geologi, saya sangat memahami hal
ini. Saya sangat menghormati shokhib saya Yayang (ADB). Dalam
kepengurusan Yayang, shokhib saya ini bekerja keras dan smart, salah
satu yang ditangani adalah mengerjakan pekerjaan yang terkait dengan
pembagiaan IP (Indonesian Participation) blok Cepu untuk BUMD-BUMD
Bojonegoro, Blora, Jateng, dan Jatim pada waktu tercapai kesepakatan
oleh BUMD-BUMD tersebut dalam proporsi: BUMD Bojonegoro 4,5 % (dari
10%), Blora 2,1%, dst. Saya mendapat imil dari Isyat Syukur (Humas IAGI
waktu itu) yang menyatakan bahwa IAGI telah berhasil memecahkan salah
satu persoalan Bangsa dengan kesepakatan tersebut. Tahun lalu dari
berbagai BUMD tersebut (kecuali Bojonegoro) datang kpd saya (sebagai
IAGI dan BPMIGAS) dan menyatakan siap perang dengan Bojonegoro karena
Bojonegoro mengganggap bahwa 10% IP adalah haknya Bojonegoro semua.
Tidak lama setelah itu muncul di Koran Republika bahwa ada personel IAGI
mengambil keuntungan financial dengan membuka data bawah permukaan blok
Cepu. Saya percaya dan berkeyakinan bahwa shokhib saya Yayang dan teman2
IAGI yang terlibat dlm urusan IP blok Cepu tidak melakukan perbuatan
tercela. Karena itu saya minta waktu itu melalui milis ini agar berita
di Republika tidak dijadikan polemik yang bisa berakibat keretakan
hubungan bila terjadi fitnah, saya juga minta Kang Ridwan (sekjen) utk
melakukan klarifikasi ke Republika. Untuk menyelesaikan perpecahan
BUMD-BUMD tersebut melalui BPMIGAS kami melakukan pendekatan dan minta
bantuan Depdagri, dalam serangkaian rapat yang dikoordinasikan oleh
Depdagri kami berbagai argumentasi tetap mempertahankan porsi pembagian
IP 10% seperti yang telah dirumuskan oleh tim-nya Yayang, alhamdhulillah
akhirnya tercapai kesepakatan dalam pertemuan di hotel Shangrilla
Surabaya dan kesepakatan baru ttg porsi IP 10% di blok Cepu tidak
berubah persis seperti yang dirumuskan oleh tim-nya ADB. Rasanya sulit
dalam era sekarang ini kalo IAGI berjalan stand a lone. Sekali lagi saya
sangat menghargai dan salut kepada ADB, dalam hal ini saya teringat apa
yang dikemukakan oleh Bang Ali (Ali Sadikin) pada waktu memberikan
kuliah stadium general di aula barat itb, beliau bertutur "seseorang
menilai/berpresepsi orang lain biasanya dicerminkan dengan dirinya,
kalau dirinya baik maka dia akan menilai orang lain baik dan selalu
berprasangka baik".
Pak Koesoemadinata juga sedih bahwa perbedaan pendapat para anggota IAGI
tidak lagi didasarkan atas kaidah2 ilmiah, tetapi didasarkan pada
kepentingan non-geologi (surat ke-3). Memang IAGI adalah suatu
organisasi profesi tetapi tidak terlepas dari hal-hal yang bersifat
manajerial, dalam membuat keputusan2 tentunya tidak sepenuhnya seperti
yang dilakukan oleh para akademisi atau ilmuwan. Saya pernah 3 kali
bertemu dengan Prof Dr. Richard Sinding Larsen dari Trondheim
University, Norwegia di Stavanger, Norwegia (di kantor pusat Statoil dan
kantor Norwegian Petroleum Directorate/NPD), Tuan Larsen ini adalah
professor dibidang geologi sahabat baik Pak JA Katili, waktu itu beliau
titip salam buat Pak Katili tapi saya katakan bahwa sulit menyampaikan
salam Prof karena P' Katili sdh menjadi wakil ketua parlemen RI. Prof
(emeritus) Larsen waktu itu menyampaikan ke saya perbedaan para
akademisi dan para manajer dalam mengambil keputusan. Kalau para manajer
dalam mengambil keputusan waktu menjadi pertimbangan utama sedangkan
kualitas analisis boleh berkurang, sedangkan para akademisi dalam
membuat keputusan kualitas/keakuratan analisis (analog dengan kaidah2
ilmiah versi P' Koesoema) menjadi syarat utama waktu boleh molor.
