HARAPAN BERBUAH PETAKA Pada awal tim IAGI mengadakan studi literature/kepustakaan, dugaan fenomena mud volcano utk LULA sudah muncul hal ini terutama didasarkan analisis tulisan Duyfjes (maaf kalo salah sebut nama) decade 30-an dan data dari Buku GRAVITY (BUKU YG DISEBUT p' Untung dlm milis ini) "GRAVITY and GEOLOGICAL STUDIES IN JAWA, INDONESIA", kemudian dilakukan pengamatan lapangan dari mulai sangiran, purwodadi, sidoarjo, Surabaya sampai ke pulau madura. Hasil pengeplotan pengamatan lapangan dan data gravity menghasilkan bentuk penyebaran seperti kaca mata, Kang Edy S menyebut kaca mata badman. Bentuk inilah yang diyakini sebagai area penyebaran mud volcano, LULA termasuk didalamnya. Sehingga pada waktu tim-nya Kang Rudy R mengatakan LULA sebagai underground blowout dan bias diatasi dengan relief well, kami pesimis. Awalnya diperkirakan dengan relif well LULA akan mati pada Agustus, 2006, kemudian mundur September'06 ....Desmber'06...dst. Harapan berbagai pihak meyakini bahwa relief well akan berhasil mematikan LULA, sehingga KLH-pun memandang hal ini belum kritis maka LULA tidak diperbolehkan dibuang melalui laut. Saya tidak heran kenapa KLH bersikap demikian karena harapan yang ditimbulkan dari relief well sehingga tidak pernah mereka (tidak hanya KLH) membuat scenario bagaimana kalo LULA tidak bias mati dengan relief well kecuali IAGI. Melihat munculnya berbagai pendapat dalam menangani LULA, saya teringat buku "THE LIVING COMPANY: Habits for Survival in turbulent business environment"/hal. 26-37 (Harvard business School Press, 1996), buku ini ditulis oleh ARIE DE GUES (Worked for Royal Dutch/Shell for 38 years, before retiring he was coordinator of corporate planning, widely credited with originating the concept of learning organization, he is visiting fellow at the London Business School and Board of the MIT for Organizational Learning). Arie De Gues membuat 5 teori dalam merespon kejadian yang ada maupun utntuk masa depan. Pada saat itu KLH masuk dalam kategori teori-1 (the problem managers -KLH- face is not acting intelligently), memang tidak enak sebutannya teori-1: Manager are stupid. Setelah relief well belum bias mematikan LULA maka luapan LULA menjadikan daerah porong/sidoarjo menjadi kritis terutama penduduk yang terkena dampak LULA, KLH membolehkan membuang lumpur ke laut. Maka KLH bergerak ke teori-2 (WE CAN SEE ONLY WHEN CRISIS OPENS OUR EYES. Jadi jelas kita terbelalak setelah LULA meluber kemana-mana, rel kereta berkelok, pipa gas meledak. Karena harapan yang ditimbulkan relief well, sebagian pihak percaya relief well akan berhasil, sehingga tidak ada relokasi infrastruktur dan hanya dibuat tanggul2 utk menahan luapan LULA ke daerah yang lebih luas, tidak pernah terpikir scenario kalo LULA gak bias dimatikan, setelah pipa gas meledak terjadi korban jiwa. Akhirnya inilah HARAPAN BERBUAH PETAKA. Sementara itu ahli perminyakan, ahli pemboran dan ahli geologi terjebak pada TEORI-3 (WE CAN SEE ONLY WHAT WE HAVE ALREADY EXPERIENCED; some psychologist began to claim that people can only experienced before). Jelas para ahli perminyakan, ahli pemboran, dan ahli geologi yang punya/banyak pengalaman di pemboran perminyakan berpendapat bahwa LULA terjadi karena underground blowout. Para Ahli perminyakan dan ahli pemboran sejak dibangku kuliah sudah mempelajari blowout. Bahkan salah seorang yang sangat senior di tim-nya Kang Rudy R mengatakan, ini adalah underground blowout dan dalam sejarah tidak ada blowout yang tidak bisa dimatikan, karena itu kami (tim investigasi) sangat yakin luapan lumpur ini bias dimatikan (statemen ini termasuk dikemukakan dalam rapat dengan komisi VII DPRRI). Kadang2 kami bingung para ahli mengatakan underground blowout kami tidak berkomentar tapi begitu kami menyatakan mud volcano bencana alam langsung kami dituduh macem2 bahkan cenderung negative, akhirnya kami menyadari mungkin masyarakat geologi juga terjebak dalam teori-3 nya Arie De Gues, karena maraknya dunia politik IAGI pun dituduh dipolitisir. Saya juga ingat dalam salah satu kuliah stadium general di aula barat tahun '74 yang di sampaikan Bang Ali (Ali Sadikin), beliau mengatakan bahwa "SESEORANG MENILAI ORANG LAIN DISAMAKAN DENGAN DIRINYA, KALAU DIRINYA BAGUS DIA MENILAI ORANG LAIN BAGUS DAN SEBALIKNYA", pendapat Bang Ali ini saya modifikasi sedikit orang menilai orang lain berdasarkan apa yang berkembang dimasyarakat, dimasyarakat kita telah berkembang budaya bias diatur dan dipolitisasi, bila pendapat orang lain berbeda dengan pendapat pribadinya maka dengan mudah orang ini menuduh orang lain dipolitisir atau ditunggangi kepentingan orang lain. DALAM SEMUA KEGIATAN EVENT YANG DISELENGGARAKAN IAGI, SAYA JAMIN APA YANG DITUDUHKAN KEPADA KAMI TIDAK TERJADI. BAGI KAMI ORGANISASI ADALAH TEMPAT BELAJAR, SALING BERBAGI ILMU DAN PENGALAMAN, SALING MEMBANTU DALAM MENGATASI KESULITAN ....DST. Lha sebagian ahli geologi yang banyak pengalaman di regional, tektonik, dsb biarlah kalau mereka berpendapat ini bukan underground blout tetapi mudvolcano yang berkaitan dengan tektonik misalnya. Seperti dikatakan oleh Pak Koesoemadinata dengan mengacu bukunya D. W. Mueller et al, bahwa kontroversi dalam geosciences itu biasa dan berjalan terus. Begitu juga biarlah kontroversi "UNDERGROUND BLOWOUT YANG TERKAIT DENGAN PEMBORAN BJP-1" dengan MUDVOLCANO YANG DISEBABKAN OLEH TEKTONIK/GEMPA" berjalan terus sampai ada penelitian untuk menentukan the smoking gun, seperti yang dicontohkan untuk mengetahui penyebab tsunami Aceh diperlukan waktu berbulan-bulan denga biaya yang besar (US$ 50 jt). Siapa yang membiayai dan melakukan penelitian untuk mengetahui the smoking gun LULA, jelas saya gak tahu. KARENA ITU JANGANLAH SALING MENUDUH, BIARLAH KONTROVERSI INI BERJALAN SAMPAI ADA PENELITIAN DIMAKSUD DILAKUKAN. Mana yang benar tentu masing-masing punya argument, dalam hal ini saya teringat tulisan R.E. Megill di journal AAPG decade 80-an tentang keberhasilan pemboran di Amerika Serikat dari hasil penelitiannya, judulnya "HOW MUCH LUCK HOW MUCH SKILL", ternyata pengidentifikasian petroleum system di AS yang begitu maju, keberhasilan pemboran eksplorasi di AS yang mendapat discovery lebiha dari 60 % adalah luck (contoh di Jabar, obyektif pemboran F. Baturaja ternyata F Baturaja water bearing dan yang ada minyak komersial di zona-16 dan gas di F Parigi). Maka biarlah kontroversi tersebut berjalan bersama LUCK and SKILL, janganlah merasa paling benar pendapatnya. Termasuk kami tidak berpendapat konfrontatif terhadap dilaksanakan insesrsi bola2 beton seberat 400 kg setiap rangkaian, jelas dari pengetahuan kami ini sangat sulit berhasil tetapi siapa tahu DR. Bagus dan kawan2 dari Fisika ITB punya LUCK dan bertangan dingin. Begitu juga keinginan untuk melakukan Relief well-3......
..................TOETOEGE (Bersambung memotret penangan LUSI dengan teori-4 & teori-5 dari Arie De Gues.....) -----Original Message----- From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 25 Februari 2007 13:41 To: [email protected] Subject: [iagi-net-l] Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI-(2) SURAT TERBUKA KEPADA KETUA UMUM IAGI (2) Di lain pihak yang sangat menarik adalah telah terungkapnya pula data pemboran yang pada waktu sebelumnya (terutama pada permulaan erupsi Lusi) tidak pernah muncul pada laporan pemboran, yaitu yaitu bahwa 10 menit setelah terjadinya gempa di Jogya, terjadi 'partial loss' dari lumpur pemboran yang teramati pada mud pit. Hal yang sama diungkapkan pula oleh Dr. Doddy Nawangsidi, tetapi waktunya adalah 70 menit sesudah gempa (mungkin Pak Doddy ini keliru membaca 1 sebagai 7). Ini data yang sangat menarik karena sebelum data ini belum pernah dilaporkan dan menunggu 7 bulan untuk terungkap. Di lain pihak Dr. Nawangsidi ini menunjukkan secara kwantitafi dengan menggunakan rumus reservoir (Darcy) dengan parameter2 yang diasumsikan bagaimana tidak mungkinnya laju (rate of production) jumlah air sebegitu besar (100 sampai 160 juta meter kubik per hari?) dari satu lubang sumur yang menembus Kujung hanya 15 kaki saja.. Analisa ini tentu merupakan pukulan, paling tidak renungan, bagi mereka yang berpendapat bahwa gunung api lumpur ini bersumber dari air bertekanan tinggi dari reservoir terumbu Kujung yang telah ditembus sumur BP-1, walaupun tentu orang dapat mempertanyakan data serta parameter yang diasumsikannya, serta adanya tambahan sumber air panas lainnya yang ikut terpicu dengan underground blow-out dari Kujung ini. Mengenai stratigrafi lubang bor Dr. Adi Kadar dkk mengakui telah mereview serta menganalisa ulang data biostratigrafi dan disimpulkan bahwa seluruh lapisan batuan yang ditembus Banjar Panji hanyalah berumur Pleistocene yang menimbulkan kesan bahwa Formasi Kujung tidak tersentuh oleh sumur bor ini. Juga telah ditekankan keberadaan diapirism dalam selang overpressured shale, yang banyak menganggap sebagai sumber lumpur. Mengenai sumber air ini masih juga ada yang berpendapat bahwa lumpur ini berasal dari overpressured shale yang diyakini semua orang keberadaannya jauh di atas formasi Kujung, namun berdasarkan analisa penampang seismic dibantah oleh Dr. Alam sebagai mud diapir. Dr. Adriano Mazzini dari Oslo University masih berpandangan bahwa sumber lumpur ini adalah dari overpressured shale ini, tetapi ketika ditanyakan oleh Richard Davies bagaimana begitu banyak air dapat dihasilkan dari overpressured shale ini, mengingat shale adalah impermeable, yang bersangkutan menghindar untuk menjawabnya dengan dalih pertanyaannya tidak jelas. Namun suatu hal penting yang dikemukakannya adalah bahwa cekungan Jawa Timur adalah matang (ripe) atau rawan terjadinya gunung api lumpur dibuktikan dengan adanya overpressured shales dan banyaknya gunung api lumpur, tanpa pemboran (atau gempa) pun gunungapi lumpur dapat terjadi sewaktu-waktu. Mengenai kayanya cekungan Jawa Timur Utara juga telah dibahas oleh Dr. Djajang Sukarna, Kepala Badan Geologi, dalam keynote speech nya Yang menarik adalah makalah dari Dr. Gregorii Akhmanov dari Moscow University yang membahas mud volcanism di Elean Basins yang, dengan tidak mengenyampingkan jenis gunungapi lumpur di daerah lain seperti shale diapirism, menyatakan bahwa pembentukan mudvolcano di Elean basins adalah oleh hydro-fracturing. Hydro-fracturing adalah proses terjadinya LUSI yang dianut oleh mereka yang meyakini bahwa bahwa air dari Fm Kujung sebagai penyebab semburan lumpur LUSI. Saya catat bahwa tidak ada makalah yang membahas berbagai jenis atau klasifikasi mudvolcano, sedangkan menurut hemat saya gunungapi lumpur itu ada berbagai jenis dengan yang disebabkan shale diapirism di satu ujung (end member), biasanya merupakan lumpur kental dan membentuk keruncut yang terjal, dan jenis mud spring di ujung lain, yang sangat encer (kadar air yang sangat tinggi) dan nyaris tidak membentuk kerucut atau kerucut yang sangat landai. Saya menganggap LUSI ini lebih sebagai jenis mud spring. Walaupun makalah-makalah pada umumnya membahas asal gunungapi lumpur disebabkan air yang bertekanan tinggi, yang boleh jadi disebabkan gempa, namun gunungapi Lusi disimpulkan selain terjadi secara alamiah juga disebabklan karena rekahan dan aktivitas tektonik yang diakibatkan oleh gempa bumi Jogya. Namun anehnya pada seluruh persidangan ini tidak satupun ada makalah yang membahas tektonik serta sistim sesar dari daerah Sidoarjo, bahkan peta