Dari diskusi dari milis lain :
(forward dari pemikiran sahabat saya pernah kerja di KPS - Indonesia)

Salam 

Berikut artikel di Harian Republika - Resonansi yang ditulis oleh Ahmad Tohari. 
 Satu hal yang saya ingat dari suatu artikel bahwa Bung Karno sewaktu menjadi 
Presiden RI pertama pernah berpesan kepada putrinya Megawati, yang pada waktu 
itu Megawati berusia 13 tahun, "..... bahwa dia (Bung Karno) tidak akan 
menyerahkan penggalian minyak bumi kepada pihak asing, tetapi akan menunggu 
sampai tenaga-tenaga ahli (baca Insinyur) bangsa Indonesia sanggup melaksanakan 
sendiri.

Memang, pada waktu jaman Bung Karno, hampir sebagian besar rakyat Indonesia 
miskin - namun hampir tidak ada kesenjangan ekonomi yang berarti.  Dari 
beberapa hal kekurangan seorang Bung Karno (misal....suka wanita cantik) - 
namun pada eranya terbentuk Nation Building yang cukup disegani negara - negara 
lain.  Sebagai contoh, pada waktu Bung Karno mengadakan GANEFO, Konperensi Asia 
Afrika, dsb.  Untuk mengenal Bung Karno lebih jauh, barangkali kita perlu 
membaca buku yang ditulis oleh Cindy Adams,
 
Wass.

=================================
 
Republika, 11 Juni 2007
Bung Karno dan Musik Ngak-ngik-ngok 

Oleh : Ahmad Tohari

Pada masa remaja di tahun 1960-an saya tidak bisa mengerti tindakan Bung Karno 
yang melarang lagu-lagu dari Barat yang disebutnya sebagai musik 
ngak-ngik-ngok. Waktu itu sebuah lagu dari kelompok The Beatles yang berjudul 
Send Me The Pillow sedang melanda dunia. Saya pun sangat menyukainya karena 
irama lagu itu bisa menghanyutkan jiwa remaja saya. 

Tindakan Bung Karno tidak hanya sampai di sini. Musik ngak-ngik-ngok buatan 
dalam negeri pun dilarang beredar. Lagu 'Oh, Kasihku' ciptaan Koes Bersaudara 
(kemudian berubah nama menjadi Koes Plus) dan lagu 'Boneka dari India' yang 
dinyanyikan Elya Agus (kemudian berubah nama menjadi Elya M Haris, Elya Khadam 
dst) juga dilarang. Bahkan Koes Bersaudara dan Elya Agus kemudian dipenjarakan.

Mengapa Bung Karno begitu? Memangnya anak muda tidak boleh bersenang-senang? 
Alasan Bung Karno seperti yang amat sering dipidatokan, musik ngak-ngik-ngok 
yang biasa diiringi dansa-dansi akan merusak mental para pemuda. Menurut bahasa 
Bung Karno, musik produk imperialis/kapitalis itu akan melemahkan semangat 
juang para pemuda dan akan menghancurkan nilai kepribadian bangsa. Bung Karno 
yang memang jadi pejuang bangsa sejak usia muda agaknya punya alasan kuat untuk 
mengatakan keyakinan itu. 

Bung Karno juga pasti tahu pada 1960-an itu kaum muda di Cina, Jepang, atau 
Korea masih menahan diri untuk hidup berhura-hura karena mereka sadar harus 
berjuang dan bekerja keras demi kemajuan masyarakat dan bangsanya. Maka para 
pemuda Indonsia pun oleh Bung karno dilarang berngak-ngik-ngok dan diminta 
untuk lebih giat bekerja.

Sayang, Bung Karno jatuh pada 1966, dan suasana sangat cepat berubah. Terjadi 
euforia desukarnoisasi di semua bidang. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya 
bermunculan pemancar radio yang dikelola oleh anak-anak muda. Lalu membanjirlah 
lagu-lagu Barat yang sebelumnya dilarang. Koran-koran picisan terbit dengan 
mudah dan bebas. Maka bukan hanya lagu, semua produk budaya dan gaya hidup yang 
dulu ditentang Bung Karno membanjir.

