Pak Franc,
Saya ganti lagi subyeknya karena diskusi sudah jauh dari subyek semula.
Saya pikir strike-slip faulting bukan pengontrol utama delta2 di dunia.
Delta2 besar dan prolific di dunia banyaknya berkembang di sistem
aulacogen passive margin, bukan di releasing bend strike-slip faulting.
Contoh langsungnya adalah Mahakam dan Niger delta.
Delta Mahakam berkembang dalam sistem aulacogen Makassar Strait rifting.
Satu arm yang masuk ke Kalimantan craton menjadi wilayah fluvial Mahakam,
dua arm yang masing-masing ke utara dan selatan Makassar Strait menjadi
wilayah pengendapan delta. Awal sedimentasi delta terjadi di triple
junction antara arms aulacogen.
Delta Niger pun berkembang di sistem aulacogen yang terbentuk di relic
rifting dan spreading antara Afrika dan Amerika Selatan. Sistemnya sama,
satu arm yang masuk ke craton Afrika (Benue trough) menjadi alur sungai
feeder delta; deltanya sendiri berprogradasi ke barat baratdaya
berseberangan dengan Campos Basin di Brazil offshore, Amerika Selatan.
Delta2 di Sarawak juga berhubungan dengan aulacogen South China Sea
spreading.
Strike-slip faulting yang kebetulan berkembang di wilayah delta,seperti
di Kutei bisa juga memodifikasi, tetapi tak signifikan. Pengaruhnya ke
pembentukan struktur pun tak terlalu besar. Kasus di Mahakam Delta,
struktur2 di dekat pantai terbentuk oleh antiklinorium yang berhubungan
dengan kompensasi tektonik akibat gliding/detachment yang diakibatkan
naiknya Kuching High di pedalaman Kalimantan; sedangkan struktur2 jauh di
wilayah offshore berhubungan dengan progradasi delta.
Strike-slip faulting yang besar di Kalimantan ada dua : Lupar-Adang Fault
dan Mangkalihat-Tinjar Fault, kedua sesar ini menerus ke wilayah
Indocina.
Sesar mendatar di area Kutei hanya sebagai transversal fault yang
berhubungan dengan rifting Makassar Strait.
Strike-slip faulting lebih banyak membentuk pull-apart basin, bukan delta
di passive margin. Contoh yang bagus di Indonesia ada di Ombilin Basin,
Melawi Basin, dan Ketungau Basin. Bentuk ketiga basin ini pun sangat khas
pull-apart basin, yaitu sempit, panjang, dan dalam. Pull-apart basin ini
terbentuk oleh bends, oversteps, dan fault junctions strike-slip faulting
yang releasing atau divergent.
Sementara itu, tiga danau di wilayah upper Mahakam river (Jempang,
Melintang, Semayang) juga lebih terbentuk karena di wilayah itu terdapat
tinggian basement (gravity high) yang mengurangi gradien sungai,
melandai,
sehingga secara geomorfologi membentuk danau. Yang lebih menarik adalah
memikirkan asal Kutei gravity high ini. Tetapi, kalau sesar mendatar yang
Pak Franc sebutkan itu memotong wilayah danau2 ini menarik juga apakah di
wilayah ini ia ada dalam releasing bends. Tetapi, kalau melihat bahwa
orientasi danau ini membentuk kelurusan BD-TL, kelihatannya ia lebih
dikendalikan oleh gravity high yang sejajar dengan antiklinorium
Samarinda
atau Meratus, sebab strike-slip di sini umumnya berarah BL-Tenggara atau
BBL-Timur Tenggara.
Limestone build up di offshore Selat Makassar yang berhubungan dengan
Adang Fault adalah Makassar Strait field yang ditemukan Ashland awal
tahun
1970-an dan yang kini sedang dikembangkan oleh Pearl Sebuku. Ini bukan
build up yang tumbuh di restraining Adang Fault, tetapi re-deposited
Berai
carbonates yang dierosi dari Paternoster platform kemudian membentuk
submarine fan di suatu celah graben yang sejajar dengan orientasi graben2
di Barito Basin (Barat Baratlaut-Timur Tenggara).
salam,
awang
Franciscus B Sinartio wrote:
Terima kasih penjelasannya Pak Awang,
dan sebagai tambahan kita perlu ingat bahwa suatu strike slip bisa saja
punya releasing bend disuatu tempat dan restraining bend di tempat yang
lain, tergantung tergantung bend nya (-90 derajat < sdt < 0 derajat) atau
( 0 < sdt < 90 derajat).
Dan kalau yang releasing bend besar sudut nya lebih besar 45 derajat(?)
maka bisa jadi pull apart basin.
contoh di Kalimantan:
1.Adang fault: Wain Basin (releasing bend) sedangkan restraining bend
nya:
limestone build up di offshore selat makassar (sorry lupa apa nama
fieldnya) (ini terjadi restarining bend sehingga ada tinggian di laut
sehingga cocok untuk terumbu untuk hidup mungkin karena cukup)2, sinar
matahari, dan tidak terganggu sama sediment yang datang dari P
Kalimantan)
2. Mahakam Delta: releasing bend di depan mulut delta, sehingga terjadi
delta, lalu restraining bed di laut dan juga di sebelah dalam pedalaman P
Kalimantan. Saya tidak tahu nama dari strike slip fault nya. seingat saya
waktu kerja di Vico belum dinamai. Fault ini yang memisahkan Badak+Nilam
dengan lapangan2 di selatannya.
Apakah ketiga danau yang ada pesutnya merupakan pull apart basin dari
strike slip system ini ?
contoh di Niger delta:
1.Niger delta releasing bend nya dan Charcoat seamount restraining bend
nya.
2. ada lagi beberapa, tapi belum seratus persen disetujui ide nya sama
team disini.
he.. he..he... dari gempa dibalikin lagi ke HC exploration.
contoh di Bengal Delta:
mari kita tunggu ulasan Pak Awang. (sekalian delta yang di utara dan
selatan Mahakam delta, banyak yang menamakan paleo Mahakam, saya rasa
tidak cocok karena delta ini berbeda dengan mahakam delta. dan pada suatu
saat pernah ketiga delta ini ada secara bersamaan.)
happy hunting HC
fbs
----- Original Message ----
From: Awang Satyana
To: [email protected]; Geo Unpad ; Eksplorasi BPMIGAS
Sent: Saturday, September 15, 2007 3:47:10 PM
Subject: [iagi-net-l] tsunami-genic normal faulting EQ vs. tsunami-genic
thrust/reverse faulting EQ (was : Gempa Lagi 7.7 SR ...)
Pak Franc,
Tsunami terjadi kalau ada kolom air laut yang terganggu oleh pematahan
vertikal dasar laut. Kita mengartikan pematahan vertikal adalah dip-slip
fault, yang menembus dasar laut dari rupture zone hiposentrum/pusat/fokus
gempa dangkal. Semakin dangkal pusat gempa, semakin mungkin pematahannya
sampai ke dasar laut. Semakin dalam pusat gempa semakin mungkin
pematahannya hanya sebagai blind fault, atau sesar yang tak sampai ke
permukaan. Berdasarkan statistik, gempa dangkal yang menyebabkan tsunami
adalah gempa dengan pusat lebih dangkal dari 45 km dan pematahannya
vertikal.
Kita tahu pematahan vertikal (dip-slip) terdiri atas normal fault,
reverse
fault, dan thrust fault. Kalau dihubungkan dengan strike-slip fault
seperti yang ditulis pak Franc, normal fault berkembang di lingkungan
transtension atau releasing bend; sedangkan reverse dan thrust fault
terjadi di tranpression atau restraining bend.
Berdasarkan kejadian2 tsunami, baik pematahan vertikal blok dasar laut
oleh normal fault dan reverse/thrust fault menyebabkan tsunami. Saya
sependapat dengan pak Franc bahwa normal faulting akan menyebabkan
tsunami
yang lebih besar dibandingkan reverse/thrust fault. Alasan ini didasarkan
kepada wilayah "vakum" (meminjam istilah pak Franc) yang lebih besar yang
dihasilkan oleh sesar normal dibandingkan reverse/thrust fault.
Reverse/thrust fault juga akan membentuk wilayah vakum, tetapi tak akan
sebesar normal faulting. Wilayah vakum reverse/thrust fault akan terjadi
di sayap hanging wall block akibat lapisan ini miring oleh penyesaran
naik
atau anjak. Sedangkan pada normal fault, wilayah vakumnya terbentuk lebih
besar karena lapisan2 tiba-tiba runtuh atau seluruh hanging wall bocknya
turun - jelas ini akan menciptakan wilayah vakum yang besar.
Tsunami terjadi hanya sebagai usaha kolom air menuju keseimbangannya
kembali. Dalam normal faulting earthquake (EQ), airlaut tiba2 akan
bergerak mengisi wilayah vakum normal fault di dasar laut, maka massa air
di pantai2 terdekat akan surut tiba2 sebab massa air tetap sebegitu
volumenya. Lalu, sesaat setelah itu, karena efek "bounce back" (meminjam
lagi istilah pak Franc), atau saya sebut ayunan osilasi gelombang laut,
air laut yang tersedot dari pantai itu melalui proses mekanika fluida
akan
kembali ke pantai dengan kecepatan ratusan km/jam, dengan massa yang sama
tetapi dengan efek kejut dan membawa energi yang luar biasa besarnya
(megajoules). Karena menuju pantai semakin mendangkal sementara massa air
laut adalah tetap, akibatnya terjadi gelombang tsunami (run up) yang bisa
beberapa meter lebih tinggi daripada biasanya. Ketinggian gelombang
tsunami juga akan ditentukan oleh morfologi pantai, puluhan sentimeter
sampai puluhan meter pernah tercatat
sebagai run up
tsunami.
Pada thrusting fault EQ, airlaut di pantai bisa surut bisa tidak,
bergantung kepada posisi vakum area limb thrust (sayap thrust) itu
relatif
terhadap pantai. Dalam kasus air menyurut, berarti vakum area dan
vergency
(arah) dari thrust/reverse frontal terhadap pantai. Hanya, seperti
ditulis
di atas, vakum area thrusting EQ lebih kecil dibandingkan vakum area
normal faulting EQ, sehingga massa air yang dipindahkan pun lebih kecil;
tetapi hunjaman thrusting perlu diperhitungkan juga sebagai efek pemindah
massa air. Dan bila vergency hunjaman thrusting menuju pantai, maka ke
situ pula kolom air akan dipindahkan, setelah sedikit melalui bounce back
atau ayunan osilasi gelombang laut yang dipindahkan ke vakum area
thrusting EQ (bila ada).
Maka pak Franc, kedua dip-slip fault itu bisa menyebabkan tsunami; hanya
yang normal fault EQ bisa lebih besar daripada yang thrusting EQ. Gempa2
di sepanjang palung Sumatra dan Jawa umumnya thrusting EQ karena batas
lempengnya konvergen.
Kasus "ledakan" pra-tsunami di Pangandaran, menurut pak Franc akibat efek
airgun (seperti saat marine seismicsurvey) kolom air laut yang berlomba2
masuk ke wilayah vakum normal faulting EQ Pangandaran 17 Juli 2006. Saya
kiranya kurang sependapat dengan pemikiran pak Franc sehingga suara
ledakan itu tetap misteri yang harus dicari pemecahannya. Masalahnya,
pematahan gempa Pangandaran bukan normal faulting, tetapi thrust faulting
berdasarkan focal mechanism solution dan finite fault model-nya dengan
strike N40 W dip 11 deg. Tsunami menyerbu pantai Pangandaran dengan
ketinggian run up 2 meter, menyapu pantai Pangandaran, membunuh sekitar
350 orang. Thrust faulting EQ rata-rata memang menyebabkan run up tsunami
0-5 meter; tetapi dalam beberapa kasus run up-nya bisa sangat tinggi,
seperti thrust faulting gempa Banyuwangi 2 Juni 1994, bermagnitude 7.8
yang membuat tsunami menyerbu pantai2 Banyuwangi dan Blambangan dengan
run
up setinggi 13 meter dan
menewaskan 200 orang.
Bandingkan dengan tsunami-genic normal faulting EQ yang biasanya membuat
run up tsunami tinggi. Suatu normal faulting EQ pernah terjadi di
perairan
Australia pada 20 Agustus 1977 bermagnitude 8.3. Dan gempa ini telah
membuat tsunami dengan run up 15 meter ketika memasuki pantai terdekat
dan
menewaskan 200 orang (data dari USGS, 2006).
Run up tsunami akibat hantaman meteorit besar ke laut dan akibat material
volkanik yang jatuh kembali ke laut dalam suatu letusan volkanik
gunungapi
bawahlaut akan lebih dahsyat lagi. Run-up tsunami letusan Krakatau 1883
di
Selat Sunda telah menyebabkan tsunami setinggi 30 meter di pantai-pantai
Lampung dan Banten (menurut Vrbeek, 1898; Willumsen, 2000, dan
Winchester,
2002). Berapa besar run up tsunami akibat sebuah komet menghantam Bumi di
Teluk Meksiko dan membuat kawah Chixculub serta memunahkan raksasa reptil
pada K-T boundary 65 Ma ? Tak bisa dibayangkan akan setinggi apa.
Sekali lagi, run up tsunami juga akan dipengaruhi morfologi pantai
setempat dan jelas oleg magnitude gempanya sendiri, tetapi saya
sependapat
dengan pak Franc bahwa normal faulting EQ akan lebih berbahaya
menimbulkan
tsunami besar dibandingkan thrust faulting EQ.
salam,
awang
Franciscus B Sinartio wrote:
Pak Awang,
Mau nanya,
yang lebih berpotensi membuat tsunami apakah di restraining bend
(transpressional bend) atau releasing bend (transtensional bend) dari
strike slip?
kalau restraining bend kan terjadi thrust fault, air nya didorong ke atas
oleh batuan, jadi air yang terdorong hanya sebesar volume batuan yang ter
"displace".
Sedangkan kalau releasing bend, timbul vacuum yang disebabkan oleh normal
ault yang terjadi. sehingga air akan mengalir ke vacuum tersebut,
sehingga
sering terjadi letusan (mirip prinsip airgun), air yang masuk ke daerah
vacuum secara tiba2 itu tidak akan diam saja tetapi akan "bounce back"
sehingga timbul ombak/gelombang. mungkin efek dari ini lebih besar dalam
membentuk tsunami dari pada ombak/gelombang yang timbul karena
displacement dari air pada waktu terjadi thrust fault.
apa terbalik ya?
kan waktu gempa di selatan Pangandaran terdengar letusan yang cukup
keras,
dan kita tahu ada tsunami sesduah itu.
kalau ini benar, apakah adanya letusan bisa dijadikan salah satu kriteria
akan adanya potensi tsunami? kecepatan suara lebih besar dari pada
kecepatan air tsunami, jadi penduduk dekat pantai bisa mendengarkannya
sebelum dapat peringatan hasil dari early warning system yang sudah ada.
Akan tetapi kalau tidak ada suara letusannya tidak berarti tidak ada
potensi terjadi tsunami.
terima kasih sebelumnya atas penjelasan Pak Awang
fbs
----- Original Message ----
From: Awang Harun Satyana
To: [email protected]
Sent: Thursday, September 13, 2007 12:36:18 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] Gempa Lagi 7.7 SR 140 km BD Sungai Penuh, Jambi
(was [iagi-net-l] Gempa di Bengkulu)
Pukul 10:35:26 WIB sejam yang lalu terjadi lagi gempa kuat 7.1 Mw di
lepas
pantai baratdaya Pulau Sipora, dalam gugusan Kepulauan Mentawai.
Kelihatannya yang ini merupakan aftershock gempa tadi pagi di 140 km BD
Sungaipenuh.
Melihat sebaran gempa utama dan gempa susulan, kelihatannya ada dua gempa
utama, yaitu : (1) gempa utama Bengkulu 12 September 2007 (8.4 Mw) pukul
18.10 WIB dengan aftershocks sedang bergerak ke utara lalu ke utara
baratlaut, kekuatan 5-6 Mw/SR, dan (2) gempa Sungaipenuh 13 September
2007
(7.8 Mw) pukul 06.49 WIB dengan aftershock menjauhi lagi Pulau Sumatra
bergerak ke BL.
Semua gempa ini dangkal, di laut, dan bermagnitude rata2 di atas 6.0 SR,
dan berdasarkan historic moment tensor solution-nya didominasi thrust.
Maka, semuanya berpotensi tsunami. Penduduk sepanjang pantai barat
Sumatra
dari Bengkulu sampai Sibolga sebaiknya dihimbau untuk waspada sejak hari
ini sampai beberapa hari ke depan.
Berikut gempa terbaru di lepas pantai Sipora.
Earthquake Details
Magnitude 7.1
Date-Time Thursday, September 13, 2007 at 03:35:26 UTC
Thursday, September 13, 2007 at 10:35:26 AM at epicenter
Time of Earthquake in other Time Zones
Location 2.223°S, 99.564°E
Depth 10 km (6.2 miles) set by location program
Region KEPULAUAN MENTAWAI REGION, INDONESIA
Distances 165 km (105 miles) SSW of Padang, Sumatra, Indonesia
345 km (215 miles) WNW of Bengkulu, Sumatra, Indonesia
635 km (395 miles) SSW of KUALA LUMPUR, Malaysia
900 km (560 miles) WNW of JAKARTA, Java, Indonesia
Location Uncertainty horizontal +/- 8.3 km (5.2 miles); depth fixed by
location program
Parameters Nst=198, Nph=198, Dmin=>999 km, Rmss=1.28 sec, Gp= 25°,
M-type=moment magnitude (Mw), Version=7
Source USGS NEIC (WDCS-D)
Event ID us2007hfax
Salam,
awang
-
----------------------------------------------------------------------------
JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event
shall IAGI be liable for any, including but not limited to direct or
indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss
of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of
any information posted on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.
----------------------------------------------------------------------------
JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event
shall IAGI be liable for any, including but not limited to direct or
indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss
of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of