Sekedar coba menambahkan, untuk saat Pemboran..komposisi Gas Berat
(c4&c5) juga relatif akan lebih banyak pada HC dibandingkan di water.
Dengan catatan, ini bisa kalau analisa kromato-nya sampai c4&c5.

On 6/14/07, Bambang Gumilar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:



Pertanyaan utama, kenapa harus langsung ke NMR jika ada pendekatan lain yang
lebih sederhana dan murah?

Pra-Pemboran

Korelasi dari sumur No.1 dan/atau lapangan di sekitarnya.
Berapa pembacaan resistivitas di HC dan di air tawar. Pengalaman,
resistivitas di HC tetap relatif sedikit lebih tinggi daripada di air.
Karena garam-garam (elektrolit) lebih mudah larut di air daripada di HC.
Berapa pembacaan Neutron Count Rates (Far dan Near) untuk di zone air dan
gas. Di air CR lebih rendah. Informasi ini berguna nanti saat akuisisi data
logging LWD dan/atau wireline.

 Saat Pemboran
Masukkan dana untuk jasa mud logger dalam proposalnya. Data kromatografi gas
(C1, C2, C3, dst.) sangat membantu identifikasi fluida
Pastikan ada wellsite geologist yang berpengalaman untuk memantau aktivitas
pemboran. Lihat perubahan lumpur yang keluar masuk sistem. Observasi kolam
lumpur, lihat oil show yang mengapung di kolam dan tandai dari kedalaman
yang mana (hitung lag-nya). Tanya pak Herri Ferius tuch yang pengalaman
belasan tahun di "Fresh Water Environment" di Central Sumatra Basin.

 Pasca Pemboran
Standard logging suite (GR, Res, N-D, sonik) sebenarnya sudah cukup jika
diberikan kepada Log Analyst yang kompeten
Kurva SP tidak begitu membantu
Pertengahan tahun 1970-an dikembangkan Dielectric log. Yang bisa membedakan
air tawar dengan jenis fluida lainnya. Tapi, tidak begitu laku di pasaran.
Run RFT/MDT. Tambahan data gradien tekanan (RFT/MDT) penting. Jika perlu
di-run dalam Profiling Mode: jarak satu titik pengukuran dengan titik
lainnya antara 5 – 8 feet. Minimal 3 titik di satu "sand body" atau di satu
jenis fluida yang "dicurigai" berbeda dengan tetangganya. Air dan HC mudah
dibedakan dari gradien tekanannya
Jika masih ingin me-run NMR, pastikan parameter fluidanya benar dan minta
di-run dan diproses dengan Oil mode (lebih daripada sekedar CBW dan
poro-perm mode). Pastikan lagi data Diffusivitas-nya didapat karena ini
lebih penting untuk identifikasi fluida daripada T2 cutoff. Data
diffusivitas ini bisa membedakan air, minyak berat, minyak ringan apalagi
gas.

Wassalam,

-bg

----- Pesan Asli ----
Dari: Shofiyuddin <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 14 Juni, 2007 1:38:09
Topik: Re: [iagi-net-l] Tanya magnetic resonance

Urun rembuk.
Membedakan antara Fresh Water dan Oil karena resistivity sama sama tinggi.
Kalo menurut saya (dalam kontek sandstone):

1. Lihat kembali ke mudlog, apakah ada oil show atau gas show selama
drilling. pada oil-bearing zone biasanya akan menampakan gejala oil dan gas
show yang lebih ketimbang waktu drilling di water bearing, tapi itu semua
tergantung dari derajat API nya. Semakin tinggi API oil (lebih dari 25),
semakin tinggi gas shownya dibanding backgroung, sebaliknya begitu. Kalo
anda dealing dengan heavy oil (<15?), barangkali deskripsi oil staining akan
membantu kita apakah kita sudah di air atawa masih di zona airnya. Setahu
saya sih, di zona air, kenampakan cutting sudah resik n cling.

2. MRIL ini sensitif terhadap hydrogen index. Jadi kalo oilnya light,
mungkin sekali bisa dibedakan, tapi kalo oilnya heavy ... hm .. saya pikir
susah juga karena HI nya mungkin gak jauh beda.

3. Fungsi yang cukup bagus dari SP adalah adanya Hydrocarbon supression
effect yang cukup memberikan kontribusi banyak menentukan apakah sandstone
tersebut oil bearing atawa water bearing. Tapi sayangnya,sekarang ini kurva
SP yang saya lihat sangat lazy sekali jadi agak sulit juga dan enggak
dikembangkan lagi (karena servicenya gratis). Saya kadangkala mengakalinya
dengan membuat skala yang kecil sehingga kurva defleksinya agak keliatan.

4. Kalo light oil, barangkali neutron dan density bisa menolong, tapi kalo
heavy oil, agak sulit karena HI dan SG nya gak jauh antara heavy oil dengan
air.

5. Pressure data.  Kalo light oil gak masalah, tapi kalo heavy oil jadi
hampir sama mendekat 0.43 psi/ft. Saya pernah menemukan gradient oil sekitar
0.39 - 0.40 psi dari sumur yang ada di Sudan. Dari cutting diketahui bahwa
total gasnya kecil dengan dominasi heavier hydrocarbon dari chromatograph
dengan deskripsi good oil show! Oil show ini bisa mencapai ratusan meter.

Monggo silahken yang laen ....



On 6/14/07, Oki Satriawan
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
>
> Kalau boleh Tanya..pakai mud-nya apa pak..? kalau nggak salah defleksi
kurva SP bisa dipakai untuk membedakan kandungan minyak atau air dengan
memperhatikan nilai cl – mud yang digunakan… Separasi kurva resistivity
induction juga bisa membedakannya pak. (CMIIW)
>
>
>
> Salam
>
> OQ
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Miftah Mazied [mailto: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Thursday, June 14, 2007 10:03 AM
> To: [email protected]
> Subject: [iagi-net-l] Tanya magnetic resonance
>
>
>
> Dear IAGI-Net,
>
>
>
> Mohon bantuannya, Kami akan mengebor satu sumur delineasi di sekitar
Central Sumatra. Problem kami adalah sulitnya membedakan zona oil dan air
yang sangat fresh karena keduanya menghasilkan bacaan resistivity yang
sama-sama tinggi.
>
>
>
> Bos saya mengusulkan running NMR untuk menyelesaikan masalah ini , tapi
saya agak ragu karena kami tidak punya data capillary pressure atau Swirr
dari core untuk mengkalibrasi nilai T2 cutoff nya. Pertanyaan saya adalah
apakah tanpa kalibrasi T2 cuttof,  akurasi fluids identification yang
dilakukan oleh tool ini bisa dipercaya?
>
>
>
> Terimakasih sebelumnya,
>
> Miftah Mazied



________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke