Ini berita cuplikan dari Jawa pos,

Jawapos, Kamis, 07 Juni 2007

*Pengungsi Bisa Gila*
SIDOARJO - Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Surabaya dan Perhimpunan Dokter
Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) menyiapkan data tentang kondisi
kejiwaaan pengungsi Porong. Data itu didapatkan setelah tiga hari para
psikolog itu turun ke pengungsian Pasar Porong Baru.

Nalini M. Agung, salah seorang psikolog yang aktif mendata, mengatakan,
kondisi kejiwaan pengungsi korban lumpur panas sudah mencapai tahap medium
kronis. "Belum terlalu parah. Tapi, jika dibiarkan bisa menuju pada
kegilaan," jelasnya.

Sebagian besar pengungsi, kata dia, tidak sadar apa yang sedang menimpa
mereka. "Para pengungsi menganggapnya biasa saja," ungkapnya. Namun, kondisi
itulah yang justru berbahaya. Sebab, kecil kemungkinan muncul inisiatif dari
mereka untuk melakukan upaya penanganan atau penyembuhan. "Orang sekitar pun
tak tahu jika mereka bermasalah," tegas Nalini.

Salah seorang pengungsi yang sempat diwawancarai Nalini adalah
Iswahyuningsih. Perempuan 37 tahun itu mengeluh sulit melakukan hubungan
badan dengan suaminya. "Selain itu, anak saya juga jadi sangat nakal sejak
di pengungsian," ungkapnya. (dyn)


Sabar ya para pengungsi...sabar sesabarnya, kalau memang LUSI akibat gempa,
ya ikhlaslah tanah, rumah dan hartanya hilang, soalnya mau diapakan lagi kan
gempa ..akibat alam, siapa suruh tinggal dan bangun rumah disitu?, dan
janganlah menuntut ganti rugi..dimana-mana kerugian akibat bencana alam
nggak ada yang ganti ,siapa yg mau gantiin?!.., kan akibat bencana?!, lagian
uang dari mana?, negara saja tak punya uang. Sabar ya..para pengungsi, nanti
bantuan dari masyarakat ada kok.., mie instant, dari kotak amal bantuan
untuk korban LUSI, baju bekas. Sabar ya..pengungsi jangan ke buru gila
dulu...karena seharusnya ada yg lebih layak duluan gila di banding kalian.

On 6/10/07, Bowo Kusnanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Ada pepatah: "Salah satu cara memecahkan masalah adalah jangan memulai
dengan mempersoalkan bagaimana masalah itu terjadi, tetapi mulailah dengan
bagaimana masalah tersebut dapat terselesaikan".

Pepatah diatas bukanlah berarti bahwa mengetahui terjadinya semburan
lumpur lapindo tidaklah penting. Tetap penting, apalagi bagi kalangan ahli
geologi yang mana itu adalah bidang ilmu yang ditekuninya.

Seperti sudah banyak diungkapkan juga oleh anggota milis, akan lebih
penting lagi bagaimana ahli geologi ikut serta dalam menyelesaikannya.
Tanggung jawab profesi ahli geologi terhadap *rakyat yang menjadi korban*,
mungkin akan lebih bermanfaat.

Geologi sendiri merupakan ilmu yang dinamis. Tidak ada kebenaran mutlak
dalam ilmu geologi. Kebenaran yang diyakini saat ini bisa berubah dalam
waktu yang akan datang.

Menunjuk hidung dengan "syuudzon" terhadap salah satu fihak juga tidak
akan berpengaruh terhadap korban di Sidoarjo. Itupun juga belum tentu
mewakili sebagian besar anggota IAGI atau ahli geologi. dan seperti kata
pepatah " Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat,
meski mereka berlaku buruk pada anda. Ingatlah bahwa anda menunjukkan
penghargaan/kritik pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena
siapakah diri anda sendiri."

Memang sih seandainya dulu para begawan geologi yang menjadi anggota IAGI
sempat ketemu dulu dan "perang" dalam suatu forum untuk menentukan kata
sepakat penyebab LUSI mungkin polemik ini tidak akan berlarut-larut.

Bagaimanapun seperti kata Pak Nathaniel, statement sudah dikeluarkan,
ikutan urun rembug dalam membantu memecahkan penanganan lumpur, akan lebih
bermanfaat bagi saudara kita yang menjadi korban di Sidoarjo.

Salam,
BK







----- Pesan Asli ----
Dari: nyoto - ke-el <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sabtu, 9 Juni, 2007 8:21:31
Topik: Re: [iagi-net-l] IAGI Diminta Pendapat Soal LUSI oleh DPD-MPR RI

Jangan kaget pak Bat Simandjuntak, IAGI kita ini sekarang kan sudah lebih
boleh dibilang bukan pengurus professional, tapi lebih boleh dibilang
politician  selebritis ....

Polemik mengenai sebab2 terjadinya LUSI / LULA (ketua IAGI kita lebih
senang pakai istilah ini, LULA = Lumpur Lapindo, lumpur yang keluarya /
lahirnya disebabkan oleh LAPINDO, secara naluri sebetulnya dia sudah
"mengakui" penyebeb lumpur tsb adalah LAPINDO, tapi kesimpulan yang dia
"percaya", justru sebaliknya)", sudah pernah didiskusikan sampai detail
didalam milis ini beberapa bulan lalu, yang ditrigger oleh Surat "Protes"nya
pak Dr.Koesoema ITB yang merasa kurang "SREG"  dengan hasil kesimpulan
team LUSI IAGI pada pertemuan internasional beberapa bulan lalu. Saat itupun
juga sudah banyak yang protes dengan kesimpulan tsb, yang lebih banyak
bermuatan politiknya (ada semacem pesan sponsor) dibanding ilmiahnya.

Tapi sekarang ternyata justru kesimpulan yang tidak populer tsblah yang
disampaikan kepada anggota DPD - MPR, opo ora huebat IAGI kita sekarang ini,
sudah berani memberikan kesimpulan "resmi" IAGI yang lebih bermuatan
"business" dibanding ilmiah, didepan institusi resmi DPD-MPR ... saluut deh
buat pak ketua IAGI kita ... sekarang memang saatnya tidak perlu lagi
ilmiah2an .... yang penting "mereka" hepi ...

Jadi memang jangan kaget lagi kepada pak Simandjuntak & pak Kabul & kepada
bapak2 ahli geologi Indonesia yang lainnya  .....itulah kenyataannya dihari
ini, IAGI kita sudah bukan lagi layak dipercaya sebagai wakil resmi asosiasi
profesi geologi Indonesia kita  ....

Saya yakin, pak Awang (yang biasanya sangat ilmiah, tapi untuk yang satu
ini saya terpaksa meragukan ke-ilmiah-an pak Awang) mesti akan mencak2
dengan komentar ini , monggo pak ...


Wass,


(sorry saya baru sempat berkomentar sekarang karena kesibukan kerjaan
ngejar setoran, setelah beberapa hari terakhir ini saya hanya sempat membaca
laporannya pak Awang mengenai dengar pendapat dengan DPD-MPR)






On 6/8/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Saya mengurut dada dengan apa yang disebut sebagai "Kesimpulan Tim resmi
> IAGI" bahwa penyebab LUSI adalah TEKTONIK. Apakah organisasi profesi
> tidak
> bisa mengaku bahwa sebenarnya dirinya mempunyai beberapa jawaban untuk
> masalah tersebut, dan memberitahu seluruh jawaban tsb secara sama
> beratnya. Apakah sederet doktor otomatis bisa memberikan jawaban yang
> paling benar sehingga dijadikan jawaban resmi organisasi profesi.Jawaban
> "resmi" kepada lembaga publik non profesi teknis seperti DPD dapat
> segera
> menjadi "acuan" yang dianggap sebagai jawaban benar, lalu menjadi
> jawaban
> satu-satunya.
>
> Berdasarkan pengetahuan kita sekarang, boleh saja lumpurnya diperkirakan
>
> terakumulasi karena gerakan tektonik; tapi ia baru menjadi bencana
> ketika
> tiba dipermukaan. Untuk tiba dipermukaan tsb, mesti ada jalannya. Apakah
> tektonik juga pembuat jalan tol bagi lumpur untuk menebar bencana ?.
> Bagaimana pula orang mengijinkan dirinya membuat jalan tol lumpur persis
> disebelah jalan tol Porong yang membelah perkampungan ?.
>
> Saya belum bisa paham ada jawaban "resmi dan tunggal" dari lembaga
> profesi.
>
> bat
>
> > Bagi saya menyambut gembira undangan DPD RI.
> > Yang mengejutkan bagi saya adalah kesimpulannya itu : Apa penyebab
> LUSI :
> > erupsi gununglumpur akibat gerak tektonik dan dapat berhubungan dengan
>
> > gejala geothermal dari kompleks gunungapi Anjasmoro-Welirang-Arjuno di
> > sebelah selatan Sidoarjo.
> >
> > Gerak tektonik ?? Apa ada bukti gerak tektonik yang menyebabkan
> semburan
> > lumpur itu ? Jika lorong semburan itu merupakan "sesar baru" yang
> > merupakan jalannya lumpur keatas..yang mana dari kedalam 9000 kaki
> hingga
> > permukaan, lha kok kota Sidorajo dan Porong kok nggak diguncang gempa
> > hebat ? Kok nggak porak poranda ? bayangkan tektonik "memecah" lapisan
>
> > tanah dari kedalam itu apa bukannya ada gempa super dahsyat ? Tak ada
> khan
> > ? kecuali dua hari sebelumnya di Yogya...wong kota Madiun, Mojokerto,
> > bahkan Sragen aja nggak terganggu akibat gempa Bantul itu. Juga gunung
> api
> > yang disebutkan itu waktu ada "gerak tektonik" yang "memecah" tembus
> > keatas Lusi kok nggak ada laporan reaksi  ??  Erupsi kecil kek...atau
> > tanda-tanda aktifitas g.api yang meninggi kek..
> > Kalau sekarang sudah menyembur dan berhubungan dengan fenomena
> geothermal
> > memang benar ( geothermal drive mechanism ), lha wong panasnya sampai
> > lebih 200 derajat dipermukaan.
> >
> > Lha hubungan dengan histori sumur Banjarpanji-1 apa tidak masuk
> hitungan ?
> > Catatan ada lost dan kick, ada over ppressure, sumur tanpa selubung (
> > casing ) - dari 3580 ft - 9297 ft alias 5717 feet tanpa casing, ada
> plug (
> > whipstock ) di intermediate casing dll, adanya kick yang besar -
> > underground blowout,  apa tidak diungkap ? awal semburan di sumur yang
> > berupa air asin panas sekali juga tidak diungkap ? Lalu lapisan
> shale-clay
> > yang "telanjang" - alias open hole setebal 750 meteran yang diketahui
> saat
> > drilling juga tidak diungkap ? Lalu lagi, drill pipe yang kejepit saat
> di
> > pull out di daerah shale-clay saat kick itu juga tidak diungkap di
> depan
> > DPD-RI ?
