22 Juni, hari ini, adalah hari ulang tahun kota Jakarta. Tanggal
tersebut ditentukan sejak tahun 1956 ketika hasil penelitian Mr. Dr.
Soekanto, ahli sejarah, diterima Pemerintah dan badan legislatif saat
itu. Gubernur Jakarta Sudiro pada tahun 1954 meminta Mr. Mohammad Yamin
(negarawan dan ahli hukum), Sudarjo Tjokrosiswono (wartawan senior
Jakarta), dan Mr. Dr. Soekanto (ahli sejarah) meneliti kapan sebenarnya
kota Jakarta lahir. Tahun 1527, tahun saat Fatahillah mengalahkan
Portugis di Teluk Jakarta telah dianggap sebagai asal Jakarta (Jayakarta
sebenarnya), tinggal hari tepatnya kapan yang belum diketahui. Lalu,
dari ketiga tokoh itu, Sukanto mengumumkan hasilnya : 22 Juni 1527.
Sukanto mempublikasikan hasil penelitiannya ke dalam buku berjudul,
"Dari Jakarta ke Jayakarta : Sejarah Ibukota Kita" (Soekanto, 1954).
Hasil penelitian Sukanto segera direspon oleh para ahli sejarah lain.
Yang merespon antara lain tak kurang dari Prof. Dr. Hoesin
Djajadiningrat, doktor pertama Indonesia, yang sejak 1913 telah menjadi
doktor sejarah melalui disertasinya yang terkenal tentang sejarah Banten
: "Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten" (Haarlem, 1913) -
(Tinjauan Kritis Sejarah Banten). Argumen Hoesin Djajadiningrat atas
penelitian Soekanto dimuat di Majalah "Bahasa dan Budaja" volume V no. 3
tahun 1956-1957, hal 3-9. Hoesin Djajadiningrat berkesimpulan bahwa hari
lahir kota Jakarta (Jayakarta) adalah 17 Desember 1526. Argumennya
adalah bahwa hari itu adalah hari kemenangan Falatehan (Fatahillah) di
Jakarta atas Portugis yang konon bertepatan dengan hari kemenangan Nabi
Muhammad dalam perang merebut Mekkah. Falatehan adalah seorang ulama
yang tawakal, maka sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah, ia
mengucapkan ayat Al Quran "Inna fatahna laka fathan mubinan" seperti
yang yang diucapkan Nabi Muhammad ketika berhasil merebut Mekkah.
Lebih menarik lagi adalah argumentasi dari Prof. Dr. Slamet Muljana
(ahli sejarah naskah kuno yang kerap hasil penelitiannya mengejutkan).
Slamet Muljana menyerang pendapat Soekanto dan Hoesin Djajadiningrat
dalam rangkaian tulisan ilmiah populer di Koran Suara Karya pada
April-Mei 1979. Kemudian, seri tulisan ini dibukukan ke dalam buku
berjudul : "Dari Holotan ke Jayakarta" (Yayasan Idayu, 1980) - sebuah
buku Slamet Muljana yang kalah populer dibandingkan bukunya yang
kontroversial "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara
Islam di Nusantara" (Bhratara, 1968). Di buku terakhir tersebut, Slamet
Muljana berkesimpulan bahwa Majapahit runtuh oleh dominasi Islam, dan
bahwa hampir seluruh wali dari Wali Sanga adalah berasal dari Cina atau
keturunan Cina. Maka, karena saat itu Pemerintah ORBA sedang anti-Cina,
buku Slamet Muljana langsung dilarang, tak sampai setahun sejak
penerbitannya. Tiga puluh lima tahun kemudian, 2003, buku terlarang ini
diterbitkan kembali oleh sebuah penerbit di Yogyakarta dan segera laku
keras serta susah dicari di toko-toko buku kalau terlambat membelinya.
Sebagai seorang pecinta buku dan punya kegemaran bermain-main di tukang
loak buku, saya punya buku2 baik tulisan Soekanto (1954), Hoesin
Djajadiningrat (1913), dan Slamet Muljana (1968, 1980). Tulisan ini
terutama didasarkan kepada empat buku tersebut, didukung buku-buku lain
yang berhubungan.
Kembali ke buku "Holotan". Slamet Muljana berargumen dan menolak
tanggal-tanggal kelahiran Jakarta dari Soekanto maupun Hoesin
Djajadiningrat, bahkan Slamet Muljana mengeluarkan kesimpulan yang
mengejutkan : bahwa Falatehan atau Fatahillah itu tidak sama dengan
Sunan Gunung Jati, salah seorang wali dari Wali Sanga. Saya cek
buku-buku sejarah Jawa dari pelajaran SD sampai buku-buku besar seperti
tulisan Dennys Lombard yang terkenal itu ("Le Carrefour de Javanais" -
Jawa : Silang Budaya) semua menyebutkan bahwa Falatehan = Fatahillah =
Sunan Gunung Jati. Tahun 1968, Slamet Muljana pun berkesimpulan seperti
yang lain, tetapi di buku "Holotan" (1980) dia berkesimpulan bahwa
Falatehan atau Fatahillah bukan Sunan Gunung Jati. Itu didasarkannya
kepada penelitian naskah-naskah kuno, keahliannya.
Argumen Slamet Muljana terutama didasarkan kepada naskah "Purwaka
Tjaruban Nagari" tulisan Pangeran Arya Tjarbon (1720). Ini adalah naskah
sejarah (babad) lokal wilayah Cirebon. Naskah ini sudah diterjemahkan
langsung dari bahasa aslinya ke dalam bahasa Indonesia oleh
Sulendraningrat, penanggung jawab Sejarah Cirebon, dan diterbitkan oleh
Bhratara (1972).
Naskah Purwaka Caruban Nagari menguraikan dengan jelas bahwa Panglima
Demak yang berasal dari Pasai dan berhasil menguasai Banten dan Sunda
Kalapa pada tahun 1526 dan 1527 bernama Fadillah Khan. Slamet Muljana
mengatakan bahwa Falatehan ialah transliterasi (pergantian huruf dan
bunyi) dari nama asli Fadillah Khan. Nama aslinya adalah : Maulana
Fadillah Khan Ibnu Maulana Makhdar Ibrahim al-Gujarat. Kemudian, naskah
Purwaka Caruban Nagari pun sama sekali tak menyinggung pergantian nama
Sunda Kalapa menjadi Jayakarta seperti diberitakan di banyak buku
sejarah ketika Falatehan menduduki Sunda Kalapa dan mengusir Portugis.
Nama Sunda Kalapa tetap dipakai sampai akhir tahun 1500-an. Tahun 1628,
ketika pasukan Sultan Agung dari Mataram menyerang Batavia yang saat itu
sudah diduduki Belanda (nama Batavia dipakai sejak tahun 1613), naskah
Purwaka menyebut nama Jayakarta. Artinya ada pergantian nama dari Sunda
Kalapa ke Jayakarta, tetapi itu terjadi sekitar akhir 1500-an dan awal
1600-an, bukan sejak 1527.
Slamet Muljana pun berargumen bahwa Falatehan itu adalah ulama sekaligus
panglima perang Islam yang pernah hidup di Pasai , Demak, dan Banten
sebelum ke Sunda Kalapa. Bagi ulama Islam seperti Fadillah Khan, nama
Arab lebih cocok daripada nama Sanskerta. Seandainya ia mau mengganti
nama Sunda Kalapa saat didudukinya, tak mungkin nama Sanskerta yang
berbau Hindu seperti "Jayakarta" yang akan dipilihnya. Setelah
menaklukkan Sunda Kalapa, Falatehan diangkat menjadi bupati Sunda Kalapa
oleh Susuhunan Gunung Jati (Sunan Gunung Jati).
Lalu, dari mana asal nama Jayakarta kalau itu bukan mengartikan
"kemenangan (jaya) Falatehan atas Portugis di Sunda Kalapa" ? Dalam hal
ini, Jayakarta bukanlah toponim (asal nama geografi), tetapi itu adalah
nama seorang pangeran dari Banten yang ditugaskan menjadi penguasa Sunda
Kalapa, yaitu Pangeran Wijayakarta/Jayawikarta/Wijayakrama. Ayah
pangeran ini adalah Ki Bagus Angke, menantu Sultan Hasanuddin penguasa
Banten pada tahun 1550-an (Sultan Hasanuddin adalah anak Sunan Gunung
Jati). Ki Bagus Angke ditugaskan Hasanuddin menjadi bupati di Sunda
Kalapa. Kemudian, Ki Bagus Angke digantikan Pangeran Jayakarta.
Begitulah, sebelum Belanda menguasai Jakarta, saat itu Pangeran
Jayakarta tengah menjadi penguasa di Sunda Kalapa. Falatehan menetap di
Cirebon sejak 1546 dan ia berkawan dengan seniornya - Sunan Gunung Jati.
Falatehan/Fatahillah dan Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayattullah adalah
dua orang yang berbeda. Kedua orang ini memang dua sahabat sebagai
sesama ulama Islam. Ini dua orang yang berbeda karena di atas gunung
Sembung, sebuah bukit di sekitar Cirebon, tempat makam para leluhur
Cirebon ditemukan baik makam Sunan Gunung Jati maupun makam Fadillah
Khan. Sunan Gunung Jati wafat pada tahun 1568, sedangkan Fadillah Khan
(Falatehan/Fatahillah) wafat pada tahun 1570.
Lalu, dari mana nama Jakarta sendiri ? Dari Piagam Banten yang bertarikh
awal 1600-an., sesudah 1602, yaitu sesudah VOC dibentuk sebab di dalam
Piagam Banten itu termuat satu kata bukan asli Sunda-Banten. Dr. van
der Tuuk (1870), ahli bahasa dan sejarah, menyebutkan pemuatan kata
"Jakarta" itu. Ini adalah kutipan dari Piagam Banten (van der Tuuk,
1870)
"Lamon ana wong Djaketra angambil daon atawa kaju atawa angambil wiru,
iku aweja ruba-ruba adjen-adjen sarejal; lamon sih wong Djaketra iku ora
anggawa tjap dalem lan surate kumendur, iku tjegahen patjuwun den wehi
mandjing ing muwara Putih; lamon maksa ora kena den tjegah, den
gelis-gelis matura ing Bumi olija den sih"
(Jika ada orang Jakarta mengambil daun, atau kayu atau nipah, supaya
memberikan uang pengganti. Jika orang Jakarta itu tidak membawa cap
istana dan surat dari komandan, supaya ditolak dan dimasukkan ke dalam
muara sungai Putih. Jika ia memaksa dan tidak mau ditolak, supaya segera
memberitahu Mangku Bumi).
Laporan Cornelis de Houtman (dalam de Jonge, 1862 : De opkomst van het
Nederlandsche gezag in Oost-Indie 1595-1610 - 's Gravenhage) pada
tanggal 14 November 1596 menyebut nama Pangeran Wijayakrama (Pangeran
Jayakarta) sebagai "koning van Jacatra" (raja Jakarta). Ternyata, bahwa
nama Jakarta sudah muncul sejak akhir 1500-an.
Begitulah, berdasarkan uraian di atas, tahun kelahiran Jakarta bukanlah
1527, tetapi 50 atau 60 tahun sesudah itu; bukan mulai pada saat
Falatehan menduduki Sunda Kalapa (Sunda Kalapa kala itu adalah pelabuhan
Kerajaan Pakuan yang beragama Hindu) pada tahun 1527, tetapi pada masa
Pangeran Jayakarta menjadi bupati di Sunda Kalapa, yaitu sesudah tahun
1570.
Tetapi, tokh Pemerintah DKI Jakarta masih tetap mengakui 22 Juni 1527
sebagai hari lahir Jayakarta-Jakarta sekalipun banyak naskah kuno
menunjukkan kesimpulan-kesimpulan lain. Mengutip sebuah tulisan :
"Historical reality is often too bitter to swallow or too hot to stand.
History is a large mirror that reflects the facts of the past, and all
that has been etched into the glass of history can never be erased. If
you don't like a particular historical fact, you may try to cover it up
or forget it, but you can never remove it. A historical fact can be
interpreted in a variety of ways, but regardless of the interpretation,
the fact will never change."
Semoga bermanfaat. "Selamat ulang tahun Jakarta-ku !" Semoga kau segera
mendapatkan gubernur yang baik.
Salam,
awang