FYI ---------- Forwarded message ---------- From: Raharja, Sulastama <[EMAIL PROTECTED]>
Selasa, 14 Agt 2007, Menguak "Colorado Connection", Jaringan Tokoh Migas di Indonesia (1) Kurtubi Dibiayai Pertamina, Andang Disponsori Asing Para lulusan Colorado School of Mines (CSM) kini memegang banyak posisi di dunia pertambangan di Indonesia. Mereka menduduki jabatan mulai menteri, pebisnis, hingga pengamat migas. Bagaimana kiprah para lulusan CSM di Indonesia? IWAN UNGSI, Jakarta BENCANA lumpur panas PT Lapindo Brantas Inc di Porong, Sidoarjo, barangkali, memang bukan bencana biasa. Buktinya, meski yang dilibatkan untuk "mengatasi" semburan adalah orang-orang terbaik di dunia pertambangan -salah satunya jaringan alumnus Colorado School of Mines- hingga saat ini musibah itu tak kunjung terselesaikan. Musibah yang sudah berlangsung setahun lebih itu memang secara tak sengaja mempertemukan para alumnus CSM yang tersebar di berbagai bidang. Selain Menteri Pertambangan dan Energi Purnomo Yusgiantoro yang meraih doktor (bidang ekonomi mineral/sumber daya alam) CSM, musibah itu membuat alumnus yang lain, seperti Andang Bachtiar dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia, pakar perminyakan Kurtubi, penemu Blok Cepu R. P. Koesoemadinata, baik langsung maupun tidak langsung banyak terlibat dalam penanganan kasus tersebut. Bahkan, Hilmi Panigoro, bos Medco Energy, salah satu perusahaan migas yang bersama Bakrie dan Santos pernah tercatat sebagai pemegang saham Lapindo, juga alumnus CSM. Kurtubi, saat ditanya tentang banyaknya tokoh pertambangan di Indonesia yang alumnus CSM, mengakui perguruan tinggi di Golden, Negara Bagian Colorado, itu memang salah satu yang terbaik di dunia. Sebab, tidak banyak lembaga pendidikan yang khusus mempelajari ilmu perminyakan dan kebumian. Di Amerika Serikat, misalnya, hanya CSM yang spesifik mengajarkan geoscience. Yang lain, seperti Universitas Arizona, juga memiliki jurusan serupa. Namun, perguruan tinggi tersebut mengajarkan bidang-bidang studi lain seperti medis, seni, ekonomi, serta sosial budaya. Dengan beasiswa dari Pertamina, Kurtubi dua kali kuliah pascasarjana di CSM. Pertama (1992-1994) mengambil studi master di bidang ekonomi mineral. "Setelah mengambil master yang kedua di IFP (Institut Francais du Petrole, Prancis), saya kembali melanjutkan studi doktoral di jurusan yang sama di CSM," katanya saat ditemui di kantor pusat Pertamina, Gedung Perwira 2 lantai 2. Pria kelahiran Mataram, NTB, 9 April 1951, yang merampungkan studi pada 1998 adalah doktor ketiga asal CSM dari Indonesia. Dua pendahulunya adalah R. P. Koesoemadinata (pakar geologi dan guru besar ITB) serta Purnomo Yusgiantoro. Kurtubi mengakui, para alumnus CSM yang kini tersebar di berbagai lini penting dunia migas masih cukup intens bertemu. "Ya, kami sering kumpul-kumpul, ngopi. Kadang di Plaza Senayan (Jakarta) atau barbeque bersama di Pantai Carita (Anyer, Banten). Itu tidak terjadwal, bergantung mood-nya," kata pria yang baru saja pensiun sebagai staf ahli Pertamina itu. Kurtubi mengatakan, forum tersebut hanya ajang silaturahmi biasa. "Tidak ada jaringan yang menyangkut profesi. Kami semua profesional. Yah, sekadar ngumpul-ngumpul," paparnya. Sebagai sesama profesional, kata Kurtubi, mereka kadang saling bertemu. Misalnya, Kurtubi baru bertemu dan membicarakan topik yang agak serius dengan Koesoemadinata. Ini disebabkan keduanya adalah saksi ahli dalam kasus hukum Lapindo Brantas Inc di Sidoarjo. "Kami hanya bertukar pikiran mengenai bagaimana sebenarnya kondisi yang ada di lapangan," ujar pria yang juga pengajar di Lemhanas tersebut. Forum silaturahmi antaralumnus CSM, kata dia, lebih banyak digunakan untuk berbagi wawasan dan pengalaman. Di Jakarta, jumlah alumnus CSM yang biasanya hadir dalam pertemuan mencapai belasan orang. "Yang hadir tidak tentu. Kadang 15 orang, tapi bisa juga lebih," kata pria yang meraih gelar sarjana di FE Universitas Indonesia itu. Menurut Kurtubi, sejak saat kuliah, ikatan emosional antarmahasiswa Indonesia di Colorado memang kuat. Itu tak lepas dari banyaknya kegiatan yang dirancang Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS) di CSM. Misalnya, ada pengajian rutin sebulan sekali. Dalam aktivitas internal kampus, para anggota Permias juga cukup aktif. Misalnya, pada acara International Day, mereka ikut terlibat mempromosikan Indonesia. Termasuk menawarkan makanan khas. "Kami menyajikan sate ayam dan sate kambing. Ternyata makanan itu sangat digemari mahasiswa dari negara lain." Pengalaman yang tak pernah dilupakan Kurtubi selama belajar di CSM adalah saat harus belajar menari kecak (dari Bali). Saat itu dia harus berlatih keras karena waktunya hanya dua minggu. "Padahal, saya tidak pernah menari," kenang direktur Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES) itu. Tentang mata kuliah yang paling berkesan, suami Maria Ulfah itu dengan lantang menyebut petroleum geology. Sebab, sebagai alumnus FE UI saat itu dia harus berhadapan langsung dengan mata kuliah yang membahas teknis perminyakan. Namun, mata kuliah dengan bobot enam kredit itu harus diambil karena merupakan arahan pembimbing tesisnya, yakni Prof Curtis. "Dia guru besar di CSM dan yang mengajar mata kuliah itu," sebut pria yang saat ini mengajar pascasarjana di Fakultas Ekonomi UI tersebut. Kurtubi mengakui, biaya sekolah di CSM memang mahal. Karena itu, rata-rata mahasiswa yang sekolah di sana atas biaya perusahaan. "Biaya per semester, kalau tidak salah, USD 25.000. Jadi, setahun bisa hampir Rp 500 juta," katanya. Dihubungi secara terpisah, Andang Bachtiar, ketua IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) 2000-2005, mengakui saat ini memang alumni CSM tersebar di berbagai tempat. Berbeda dengan teman-temannya, Andang lebih memilih menjadi geolog independen. "Lebih bebas. Dengan begitu, saya bisa menyalurkan hobi jalan-jalan, nggak perlu lapor atasan lebih dulu," kata sarjana dan doktor bidang geologi perminyakan dari ITB itu. Seperti Kurtubi, Andang menempuh program master di CSM pada 1988-1991, saat dia masih aktif sebagai staf ahli di perusahaan minyak asing. Bersamaan dengan dia, orang-orang Indonesia yang kuliah di CSM, antara lain, Purnomo Yusgiantoro (kini menteri ESDM), Kurtubi, dan pebisnis di bidang perminyakan Hilmi Panigoro. "Seperti saya, Hilmi (Hilmi Panigoro, Red) yang saat itu bekerja satu perusahaan dengan saya sama-sama belajar di CSM atas biaya perusahaan," kata tokoh yang beberapa waktu diundang Flinders Univesity, Australia, untuk menjadi salah satu pembicara kasus lumpur Lapindo itu. Andang mengakui, teman-teman kuliahnya di CSM kini memang banyak yang jadi tokoh. Selain Purnomo dan Kurtubi, mereka, antara lain, pakar termodinamika dan pipa gas UI Dr Kamarza Mulia, manajer eksploitasi Chevron Pacific Indonesia Ir Yarmanto MSc, serta Ir Karsani Aulia MSc, salah seorang general manager di PT Pertamina. "Tapi, ada juga alumnus CSM yang nggak jadi apa-apa. Mereka bekerja di pabrik silet dan pabrik-pabrik yang lain," kata pria kelahiran Malang yang menjabat ketua Permias di CSM periode 1989-1991. (Satrio memberi kontribusi laporan ini dari Surabaya) http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=9088 ***** Gabung Milis, email ke [EMAIL PROTECTED] isi subject subscribe Keluar, email ke [EMAIL PROTECTED] isi subject unsubscribe Situs Teknik Geologi UGM di http://www.geologi.ugm.ac.id *Buat yang baru masuk milis, emailnya akan dimoderasi sementara sampai orangnya berhasil diidentifikasi* -- http://rovicky.wordpress.com/ ---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION: 228 papers have been accepted to be presented; send the extended-abstract or full paper by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

