Pak Nataniel,

Sebenarnya, pertanyaan2 Pak Nataniel juga rekan2 lain tentang
kemungkinan hubungan gempa dengan semburan LUSI pernah saya jawab dan
didiskusikan di milis ini serta milis2 lain tahun lalu, juga saat saya
dimintai pendapat oleh ANTV dalam acara Topik Kita. Sebagai geologist,
kita tentu biasa bermain dengan ruang dan waktu. Bila ada kejadian yang
secara temporal berhubungan atau berurutan dan secara spasial bisa
berhubungan, dalam pemahaman saya kita tak boleh mengabaikannya. Terkait
dengan semburan LUSI, pemboran BJP-1 tentu harus kita curigai, tetapi
kita juga harus curigai gempa Yogya 27 Mei 2006 karena menurut hemat
saya secara temporal dan spasial ia terhubung ke LUSI, kita juga harus
melihat reaktivasi Semeru pada saat yang sama dengan mulai tersemburnya
LUSI (29 Mei 2006), kita juga tak bisa mengabaikan terekamnya energi
gelombang gempa tersebut di perairan Pangkah saat Hess melakukan survai
seismic pada 27 Mei 2006. 

Selain pemboran BJP-1 yang jaraknya tak sampai 1/2 km dari titik
semburan LUSI, yang saya sebutkan itu puluhan-ratusan km jaraknya dari
LUSI. Maka, penjelasan gempa sebagai pemicu LUSI akan tak popular dan
mungkin sulit diterima sebab bisa menjadi penjelasan yang sulit. Jauh
lebih mudah menerima penjelasan pemboran BJP-1 sebagai penyebab LUSI.
Tetapi, yang mudah belum tentu benar dan yang sulit belum tentu salah. 

Argumentasi dan perdebatan kita tentang penyebab LUSI ini sudah berjalan
setahun lebih. Ada publikasi yang jelas-jelas menyebut bahwa LUSI akibat
pemboran BJP-1 (misalnya Richard Davis dari Durham University yang
banyak dikutip "kubu" pemboran BJP-1 sebagai penyebab LUSI), ada
publikasi yang jelas-jelas menyebut bahwa LUSI akibat gempa Yogya 27 Mei
2006 (misalnya Mazzini dari University of Oslo dan Akhmanov dari Moscow
University). Ada yang menganut dua-duanya, kombinasi pemboran BJP-1 dan
gempa Yogya 27 Mei 2006 (Jim Mori, Kyoto Univ.). Tim LUSI IAGI menyebut
penyebab LUSI sebagai "tektonik" (yang bisa berhubungan (direaktivasi)
dengan gempa Yogya 27 Mei 2006). Banyak juga publikasi yang menyebut
"tidak tahu" apa penyebabnya. 

Jawaban yang benar atas penyebab LUSI ini penting sebab akan menentukan
apakah LUSI itu bencana alam atau bencana buatan manusia, atau seberapa
% bencana alam-nya, seberapa % bencana akibat manusianya kalau itu hasil
kombinasi. Di lain pihak, kita tahu sangat sulit membuat analisis yang
benar tentang hal itu. Mungkin kita tak akan tahu apa penyebab yang
sebenarnya. Yang jelas, kita tahu bahwa LUSI adalah bencana besar dan
massif yang sudah menyebabkan puluhan ribu masyarakat menderita dan
banyak sarana umum rusak dan bencana2 ikutannya tak mustahil akan terus
berurut terjadi terkait dengan LUSI. Subsidence ! Data terakhir, dalam
sebulan wilayah ini bisa ambles 23-88 cm, atau 0.7-3 cm per hari,
padahal dalam standar normal penurunan di wilayah itu hanya 10 cm per
tahun. Pak Widya Utama dari ITS bahkan bilang "Pasuruan terancam amblas"
juga. Ini bencana massif. Pemerintah tak boleh absen lagi, tak masuk
akal bagaimana bencana sebesar ini ditumpahkan semuanya ke sebuah
perusahaan ? Skalanya bisa sebesar tsunami Aceh Desember 2004 sebab
rentetan bencananya banyak dan akan banyak, tetapi penanganannya sangat
minimal, sumbangan terkumpul pun sangat minimal...padahal Jawa Timur
kita tahu ia salah satu daerah terpenting di Indonesia.

