Sejak beberapa bulan yang lalu, saya mulai mengirimkan secara bertahap seri
tulisan tentang kemungkinan kebencanaan geologi (gunung lumpur dan/atau
gunungapi) pada masa Jenggala dan Majapahit (abad 10-16 M) yang mungkin
berkontribusi secara berarti kepada sandhyakala (masa akhir) kedua kerajaan
tersebut. Dalam beberapa bulan ini, saya melakukan riset pustaka atas sekitar
40 literatur sejarah dan data geologi dipublikasi dan tak dipublikasi dengan
rentang tahun penerbitan 1900-2007 (buku-buku lama awal 1900-an itu sebenarnya
sudah belasan tahun bersama saya, hanya baru belakangan ini saya pelajari
secara lebih hati2).
Setiap penemuan dalam riset pustaka itu saya komunikasikan secara bertahap
kepada kawan2 di beberapa milis untuk menginformasikan penemuan itu, sekaligus
untuk mengumpulkan komentar berupa saran, kritik, dll. untuk perbaikan. Terima
kasih secara khusus kepada Pak Rovicky yang telah memuat e-mail2 saya tersebut
di blog dongeng geologi. Saya telah membaca semua komentar yang diberikan,
terutama dari pembaca non-geologist.
Tulisan lengkap tentang ini telah selesai dan nanti akan dipresentasikan di JCB
November 2007. Di bawah ini adalah sari, abstract, pendahuluan, kesimpulan, dan
rekomendasi pemikiran tersebut untuk sekedar memberikan gambaran tentang latar
belakang, hasil riset, dan langkah-langkah selanjutnya. Saya merasa perlu
mengirimkannya ke milis IAGI karena saya telah memulainya beberapa bulan yang
lalu. Ada awal, tentu ada akhirnya. Ini adalah akhir dari seri tulisan itu dan
telah didasarkan kepada riset pustaka dan data geologi yang diintegrasikan.
Semoga berguna buat para peminat sejarah, cerita rakyat, dan geologi.
Riset pribadi ini telah mengajarkan sesuatu kepada saya, yaitu : terbuka
peluang meneliti ulang semua sejarah dan cerita rakyat di Indonesia yang
sedikit banyak mengandung latar belakang geologi.
salam,
awang
Bencana Geologi dalam "Sandhyâkâla" Jenggala dan Majapahit : Hipotesis Erupsi
Gununglumpur Historis Berdasarkan Kitab Pararaton, Serat Kanda, Babad Tanah
Jawi; Folklor Timun Mas; Analogi Erupsi LUSI; dan Analisis Geologi Depresi
Kendeng-Delta Brantas
Geological Disaster on the Falls of Jenggala and Majapahit Empires :
A Hypothesis of Historical Mud Volcanoes Eruptions Based On Historical
Chronicles of Kitab Pararaton, Serat Kanda, Babad Tanah Jawi; Folklore of Timun
Mas; Analogue to the Present LUSI Eruption; and Geological Analysis of the
Kendeng Depression - Brantas Delta
Awang Harun Satyana
(BPMIGAS)
SARI
Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Majapahit berpusat di delta Brantas, Jawa Timur
pada sekitar abad ke-11 sampai awal abad ke-16. Perkembangan, kemajuan, dan
keruntuhan kedua kerajaan ini sedikit banyak berkaitan dengan proses-proses
geologi yang terjadi pada delta Brantas. Kerajaan Jenggala hanya bertahan
sekitar 50 tahun, runtuh pada tahun 1116 M, dan sejak itu wilayahnya menjadi
bagian Kerajaan Kediri. Kerajaan Majapahit berawal pada 1293 M, maju dalam
hampir seratus tahun pertama, mundur, runtuh pada 1478 M, menjadi bawahan
Kerajaan Demak, dan berakhir pada 1518 M.
Berdasarkan penafsiran beberapa sumber sejarah (Kitab Pararaton, Serat Kanda,
Babad Tanah Jawi), cerita rakyat, kondisi geologi wilayah Jenggala dan
Majapahit, dan analogi terhadap semburan lumpur panas di Sidoarjo (LUSI) yang
berlokasi di dekat pusat kerajaan Jenggala, terbuka kemungkinan bahwa kedua
kerajaan tersebut telah mengalami kemunduran yang berarti akibat bencana alam
berupa erupsi gunung-gununglumpur sebelum dianeksasi oleh kerajaan-kerajaan
pesaingnya.
Hipotesis bencana erupsi gununglumpur pada masa Jenggala dan Majapahit
didasarkan dan diteliti melalui lima tesis : (1) tesis bencana "banyu pindah"
1334 M dan bencana "pagunung anyar" 1374 M yang tercatat pada Kitab Pararaton;
(2) tesis suryasengkala peristiwa keruntuhan Majapahit "sirna ilang krtaning
bhumi" yang berarti tahun1400 Saka/1478 M, tercatat dalam Serat Kanda dan Babad
Tanah Jawi, dan secara leksikal dan gramatikal dapat didefinisikan ulang
sebagai "musnah hilang sudah selesai pekerjaan bumi" (berkonotasi kemusnahan
akibat bencana kebumian/geologi); (3) tesis peristiwa "guntur pawatugunung"
pada tahun1403 Saka/1481 M yang telah banyak ditafsirkan para ahli sebagai
bencana letusan gunungapi (atau dalam hal ini gununglumpur) yang berkaitan
dengan "sirna ilang krtaning bhumi" berdasarkan saat kejadian yang berdekatan
atau sebenarnya bersamaan; (4) tesis folklor "Timun Mas" yang berkembang pada
masa Jenggala dan Kediri yang isi ceritanya sangat mirip dengan peristiwa
kejadian erupsi gununglumpur, sehingga cerita rakyat ini bernilai dichtung und
wahrheit (antara cerita dan kenyataan) untuk menggambarkan proses kejadian
alam; dan (5) tesis geologi wilayah Jenggala dan Majapahit yang menunjukkan
bahwa kedua kerajaan ini berlokasi di depresi Kendeng bagian timur yang di
atasnya sebagian ditutupi oleh delta Brantas dan bersifat elisional. Suatu
sistem elisional akan mendorong terjadinya gejala diapir dan erupsi
gununglumpur.
Depresi Kendeng tempat Jenggala dan Majapahit berlokasi merupakan sistem
elisional yang ideal yang dicirikan oleh : sedimen lempungan dengan sisipan
pasiran sangat tebal yang diendapkan dalam waktu singkat, sehingga tidak
terkompaksi sempurna, labil, overpressured, transformasi mineral lempung
smektit ke ilit yang intensif; mempunyai gradien geotermal yang tinggi akibat
berbatasan dengan jalur gunungapi di sebelah selatan; dan terkompresi kuat
sehingga membentuk jalur antiklinorium. Sejumlah gununglumpur yang ditemukan di
sepanjang depresi Kendeng dari Purwodadi sampai Selat Madura, di bekas wilayah
Majapahit dan Jenggala (misalnya : bledug Kuwu, bledug Kesongo, Gunung Anyar,
Kalang Anyar, Pulungan, LUSI) membuktikan efektivitas sistem elisional depresi
Kendeng yang telah aktif sejak Plio-Pleistosen.
Berdasarkan asas uniformisme (masa kini adalah kunci ke masa lalu - the present
is the key to the past) dan bahwa wilayah Majapahit, Jenggala, dan LUSI
berlokasi di wilayah yang sama; maka apa yang sekarang tengah terjadi dengan
LUSI, dapat terjadi juga pada masa Jenggala dan Majapahit sebagai bencana yang
cukup berarti untuk kemunduran kedua kerajaan tersebut. Data sumber sejarah,
cerita rakyat, dan analisis geologi mendukung hal ini. Diperlukan kerja sama
antara ahli sejarah, arkeologi, dan geologi untuk meneliti ulang naskah-naskah
lama sumber sejarah, mempelajari kembali situs-situs purbakala Majapahit dan
Jenggala, dan melakukan penyelidikan geologi lapangan untuk memeriksa
kemungkinan keberadaan endapan gununglumpur di daerah-daerah yang telah
diidentifikasi dalam studi ini.
ABSTRACT
Jenggala and Majapahit are two empires of 11th to early 16th centuries located
at the Brantas delta, East Java, Indonesia. The growth, rise, and fall of
these two empires are more or less related to geological processes undergone by
the Brantas delta. The Jenggala empire lasted for only 50 years, fell in 1116
AD, and annexed by the Kediri empire. The Majapahit empire started in 1293 AD,
rose successfully during almost the first hundred years, declined, and fell in
1478 AD, became the subordinate to the Demak empire, and ended in 1518 AD.
Based on interpretations of the historical chronicles of the Kitab Pararaton,
Serat Kanda, and Babad Tanah Jawi, folklore developing in the Jenggala and
Kediri period, geological setting of the area where Jenggala and Majapahit
existed, and making an analogue to the present LUSI (Sidoarjo mud) mud volcano
eruption which occurred close to the area where the center of the Jenggala
empire was; there is a possibility that natural disasters of mud volcanoes
eruptions had declined both Jenggala and Majapahit empires before they were
annexed by the competing empires.
The hypothesis that the decline of the Jenggala and Majapahit empires was
caused by natural disaster is based on and examined by five theses as follows.
(1) Thesis of disasters called "banyu pindah" 1334 AD and "pagunung anyar"
1374 AD written in the Kitab Pararaton; (2) Thesis of chronowords
("suryasengkala") explaining the fall of the Majapahit empire : "sirna ilang
krtaning bhumi" meaning 1400 Caka/1478 AD written in the Serat Kanda and Babad
Tanah Jawi, which textually and grammatically can be re-defined as "loss by an
earthy work" indicating a geological disaster; (3) Thesis of an event called
the "guntur pawatugunung" in 1403 Caka/1481 AD which has mostly been
interpreted as volcanic eruption (could also be mud volcano eruption) and is
considerd as related to the "sirna ilang krtaning bhumi" because of their
contemporaneity. (4) Thesis of folklore called "Timun Mas" which developed in
the Jenggala/Kediri period; this story perfectly represents the sequences of
mud vocano eruption. The story was possibly composed to explain this eruption;
(5) Thesis of the geological setting of the areas where Jenggala and Majapahit
empires were located; the two empires were located at the eastern part of the
Kendeng depression partly covered by the Brantas delta; the Kendeng depression
is an elisional basin, a condition required for the occurrence of mud volcano
eruption.
The Kendeng depression is an ideal elisonal system characterized by thick young
clayey and sandy sediments rapidly deposited into the subsiding basin, not
perfectly compacted, mobile, overpressured, intensive smectite to illite
transformation; high geothermal gradient due to the southern border of volcanic
arc; and strongly compressed forming anticlinorium. A number of mud volcanoes
found along the Kendeng depression from Purwodadi to the Madura straits (such
as bledug Kuwu, bledug Kesongo, Gunung Anyar, Kalang Anyar, Pulungan, LUSI)
prove the effectivity of elisional system of the Kendeng trough which has been
active since the Plio-Pleistocene.
Based on the geological principle of uniformity (the present is the key to the
past) and that LUSI, Jenggala and Majapahit share a same place, it is
considered that what is occurring presently on LUSI eruption could also happen
during the Jenggala and Majapahit periods as natural disasters which
significantly declined the two empires. This consideration is supported by
historical chronicles, folklore, and geological analysis. A collaboration of
historians, archaeologists, and geologists are required for confirming the
hypothesis. The historical chronicles should be deliberately examined to check
the treatises on disasters, the archaeological sites of Majapahit and Jenggala
should be re-visited, and the areas of expected mud volcanoes during the
Majapahit and Jenggala periods indicated in this study should be geologically
investigated.
PENDAHULUAN
Delta Brantas, Jawa Timur secara politik penting sebagai tempat lahirnya dan
pusat kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia, dalam hal ini adalah : Medang,
Kahuripan, Jenggala, dan Majapahit. Dalam makalah ini, kerajaan
Jenggala/Janggala (1041 M) dan kerajaan Majapahit (1293-1520 M) mendapatkan
pembahasan utama. Tidak banyak yang diketahui tentang Jenggala, kerajaan ini
dalam waktu yang tidak lama segera lenyap dan dianeksasi oleh pesaingnya,
kerajaan Kediri (Panjalu/Daha), yang terkenal dalam periode 1050-1222 M.
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan dalam sejarah Indonesia yang paling
terkenal. Di bawah mahapatih Gajah Mada dan raja Hayam Wuruk, kerajaan ini
menguasai wilayah seluas hampir seluruh wilayah Indonesia sekarang, ditambah
wilayah-wilayah Indocina, Thailand, Malaysia, Timor, dan Filipina sekarang.
Kemelut politik, perebutan kekuasaan, dan peperangan adalah faktor-faktor yang
sering dipakai sebagai alasan kemunduran dan keruntuhan ("sandhyâkâla -
senjakala") kerajaan-kerajaan Jenggala dan Majapahit. Terbentuknya kerajaan
Islam pertama di Jawa, Demak, pada menjelang tahun 1500 M, juga sering dipakai
sebagai penyebab kemunduran Majapahit. Bencana alam adalah faktor lain yang
oleh beberapa peneliti dianggap sebagai faktor utama penyebab kemunduran
khususnya kerajaan Majapahit.
Delta Brantas secara tektonik dan sedimentasi adalah wilayah yang labil. Zone
depresi dan antiklinorium Kendeng dan depresi tengah Jawa (axial Java trough)
menyusun sebagian besar wilayah delta ini. Ke dalam kedua depresi ini
diendapkan sedimen volkanoklastik yang sangat tebal dalam waktu yang relatif
singkat. Kedua depresi ini kemudian tertekan secara kuat membentuk jalur-jalur
antiklin (antiklinorium) memanjang dari barat ke timur. Aktivitas tektonik
masih berlangsung sampai sekarang. Kedua depresi ini pun menjadi tempat
penampungan hasil erupsi gunungapi-gunungapi yang berlokasi di sebelah
selatannya, sejak Miosen sampai sekarang.
Pada 29 Mei 2006 sebuah semburan/erupsi lumpur panas dan air, sering disebut
"lumpur Sidoarjo (Lusi)" terjadi di wilayah Kabupaten Sidoarjo yang masih
merupakan bagian delta Brantas. Semburan ini diperkirakan berkaitan baik dengan
aktivitas pemboran eksplorasi Banjar Panji-1 yang dilakukan oleh perusahaan
minyak Lapindo Brantas, maupun dengan gempa di Yogyakarta yang terjadi dua hari
sebelumnya. Erupsi air dan lumpur panas ini sampai sekarang masih terjadi,
telah lima belas bulan, menenggelamkan banyak desa di beberapa kecamatan di
wilayah Kabupaten Sidoarjo. Para ahli geologi yang mempelajari kasus ini
menyebutkan bahwa erupsi "Lusi" adalah erupsi gununglumpur (mud volcano). Di
sepanjang jalur Kendeng dan depresi tengah Jawa ini, dari batas barat di
selatan Semarang sampai batas timur di bagian timur Selat Madura, banyak
ditemukan fenomena gununglumpur, baik sudah mati, istirahat (dormant), maupun
masih aktif. Di beberapa wilayah, fenomena gununglumpur ini suka disebut
"gunung anyar" (gunung baru) sebab memang gunung ini pada mulanya tidak ada dan
menjadi ada setelah terjadi erupsi.
Beberapa kitab lama yang suka dijadikan sumber sejarah kerajaan-kerajaan Hindu
di Jawa Timur, dalam hal ini kitab Pararaton, Serat Kanda, dan Babad Tanah Jawi
memuat beberapa tulisan yang dapat ditafsirkan dalam konteks geologi
berhubungan dengan dinamika tektonik delta Brantas. Kitab-kitab ini menuliskan
hal-hal tersebut sebagai masa akhir kerajaan atau bencana. Pararaton memuat
bencana "banyu pindah", "pagunung anyar" terjadi pada masa Majapahit. Serat
Kanda memuat bencana "guntur pawatu gunung", dan Babad Tanah Jawi memuat "sirna
ilang krtaning bhumi" sebagai masa akhir Majapahit. Di dalam makalah ini,
keterangan-keterangan dari kitab-kitab lama tersebut telah ditafsirkan sebagai
bencana erupsi gununglumpur dan/atau gunungapi.
Folklor (folklore)/cerita rakyat "Timun Mas" yang diyakini berkembang pada masa
kerajaan Jenggala dan Kediri bila dihayati isinya sambil mengingat konteks
geologi wilayah Jenggala juga dapat menunjukkan suatu asal kejadian fenomena
semacam erupsi gununglumpur.
