Mas Noel, saya juga nggak tahu kenapa....
Kalau masih propspek dan potensi saja, belum sampai exploitasi ya memang agak
tertutup sifatnya, demikian juga migas khan ? Data G&G Oil & Gas jika belum
exploitasi masih rahasia juga. Batan lah yang berwenang untuk ini, apakah sudah
di publikasikan atau tidak kepada masyarakat ? Atau Direktorat Geologi
Pertambangan ??
Ingat juga waktu di Indonesia Timur tahun 90an saya harus bersumpah untuk
merahasiakan hasil temuan explorasi migas...wah ! Segitu gawat kah ? Saya
sendiri juga nggak ngerti.....Demikian pula Uranium....adakah publikasi tambang
ini secara terbuka di koran atau masyarakat ahli ? Dimana, nilainya,
dsb....Kalau ada semacam apa ? apakah rakyat umum sudah tahu ? Mungkin saya
salah, karena lebih sering ke migas, bukan tambang mineral.
Uranium yang berpotensi sebagai bahan radioaktif jika jatuh ke tangan
orang-orang tak bertanggung jawab dan tidak tahu, lalu apa jadinya ? Gitu
kira-kira....yang "lain" itu mas.
Nanti jika sudah jadi exploitasi, tentunya sudah diketahui umum...ya seperti di
Ranger Australia itu, cuma ya security nya tingkat tinggi....toh masih tertutup
buat umum juga untuk memasuki area tambang...artinya ya.."rahasia" juga.
Saya sih bukan ahli keamanan negara atau keamanan bahan berbahaya....hanya
menduga saja. Bukan pula ahli tambang. Selain uranium, juga ada bahan lain yang
bersifat radioaktif...jika sudah diperkaya..
Berbeda dengan batubara, emas, perak, bauxite, nikel dsb, buku-buku Sekolah
dasar dan SMP sudah bisa menyebut persis dimananya, berapanya dan apanya. Lha
uranium ? pernah dengar dimana ? berapa ? apa ? Kabar-kabar yll adalah di
Sintang, di Melawi Kalimantan, di Timor di Madura dsb,...tapi sebatas berita,
belum ada explorasi yang serius...mungkin Batan sudah bisa memberitakan ? Atau
BPPT, LIPI, IAEA ? Yang sering muncul adalah paper tentang aplikasi teknologi
nuklir di Indonesia. Berita tentang tambang itu sendiri masih samar-samar,
bahkan Dinas Pertambangan Provinsi terkait juga "nggak tahu menahu"....
Saya nggak tahu...
Makanya kemungkinan besar Indonesia akan import dari Australia yang nyata-nyata
ada dan gedhe banget cadangannya....jika PLTN jadi dibangun.
Sorry, saya bukan ahli tambang atau nuklir....cuma pengamat amatiran...hehe.
Kang Rovicky mungkin lebih tahu...wong sudah ngasih perintah HARUS secepatnya
menginvetarisir cadangan uranium...Nah Lho !
----- Original Message -----
From: Noel Pranoto
To: [email protected]
Sent: Monday, July 09, 2007 2:19 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] ASIA is increasingly going NUKLIR
Pak Kabul,
Kalau boleh saya tahu mengapa harus dirahasiakan? Mengapa di negara-negara
lain tidak tergolong rahasia, kira-kira apanya yang "lain" di negara kita
sehingga harus dirahasiakan?
Salam,
Noel
On 08/07/07, Kabul Ahmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Statusnya ?
Berhubung uranium ini sifatnya adalah radioaktif, apalagi kalu sudah
dilakukan pengayaan menjadi plutonium, ini bahan yang amat strategis, ultra
vital dan "super bahaya", tentunya temuan tambang baik masih dugaan, maupun
terbukti akan bersifat sangat rahasia. Dimana tempatnya di Indonesia kita juga
belum ada litelatur yang buka-buka-an tentang ini. Aneka Tambang pun belum
memplubikasikannya secara terbuka kepada umum, walau ada berita bahwa potensi -
disebut sebagai prospek - uranium Indonesia cukup besar yang bisa berasosiasi
dengan bauxite, aluminium, atau emas ( ? ). Inco di Sorowako, Newmont atau
Freeport hanya menyebut prospek. Aneka Tambang yang di Sumut, demikian juga
bahwa pernah ada berita temuan "potensi" uranium di Sintang oleh Batan, tapi
kelanjutan penilaian kandungannya belum ada berita lebih lanjut. Jikapun
bernilai, tentunya juga agak bersifat rahasia agar keamanannya terjaga. Prospek
yang pernah disebut-sebut di Timor ( juga Timor Leste ) hingga sekarang tak
ada kabar beritanya.( atau Batan belum perlu publikasi ?? ).
Kalau di Australia ( 35% Uranium dunia dihasilkan dari negara benua ini )
memang sudah terbukti di Ranger, yang katanya mau dijual ke Indonesia jika PLTN
Muria jadi dibangun, juga dari Africa, Rusia maupun di Amerika sendiri sisanya.
Saya pernah diklat di Batan Pasar Jum'at dan Serpong, saya pikir nuklir
kita aman dan ke depan energy nuklir gak bisa terlelakkan lagi di saat si emas
hitam ini berangsur habis. Ini energy luar biasa bila digunakan untuk tujuan
damai. Listrik, dll ! Toh saat ini kita sudah sehari-hari memakai sumber
radiokatif, enggak terasa khan ?
Masalahnya emang pendidikan rakyat kita yang ketinggalan, sehingga
sosialisasi energi alternatif ini agak tersendat dan mendapat tentangan. Wong
busway dan banjir kanal timur aja ditentang rakyat......apalagi PLTN. Emang
kita masih jaauuuuuuuuuhhhhh...setengah primitif ngkali ?? Setengah penduduk
Papua masih berkoteka...hehehhe ( eh kok jadi nglantur ke koteka.....hahaha )
----- Original Message -----
From: Ismail Zaini
To: [email protected]
Sent: Monday, July 09, 2007 10:53 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] ASIA is increasingly going NUKLIR
Uranium di kita itu statusnya apa ya , apakah baru Kelas Sumberdaya atau
sudah Cadangan ( cadangan mungkin , cadangan terbukti ) , biasanya untuk
menhitung / membuat detail desain suatu pembangkit itu diperlukan cadangan
terbukti dari suatu sumber energi primernya.
Sebetulnya banyak lho geologist geologist yang ada di Batan ( terutama
dimasa lalu / thn 70 an / 80 an ) yng ikut aktif survey survey uranium waktu
itu , bahkan beberapa sekarang sudah pada pensiun, mestinya laporannya sudah
komplit , mungkin karena waktu itu Nuklir belum ramai jadinya tidak
diperhatikan, sama waktu laporan ttg lokasi PLTN di jepara itu di publish
tahun 90 an Tidak ada yang mengompentari padahal sudah ada juga studi ttg
geologinya ( kegempaan ). Kalau tidak salah studi tapak untuk menetukan Lokasi
PLTN di Jepara ini ( terutama dari segi geologi/kegempaan ) dilakukan oleh
konsultan Jepang bekerja sama dg pakar /konsultan Indonesia pada tahun 1990 an
. Kalau seandanya pembangunan PLTN ini "mulus" mungkin saat ini listriknya
sudah nyala., cuma tidak tahu dampak dampak lainnya yang akan timbul , apalagi
dg gempa Jogya dulu .apakah mempengaruhi PLTN kalau seandainya sudah dibangun.
( atau jangan jangan kalau PLTN nya sudah dibangun , Ndilalahe pas ada
kebocoran pada waktu hampir bersaman dg gempa Jogya , akan terjadi debat
panjang seperti halnya peristiwa Lusi untuk cari sebab musebabnya )
Mungkin dimasa datang permasalahan pergeologian ( non Oil & gas ) yang
akan banyak mendapatkan perhatian publik banyak perlu ditampilkan/diberi porsi
labih banyak lagi ( misalnya di arena PIT atau yang lain )
ISM
ISM
----- Original Message -----
From: Rovicky Dwi Putrohari
To: [email protected]
Sent: Sunday, July 08, 2007 12:30 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Asia is increasingly going nuclear
Razi,
Saya rasa Indonesia HARUS memulai menginventarisasi cadangan
uraniumnya, secepatnya. Angka 10 tahun yng anda sitir barangkali dari perkataan
Pak Menteri beberapa waktu lalu. Angka durasi 10 tahun ini harus lebih spesifik
lagi yang seharusnya cadangan uraniumnya 24 ribu ton, cukup untuk mengenerate
10 tahun seandainya digunakan untuk PLTN sebesar 3GW. Sedangkan PLTN yang
direncanakan di Muria hanya 1 GW, ya jadinya bisa 30 tahun kalau, seandainya
utk 1GW saja. (sumber KEN-Kebijakan Energi Nasional).
Catatan tambahan dalam KEN adalah hanya utk KALBAR saja. Kita harus
memulai eksplorasi (inventarisasi) berapa jumlah uranium di seluruh Indonesia.
Bagaimana dengan Indonesia Timur ? Mungkin kawan2 dari pertambangan
bisa memberikan masukan dimana dan berapa kira-kira estimasi (cadangan
spekulatif) yang bisa kita peroleh di Indonesia Timur dll ?.