Memang ada sedikit perlawanan dari anak-anak muda yang masih menyisakan 
idealisme kerakyatan, seperti yang terlihat dalam peristiwa Malari tahun 1974. 
Tapi gerakan perlawanan ini ditumpas habis oleh kekuatan besar yang sedang 
tumbuh, orde baru. Tanggal 6 Juni kemarin adalah hari lahir Bung Karno (1901). 
Saya jadi teringat kembali tindakan Bung Karno lebih dari 40 tahun lalu yang 
melarang pemuda Indonesia ber-ngak-ngik-ngok. Dulu saya bingung, namun sekarang 
saya bisa lebih mengerti. 

Ternyata musik jenis ini bisa menjadi pembuka bagi masuknya gaya hidup sangat 
pragmatis, cair dan hedonis, dan buntutnya adalah konsumtif. Itulah yang ingin 
dicegah Bung Karno. Dengan ngak-ngik-ngok yang mendayu-dayu para pemuda mudah 
terlena dan mudah tercerabut dari nilai-nilai idealisme. Apalagi bila musik itu 
disertai gaya pergaulan longgar serta dibumbui alkohol dan narkoba. Maka 
hasilnya bisa dilihat dengan jelas di sekeliling kita sekarang ini. 

Rata-rata pemuda masa kini ingin segera bisa hidup enak tapi dengan cara yang 
cepat dan mudah. Instan. Santai. Amat konsumtif. (Hormat untuk minoritas anak 
muda yang mau belajar atau bekerja keras dengan cara berjualan mi ayam, jadi 
buruh pabrik, PKL, TKI, dsb). Namun selebihnya seperti hanya menuruti jebakan 
kaum modal yang dulu sengaja menghadirkan musik ngak-ngik-ngok yang tidak 
disukai Bung Karno.

Gaya hidup pragmatis, santai, dan amat konsumtif para pemuda sekarang bisa bisa 
dibuktikan dari berbagai hal. Misalnya, konsumsi rokok yang luar biasa besarnya 
sehingga bangsa ini menjadi bangsa perokok terbesar di dunia. Di kampus-kampus, 
kantin dan kafe lebih ramai daripada perpustakaan. Kebutuhan pulsa jauh 
mengalahkan kebutuhan akan buku. 

Sebagian besar pemuda Indonesia punya prestasi rendah di bidang akademik. Juga 
di bidang olehraga. Sebaliknya, hasrat untuk mengonsumsi semua barang yang 
ditawarkan terutama melalui media TV sangatlah besar. Melalui semua media yang 
tersedia kaum modal telah berhasil mengubah masyarakat, terutama kaum muda, 
bukan hanya jadi manusia pragmatis dan konsumtif melainkan juga hidup dalam 
dunia sensasi. Kaum modal memang tahu, masyarakat yang sudah masuk perangkap 
sensasi sangat mudah menjadi pembeli barang yang mereka buat, baik barang itu 
benar-benar dibutuhkan atau hanya diinginkan.

Empat puluh tahun lalu Bung Karno pasti sudah menduga keadaan ini akan terjadi 
dan dia sudah berupaya menyegahnya. Tetapi banyak orang tidak percaya bahkan 
menertawakannya. Termasuk saya! Saya menyesal telah ikut-ikutan menyepelekan 
pikiran Bung Karno yang futuristik ini. Sayang sudah terlambat. Namun 
setidaknya saya masih bisa mengingatkan kepada kelima anak saya: hiduplah 
dengan idealisme untuk menjadi manusia yang sehat lahir batin dan produktif. 
Untuk Bung Karno, semoga perjuanganmu bagi bangsa ini menjadi amal ibadah yang 
diterima Allah SWT.


----- Original Message ----
From: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia <[EMAIL 
PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, June 13, 2007 3:32:08 PM
Subject: [Forum-HAGI] Gendruwo KKN !