Kita kembali ke pertanyaan Pak Nataniel,

1. Jarak episentrum utama gempa Yogya 27 Mei 2006 ke lokasi semburan
utama LUSI adalah sekitar 250 km.

2. Liquefaction, stream flow, dan mud volcano adalah gejala umum ikutan
gempa. Manga dan Brodsky (2006) pernah membuat cross plot dengan sumbu Y
jarak episentrum-tiga kejadian ikutan di atas, dan sumbu Y magnitude
gempa dalam skala Mw (body wave magnitude). Semua kejadian itu bisa
terjadi di jarak 2-1000 km dari titik episenrum. Khusus mud volcano
pernah terjadi di jarak  40 - 1000 km dari episentrum. Berapa magnitude
minimal gempa agar mud volcano terjadi ? dari cross plot berdasarkan
kejadian2 yang ada adalah 7.0 Mw. Kita lihat kasus gempa Yogya 27 Mei
2006-LUSI. Jarak keduanya sekitar 250 km, Mw gempanya 6.3. Berarti, LUSI
mud volcano bukan akibat gempa Yogya dong sebab Mw-nya di bawah 7.0 ?
Ini banyak dipakai sebagai alasan bahwa LUSI bukan akibat gempa Yogya.
Tunggu dulu. Cross plot Manga and Brodsky (2006) adalah hanya
mengumpulkan data statistic dari kejadian yang telah ada lalu diambil
general trend, itu bukan cross plot analisis bagaimana gempa akan
mengakibatkan mud volcano. Kemudian, cross plot ini juga tak
memperhitungkan bagaimana kekhasan geologi dan pola tektonik setiap
wilayah. Artinya, gempa "kecil" seperti Yogya bisa saja menyebabkan mud
volcano di wilayah Sidoarjo kalau ada jalan propagasi gelombang gempa
yang seolah seperti "freeway" di bawah sana. Freeway semacam itu ada
dalam kasus LUSI. Sesar Opak tersambung secara right stepping dextral ke
Sesar Watukosek yang memotong LUSI. Goncangan skala MMI III-IV di
wilayah Sidoarjo saat gempa Yogya terjadi sering dipakai sebagai alasan
bahwa goncangannya terlalu lemah untuk bikin mud volcano LUSI. Jangan
salah, skala MMI adalah ukuran kerusakan di permukaan, bukan kekuatan
yang terukur di bawah permukaan, sedangkan hubungan  pembangkitan mud
volcano oleh gempa adalah masalah bawah permukaan.

3. Antara liquefaction, stream flow, mud volcano, reaktivasi gunungapi
dengan kejadian gempa yang membangkitkannya selalu ada jeda waktu.
Kasus-kasus (saya tak bisa menyebutnya satu per satu karena banyak
sekali) yang ada (kebanyakan) jeda waktu itu antara hitungan
jam-seminggu setelah kejadian gempa. Ini sangat biasa. Reaktivasi Merapi
dan Semeru akibat gempa Yogya terjadi 2 hari setelah gempa Yogya, atau
bertepatan dengan mulai tersemburnya LUSI.

Ada beberapa hal lain yang mungkin tak banyak disinggung dalam diskusi2
tetapi dapat mengindikasi bahwa kaitan gempa Yogya dan mud volcano LUSI
cukup erat : 

- propagasi energy gempa Yogya lebih "terbuang" kekuatannya ke
timur-timurlaut daripada ke arah lain. Banyak bukti mendukung hal ini :
ploting semua episentrum aftershocks, reaktivasi Semeru, gempa yang
terukur di perairan Pangkah, dll.

- terjadi penurunan laju alir produksi sumur Carat (masih di wilayah
Lapindo, sekitar 10 km ke arah timur dari BJP-1) saat gempa Yogya 27 Mei
2007 terjadi.

- terjadi partial loss di sumur BJP-1 10 menit setelah terjadi gempa
Yogya 27 Mei 2006.

- Sejak awal semburan, laju semburan meningkat dari 5000 m3/hari -
120.000 m3/hari selama 11 minggu pertama. Lalu pada periode 14
Agustus-10 September 2006, laju semburan berfluktuasi dari 0-120.000
m3/hari, dan meningkat secara drastic mengikuti swarms of earthquakes
pada bulan September-Desember 2006 sampai pernah mencapai 200.000
m3/hari. Swarms of earthquake yang dimaksud adalah semua gempa di atas
Mw > 3.7 dengan episentrum pada radius max 300 km dari titik LUSI (data
USGS). Dengan kata lain, terjadi korelasi positif antara volume
semburan, peningkatan CH4 dan H2S dengan aktivitas gempa di wilyah ini,
LUSI is a pulsating mud-volcano.

- Ketika VSP dilakukan di BJP-1 beberapa hari sebelum gempa Yogya, saat
perekaman dilakukan di section tight hard volcaniclastic sandstone di
kedalaman > 8500 ft terekam banyak "noise". Apakah noise ini terhubung
dengan "foreshock" gempa Yogya yang kemudian terjadi pada 27 Mei 2006 ?
Bisa kita kaji lebih jauh.

