Bagaimana dengan bangsa kita tercinta ini? Bumi Indonesia dengan hutan
tropisnya, konon sangat penting perannya sebagai penyangga kelangsungan
kehidupan di muka bumi ini, di samping hutan tropis Brasil. Mungkin sebagian
besar manusia Indonesia sama sekali tidak tahu tentang perlunya kelestarian
lingkungan hidup mereka, yang penting bagi mereka adalah tetap bisa makan.
Hanya sebagian kecil dari bangsa ini yang tahu akan pentingnya kelestarian
lingkungannya, namun dari yang sedikit itu hanya sebagian kecil saja yang
sadar dan peduli lingkungan, sebagian lainnya dengan serakahnya
mengeksploitasi habis-habisan sumberdaya alam yang ada di negeri ini.
Sumberdaya hutan, sumberdaya mineral, sumberdaya laut dsb, semua disikatnya
tanpa ampun. Oleh karena itu, lima tahun terakhir kita telah menuai/ panen
bencana, karena daya dukung bumi Indonesia yang sudah sangat menurun karena
setiap hari dihajar habis-habisan, mudah-mudahan tidak sampai mati seperti
praja IPDN. Yang pintar dan yang kaya yang mestinya sadar lingkungan serta
mereka yang miskin dan buta lingkungan yang sekedar mencari makan, secara
bersama-sama menyakiti bumi pertiwi setiap hari. Belum lagi relokasi
industri sarat polusi dari negara-negara kaya ke negara-negara dunia ketiga,
termasuk Indonesia.

Kalau begini, siapa yang harus bertanggungjawab? Sudahkah kita-kita ini
peduli terhadap nasib bumi pertiwi? Relakah jika generasi penerus kita nanti
ternyata hanya generasi idiot dan kurang gizi?

Wassalam.


On 4/24/07, Toto Santosa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 Allah Maha Besar.
Siapakah yang menciptakan "Mother Earth" beserta isinya termasuk kita?
Apakah jadi dengan sendirinya? Siapa yang mengatur peredaran bumi mengitari
matahari, matahari beserta planit planit termasuk bumi berputar juga
mengitari sistem tata surya nya? Dan tata surya ini mengitari yang lebih
besar lagi (ada 7 tingkatan menurut kitab suci Al Qur'an)? Apakah itu juga
terjadi dengan sendirinya?
Manusia, kalau kita berbuat baik kepada keluarga, masyarakat, lingkungan
dan diri kita sendiri - fine tidak ada celaan dari pandangan orang.
Kalau kita berbuat jahat, korupsi, membunuh, mencuri atau membuat orang
lain resah tetapi selamat tidak terjerat hukum di dunia ini karena satu dan
lain hal - dimana keadilan then.
Semuanya itu kita yakini, setidaknya saya pribadi, bahwa nanti ada
pengadilan akhir setelah kita mati dan dihidupkan lagi oleh Sang Pencipta
kita. Disanalah pengadilan sejati dan keadilan hakiki akan terwujud.
Pertimbangan kebaikan dan keburukan akan mendapatkan ganjaran yang setimpal.

Dan semuanya itu Sang Maha Pencipta mempunyai aturanNya yang wajib kita
imani dan jalani. Kita patut bersyukur bahwa kita sudah ditakdirkanNya
seperti kita sekarang  ini yang normal, sehat, bisa berkomunikasi via email
seperti ini. Bagaimana kita bersyukur kepadaNya, jalankan semua perintahNya
(diantaranya berbuat baik kepada sesama termasuk menjaga kelestarian
lingkungan jangan menjadi perusak di muka bumi dan jauhkan segala
larangannya (diantaranya jangan dekati zina, apalagi berbuat meskipun pakai
kondom).
14 abad yang lalu Rasulullah sudah menjelaskan dalam kitabNya bahwa bumi
itu tidak diam, gunung gunung bergerak dan bumi berputar sambil mengitari
matahari (sebelumnya orang orang meyakini bahwa bumi sebagai pusat alam raya
- sehingga orang yang berpandangan berbeda bisa dihukum malah dibunuh.). Dan
Allah SWT lah yang mencipta dan mengatur jagat raya ini termasuk isinya
termasuk kita sebagai mahluk yang sempurna dilengkapi dengan akal (yang
membedakan kita dengan binatang).
Wawloohualam, ma'af ikutan nimbrung.

 -----Original Message-----
*From:* Awang Harun Satyana [mailto: [EMAIL PROTECTED]
*Sent:* Tuesday, April 24, 2007 4:28 PM
*To:* [email protected]
*Subject:* [iagi-net-l] Earth Day : The Revenge of Gaia (Lovelock, 2006)

 Setuju dengan yang dituliskan Abah, dan tunggu sajalah bagaimana Sang
Bumi Pertiwi (Gaia) akan membalas dendam (kepada manusia).



James Lovelock, pada usianya yang ke-86, masih produktif dengan menuliskan
buku seri Gaia-nya yang kelima : The Revenge of Gaia (Penguin Books,
2006). Selama 25 tahun lebih, Lovelock konsisten dengan hipotesis (
sekarang sudah jadi teori) bahwa Bumi adalah ibarat makhluk hidup, maka
disebutnya ia adalah Mother Earth atau Gaia ( dewi Bumi) atau Bumi Ibu
Pertiwi.



Tahun 1979 bukunya terbit untuk pertama kalinya : "Gaia - a New Look at
Life on Earth" ( Oxford Univ. 1979), lalu "The Ages of Gaia" (Norton,
1988), lalu "The Practical Science of Planetary Medicine" (Gaia Books,
1991), lalu "Homage to Gaia" (Oxford Univ, 2000), dan "The Revenge of
Gaia" (Oxford Univ, 2006). Buku pertamanya telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia dengan judul "Bumi yang Hidup" (Yayasan Obor Indonesia,
1988). Empat lainnya saya gak yakin sudah diterjemahkan. Saya punya tiga
bukunya. Bukunya "The Ages of Gaia" sangat sarat geologi sejarah, asyik
mengikutinya.



Kalau rekan2 mengikuti pandangan2 Lovelock sejak dari awal hipotesis Gaia
sampai jadi teorinya, maka akan kelihatan perkembangan pemikiran pembela
lingkungan ini. Saat-saat awal, Lovelock berkata bahwa Bumi bisa
menyembuhkan dirinya sendiri dengan semua organ ( tanah, lautan, atmosfer)
yang dimilikinya. Tetapi di bukunya yang terakhir ditulisnya bahwa Bumipun
bisa mengaduh sakit, bisa ngambek, bisa demam, meriang, dan akhirnya bisa
membalas dendam kepada yang menyakitinya.



Mother Earth sekarang telah tua, 4.65 milyar tahun , ia tak sekuat seperti
dua milyar tahun yang lalu. Ia sedang berjuang agar dirinya tetap cukup
dingin sehingga berbagai bentuk kehidupan yang bergantung kepadanya tetap
bisa nyaman. Dia harus mengelola sedemikian rupa panas Matahari yang makin
meningkat. Tetapi, kesulitannya bertambah karena ada satu bentuk kehidupan
yang bergantung kepadanya, yaitu manusia, telah berbuat sedemikian rupa
hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.



Gaia sedang berubah dan mungkin ia tak sekokoh dulu. Ciri global ecosystem
sekarang adalah : populasi manusia meningkat, penurunan kualitas tanah,
penumpukan sampah, semua jenis pencemaran, perubahan iklim, penyalahgunaan
teknologi, punahnya biodiversitas. Dan ini adalah problem global sebab dunia
yang sekarang adalah dunia yang terlipat – problem di satu tempat akan
segera dirasakan di tempat lain.



Mars dan Venus adalah "dead sibling" - sauadara-saudara Gaia yang telah
lebih dulu mati.. Bumi adalah seperti makhluk hidup yang bisa mati. Kalau ia
terlalu dipanasi dan diracuni, ia pun bisa sakit. Waktu masih muda, Bumi
bisa menyembuhkan dirinya sendiri, sekarang ? Less resilient !



Deklarasi Amsterdam 2001 memandang serius teori Gaia James Lovelock.
Marilah di Hari Bumi ini kita sejenak memikirkan Bumi tempat kita tinggal.
Kenali dengan baik dan sayangi dengan sungguh-sungguh.



"Hanya Satu Bumi" (Barbara Ward, 1975), tak ada yang lain,  marilah kita
sayangi...dengan apa yang mampu kita lakukan.



Salam,

awang





-----Original Message-----
*From:* [EMAIL PROTECTED] [mailto:yrsnki @rad.net.id ]
*Sent:* Tuesday, April 24, 2007 2:23 C++
*To:* [email protected]
*Cc:* [EMAIL PROTECTED]
*Subject:* Re: [iagi-net-l] Earth Day : Kepunahan Masa Lalu, Masa Kini,
dan Masa Depan



>
   Awang yang berpengetahuan

Terima kasih atas pencerahan  dari tulisan dibawah ini.
Saya mungkin berpendapat agak lain mengenai the past is the lesson for the
present and the future  !
Mengapa ? Karena manusia selain berakal juga mempunyai "ketamakan" yang
luar biasa dalam memanfaatkan alam-nya , dan dengan pengetahuan ini lah
manusia merasa bahwa alam diciptakan hanya untuk manusia.

Sebagai mahluk yang paling sempurna manusia -pun sebenarnya merupakan
mahluk yang paling rentan dengan adanya perubahan, dan tidak akan sekuat
spicies spicies yang pernah hidup.

Saya berpendapat bahwa satu juta tahun bukan merupakan saat yang tepat
bagi kepunahan manusia , mungkin sekali akan lebih cepat

Waallahualam.

Si-Abah
T



    Kepunahan masal adalah fakta dalam sejarah Bumi. Sebab "the present is
> the key to the past" atau sebaliknya "the past is a lesson for the
> present and the future" maka bahwa kepunahan pun sedang terjadi, dan
> akan terjadi. Dalam rangka merenungi Earth Day, saya tulis beberapa hal
> di bawah ini dengan berdasar kepada "rapid reading" beberapa buku yang
> berhubungan.
>
> Sebagian besar spesies yang pernah hidup di Bumi sekarang ini telah
> punah. Catatan fosil menunjukkan bahwa spesies2 seperti amonit,
> trilobit, dan dinosaurus suatu saat pada masa lalu pernah begitu
> berlimpah jumlahnya hidup di Bumi. Kepunahan adalah salah satu mekanisme
> evolusi melalui seleksi alam. Ketika menghadapi iklim yang berubah,
> sumber makanan yang menurun drastis, dan banyaknya persaingan; beberapa
> spesies beradaptasi dan bisa meneruskan hidupnya, tetapi yang lain
> menyerah, mati, dan punah.
>
> Selama sejarah Bumi, telah tercatat perubahan2 besar dan cepat yang
> mengakibatkan terjadinya lima kepunahan masal. Raup dan Sepkoski (1986)
> : The Nemesis Affair - W.W. Norton, mendaftarkan kelimanya : ujung
> Ordovisium, ujung Devon, ujung Perem, ujung Trias, dan ujung Kapur. Dari
> kelima kepunahan masal tersebut, yang paling besar adalah kepunahan pada

> ujung Perem, 252 juta tahun yang lalu, yang sering disebut "The Great
> Dying". Pada masa itu, 75 % spesies darat dan 90 % spesies laut punah.
>
> Kepunahan masal terakhir terjadi pada 65 Ma, pada K-T boundary, pada
> ujung Kapur dan awal Tersier. Dari kelima kepunahan masal itu, diketahui
> bahwa natural background rate of extinction di antara spesies tersebut
> adalah sekitar 1 spesies per 100 tahun.
>
> Itu adalah kepunahan masa lalu, yang telah terjadi.
>
> Kini, kita sebenarnya tengah mengalami kepunahan yang keenam. Bagaimana
> tidak, sebab saat ini tingkat kepunahan spesies sudah 1 spesies per
> hari, bahkan menurut Luhr (2004 : "Earth" - Dorling Kindersley)
> kadang-kadang 1 spesies punah per 20 menit. Biodiversitas Bumi sedang
> sangat menurun, steep decline, tingkat kepunahan saat ini adalah tingkat

> yang paling tinggi dalam 65 juta tahun terakhir. Manusia adalah agen
> kepunahan paling besar. Kalau kepunahan-kepunahan dulu disebabkan alam,
> maka kepunahan keenam terutama disebabkan manusia.
>
> Dampak kehadiran manusia di Bumi ini terhadap alam dengan bagus dan
> detail dituliskan Colin Tudge dalam "The Time Before History : 5 Million
> Years of Human Impact" (Simon & Schuster, 1997). "Human beings are even
> more dangerous than they seem".
>
> Itu adalah kepunahan masa kini, yang sedang terjadi.
>
> Tulis Raup dan Sepkoski, kalau kita mengamati catatan fosil, maka setiap
> sehabis 26 juta tahun terjadi "minor" mass extinction. Raup dan Sepkoski

> mencari mekanisme-nya secara extra-terrestrial : karena setiap 26 juta
> tahun Bumi memotong sabuk asteroid yang sama-sama mengorbit Matahari.
> Katanya, saat ini kita ada di pertengahan siklus 26 juta tahun, artinya
> kepunahan akan terjadi lagi 13 juta tahun kemudian.
>
> Itu adalah kepunahan masa depan, yang akan terjadi.
>
> Bagaimana masa depan manusia ? Colin Tudge (1997) menuliskan
> spekulasinya. Sepanjang Kenozoik (Paleogen, Neogen, Kuarter), kebanyakan

> spesies mamalia bertahan hidup sekitar satu juta tahun, setelah itu ia
> akan berevolusi berubah bentuk dalam rangka adaptasi karena seleksi
> alam, atau akan punah karena tak sanggup beradaptasi terhadap seleksi
> alam. Bagaimana peluang manusia (Homo sapiens) bertahan selama satu juta
> tahun ? Mengapa kita pakai standar satu juta tahun, sebab itu adalah
> umur rata2 satu spesies dalam status evolusinya sepanjang Kenozoik
> sebelum ia berubah bentuk menjadi yang lain. Apakah manusia harus
> dikecualikan ? Bisa saja, sebab manusia adalah makhluk berakal dan
> mungkin punya daya adaptasi jauh lebih tinggi dibandingkan makhluk2
> lain. Tetapi, harus diingat pula bahwa tingkat kerusakan lingkungan
> sepanjang Kenozoik, yang paling parah adalah bersamaan dengan kehadiran
> manusia. Jadi, manusia mungkin bisa sangat beradaptasi, tetapi
> lingkungan tempat hidupnya rusak parah, bisakah survive ?
>
> Spesies Homo sapiens telah memiliki susunan anatominya yang moderen
> selama sekitar 100 ribu tahun. Mengacu ke standar 1 juta tahun di atas,
> maka masih ada sekitar 900 ribu tahun Homo sapiens dalam bentuknya yang
> sekarang masih berjalan di atas Bumi, itu pun kalau Bumi masih mau
> menggendongnya. Bagaimana fellow creature-nya ? Itu akan menjadi bahan
> diskusi post-900 ribu tahun yang akan datang (!).
>
> Salam,
> awang
>
> -----Original Message-----
>
From: Awang Harun Satyana
> Sent: Monday, April 23, 2007 1:39 C++
> To: [email protected]
> Subject: RE: [iagi-net-l] Just wondering of Earth Day 22 April 2007
>
> Pak Rovicky, dongengnya belakangan ya, ini sepotong lirik lagu dari
> Brahm Stuart yang patut kita renungkan di "Hari Bumi"
>
> Ada buku terbaru James Lovelock, "The Revenge of Gaia" (2006)
> menceritakan bagaimana Mother Earth berusaha mempertahankan
> homeostatis-nya akibat tekanan manusia yang digendongnya tetapi yang
> melukainya..
>
> The Revenge of the Earth
> (by Brahm Stuart)
>
> The Earth is our mother, she raised us up from the dust,
> Her stones gave our bones and her ashes gave our flesh,
> She waters our blood from the oceans of her sweat,
> What the Earth has given us has been so easy to forget.
> The Earth holds a balance just as night follows day,
> The trees are in the forest and the fish are in the bay,
> The air is filled with oxygen which fills our every breath,
> But as the Earth has given life, she could also deal out death!
>
> Earthquakes and floods and diseases uncurable,
> The Earth could cut us down
> Just like we're cutting down her trees;
> Tornadoes and famines and plagues sent from Hell,
> We may think we own the Earth
> But she could bring us to our knees!
>
> The Earth is a being, oh yes, just like you and me,
> She thinks and she feels and she moves and she breathes,
> The Sun is her father, the Moon is her friend,
> She's living out her life within time with no end.
> We are all her children as are the animals and trees,
> And she loves all her children on her lands and in her seas,
> We are the bravest children Mother Earth has ever raised,
> Our minds envision beauty and our lights pierce her haze,
> But now we're splitting atoms and destroying with our greed,
> Our own Mother Earth, so people please take heed.
>
> Salam,
> awang
>
> "kalau Bumi kita lukai, ia pun bisa melukai kita.."
>
> -----Original Message-----
>
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Monday, April 23, 2007 11:16 C++
> To: [email protected]; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia
> Subject: [iagi-net-l] Just wondering of Earth Day 22 April 2007
>
> Apa ada program khusus yang dilaksanakan HAGI maupun IAGI menyambut
> hari bumi yang jatuh pada hari minggu kemarin ?
>
> Pak Awang atau Geo-philosopher lain Pak Koesoema, Pak Untung, atau Pak
> Jacub dll mbok ada ndongeng dikit tentang makna Earth Day, pentingnya
> kita mengetahui sejarah bumi, dan sifat-sifat sebagai bekal dalam
> memelihara bumi tempat kita berpijak ini ...
>
> RDP
>
> --
> http://rovicky.wordpress.com/
>
> ------------------------------------------------------------------------
> ----
> Hot News!!!
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
> [EMAIL PROTECTED]
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
> 29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
> Bali Convention Center, 13-16 November 2007
> ------------------------------------------------------------------------

> ----
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
> ------------------------------------------------------------------------
> ----
> Hot News!!!
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
> [EMAIL PROTECTED]
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
> 29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
> Bali Convention Center, 13-16 November 2007
> ------------------------------------------------------------------------
> ----
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>
----------------------------------------------------------------------------
> Hot News!!!
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
> [EMAIL PROTECTED]
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
> 29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
> Bali Convention Center, 13-16 November 2007
>
----------------------------------------------------------------------------

> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


Kirim email ke