Walaupun sekarang hanya 24Ribu Ton uranium saja, tap saya yakin dalam
50 tahun kedepan cadangannya akan meningkat seperti cadangan migas yang tahun
70 an dulu sudah diperkirakan habis tahun 90-an. Namun kenyataannya kita masih
memiliki cadangan migas perolehan baru..
rdp
On 7/8/07, M Fakhrur Razi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
australia katanya sudah siap untuk bantu pasok uranium untuk
indonesia dan agreement sudah dibuat tahun 2006. Jadi masalah dengan cadangan
uranium kita yang hanya 10 tahun sudah terjawab dong ya, tapi industri
strategis seperti ini kalo sangat tergantung dengan negara lain bisa gawat juga
ya?
Asia is increasingly going nuclear
Gulf News - Dubai,United Arab Emirates
Asia is increasingly going nuclear
By Abdullah Al Madani, Special to Gulf News
Published: July 08, 2007, 00:23
In his recent survey, Professor Purnendra Jain, head of Asian
Studies at Australia's Adelaide University, holds that many Asian countries are
currently competing for nuclear status in a way not seen since the 1970s. He
supports his conclusion by reports suggesting that 17 of the 28 nuclear power
plants under construction around the world are in Asia.
This is true. In addition to Asia's two giants, India and
China, which are enhancing their nuclear-power generation capabilities, almost
all other Asian states are either on the way to going nuclear or expressing
their intention to have civilian nuclear programmes.
Vietnam, for example, has already decided to install two
nuclear reactors in the coming decade. Thailand is said to be conducting
research for nuclear power with the apparent aim of having a plant operational
by 2020. Malaysia has hinted that it might consider the nuclear-energy option
in the near future. The South Korean government has already announced its
decision to increase the number of nuclear power plants in the country. And
Japan, the world's third largest home to such plants after the United States
and France, seems to be ready to increase its dependency on power generation
from nuclear sources from the current 30 per cent to 40 per cent in the next 10
years.
The Japanese, however, are very careful in this regard,
something that can be attributed to their fear of nuclear accidents similar to
the one in their Tokaimura plant in 1999.
On the other hand, the Hong Kong authorities are under immense
pressure to go nuclear by establishing their own nuclear power plants or
benefiting from those across the border in mainland China.
This is aimed at improving the island's rapidly deteriorating
air quality, caused by its long reliance on fossil fuel for electricity on the
one hand and industrial pollution from mainland China on the other. As
Professor Jain correctly puts it, Hong Kong may lose its business to other
Asian countries if this environmental problem is not quickly dealt with.
Enough uranium available
Focusing on the reasons behind this new nuclear race in the Far
East, one can list numerous driving factors, including the rapidly growing
demand for power due to economic and industrial expansion and the improvement
of living standards; high oil prices in recent years; rising competition for
natural resources; the danger of over-reliance on imported oil and gas for
energy needs from the troubled Middle East; and pressure to use more
environmentally-friendly energy.
Moreover, there is now enough uranium available to commence
nuclear programmes and, unlike fossil fuel, it is cheap. According to a report
published in 2005 by the Organisation for Economic Cooperation and Development,
production of uranium recorded significant increases between 2003 and 2005 with
19 countries mining it, particularly Australia, Kazakhstan and Namibia.
The aforementioned justifications for going nuclear, however,
have been met with severe criticism and opposition from various local
organisations and political forces, despite the increasing support for cleaner
and greener power-generation options. Their argument often concentrates on the
high costs and risks associated with nuclear power, citing the disastrous
consequences of the 1979 accident at Three Mile Island in the US and the 1986
Chernobyl explosion in the former Soviet Union. It also concentrates on the
difficulty of ensuring that nuclear technology once obtained will not be used
for purposes other than civilian.
Perhaps the case of Indonesia is the best example of the
ongoing debate between pro and anti-nuclear option forces in Asia.
Having received a nod from the International Atomic Energy
Agency for its civilian nuclear programmes, Indonesia is planning to start
building its first nuclear power plant by 2010 and four other such plants by
2017 with the aim of producing at least 17 per cent of the country's power
demand from untraditional sources. It is reported that South Korea has already
agreed to help Indonesia build these plants and provide fissile material and
technology. It is also reported that Australia, the holder of 40 per cent of
world uranium deposits and the second-largest supplier of this commodity after
Canada, has expressed its readiness to cooperate with Indonesia in this field
under the 2006 bilateral security agreement.
While Jakarta maintains that its going nuclear policy is
significantly important to ensure a steady supply power for more than 220
million people, overcome power-generation crises in the country's most populous
island of Java, meet the potential threat of inadequate supplies of coal and
natural gas, and protect the environment from harmful pollution caused by the
massive use of fossil fuels, many individuals and groups including legislators
hold a different opinion.
They argue that nuclear power plants are expensive and that
they will be funded at the expense of money allocated for promoting education,
health and housing. They also argue that Indonesia's knowledge base in the
nuclear field is extremely low. Their main concern, however, is about the risks
associated with nuclear power such as radioactive waste, leak or accident,
especially with fundamental Muslim groups targeting vital civilian
installations and the country being prone to natural disasters including
earthquakes and floods.
--
http://rovicky.wordpress.com/