Berbagai keterangan di atas, yang meliputi keterangan-keterangan geologi,
sejarah, cerita rakyat, dan menganalogi kepada kejadian bencana erupsi
gununglumpur "Lusi" pada masa kini - yang terjadi di wilayah yang dulunya
menjadi wilayah kerajaan Jenggala dan Majapahit - telah diramu sedemikian rupa
di dalam makalah ini dan menghasilkan suatu tesis bahwa kemunduran dan
keruntuhan kerajaan-kerajaan Jenggala dan Majapahit selain oleh alasan politik,
juga oleh bencana geologi.
KESIMPULAN
1. Delta Brantas mempunyai kedudukan penting dalam sejarah perkembangan
dan keruntuhan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur pada sekitar tahun 950 M - 1500
M. Empat buah kerajaan, Medang, Kahuripan, Jenggala dan Majapahit, pernah
berlokasi di wilayah delta Brantas.
2. Keruntuhan Jenggala pada 1116 M menurut sejarah disebabkan oleh
aneksasi kerajaan Kediri, sedangkan keruntuhan kerajaan Majapahit pada 1478 M
disebabkan pertikaian suksesi penerus kerajaan dan pelemahan oleh kerajaan
Demak. Berdasarkan beberapa sumber sejarah dan kondisi geologi wilayah
kerajaan, terbuka kemungkinan bahwa kerajaan Jenggala dan kerajaan Majapahit
telah mengalami kemunduran yang berarti akibat bencana alam sebelum dianeksasi
oleh kerajaan-kerajaan pesaingnya.
3. Berdasarkan beberapa sumber sejarah (kitab Pararaton,Serat Kanda, Babad
Tanah Jawi), cerita rakyat, analisis geologi depresi Kendeng dan delta Brantas,
dan analogi terhadap kejadian saat ini berupa bencana semburan lumpur panas di
Sidoarjo (LUSI) yang terjadi di dekat lokasi pusat kerajaan Jenggala,
dihipotesiskan bahwa telah terjadi bencana erupsi gununglumpur seperti LUSI
pada masa Jenggala dan Majapahit yang akibatnya cukup berarti untuk memundurkan
kedua kerajaan tersebut.
4. Hipotesis bencana erupsi gununglumpur pada masa Jenggala dan Majapahit
didasarkan kepada dan diteliti melalui lima tesis seperti di bawah ini.
a. Tesis bencana "banyu pindah" pada 1256 Saka (1334 M) dan bencana
"pagunung anyar" pada 1296 Saka (1374 M) yang tercatat pada kitab Pararaton
(ditulis 1613 M). Kompleks erupsi gununglumpur masa Majapahit itu diperkirakan
terjadi pada jalur Tunggorono-Jombatan-Segunung-Canggu-Bangsal (dari selatan
Jombang-Tarik sepanjang 25 km).
b. Tesis suryasengkala yang dibuat untuk mengabadikan peristiwa keruntuhan
Majapahit "sirna ilang krtaning bhumi" yang dalam Serat Kanda dan Babad Tanah
Jawi (ditulis pada awal abad ke-18) yang berarti angka tahun 1400 Saka (1478
M). Secara leksikal dan gramatikal, sengkalan ini dapat didefinisikan ulang
sebagai "musnah hilang sudah selesai pekerjaan bumi" yang berkonotasi suatu
kemusnahan akibat bencana kebumian (geologi).
c. Tesis peristiwa "guntur pawatugunung" yang terjadi pada 1403 Saka
(1481 M) atau hampir bersamaan atau bahkan mungkin sebenarnya seperiode dengan
peristiwa "sirna ilang krtaning bhumi". Peristiwa ini banyak ditafsirkan para
ahli sejarah sebagai bencana letusan gunungapi, tetapi bisa saja berkaitan
dengan erupsi gununglumpur. Kebersamaan periode tersebut mengindikasi bahwa
"sirna ilang krtaning bhumi" adalah akibat "guntur pawatugunung".
d. Tesis folklor "Timun Mas" yang berkembang pada masa Jenggala dan Kediri
yang dapat diklasifikasikan sebagai legenda dengan isi cerita yang sangat mirip
dengan peristiwa kejadian erupsi gununglumpur. Maka, folklor "Timun Mas"
bernilai "dichtung und wahrheit" atau antara cerita dan kenyataan bercampur
yang dikarang untuk menjelaskan suatu peristiwa alam.
e. Tesis geologi wilayah Jenggala dan Majapahit yang menunjukkan bahwa
kedua kerajaan ini berlokasi di depresi Kendeng bagian timur yang di bagian
atasnya ditutupi sedimen delta Brantas. Depresi Kendeng merupakan sistem
elisional yang ideal karena : (1) ke dalamnya diendapkan sedimen lempungan
dengan sisipan pasiran yang sangat tebal dalam waktu yang singkat, sehingga
tidak terkompaksi sempurna, labil, overpressured, terjadi transformasi mineral
lempung smektit ke ilit secara intensif, (2) mempunyai gradien geotermal yang
tinggi karena depresi Kendeng dibatasi jalur gunungapi di sebelah selatannya,
dan (3) terkompresi kuat oleh dorongan frontal zone penunjaman di selatan Jawa
Tmur sehingga membentuk antiklinorium. Kondisi elisional ini selanjutnya akan
mendorong terjadinya erupsi gununglumpur. Hal ini telah dibuktikan oleh
hadirnya sejumlah gununglumpur di depresi Kendeng dari Purwodadi sampai Selat
Madura (misalnya : bledug Kuwu, bledug Kesongo, Gunung Anyar, Kalang Anyar,
Pulungan, LUSI). Sistem elisional depresi Kendeng ini telah terjadi sejak
Plio-Pleistosen.
5. LUSI (lumpur Sidoarjo) adalah erupsi gununglumpur dengan tipe morfologi
swamp-like area dan crater muddy lake. LUSI adalah bukti terbaru bahwa erupsi
gununglumpur berpotensi terjadi di wilayah depresi Kendeng. Berdasarkan asas
uniformisme (masa kini adalah kunci ke masa lalu - the present is the key to
the past) dan bahwa wilayah Majapahit, Jenggala, dan LUSI berlokasi di wilayah
yang sama; maka apa yang sekarang tengah terjadi dengan LUSI, dapat terjadi
juga pada masa Jenggala dan Majapahit sebagai bencana yang cukup berarti untuk
kemunduran kedua kerajaan tersebut. Data sumber sejarah, cerita rakyat, dan
analisis geologi mendukung hal ini.
REKOMENDASI
Hipotesis kebencanaan geologi erupsi gununglumpur pada masa Jenggala dan
Majapahit ini memerlukan konfirmasi ahli sejarah untuk memeriksa ulang
naskah-naskah sumber-sumber sejarah Pararaton, Serat Kanda, dan Babad Tanah
Jawi tentang kejadian-kejadian kebencanaan selama masa Majapahit seperti
dijelaskan di dalam tesis-tesis di atas. Diperlukan juga konfirmasi dari para
ahli arkeologi tentang kemungkinan kebencanaan geologi sebagai salah satu
faktor dalam runtuhnya Jenggala dan Majapahit. Situs kepurbukalaan Majapahit di
museum Trowulan selatan Jombang dapat dipelajari ulang untuk mengkaji
kemungkinan hal tersebut. Suatu bencana geologi seperti erupsi gununglumpur
atau gunungapi akan meninggalkan bekas berupa endapan lumpur atau piroklastika
di wilayah yang dilandanya. Hipotesis kebencanaan Jenggala dan Majapahit ini
harus dikonfirmasi dengan mencari bukti lapangan di wilayah bekas Majapahit dan
Jenggala. Beberapa gununglumpur di wilayah bekas Jenggala telah diidentifikasi
di Kabupaten Sidoarjo sekarang (Gunung Anyar, Kalang Anyar, Pulungan).
Deformasi yang diperkirakan berhubungan dengan erupsi gununglumpur-gununglumpur
pada masa Majapahit telah diindikasi melalui penyelidikan Nash (1931).
Diperlukan penyelidikan geologi lapangan pada jalur
Tunggorono-Jombatan-Segunung-Canggu-Bangsal yaitu di lokasi Jombang-Tarik di
utara kali Porong. ***