> > Lalu lagi, kick yang tersumbat drill pipe dan tidak tersalurkan
> lama-lama
> > tekanannya merekahkan lapisan atau membuat channel keatas itu juga
> sempat
> > dibicarakan dengan DPD-RI ?
> > Secara langsung disini IAGI mengatakan bahwa Lusi murni akibat Bencana
> > Alam ?? Lalu kenapa selama ini "hanya" Lapindo Brantas yang
> bertanggung
> > jawab ?..ya karena pihak Lapindo sendiri secara hati nuraninya juga
> > menyadari sepenuhnya bahwa BJP-1 ada "kecelakaan pemboran". Terbukti
> > dengan pembiayaannya selama ini, sampai melego saham dan membuat
> > perusahaan baru menangani ganti rugi dsb. Andaikata tidak ada BJP-1
> yang
> > "celaka" itu, apa iya akan muncul Lusi disitu ?
> >
> > Perkara finansial nya yang tidak mampu lagi membiayai penanggulangan
> itu
> > soal lain...bukan soal pemboran dan geologi.
> >
> > Wah akan menjadi perdebatan lebih panjang lagi....Mohon dengar
> pendapat
> > ini bisa dikutip secara lengkap sehinga tidak sepotong sepotong
> > nangkapnya. Termasuk tanya jawabnya....
> > Sorry, jadi buanyak banget pertanyaan yang nganeh-anehi...Hati Nurani
> ini
> > perlu saluran juga..
> >
> > KA
> >
> >   ----- Original Message -----
> >   From: Awang Harun Satyana
> >   To: [email protected]
> >   Sent: Thursday, June 07, 2007 3:16 PM
> >   Subject: [iagi-net-l] IAGI Diminta Pendapat Soal LUSI oleh DPD-MPR
> RI
> >
> >
> >   Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Daerah (DPD) - MPR RI
> melayangkan
> > undangan bernomor DN860/141/DPD/V/2007 tanggal 30 Mei 2007 kepada
> Ketua
> > IAGI untuk permintaan RDPU (Rapat Dengar Pendapat Umum) soal bencana
> > LUSI (Lumpur Sidoarjo). DPD RI telah membentuk Panitia Khusus (Pansus)
>
> > soal LUSI dan telah mengadakan studi/kunjungan lapangan ke lokasi
> > bencana. Pansus ini dibentuk untuk mencermati perkembangan dampak
> > bencana LUSI pada masyarakat sekitar dan perkembangan penanganannya
> > serta perspektif solusi/rekomendasi pada konteks upaya penanggulangan
> > semburan lumpur dan penanganan luapan lumpur.
> >
> >
> >
> >   Rapat diadakan pada hari Rabu 6 Juni 2007 di Ruang Rapat Badan
> > Kehormatan Lantai 3 Gedung B DPD RI di Kompleks Gedung MPR, Jalan
> > Jenderal Gatot Subroto, Jakarta. Rapat berlangsung dari pukul
> > 13.00-16.00. IAGI diwakili oleh : Achmad Luthfi (Presiden IAGI),
> Ridwan
> > Djamaluddin (SekJen IAGI), Edy Sunardi (Ketua Bidang Keilmuan IAGI
> > sekaligus Ketua Tim LUSI IAGI), Slamet Riadhi (Ketua Bidang Migas
> IAGI),
> > Elan Biantoro (PP IAGI), Kodir (Sekretariat IAGI), Awang Satyana (PP
> > IAGI).
> >
> >
> >
> >   Rapat dibuka, domoderatori, dan diberi pengantar oleh Set Jen
> DPD-RI.
> > Dikatakan bahwa Pansus LUSI DPD-RI baru saja kembali dari kunjungan ke
> > wilayah Sidoarjo untuk melihat dampak sosial LUSI. "Rakyat sudah
> marah",
> > katanya. "Bayangkan, dari 13.000 bidang tanah dan 9000 bidang bangunan
> > yang terendam LUSI, baru bisa diverifikasi 522 bidang di antaranya
> > (verifikasi = mengecek kelengkapan administrasi bidang tanah dan
> > bangunan), dan dari 522 bidang ter-verifikasi, baru 219 bidang yang
> > sudah dilakukan penggantiannya oleh PT Minara, sebuah PT yang ditunjuk
> > PT Lapindo untuk keperluan ganti rugi. PT Lapindo Brantas tak mampu
