Sejak beberapa bulan yang lalu, saya mulai mengirimkan secara bertahap seri 
tulisan tentang kemungkinan kebencanaan geologi (gunung lumpur dan/atau 
gunungapi) pada masa Jenggala dan Majapahit (abad 10-16 M) yang mungkin 
berkontribusi secara berarti kepada sandhyakala (masa akhir) kedua kerajaan 
tersebut. Dalam beberapa bulan ini, saya melakukan riset pustaka atas sekitar 
40 literatur sejarah dan data geologi dipublikasi dan tak dipublikasi dengan 
rentang tahun penerbitan 1900-2007  (buku-buku lama awal 1900-an itu sebenarnya 
sudah belasan tahun bersama saya, hanya baru belakangan ini saya pelajari 
secara lebih hati2). 

 

Setiap penemuan dalam riset pustaka itu saya komunikasikan secara bertahap 
kepada kawan2 di beberapa milis untuk menginformasikan penemuan itu, sekaligus 
untuk mengumpulkan komentar berupa saran, kritik, dll. untuk perbaikan. Terima 
kasih secara khusus kepada Pak Rovicky yang telah memuat e-mail2 saya tersebut 
di blog dongeng geologi. Saya telah membaca semua komentar yang diberikan, 
terutama dari pembaca non-geologist. 

 

Tulisan lengkap tentang ini telah selesai dan nanti akan dipresentasikan di JCB 
November 2007. Di bawah ini adalah sari, abstract, pendahuluan, kesimpulan, dan 
rekomendasi pemikiran tersebut untuk sekedar memberikan gambaran tentang latar 
belakang, hasil riset, dan langkah-langkah selanjutnya.  Saya merasa perlu 
mengirimkannya ke milis IAGI karena saya telah memulainya beberapa bulan yang 
lalu. Ada awal, tentu ada akhirnya. Ini adalah akhir dari seri tulisan itu dan 
telah didasarkan kepada riset pustaka dan data geologi yang diintegrasikan. 
Semoga berguna buat para peminat sejarah, cerita rakyat, dan geologi.  

 

Riset pribadi ini telah mengajarkan sesuatu kepada saya, yaitu  : terbuka 
peluang meneliti ulang semua sejarah dan cerita rakyat di Indonesia yang  
sedikit banyak mengandung latar belakang geologi.

 

salam,

awang

 

Bencana Geologi dalam "Sandhyâkâla" Jenggala dan Majapahit : Hipotesis Erupsi 
Gununglumpur Historis Berdasarkan Kitab Pararaton, Serat Kanda, Babad Tanah 
Jawi; Folklor Timun Mas; Analogi Erupsi LUSI; dan Analisis Geologi Depresi 
Kendeng-Delta Brantas

 

Geological Disaster on the Falls of Jenggala and Majapahit Empires :

A Hypothesis of Historical Mud Volcanoes Eruptions Based On Historical 
Chronicles of Kitab Pararaton, Serat Kanda, Babad Tanah Jawi; Folklore of Timun 
Mas; Analogue to the Present LUSI Eruption; and Geological Analysis of the 
Kendeng Depression - Brantas Delta

 

 

Awang Harun Satyana

(BPMIGAS)

 

 

SARI

 

Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Majapahit berpusat di delta Brantas, Jawa Timur 
pada sekitar  abad ke-11 sampai awal abad ke-16. Perkembangan, kemajuan, dan 
keruntuhan kedua kerajaan ini sedikit banyak berkaitan dengan proses-proses 
geologi yang terjadi pada delta Brantas. Kerajaan Jenggala hanya bertahan 
sekitar 50 tahun,  runtuh pada tahun 1116 M, dan sejak itu wilayahnya menjadi 
bagian Kerajaan Kediri. Kerajaan Majapahit berawal pada 1293 M, maju dalam 
hampir seratus tahun pertama, mundur, runtuh pada 1478 M, menjadi bawahan 
Kerajaan Demak, dan berakhir pada 1518 M. 

 

Berdasarkan penafsiran beberapa sumber sejarah (Kitab Pararaton, Serat Kanda, 
Babad Tanah Jawi), cerita rakyat, kondisi geologi wilayah Jenggala dan 
Majapahit, dan analogi terhadap semburan lumpur panas di Sidoarjo (LUSI) yang 
berlokasi di dekat pusat kerajaan Jenggala, terbuka kemungkinan bahwa kedua 
kerajaan tersebut telah mengalami kemunduran yang berarti akibat bencana alam 
berupa erupsi gunung-gununglumpur sebelum dianeksasi oleh kerajaan-kerajaan 
pesaingnya.

 

Hipotesis bencana erupsi gununglumpur pada masa Jenggala dan Majapahit 
didasarkan dan diteliti melalui lima tesis : (1) tesis bencana  "banyu pindah" 
1334 M dan bencana "pagunung anyar" 1374 M yang tercatat pada Kitab Pararaton; 
(2) tesis suryasengkala peristiwa keruntuhan Majapahit "sirna ilang krtaning 
bhumi" yang berarti tahun1400 Saka/1478 M, tercatat dalam Serat Kanda dan Babad 
Tanah Jawi, dan secara leksikal dan gramatikal dapat didefinisikan ulang 
sebagai "musnah hilang sudah selesai pekerjaan bumi" (berkonotasi kemusnahan 
akibat bencana kebumian/geologi); (3) tesis peristiwa "guntur pawatugunung" 
pada tahun1403 Saka/1481 M yang telah banyak ditafsirkan para ahli sebagai 
bencana letusan gunungapi (atau dalam hal ini gununglumpur) yang berkaitan 
dengan  "sirna ilang krtaning bhumi" berdasarkan saat kejadian yang berdekatan 
atau sebenarnya bersamaan; (4) tesis folklor "Timun Mas" yang berkembang pada 
masa Jenggala dan Kediri yang isi ceritanya sangat mirip dengan peristiwa 
kejadian erupsi gununglumpur, sehingga cerita rakyat ini bernilai  dichtung und 
wahrheit (antara cerita dan kenyataan) untuk menggambarkan proses kejadian 
alam; dan (5) tesis geologi wilayah Jenggala dan Majapahit yang menunjukkan 
bahwa kedua kerajaan ini berlokasi di depresi Kendeng bagian timur yang di 
atasnya sebagian ditutupi oleh delta Brantas dan bersifat elisional. Suatu 
sistem elisional akan mendorong terjadinya gejala diapir dan erupsi 
gununglumpur.

 

Depresi Kendeng tempat Jenggala dan Majapahit berlokasi merupakan sistem 
elisional yang ideal yang dicirikan oleh : sedimen lempungan dengan sisipan 
pasiran sangat tebal yang diendapkan dalam waktu singkat, sehingga tidak 
terkompaksi sempurna, labil, overpressured, transformasi mineral lempung 
smektit ke ilit yang intensif; mempunyai gradien geotermal yang tinggi akibat 
berbatasan dengan jalur gunungapi di sebelah selatan; dan terkompresi kuat 
sehingga membentuk jalur antiklinorium. Sejumlah gununglumpur yang ditemukan di 
sepanjang depresi Kendeng dari Purwodadi sampai Selat Madura, di bekas wilayah 
Majapahit dan Jenggala (misalnya : bledug Kuwu, bledug Kesongo, Gunung Anyar, 
Kalang Anyar, Pulungan, LUSI) membuktikan efektivitas sistem elisional depresi 
Kendeng yang telah aktif sejak Plio-Pleistosen.

 

Berdasarkan asas uniformisme (masa kini adalah kunci ke masa lalu - the present 
is the key to the past) dan bahwa wilayah Majapahit, Jenggala, dan LUSI  
berlokasi di wilayah yang sama; maka apa yang sekarang tengah terjadi dengan 
LUSI, dapat terjadi juga pada masa Jenggala dan Majapahit sebagai bencana yang 
cukup berarti untuk kemunduran kedua kerajaan tersebut. Data sumber sejarah, 
cerita rakyat, dan analisis geologi mendukung hal ini. Diperlukan kerja sama 
antara ahli sejarah, arkeologi, dan geologi untuk meneliti ulang naskah-naskah 
lama sumber sejarah, mempelajari kembali situs-situs purbakala Majapahit dan 
Jenggala, dan melakukan penyelidikan geologi lapangan untuk memeriksa 
kemungkinan keberadaan endapan gununglumpur di daerah-daerah yang telah 
diidentifikasi dalam studi ini.

 

 

ABSTRACT

 

Jenggala and Majapahit are two empires of 11th to early 16th centuries located 
at the  Brantas delta, East Java, Indonesia. The growth, rise, and fall of 
these two empires are more or less related to geological processes undergone by 
the Brantas delta. The Jenggala empire lasted for only 50 years, fell in 1116 
AD, and annexed by the Kediri empire. The Majapahit empire started in 1293 AD, 
rose successfully during almost the first hundred years, declined, and fell in 
1478 AD, became the subordinate to the Demak empire, and ended in 1518 AD. 

 

Based on interpretations of the historical chronicles of the Kitab Pararaton, 
Serat Kanda, and Babad Tanah Jawi, folklore developing in the Jenggala and 
Kediri period, geological setting of the area where Jenggala and Majapahit 
existed, and making an analogue to the present LUSI (Sidoarjo mud) mud volcano 
eruption which occurred close to the area where the center of the Jenggala 
empire was; there is a possibility that natural disasters of mud volcanoes 
eruptions had declined both Jenggala and Majapahit empires before they were 
annexed by the competing empires.  

 

The hypothesis that the decline of the Jenggala and Majapahit empires was 
caused by natural disaster is based on and examined by five theses as follows. 
(1) Thesis of  disasters called  "banyu pindah" 1334 AD and "pagunung anyar" 
1374 AD written in the Kitab Pararaton; (2) Thesis of chronowords 
("suryasengkala") explaining the fall of the Majapahit empire :  "sirna ilang 
krtaning bhumi" meaning 1400 Caka/1478 AD written in the Serat Kanda and Babad 
Tanah Jawi, which textually and grammatically can be re-defined as "loss by an 
earthy work" indicating a geological disaster; (3) Thesis of an event called 
the  "guntur pawatugunung" in 1403 Caka/1481 AD which has mostly been 
interpreted as volcanic eruption (could also be mud volcano eruption) and is 
considerd as related to the "sirna ilang krtaning bhumi" because of their 
contemporaneity. (4) Thesis of folklore called "Timun Mas" which developed in 
the Jenggala/Kediri period; this story perfectly represents the sequences of 
mud vocano eruption. The story was possibly composed to explain this eruption; 
(5) Thesis of the geological setting of the areas where Jenggala and Majapahit 
empires were located; the two empires were located at the eastern part of the 
Kendeng depression partly covered by the Brantas delta; the Kendeng depression 
is an elisional basin, a condition required for the occurrence of mud volcano 
eruption.

 

The Kendeng depression is an ideal elisonal system characterized by thick young 
clayey and sandy sediments rapidly deposited into the subsiding basin, not 
perfectly compacted, mobile, overpressured, intensive smectite to illite 
transformation; high geothermal gradient due to the southern border of volcanic 
arc; and strongly compressed forming anticlinorium. A number of mud volcanoes 
found along the Kendeng depression from Purwodadi to the Madura straits (such 
as bledug Kuwu, bledug Kesongo, Gunung Anyar, Kalang Anyar, Pulungan, LUSI) 
prove the effectivity of elisional system of the Kendeng trough which has been 
active since the Plio-Pleistocene.

 

Based on the geological principle of uniformity (the present is the key to the 
past) and that LUSI, Jenggala and Majapahit share a same place, it is 
considered that what is occurring presently on LUSI eruption could also happen 
during the Jenggala and Majapahit periods as natural disasters which 
significantly declined the two empires. This consideration is supported by 
historical chronicles, folklore, and geological analysis. A collaboration of 
historians, archaeologists, and geologists are required for confirming  the 
hypothesis. The historical chronicles should be deliberately examined to check 
the treatises on disasters,  the archaeological sites of Majapahit and Jenggala 
should be re-visited, and the areas of expected mud volcanoes during the 
Majapahit and Jenggala periods indicated in this study should be geologically 
investigated.  

 

PENDAHULUAN

 

Delta Brantas, Jawa Timur secara politik penting sebagai tempat lahirnya dan 
pusat kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia, dalam hal ini adalah : Medang, 
Kahuripan, Jenggala, dan Majapahit. Dalam makalah ini, kerajaan 
Jenggala/Janggala (1041 M) dan kerajaan Majapahit (1293-1520 M) mendapatkan 
pembahasan utama. Tidak banyak yang diketahui tentang Jenggala, kerajaan ini 
dalam waktu yang tidak lama segera lenyap dan dianeksasi oleh pesaingnya, 
kerajaan Kediri (Panjalu/Daha), yang terkenal dalam periode 1050-1222 M. 
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan dalam sejarah Indonesia yang paling 
terkenal. Di bawah mahapatih Gajah Mada dan raja Hayam Wuruk, kerajaan ini 
menguasai wilayah seluas hampir seluruh wilayah Indonesia sekarang, ditambah 
wilayah-wilayah Indocina, Thailand, Malaysia, Timor, dan Filipina sekarang.

 

Kemelut politik, perebutan kekuasaan, dan peperangan adalah faktor-faktor yang 
sering dipakai sebagai alasan kemunduran dan keruntuhan ("sandhyâkâla - 
senjakala") kerajaan-kerajaan Jenggala dan Majapahit. Terbentuknya kerajaan 
Islam pertama di Jawa, Demak, pada menjelang tahun 1500 M, juga sering dipakai 
sebagai penyebab kemunduran Majapahit. Bencana alam adalah faktor lain yang 
oleh beberapa peneliti dianggap sebagai faktor utama penyebab kemunduran 
khususnya kerajaan Majapahit.

 

Delta Brantas secara tektonik dan sedimentasi adalah wilayah yang labil. Zone 
depresi dan antiklinorium Kendeng dan depresi tengah Jawa (axial Java trough) 
menyusun sebagian besar wilayah delta ini. Ke dalam kedua depresi ini 
diendapkan sedimen volkanoklastik yang sangat tebal dalam waktu yang relatif 
singkat. Kedua depresi ini kemudian tertekan secara kuat membentuk jalur-jalur 
antiklin (antiklinorium) memanjang dari barat ke timur. Aktivitas tektonik 
masih berlangsung sampai sekarang. Kedua depresi ini pun menjadi tempat 
penampungan hasil erupsi gunungapi-gunungapi yang berlokasi di sebelah 
selatannya, sejak Miosen sampai sekarang.

 

Pada 29 Mei 2006 sebuah semburan/erupsi lumpur panas dan air, sering disebut 
"lumpur Sidoarjo (Lusi)" terjadi di wilayah Kabupaten Sidoarjo yang masih 
merupakan bagian delta Brantas. Semburan ini diperkirakan berkaitan baik dengan 
aktivitas pemboran eksplorasi Banjar Panji-1 yang dilakukan oleh perusahaan 
minyak Lapindo Brantas, maupun dengan gempa di Yogyakarta yang terjadi dua hari 
sebelumnya. Erupsi air dan lumpur panas ini sampai sekarang masih terjadi, 
telah lima belas bulan, menenggelamkan banyak desa di beberapa kecamatan di 
wilayah Kabupaten Sidoarjo. Para ahli geologi yang mempelajari kasus ini 
menyebutkan bahwa erupsi "Lusi" adalah erupsi gununglumpur (mud volcano). Di 
sepanjang jalur Kendeng dan depresi tengah Jawa ini, dari batas barat di 
selatan Semarang sampai batas timur di bagian timur Selat Madura, banyak 
ditemukan fenomena gununglumpur, baik sudah mati, istirahat (dormant), maupun 
masih aktif. Di beberapa wilayah, fenomena gununglumpur ini suka disebut 
"gunung anyar" (gunung baru) sebab memang gunung ini pada mulanya tidak ada dan 
menjadi ada setelah terjadi erupsi.

 

Beberapa kitab lama yang suka dijadikan sumber sejarah kerajaan-kerajaan Hindu 
di Jawa Timur, dalam hal ini kitab Pararaton, Serat Kanda, dan Babad Tanah Jawi 
memuat beberapa tulisan yang dapat ditafsirkan dalam konteks geologi 
berhubungan dengan dinamika tektonik delta Brantas. Kitab-kitab ini menuliskan 
hal-hal tersebut sebagai masa akhir kerajaan atau bencana. Pararaton memuat 
bencana "banyu pindah", "pagunung anyar" terjadi pada masa Majapahit. Serat 
Kanda memuat bencana "guntur pawatu gunung", dan Babad Tanah Jawi memuat "sirna 
ilang krtaning bhumi" sebagai masa akhir Majapahit. Di dalam makalah ini, 
keterangan-keterangan dari kitab-kitab lama tersebut telah ditafsirkan sebagai 
bencana erupsi gununglumpur dan/atau gunungapi.

 

Folklor (folklore)/cerita rakyat "Timun Mas" yang diyakini berkembang pada masa 
kerajaan Jenggala dan Kediri bila dihayati isinya sambil mengingat konteks 
geologi wilayah Jenggala juga dapat menunjukkan suatu asal kejadian fenomena 
semacam erupsi gununglumpur.

 

Berbagai keterangan di atas, yang meliputi keterangan-keterangan geologi, 
sejarah, cerita rakyat, dan menganalogi kepada kejadian bencana erupsi 
gununglumpur "Lusi" pada masa kini - yang terjadi di wilayah yang dulunya 
menjadi wilayah kerajaan Jenggala dan Majapahit - telah  diramu sedemikian rupa 
di dalam makalah ini dan menghasilkan suatu tesis bahwa kemunduran dan 
keruntuhan kerajaan-kerajaan Jenggala dan Majapahit selain oleh alasan politik, 
juga oleh bencana geologi. 

 

KESIMPULAN                                                                      
                            

 

1.      Delta Brantas mempunyai kedudukan penting dalam sejarah perkembangan 
dan keruntuhan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur pada sekitar tahun 950 M - 1500 
M. Empat buah kerajaan, Medang, Kahuripan, Jenggala dan Majapahit, pernah 
berlokasi di wilayah delta Brantas.

 

2.      Keruntuhan Jenggala pada 1116 M menurut sejarah disebabkan oleh 
aneksasi kerajaan Kediri, sedangkan keruntuhan kerajaan Majapahit pada 1478 M 
disebabkan pertikaian suksesi penerus kerajaan dan pelemahan oleh kerajaan 
Demak. Berdasarkan beberapa sumber sejarah dan kondisi geologi wilayah 
kerajaan, terbuka kemungkinan bahwa kerajaan Jenggala dan kerajaan Majapahit 
telah mengalami kemunduran yang berarti akibat bencana alam sebelum dianeksasi 
oleh kerajaan-kerajaan pesaingnya.

 

3.      Berdasarkan beberapa sumber sejarah (kitab Pararaton,Serat Kanda, Babad 
Tanah Jawi), cerita rakyat, analisis geologi depresi Kendeng dan delta Brantas, 
dan analogi terhadap kejadian saat ini berupa bencana semburan lumpur panas di 
Sidoarjo (LUSI) yang terjadi di dekat lokasi pusat kerajaan Jenggala, 
dihipotesiskan bahwa telah terjadi bencana erupsi gununglumpur seperti LUSI 
pada masa Jenggala dan Majapahit yang akibatnya cukup berarti untuk memundurkan 
kedua kerajaan tersebut.

 

4.      Hipotesis bencana erupsi gununglumpur pada masa Jenggala dan Majapahit 
didasarkan kepada dan diteliti melalui lima tesis seperti di bawah ini. 

 

a.       Tesis bencana "banyu pindah" pada 1256 Saka (1334 M) dan bencana 
"pagunung anyar" pada 1296 Saka (1374 M) yang tercatat pada kitab Pararaton 
(ditulis 1613 M). Kompleks erupsi gununglumpur masa Majapahit itu diperkirakan 
terjadi pada  jalur Tunggorono-Jombatan-Segunung-Canggu-Bangsal (dari selatan 
Jombang-Tarik sepanjang 25 km).

b.      Tesis suryasengkala yang dibuat untuk mengabadikan peristiwa keruntuhan 
Majapahit "sirna ilang krtaning bhumi" yang dalam Serat Kanda dan Babad Tanah 
Jawi (ditulis pada awal abad ke-18) yang berarti angka tahun 1400 Saka (1478 
M). Secara leksikal dan gramatikal, sengkalan ini dapat didefinisikan ulang 
sebagai "musnah hilang sudah selesai pekerjaan bumi" yang berkonotasi suatu 
kemusnahan akibat bencana kebumian (geologi).

c.       Tesis peristiwa "guntur pawatugunung" yang terjadi pada 1403 Saka 
(1481 M) atau hampir bersamaan atau bahkan mungkin sebenarnya seperiode dengan 
peristiwa "sirna ilang krtaning bhumi". Peristiwa ini banyak ditafsirkan para 
ahli sejarah sebagai bencana letusan gunungapi, tetapi bisa saja berkaitan 
dengan erupsi gununglumpur. Kebersamaan periode tersebut mengindikasi bahwa 
"sirna ilang krtaning bhumi" adalah akibat "guntur pawatugunung".

d.      Tesis folklor "Timun Mas" yang berkembang pada masa Jenggala dan Kediri 
yang dapat diklasifikasikan sebagai legenda dengan isi cerita yang sangat mirip 
dengan peristiwa kejadian erupsi gununglumpur. Maka, folklor "Timun Mas" 
bernilai "dichtung und wahrheit" atau antara cerita dan kenyataan bercampur 
yang dikarang untuk menjelaskan suatu peristiwa alam.

e.       Tesis geologi wilayah Jenggala dan Majapahit yang menunjukkan bahwa 
kedua kerajaan ini berlokasi di depresi Kendeng bagian timur yang di bagian 
atasnya ditutupi sedimen delta Brantas. Depresi Kendeng merupakan sistem 
elisional yang ideal karena : (1) ke dalamnya diendapkan sedimen lempungan 
dengan sisipan pasiran yang sangat tebal dalam waktu yang singkat, sehingga 
tidak terkompaksi sempurna, labil, overpressured, terjadi transformasi mineral 
lempung smektit ke ilit secara intensif, (2) mempunyai gradien geotermal yang 
tinggi karena depresi Kendeng dibatasi jalur gunungapi di sebelah selatannya, 
dan (3) terkompresi kuat oleh dorongan frontal zone penunjaman di selatan Jawa 
Tmur sehingga membentuk antiklinorium. Kondisi elisional ini selanjutnya akan 
mendorong terjadinya erupsi gununglumpur. Hal ini telah dibuktikan oleh 
hadirnya sejumlah gununglumpur di depresi Kendeng dari Purwodadi sampai Selat 
Madura (misalnya : bledug Kuwu, bledug Kesongo, Gunung Anyar, Kalang Anyar, 
Pulungan, LUSI). Sistem elisional depresi Kendeng ini telah terjadi sejak 
Plio-Pleistosen.

 

5.      LUSI (lumpur Sidoarjo) adalah erupsi gununglumpur dengan tipe morfologi 
 swamp-like area dan crater muddy lake. LUSI adalah bukti terbaru bahwa erupsi 
gununglumpur berpotensi terjadi di wilayah depresi Kendeng. Berdasarkan asas 
uniformisme (masa kini adalah kunci ke masa lalu - the present is the key to 
the past) dan bahwa wilayah Majapahit, Jenggala, dan LUSI  berlokasi di wilayah 
yang sama; maka apa yang sekarang tengah terjadi dengan LUSI, dapat terjadi 
juga pada masa Jenggala dan Majapahit sebagai bencana yang cukup berarti untuk 
kemunduran kedua kerajaan tersebut. Data sumber sejarah, cerita rakyat, dan 
analisis geologi mendukung hal ini. 

 

REKOMENDASI

 

Hipotesis kebencanaan geologi erupsi gununglumpur pada masa Jenggala dan 
Majapahit ini memerlukan konfirmasi ahli sejarah untuk memeriksa ulang 
naskah-naskah sumber-sumber sejarah Pararaton, Serat Kanda, dan Babad Tanah 
Jawi tentang kejadian-kejadian kebencanaan selama masa Majapahit seperti 
dijelaskan di dalam tesis-tesis di atas. Diperlukan juga konfirmasi dari para 
ahli arkeologi tentang kemungkinan kebencanaan geologi sebagai salah satu 
faktor dalam runtuhnya Jenggala dan Majapahit. Situs kepurbukalaan Majapahit di 
museum Trowulan selatan Jombang dapat dipelajari ulang untuk mengkaji 
kemungkinan hal tersebut. Suatu bencana geologi seperti erupsi gununglumpur 
atau gunungapi akan meninggalkan bekas berupa endapan lumpur atau piroklastika 
di wilayah yang dilandanya. Hipotesis kebencanaan Jenggala dan Majapahit ini 
harus dikonfirmasi dengan mencari bukti lapangan di wilayah bekas Majapahit dan 
Jenggala. Beberapa gununglumpur di wilayah bekas Jenggala telah diidentifikasi 
di Kabupaten Sidoarjo sekarang (Gunung Anyar, Kalang Anyar, Pulungan). 
Deformasi yang diperkirakan berhubungan dengan erupsi gununglumpur-gununglumpur 
pada masa Majapahit telah diindikasi melalui penyelidikan Nash (1931). 
Diperlukan penyelidikan geologi lapangan pada jalur 
Tunggorono-Jombatan-Segunung-Canggu-Bangsal yaitu di lokasi Jombang-Tarik di 
utara kali Porong. ***

 

 

 

 

Kirim email ke