Gendruwo KKN !  
http://tempe.wordpress.com/
 Mengikuti diskusi di Mailist Migas Indonesia disini ini aku malah gedeg-gedeg, 
sambil geleng-geleng gundul yg udah kehilangan rambut ini. Ada sebuah diskusi 
berjudul  Re: [Oil&Gas] Bisakah kita melakukannya?Nasib Migas di Indonesia 
Ada yang bilang :" Nah makanya BUMN nya "terlihat" bersih2, tidak KKN 
dll….pokoknya bagus deh. Coba semua vendor transparan dan tidak KKN 
Yang lain ada yang nimpali " Justru saya, saksi hidup, melihat dan mengalami 
apa yang disebut KKN itu disalah satu BUMN terkemuka dinegri tercinta kita, 
PLN. Saya pernah dihire …"

Whaddduh, kalau ada apa-apa soal Indonesia ini knapa selalu yg dituding si 
Gendruwo satu ini sih ? Apa iya KKN doank yang menjadi sumber masalah di negeri 
ini ? Apa ngga ada soal lain yang perlu dibenahi ?

Gendruwo ini emang beneran deh … ngga pernah muncul sebagai barang yang bisa 
diraba, ngga selalu bisa dibuktikan keberadaannya, lah wong benda ini termasuk 
berbangsa nini-thowok !!! … sesuatu yang ditakuti tetapi hanya ada dalam acara 
tipi doank ! Kalau sudah mulai uji nyali di pengadilan selalu saja ngilang. 
Demikian pula KKN, selalu muncul di koran, mailist serta obrolan cangkrukan. 
Begitu balik pulang kerumah ngorok lagi, besok dateng ke kantor ngantuuk trus 
ke warung ngopi …. ngobrolin si gendruwo lagi ! Tapi si Gendruwo KKN tetep saja 
ndak bisa ditemukan, walaupun hanya ujung jarinya.
Sekali lagi aku ini sering termangu dan bertanya-tanya, apa iya sih problem 
utama di Indonesia ini KKN ? Dan yang buikin prihatin ketika hal yang lebih 
penting dan terlupakan adalah "apakah segalanya akan beres ketika tidak ada KKN 
?" Jangan-jangan KKN ini hanya dihembuskan dan terpelintir ( terpolotisir ) 
menjadi sesuatu yang justru menurunkan morale dan modal bangsa saat ini. Banyak 
negara yang tidak masuk nominasi dalam soal KKN di dunia ini yang masih 
berkutet pada masalah ekonomi negaranya. Sedangkan potensi modal bangsa ini 
sakjane jauuuh lebih banyak, justru morale (semangat juang) yang merusak nilai 
modal bangsa ini.
Saya kadang pingin berpikiran terbalik … bisakah bersikap "ah peduli setan 
dengan KKN yang penting apakah langkah-lagkah yang diambil itu bermanfaat untuk 
Indonesia" . Phobia dan alergi akut akan KKN justru menjadikan kaki-kaki ini 
sulit untuk melangkah …. Lah wong perusahaan migas raksasa Amrik juga ikutan 
masuk ke Iraq lewat pemerintahan juga atas dasar kolusi dan nepotisme antara 
bisnis dan politisi (plus militer) kok. Biarin saja yang menang tender anak 
presiden atau anak pejabat asalkan masih bermanfaat. Mobil Proton (Perusahaan 
Otomotif Nasional) di Malaysia juga menjadi besar atas dukungan nepotisme 
dengan pemerintah dan pejabatnya. Dan hampir semua perusahaan raksasa dunia 
selalu memanfaatkan kedekatan dengan pemerintahnya yang menjadikan perusahaan 
ini bisa berkembang dan membanggakan negaranya. 

Mestinya sih diskusi itu juga bukan hanya sekedar pertanyaan "bisakah kita …?"
Tetapi "bagaimana kita melakukannya  ?
Sukur-sukur ada yg berani menulis … "begini looh caranya … !"
http://tempe.wordpress.com/
_______________________________________________
Joint Convention Bali 2007
HAGI - IAGI - IATMI

Secretariat : 
ETTI (Exploration Think Tank Indonesia)
Jln. Tebet Barat Dalam III no.2-B
Jakarta 12810 Indonesia
Phone +62-21-8356276
Fax +62-21-83784140
_______________________________________________
The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
[EMAIL PROTECTED]
www.hagi.or.id


       
____________________________________________________________________________________
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for 
today's economy) at Yahoo! Games.
http://get.games.yahoo.com/proddesc?gamekey=monopolyherenow  

Kirim email ke