Akan halnya telah terjadi reaktivasi tektonik di wilayah ini dapat
ditampilkan beberapa gejala sbb. :

- titik-titik semburan LUSI dalam beberapa hari kejadian awalnya
tersebar mengikuti garis lurus BD-TL, sejajar dengan splay Sesar
Watukosek.

- terdapat retakan besar dan panjang di wilayah lokasi BJP-1 dengan arah
yang sama, yaitu BD-TL.

- terjadi pembengkokan rel kereta api yang lokasinya persis di jalur
pemotongan sesar, dari pembengkokan itu kita ketahui terjadi reaktivasi
dextral.

Akan halnya betapa labilnya secara seismotektonik wilayah Sidoarjo ini
dilaporkan bahwa pada 26 Desember 2004 saat Aceh-Sumatra Utara digoncang
gempa dahsyat berkekuatan 8.9 SR, terjadi semburan lumpur pada hari yang
sama di sebuah rumah penduduk di Kab. Sidoarjo. Ini informasi yang
dihimpun tim LUSI IAGI.

Saya cukupkan dulu. Sebagai pengetahuan umum, gempa bisa mengaktifkan
semburan semacam LUSI dengan mekanisme triggering : strain changes (near
field static displacement), unclogging of cracks, desolution of gas.
Dan, sering terjadi bahwa goncangan2 kecil akan mengubah sistem
geothermal yang akan segera mengubah sistem tekanan di wilayah bawah
permukaan, lalu ...these initially small events can cascade into larger
events...tak mustahil terjadi hal seperti itu di LUSI.

Argumentasi dan perdebatan kita tentang penyebab LUSI ini sudah berjalan
setahun lebih. Tak ada kesepakatan di antara para ahli geologi, para
ahli geologi mengalami "perpecahan" begitu pernah dimuat di Koran Tempo.
Jangan sampai pecah tentunya, jangan terpancing, jangan emosi, lihat
semua fakta, jangan menutup mata terhadap fakta-fakta yang ada. Harus
kita akui bahwa kita tak bisa memahami seluruh misteri Bumi Pertiwi.
Pertanyaannya : siapa yang akan menuntaskan kasus penyebab LUSI ini ? 

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Nataniel Mangiwa [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, July 03, 2007 1:02 C++
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo

Karena kebanyakan komentar sudah terkutub ke arah teknikal dan
operation well BJP-1, saya mau mencoba melihat ke arah lain. Saya mau
bertanya ke Pak Awang (atau pihak lain yang bisa membantu)..

Saya tertarik mengenai pendapat bahwa Gempa Jogja adalah pemicu LUSI.
Langsung saja ya Pak, tapi intinya ini concern di 2 hal yaitu Jarak
dan Waktu:

1. Kira2 jarak kota Jogja ke daerah semburan LUSI berapa km?
2. Apa pernah ada kejadian yang mirip seperti kasus ini? Kalau ada, di
mana daerah tempat terjadinya? Maksud saya, ada gempa di suatu tempat
dan efeknya bisa sampai ke tempat lain yang jaraknya xxkm? Tapi dengan
catatan bukan gempa di bawah laut yang efek gelombangnya di teruskan
melalu air laut. Kasus ini kan dari darat ke darat.
3. Antara kejadian gempa dengan semburan pertama di LUSI, ada jeda
waktu yang cukup signifikan. Nah, apa pernah juga ada kejadian seperti
ini di manapun yang pernah terjadi?

Itu saja, mohon pencerahannya n tnx for share.

Cheers,
NM

On 7/2/07, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
> Pak Rovicky,
>
>
>
> Synthetic BJP juga sudah menggunakan data Porong-1. Miss of top Kujung
> kelihatannya akibat kedua hal tersebut, sering juga kan velocity-nya
berbeda
> meskipun jarak sumur berdekatan (6 km), juga kehadiran batupasir tebal
di
> BJP yang tak diperhitungkan bisa sebagai penyebab miss of top Kujung
itu.
>
>
>
> Soal meledaknya pipa penyalur uap (bukan sumur) di kawasan panasbumi
Dieng
> sudah di-posting Pak Nur Heriawan dan Pak Ismail. Tambahannya, uap
panasbumi
> Dieng adalah uap yang paling korosif dibandingkan ladang geothermal
lainnya
> di Indonesia. Kasus2 keracunan H2S juga pernah terjadi beberapa kali
di
> wilayah ini, mungkin masih ingat kasus semburan gas maut Sinila, Dieng
1979
> yang menelan korban penduduk desa begitu banyak dan melahirkan lagu
elegi
> "Berita Kepada Kawan" Ebiet G. Ade.
>
>
>
> Salam,
>
> awang

------------------------------------------------------------------------
----
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
------------------------------------------------------------------------
----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke