Kalau tidak salah dulu proyek Gua Bribin ini untuk dibikin Pembangkit Listrik 
Tenaga air ( ? )
Melihat untuk merelaisasikan proyek ini harus " merusak" Gua  Gua ( dg 
meledakan  segala) , apa tidak sayang , disisi lain kita konsen terhadap 
klestarian alam.
Kalau dilihat "hasil"  ( dari listrik yang dihasilkan nantinya ) mungkin juga 
tidak terlalu banyak , apalagi untuk daerah ini masih banyak alternatif lain ( 
menggunakan sumber energi lain ) tanpa harus "merusak" alamnya. 
Ora cucuk , istilah Gunung Kidule...

ISM
===================================
http://www.kompas.com/  
Penelusuran Sumber Air
Luweng Ngejring Akses Masuk Lain ke Goa Bribin di Gunung Kidul 

Upaya penghancuran bebatuan yang menutup penampang Goa Bribin di Semanu, Gunung 
Kidul, beberapa waktu lalu, masih menyisakan sedikit pekerjaan. Belum semua 
pecahan batu hasil peledakan yang melibatkan dua penyelam sifon (pipa penuh 
air) dari Jerman, Marco Wendelberger dan Matias Leyk, November tahun lalu, itu 
tersingkir. 

Artinya masih ada sisa bebatuan yang membendung aliran air di dalam goa 
berkedalaman sekitar 100 meter di bawah permukaan tanah tersebut. Batuan itu 
jelas menjadi penghambat pembangunan dam utama karena keberadaannya membuat 
permukaan air menjadi naik. 

Beberapa upaya pun kembali dicoba, salah satunya mencari jalan lain untuk masuk 
ke dalam penampang goa guna menyingkirkan batu-batu sisa secara manual. Setelah 
melalui sejumlah pemikiran, pilihan pun tertuju ke luweng atau lubang vertikal. 

Lubang ini diharapkan bisa menjadi jalan masuk dari sisi lain. Mengingat, untuk 
masuk dari jalan utama, yakni terowongan vertikal, hasil pengeboran masih cukup 
sulit, meski kini telah terpasang lift. 

Salah satu luweng yang kemudian menjadi pilihan adalah luweng Ngejring. "Akhir 
bulan ini kami berencana untuk mencoba masuk ke dalam luweng Ngejring. Kami 
masih menunggu situasi kondusif," ujar Dicky J Mesah, Ketua Acintyacunyata 
Speleological Club (ASC), pekan lalu. 

ASC ialah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang 
penelusuran goa yang juga terlibat dalam pembangunan bendungan sungai bawah 
tanah Bribin. 

Tak mudah 

Masuk dalam goa bawah tanah, apalagi yang jalurnya vertikal dan terdapat sungai 
di dalamnya, bukan persoalan mudah. Selain keterampilan dan dukungan peralatan 
yang memadai, kondisi cuaca menjadi bagian yang tidak bisa dianggap remeh. 

Debit air sungai bawah tanah biasanya bertambah, seiring datangnya musim hujan 
baik itu yang turun di daerah tersebut maupun di daerah hulu. 

Sementara itu, luweng Ngejring yang berada sekitar satu kilometer arah barat 
daya dari titik pengeboran sebenarnya telah dimatikan (ditimbun). 

Sekitar 40 tahun terakhir, warga sengaja menimbunnya dengan tanah untuk 
dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. 

"Berhubung ada rencana menjadikannya jalan masuk, maka Februari kemarin warga 
bersama pihak-pihak terkait berupaya membuka kembali timbunan. Kini lubang 
luweng ditutup memakai papan agar Lumpur tidak ikut masuk bersama air hujan," 
kata Dicky. 

Ngejring merupakan luweng keempat yang akan dicoba sebagai jalan masuk ke 
Bribin. Sebelumnya, ada tiga luweng lain di Kecamatan Semanu yang telah dicoba. 
Namun, luweng-luweng itu tidak berhasil dimanfaatkan lantaran beberapa masalah. 
Salah satunya ada luweng yang ujungnya menyempit sehingga tidak bisa dimasuki. 
"Karena tidak berhasil itulah, akhirnya diledakkan," kata Dicky. 

Menurut Solichin selaku penghubung antara Universitas Kalsruhe Jerman dan 
Pemprov DI Yogyakarta 

dalam pembangunan bendungan Bribin di Indonesia, luweng Ngejring merupakan 
pintu masuk terdekat dengan lokasi reruntuhan. Hal ini sesuai dengan pengukuran 
Matias Leyk. 

Kalau sampai tembus ke dalam goa, menurut Solichin, hal itu merupakan suatu 
keuntungan. Kalau upaya ini berhasil, maka upaya menyingkirkan penghalang bisa 
dilakukan lebih mudah. 

"Memang ada rencana peledakan kembali tanggal 16-21 April mendatang oleh tim 
yang sama. ASC diharapkan mencari akses masuk lebih dulu," tuturnya. 

Meledakkan batuan di dalam goa penuh air memang tidak mudah. Pengalaman 
peledakan pertama yang melibatkan Profesor Nestmanm selaku pimpinan proyek dari 
Universitas Kalsruhe dan harus diulang hingga tiga kali akan menjadi referensi 
tersendiri bagi para ahli terkait. (WER) 



















Kirim email ke