Malah baru tahu kalau panggilan Pak Koesoemadinata itu "Prajatna".
btw, "Colorado connection" itu hanya ada mungkin dalam "mode pemikiran".
Artinya cara berpikir-nya memili pola yang mungkin sama. Pola berpilir ini
tidak harus untuk kepentingan yang sama juga tidak harus memiliki
kesimpulan
yang sama.
Sering aku beri contoh apa yg aku maksud perbedaan "pola berpikir" adalah
perbedaan pengobatan barat dan timur. ini cara dulu loo, sekarang barat
timur sedang "melebur dan bertempur" menjadi satu.
Menurut cara barat (western), sakit adalah kondisi tubuh ketika "diserang"
oleh bakteri dari luar. Pengobatannya adalah dengan "membunuh" si bakteri.
Menurut cara timur (eastern), sakit adalah kondisi tubuh yang lemah
sehingga
munculnya penyakit yang sudah potensi penyakit sebelumnya. Penyembuhannya
dengan meningkatkan daya tahan tubuh sehingga potensi penyakit tidak
muncul.
RDP
===========================================
Rabu, 15 Agt 2007,
Sudah Kepala Tujuh, RPK Masih Geolog Aktif
Menguak "Colorado Connection", Jaringan Tokoh Migas di Indonesia (2)
Meski lulus dari perguruan tinggi yang sama, para alumnus Colorado
School of Mines (CSM) menolak terlibat dalam "koncoisme" alias
pertemanan. Mereka justru sering berhadap-hadapan dalam beberapa kasus
migas di Indonesia. Bukti integritas dan profesionalisme?
IWAN UNGSI, Jakarta
SAMA-SAMA doktor lulusan CSM, Kurtubi dan Purnomo Yusgiantoro sering
punya pandangan yang berseberangan. Dalam soal liberalisasi sektor
migas, misalnya, pria kelahiran Mataram, 56 tahun lalu, itu dikenal
sangat vokal mengkritik Purnomo yang kini menjadi menteri energi sumber
daya mineral (ESDM).
Menurut Kurtubi, sikap kritis itu bukan dimaksudkan untuk menyerang atau
bahkan antipati kepada pemerintah. "Ini karena tanggung jawab keilmuan
saya. Kalau saya melihat yang bengkok, ya harus saya coba luruskan.
Tidak bisa tidak," kata Kurtubi, yang sangat kritis saat penyusunan RUU
Migas beberapa waktu lalu.
Soal perbedaan pandang Kurtubi dengan Purnomo juga dibenarkan Andang
Bachtiar. Menurut geolog independen tersebut, dalam berbagai forum,
kedua orang itu malah sering saling menyerang. "Itu menunjukkan
masing-masing independen," kata geolog terkemuka itu.
Andang menuturkan, meski saat ini banyak alumnus CSM yang sudah menjadi
orang, bukan berarti mereka membangun klik untuk kepentingan tertentu.
Sebab, setelah lulus dari CSM, kebanyakan mereka sibuk dengan urusan
masing-masing.
"Boro-boro bikin koneksitas. Kami malah saling beda pendapat. Saya
sendiri sering mengkritik Hilmi (Hilmi Panigoro)," ujarnya.
Kurtubi menambahkan, Indonesia tidak membutuhkan sekolah sekelas CSM
untuk meningkatkan kompetensi dalam bidang migas. Sebab, jurusan teknik
geologi maupun perminyakan sudah ada di ITB. Namun, dia berharap agar
perguruan tinggi terkemuka di Bandung itu mempunyai jurusan ekonomi
mineral.
"Jadi, bagaimana (lulusan ekonomi mineral) menghitung harga komoditas
mineral yang memiliki karakter khusus. Supaya kita tidak tertipu (oleh
kontraktor migas) terus," tuturnya.
Dia mencontohkan, kasus harga penjualan gas di Tangguh (proyek gas alam
cair di Tangguh, Teluk Bintuni, Papua) yang dinilai murah dan tidak
efisien. Menurut Kurtubi yang menyelesaikan studi master dengan tesis
"Efisiensi Harga LNG di Indonesia", efisiensi harga LNG suatu negara itu
terintegrasi dengan harga LNG dunia.
"Jadi, harus mengikuti terus. Kalau harga LNG dunia naik, harga LNG
Indonesia juga harus mengikuti," katanya.
Kurtubi menjelaskan, idealnya harga gas memiliki keterkaitan secara
abadi dengan harga minyak. Karena itu, ketika harga minyak naik, harga
gas juga naik. "Dalam kasus Tangguh, ketika harga minyak di atas USD 38
per barel, harga gas di Tangguh tidak bisa naik lagi. Padahal, saat ini
harga minyak sudah berada di level USD 74 per barel," ungkapnya.
Hilmi Panigoro adalah contoh lain alumnus CSM dari kalangan pengusaha
yang dianggap bersikap profesional. Selepas meraih master of science
dari CSM, Hilmi meneruskan karir di Huffco (sekarang VICO).
Di perusahaan itu alumnus ITB tersebut mengawali karir dari bawah.
Yakni, sebagai well site geologist (1981). Lalu jabatannya naik menjadi
kepala eksplorasi. Jabatan terakhir di Huffco adalah vice president dan
direktur bisnis proses rekayasa.
Justru saat berada di puncak, pada 1998 dia menerima pinangan sang kakak
(Arifin Panigoro) untuk bergabung di Medco. Di bawah Hilmi, Grup Medco
kini tercatat sebagai perusahaan migas nasional terkemuka yang bersaing
mengoperasikan ladang-ladang migas di luar negeri.
Lalu, apa kesan Hilmi tentang banyaknya alumnus CSM yang kini berkiprah
di dunia migas Indonesia? "Jangan saya. Tanyakan ke Purnomo (Menteri
ESDM Purnomo Yusgiantoro) saja," kata Hilmi kepada Jawa Pos.
Dari sekian lulusan CSM, R. Prajatna Koesoemadinata mempunyai posisi
khusus. Sebab, dialah doktor CSM pertama dari Indonesia. Saat ditemui di
rumahnya di kawasan Bukit Dago, Bandung, kemarin, pria berambut putih
itu masih tampak energik. Di usianya yang menginjak 71 tahun, mantan
guru besar geologi ITB itu masih aktif bekerja. Dia mengaku baru saja
pulang dari Libya, mengerjakan survei geologi untuk sebuah perusahaan
migas nasional.
"Saya juga masih mengerjakan proyek untuk Medco hingga September
mendatang," ungkap geolog berstatus freelance itu.
Menurut Prajatna, dia mengenyam pendidikan di CSM pada 1964 dan meraih
gelar doktor empat tahun kemudian. Disertasi Prajatna saat itu mengenai
lapangan minyak di Utah, salah satu negara bagian di AS. "Saat itu
kondisi di Indonesia sedang ada G 30 S/PKI. Jadi, anak saya ikut,"
ungkapnya. Seperti sang ayah, putranya yang saat itu berusia tiga tahun,
Adam Koesoemadinata, kini juga menjadi salah satu geolog nasional.
Perkenalan RPK, panggilan akrab Prajatna, dengan sekolah yang banyak
meluluskan menteri pertambangan di Amerika Latin itu terjadi ketika dia
bertemu Profesor Lee Roy, guru besar CSM, di Bali. "Dia datang ke
Indonesia untuk menulis buku mengenai survei geologi. Dia bahkan yang
menjadi panitia untuk gelar doktor saya," kata pria kelahiran Bandung,
29 Januari 1936.
Selain dirinya, mahasiswa asal Indonesia adalah Hadianto, peraih gelar
master dari CSM yang sempat menjadi Dirut PT Aneka Tambang.
Penyuka olahraga tenis itu mengakui CSM merupakan institusi pendidikan
yang unik. Saat berbagai institusi pendidikan setingkat lainnya
memberikan gelar BA (Bachelor of Art) CSM justru memelopori gelar
bachelor of engineering. Selain itu, gelar doctor of science (DSc) yang
tidak banyak dikenal lembaga pendidikan lain. "Gelar DSc yang saya raih
itu merupakan angkatan terakhir," kenangnya.
RPK menambahkan, nama school of mines juga tetap dipertahankan. Padahal,
saat itu banyak institusi serupa yang mengubah nama menjadi institute of
technology. "Nama ini memberi kebanggaan tersendiri bagi para alumnus,"
kata ayah tiga orang putra tersebut.
Salah satu pengalaman yang tak bisa dilupakan adalah ketika dia
dinyatakan lulus dan berhak mendapat gelar gelar doktor. "Saya diberi
ijazah dari perak murni. Saya tidak tahu apakah sekarang masih seperti
itu," katanya.
Ketika ditanya tentang pengalaman sebagai saksi ahli kasus hukum
Lapindo, RPK menilai bahwa kasus Lapindo sudah sarat kepentingan. Kata
dia, banyak geolog yang mendapatkan proyek dari Lapindo sehingga tidak
memiliki pendapat objektif. "Padahal, itu jelas-jelas kesalahan
pengeboran," katanya. (Laporan juga ditulis Satriyo dari Surabaya, Dani
dari Bandung)
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=299338
--
http://rovicky.wordpress.com/