> > melakukan urusan ganti rugi ini. Melihat skalanya yang begitu
> luas,  di
> > mana enam desa telah tenggelam dan mengorbankan 10.800 keluarga, kami
> > sependapat bahwa ini adalah bencana alam, dan sebuah bencana alam
> tentu
> > menuntut Pemerintah untuk menanganinya secara serius, apalagi di
> > lapangan kami melihat bahwa PT Lapindo tak mampu menyelesaikannya" ,
> > begitu  dikatakan ketua rapat dari DPD-RI. "Juga, kami melihat bahwa
> > TimNas bentukan Pemerintah telah gagal dalam menangani LUSI", begitu
> > ditambahkannya. Di Sidoarjo, Pansus LUSI DPD-RI juga bertemu dengan
> BPLS
> > (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo), yang menurut kesimpulan Pansus
>
> > belum jelas program-program penanggulangan yang akan dilakukannya.
> >
> >
> >
> >   Untuk itu, Pansus LUSI DPD-RI memutuskan membuka kembali kasus LUSI
> > sejak awal, yaitu sejak hari-hari pertama mulai terjadinya bencana.
> > IAGI, yang diyakini DPD-RI adalah organisasi yang paling mengetahui
> > duduk perkara bawah permukaan LUSI, kemudian dibidik untuk memberikan
> > keterangan. Pak Luthfi membuka keterangan IAGI dengan mengatakan bahwa
>
> > IAGI mendapatkan kehormatan yang tinggi diundang untuk memberikan
> > keterangan sebab inilah kali pertama IAGI secara resmi dimintai
> > keterangan oleh badan legislatif negeri ini. Sangat lucu sebenarnya,
> > mengapa IAGI selama ini tidak diprioritaskan untuk dimintai
> keterangan,
> > dan baru dimintai keterangan setelah bencana berlangsung hampir 13
> > bulan. Dan, Pemerintah kelihatan sangat ragu untuk meminta keterangan
> > resmi dari IAGI seputar kasus LUSI. Pemerintah (Pusat dan Daerah)
> lebih
> > memilih mengakomodasi keterangan-keterangan dari pihak lain di luar
> IAGI
> > bahkan "paranormal" sekalipun. Kalau saja IAGI sudah diakomodasi dari
> > awal, barangkali penanganan LUSI tidak perlu berlarur-larut, trial and
> > error dengan berbagai metode yang sudah menghabiskan biaya puluhan
> juta
> > US dollar, dll. Semuanya bermula dari bawah permukaan sebab kasus LUSI
>
> > adalah kasus bawah permukaan, maka sangat lucu dan percuma kalau
> > mengatasi LUSI tidak mengindahkan kondisi-kondisi bawah permukaaan.
> > Begitu pembukaan dari Pak Luthfi. Pak Luthfi pun mengakui bahwa ada
> > perbedaan pendapat seputar kasus penyebab LUSI. Ada yang bilang :
> > "underground blow out", "mud volcano eruption yang dipicu gejala
> > tektonik" dan "fenomena geothermal". Sampai sekarang pun perbedaan
> > pendapat masih terjadi.
> >
> >
> >
> >   Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan detail Pak Edy Sunardi
> > tentang hasil studi geologi dan geofisika soal LUSI. Presentasi ini
> > pernah disampaikan di beberapa kesempatan, tetapi diperbaharui dengan
> > data terakhir yang berhasil dikumpulkan. Seperti yang disampaikan
> dalam
> > beberapa publikasi di media massa dan forum-forum seminar LUSI,
> > kesimpulan resmi tim LUSI IAGi yang beranggotakan : Dr. Edy Sunardi
> > (geologist), Dr. Syamsu Alam (geophysicist), Dr. Agus Guntoro
> > (structural geologist), Dr. Arief Rachmansyah (geologist), Arief
> Budiman
> > (operation geologist), Soffian Hadi (geologist), dan Mipi Ananta
> Kusuma
> > (geodetic engineer) adalah tetap sama, yaitu : (1) semburan LUSI
> hampir
> > tidak bisa dimatikan dan akan berlangsung dalam waktu relatif lama ,
> > bila bisa dimatikan di tempat semburan sekarang akan muncul di tempat
> > lain sekitarnya, (2) lumpur agar dialirkan ke laut daripada ditanggul
> > sebab lumpur ini bukan limbah bukan barang berbahaya berdasarkan
> > analisis kimiawi, (3) agar dilakukan re-lokasi penduduk secara
> permanen.
> > Apa penyebab LUSI : erupsi gununglumpur akibat gerak tektonik dan
> dapat
> > berhubungan dengan gejala geothermal dari kompleks gunungapi
> > Anjasmoro-Welirang-Arjuno di sebelah selatan Sidoarjo. Tentu jalannya
> > panjang untuk sampai ke kesimpulan ini, dan telah banyak sekali
> diskusi
> > tentang ini. Saya tahu bahwa ada  kelompok anggota IAGI yang  tidak
> > sependapat tentang penyebab bencana ini seperti kesimpulan tim LUSI
> IAGI
> > - tetapi inilah kesimpulan tim resmi IAGI untuk kasus LUSI. Presentasi
> > Pak Edy juga memuat usulan cara membuang lumpur ke laut, yaitu
> > menggunakan usulan BPPT yang disebut "Slufter Porong". Dengan sistem
> > ini, akan dapat ditampung sebanyak 41.5 juta m3 lumpur dalam waktu
> 15.5
> > tahun menggunakan beberapa asumsi. Sistem ini nantinya akan membentuk
> > delta Porong seluas sekitar 2500 ha sampai kedalaman laut 2 meter.
> >
> >
> >
> >   Pada sesi pertanyaan, para anggota DPD-RI bertanya hal2 yang dapat
> > dikelompokkan menjadi pertanyaan2 : (1) mengapa selama ini Pemerintah
> > tak mau mendengarkan IAGI padahal IAGI lah yang paling mengetahui soal
>
> > bawah permukaan kasus LUSI, (2) apakah LUSI ini bencana alam atau
> > bencana buatan manusia, (3) bagaimana hubungan gempa di Yogya 27 Mei
> > 2008 dengan semburan LUSI yang dimulai 29 Mei 2006, (4) bagaimana
> > peluang bahwa PT Lapindo/Minara akan menguasai tanah negara yang kaya
> > minyak sebab merekalah yang selama ini dimintai Pemerintah mengganti
> > rugi kepada masyarakat, kelak bila kasus LUSI telah selesai dan
> > eksplorasi migas positif, maka daerah tidak akan mendapatkan sedikit
> pun
> > bagian migas sebab tanahnya telah menjadi hak milik PT Lapindo/Minara,
> > (5) Bagaimana mendapatkan kesepakatan para ahli tentang penyebab kasus
>
> > LUSI, (6) apakah memang semburan LUSI tidak bisa dihentikan.
> Pertanyaan2
> > dapat dijawab dengan baik oleh perwakilan IAGI yang hadir di rapat.
> >
> >
> >
> >   Rapat ditutup oleh SetJen DPD-MPR RI dengan kesimpulan bahwa DPD-RI
> puas
> > dengan penjelasan teknis IAGI atas kasus LUSI dan akan meneruskannya
> ke
> > pihak2 terkait di lembaga legislatif maupun eksekutif (Pemerintah).
> >
> >
> >
> >   Demikian yang bisa saya sampaikan untuk info rekan2 IAGI netter .
> >
> >
> >
> >   Salam,
> >
> >   awang
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
>
> ----------------------------------------------------------------------------
> Hot News!!!
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
> [EMAIL PROTECTED]
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
> 29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
> Bali Convention Center, 13-16 November 2007
>
> ----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! 
Indonesia<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.yahoo.com/>yang 
baru!




--
OK TAUFIK

Kirim email ke