geologi yang menunjukkan patahanpun nyaris tidak ada kecuali peta sesar Watukosek dengan satu garis saja yang menghubungkan Watukosek dengan Lusi dan G. Anyar dengan arah NNE-SSW.dan sesar-sesar amblasan yang berarahkan WSW-ENE yang menghubungkan semburan-semburan lumpur yang sekarang sudah tidak aktif lagi. Apa lagi pembahasan bagaimana mekanisme gempa bumi Jogya dapat mengakibatkan sesar (rekahan) itu sama sekali tidak ada. Inilah yang dikeluhkan Dr. Benyamin Sapiie dari ITB pada komentar yang diberikannya sesaat sebelum rumusan akhir dari hasil workshop ini dibacakan. Beliau menyatakan betapa pentingnya kita menganalisa tegangan-tegangan tektonik yang aktif di daerah Sidoarjo ini untuk menentukan critical stresses yang didapatkan, namun pembahasan ini tidak ada sama sekali. Sdr. Ketua yang terhormat. Saya sangat prihatin dengan hasil dari workshop yang disebutkan sebagai bertaraf internasional ini. Rumusan yang diberikan banyak tidak relevant dengan apa yang dibahas, bahkan cenderung bertolak belakang. Ini sangat menyedihkan, orang awampun akan bertanya-tanya apakah kesimpulan dari workshop ini sudah ditentukan sebelumnya demi kepentingan nasional? Komentar di masyarakat ilmiah di luar negeri pun sudah bermunculan. Sampai di mana kebenaran pengamatan dan pendengaran saya ini selama mengikuti persidangan tentu akan ada yang meragukannya mengingat usia saya yang sudah lanjut ini. Untuk itu saya sudah meminta pada panitya supaya bisa mendapatkan Power Point files dari presentasi masing-masing pembicara itu. Namun sayangnya panitiya hanya akan memberikannya sesudah dilakukan peng-edit-tan terlebih dulu (mengingat adanya data-data yang dianggap confidential oleh BP Migas). Satu hal yang menarik adalah Workshop ini tidak memberikan rekomendasi mengenai langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi masalah ini, atau kapan . Padahal inilah yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Masyarakat tidak terlalu peduli mengenai apa penyebab gunungapi lumpur ini, walaupun mereka cenderung untuk menyalahkan pemboran. Yang berkepentingan dalam apa penyebab dari gejala ini adalah dalam masalah soal siapa yang harus menanggung biaya penanggulangan bencana ini. Masyarakat hanya ingin mendengar bagaimana bencana lumpur ini dapat dihentikan. Tentu saja kita bisa berdalih bahwa untuk dapat menghentikan semburan lumpur itu kita harus tahu penyebabnya. Kalau panitya workshop ini berkeyakinan bahwa hasil workshop ini adalah LUSI murni gejala alam dan tidak dapat dihentikan dan tidak dapat diprediksikan kapan akan berhentiknya, maka satu-satunya rekomendasi yang bisa diberikan adalah mengevakuasi (mengosongkan) daerah yang dipengaruhi LUSI, khususnya daerah yang bakal amblas, membangun tanggul sekitarnya serta mengalirkan airnya dengan saluran bertanggul ke laut, sedangkan lumpur padatnya secara alamiah dapat ditinggalkan di daerah amblasan, bahkan mudah-mudahan dapat mengkompensasi amblasannya sendiri. Saya lihat ada lebih dari 1 makalah (a.l. dari Dr. Ir. Prihadi Sumintapura dari ITB) para pakar kita telah mampu melakukan deliniasinya. Saya sadar bahwa pernyataan demikian mungkin mempunyai dampak yang luas bagi masyarakat, tetapi saya kira itu satu-satunya rekomendasi yang dapat diberikan kalau panitia perumus menganggap penyebab ini gejala alam yang tidak dapat dihentikan atau tidak dapat diprediksi kapan berhentinya.. (bersambung) ------------------------------------------------------------------------ ---- Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual Convention and Exhibition, Patra Bali, 19 - 22 November 2007 ------------------------------------------------------------------------ ---- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- ---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