Barangkali apa yang dikemukakan Prof (emeritus)Larsen terjadi antara
Pak Koesoemadinata (akademisi dan ilmuwan) dan saya (manajer), Pak
Koesoema memprioritaskan kaidah2 ilmiah, dan saya memilih waktu karena
terkait dengan momentum/peluang seperti yang telah saya sampaikan
diatas. Walaupun demikian dalam pernyataan pada waktu press conference
setelah selesai seminar, masih diberi kalimat pengaman bahwa pernyataan
tersebut bersifat dinamis bukan harga mati. Kalimat terakhir dari
pernyataan tsb adalah "UNTUK INI MASIH DIPERLUKAN STUDI HIDROGEOLOGI DAN
GEOLOGI-GEOFISIKA, SERTA KETEKNIKAN". Kalau dibelakang hari ada fakta
baru dari hasil penelitian bahwa pemboran pemicu satu2nya atau pemboran
kombinasi dengan gempa sebagai pemicu LULA dengan ringan hati kami
(IAGI) akan menyampaikan pernyataan baru sesuai dengan fakta/bukti/novum
terbaru. Seloroh kawan2 pendapat para ahli perminyakan tentang relief
well telah diakomodasi, pendapat KLH lumpur tdk dibuang ke laut tapi
diatasi dengan tanggul-menanggul sudah diakomodasi, bahkan para normal
yang melakukan ritual dengan menggunakan hewan piaraan kedalam LULA juga
sudah dilakukan, pendapat teman2 fisika itb dengan bola-bola beton juga
sudah diakomodasi, semua upaya tsb belum membawa hasil. Lha pendapat
ahli geologi gimana, teriak dong kata Abah Yanto ( melalui sms kepada
saya). Satuju Abah kalau kita diam saja dalam hal yang kontroversi
bagaikan hidup dalam lakon Republik Togog.
Itulah prolog yang terlalu panjang. Epilog dari surat saya ini akan saya
tulis pada "RESPON-2 SURAT TERBUKA KEPADA KETUM IAGI-2"
.........................TOETOEGE (BERSAMBUNG)
-----Original Message-----
From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 25 Februari 2007 13:42
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI-1
SURAT TERBUKA KEPADA KETUA UMUM IAGI (1)
Sdr. Ketua Yang Terhormat.
Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada Sdr. atas terselenggaranya
International Geological Workshop on the Sidoarjo Mud Volcano tgl 20-21
Februari 2007 di Jakarta, dan saya ucapkan terima kasih atas undangan
untuk
ikut hadlir yang telah saya terima dengan baik.
Namun dengan berat hati dan rasa sangat prihatin saya menulis surat
terbuka
ini kepada Sdr. Di satu pihak saya salut bahwa IAGI dapat
menyelenggarakannya bekerja sama dengan BPPT, Badan Geologi serta LIPI
dengan mendatangkannya para pakar gunung api lumpur dari luar-negeri
yang
sangat terpilih, tetapi di lain pihak saya merasa kecewa dan sangat
prihatin dengan perumusan akhir dari hasil-hasil workshop selama 2 hari
ini
saya terus mengikutinya.
.
Di antara para pembicara secara menyolok tidak ada kehadliran Sdr. Dr.
Ir.
Rudy Rumbiandini, ketua dari Tim Investigasi yang segera ditunjuk oleh
Menteri ESDM, begitu kejadian Lumpur Sidoarjo terjadi. Selain itu saya
catat
ada seorang ilmiawan yang cukup penting yang telah menulis dalam suatu
journal ilmiah terkemuka Today yang "referreed" (yang diterbitkan the
Geological Society of America), yaitu Richard Davies dari Inggris yang
tidak
termasuk dalam pembicara. Kami dengar yang bersangkutan memang tidak
diundang, tetapi yang bersangkutan ternyata hadlir. Apakah karena takut
dia
mempunyai bukti-bukti dan analisa yang kuat sehingga berkesimpulan bahwa
gunung api lumpur itu kemungkinan besar disebabkan karena kelalaian
pemboran
Banjar Panji-1? Sebagai suatu perkumpulan profesi seperti IAGI ini
justru
orang ini harus diberi kesempatan berbicara mengenai hasil
penelitiannya,
sehingga kita bisa meng'interogasi' dia atas keabsahan dan keakuratan
dari
data yang dia gunakan, serta validitas dari analisanya. Yang
bersangkutan
datang dalam waktu hanya dalam waktu 2 hari setelah diberi tahu oleh
rekannya yang ada di Indonesia. Saya dapat memahami alasan apapun yang
diberikan panitya seperti keterbatasan waktu, masalah komunikasi atau
bahkan
mungkin pula yang bersangkutan menolak untuk berbicara. Itu saya dapat
fahami, namun saya tetapi sangat menyayangkannya.
Ketua tim perumus pada pembacaan kesimpulan dari workshop ini praktis
hanya
mengemukakan pendapatnya sendiri yang didukung oleh data-datanya
sendiri,
dan hanya menyebut sekilasn butir-butir utama yang hanya mendukung
pendapatnya serta seolah-olah sudah ada kesepakatan bahwa terjadinya
gunung
api lumpur di Sidoarjo ini semata-mata murni bencana alam yang
disebabkan
rekahan yang dipicu gempa bumi di Jogyakarta dan tidak ada hubungannya
dengan pemboran Banjar Panji-1.
Mungkin sebaiknya perumus itu menjadi salah seorang pembicara, mengingat
yang bersangkutan mempunyai pendapatnya sendiri, serta kepakarannya,
pengetahuannya yang luas dan mungkin sekali mempunyai akses pada
data-data
geologi dan geofisika di sekitar Sidoarjo ini, dan Tim Perumus
diserahkan
kepada orang lain.
Saya sangat fahami bahwa ada kepentingan nasional (saya tidak mengatakan
kepentingan politk) dalam penyelenggaraan International workshop ini,
tetapi
mengapa kita tidak dapat lebih bijaksana, elegant, atau diplomatis dalam
mengambil kesimpulan ini tanpa harus mengorbankan nilai kebenaran dan
kaidah
ilmiah?
Kalau kita simak bagaimana bijaksananya para ilmiawan Jepang dalam
mengemukakan pendapatnya untuk tidak mengecewakan tuan rumah tetapi juga
tidak mengorbankan kebenaran ilmiah. Prof. Mori memperlihatkan secara
tegas
adanya hubungan antara gempa bumi dengan aktifivitas gunung api lumpur
dengan mengeplot magnitude dari gempa bumi serta jarak antara epicentum
dengan gunungapi lumpur yang diaktifkan, antara lain gempa Aceh yang
menyebabkan gunung api lumpur di pulau Andaman. Pada slide yang
ditampilkan,
posisi Lusi pada grafik ini mula-mula tidak ditampilkan, tapi 'oops'
sekilas
dia tampilkan yang ternyata berada jauh diluar garis mencerminkan bahwa
Lusi
terlalu jauh dari epicentrum gempa Jogya untuk dapat menimbulkan
aktivitas
gunung api lumpur. Penampilan sekilas ini cukup untuk para wartawan yang
jeli sehingga besok harinya muncul berita di koran2, a.l. Kompas yang
memberitakan bahwa Prof Mori dari Jepang menyatakan tidak ada hubungan
gempa
Jogya dengan penyemburan lumpur Sidoarjo, dan bahwa hal ini melulu
disebabkan kelalaian pemboran. Bahwasanya dia menyangkal pernyataan ini
keesokan harinya di depan wartawan bisa sangat difahami, karena beliau
memang tidak pernah mengatakan bahwa Lusi adalah disebabkan pemboran. Di
dalam abstrak yang sudah dibagikan dia hanya menyatakan bahwa masalah
peneyebab Lusi oleh pemboran adalah sangat menarik. Kemudian dia
mempaparkan
efek dari gempa terhadap turun naiknya sumber air panas (hotsprings)
walaupun berada pada jarak ribuan kilometer dari episentra.
Prof. Kumai juga sangat menarik dalam pembicaraan mengenai hubungan
gempabumi dan mud volcano, dengan judul makalahnya yang tegas Earthquake
as
a major casue of the Lusi mudvolcano. Namun dalam pembahasannya dia
lebih
berkutik pada efek gempa di Osaka City terhadap turun-naiknya air tanah
di
sekitar daerah itu, dan dalam hal Lusi ia hanya mengatakan bahwa sumber
air
dari Lusi itu suatu kedalaman besar, mungkin berasal dari volkanisme
atau
granit yang tua. Sama sekali tidak menjelaskan bagaimana gempa telah
menyebabkan terjadinya rekahan/ fault sehingga air panas itu muncul ke
permukaan sebagai mud volcano.
Yang sangat mengesankan adalah pembahasan dari Dr. Danny Hilman
Natawidjaja
dari LIPI , seorang pakar yang sangat berperan dalam penelitian gempa di
Aceh. Beliau terus terang bahwa waktu dihubungi dia berpendapat secara
tegas
tidak ada hubungan antara gempa Jogya dengan terbentuknya Lusi, namun
setelah diskusi dengan Prof Kumai entah apa yang diskusikannya), dia
katakan 'oh kalau begitu mungkin'. Namun dia kemudian mempertanyakan
mengapa
pada waktu terjadi gempa sebelumnya yang dirasakan di daerah
Pasuruan-Sidoarjo dengan intensitas VIII pada sekala MMI tidak
menghasilkan
gunung api lumpur sedangkan gempa Jogya yang di Sidoarjo dengan
intensitas
II-III MMI menyebabkan Lusi.
Juga tidak kalah menarik adalah pembahasan dari Dr. Wahyu Triyoso
seorang
seimologist dari ITB. Dia menyatakan bahwa gempabumi mempunyai efek
terhadap
reservoir (minyak?) yang dapat merubah karakteristik reservoir, a.l.
rheology, permeabilitas bahkan pressure gradient. Kita jangan hanya
lihat
gempa Jogya yang pertama saja tetapi juga aftershocks yang bertubi-tubi,
dan
ini yang akan meningkatkan tekanan serta produktivitasnya. Ide ini tentu
sudah kita ketahui, dan teknologi meningkatkan produksi dengan vibroseis
yang dipromosikan perusahaan Rusia pernah dicoba di lapangan Sumatra
Tengah
oleh Chevron (Caltex) dengan hasil yang tidak konklusif. Yang menarik
adalah
bahwa dalam diagram yang ditampilkan dia perlihatkan adanya reservoir
(Kujung?) dengan saluran vertikal ke permukaan (lubang bor BP-1?), dan
dijelaskan bagaimana peningkatan tekanan dalam reservoir dapat
menimbulkan
penyemburan lumpur ke permukaan. Jadi dia sama sekali tidak menyatakan
bahwa
gempa Jogya telah mengaktifkan suatu patahan (rekahan) yang menyemburkan
lumpur ke permukaan, tetapi hanya meningkatkan tekanan pada reservoir!
(bersambung)
------------------------------------------------------------------------
----
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual
Convention and Exhibition,
Patra Bali, 19 - 22 November 2007
------------------------------------------------------------------------
----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------