Selamat ulang tahun emas eksplorasi angkasa luar !
Tanggal hari ini tepat lima puluh tahun yang lalu, 4 Oktober 1957, wahana pertama buatan manusia berupa satelit buatan bernama Sputnik 1 (Uni Soviet) berhasil masuk ke angkasa luar dan mengorbit Bumi. Inilah awal eksplorasi angkasa luar secara nyata oleh manusia. Untuk sampai ke pelontaran Sputnik 1 itu, sebelumnya ada usaha-usaha teoretis dan berbagai eksperimen sejak awal 1900-an bagaimana menerbangkan wahana bermesin jauh ke angkasa luar. Konstantin Tsiolkovsky (Uni Soviet), Robert Goddard (Amerika Serikat), Hermann Oberth dan Wernher von Braun (Jerman) adalah tokoh2 paling penting pelopor pemikiran dan eksperimen roket dan satelit. Uni Soviet dan Amerika Serikat adalah dua negara yang paling banyak melakukan eksplorasi angkasa luar ini. Seperti kita tahu, mereka sampai pertengahan tahun 70-an melakukannya dalam semangat berlomba. Tetapi sejak 1975, ketika ada kerja sama di angkasa luar antara wahana Soyuz Uni Soviet dan Apollo Amerika Serikat, mereka telah bekerja sama beberapa kali mengeksplorasi angkasa luar. Sejak 1990-an Jepang, asosiasi negara-negara Eropa, Australia, dan Cina telah menambah daftar negara pengeksplorasi angkasa luar. Apa saja yang telah dilakukan dalam 50 tahun mengeksplorasi angkasa luar ini ? Banyak sekali. Tercatat sekitar 250-275 peluncuran sejak 1957-2007. Peluncuran terakhir sebelum catatan ini disusun adalah pada 27 September 2007 minggu lalu yaitu peluncuran satelit "Dawn" untuk mengorbit dan meneliti asteroid Ceres dan Vesta. Sedikit dari beberapa peristiwa bersejarah dalam eksplorasi angkasa luar : * 4 Oktober 1957 : Uni Soviet (US) meluncurkan Sputnik-1 * 31 Januari 1958 : Amerika Serikat (AS) meluncurkan Explorer-1 * 12 April 1961 : Yuri Gagarin (US) menjadi orang pertama di angkasa luar * 20 Juli 1969 : Neil Armstrong dan Edwin Aldrin menjadi orang pertama yang berjalan di Bulan * 2 Maret 1972 : Pioneer 10 (AS) menjadi wahana luar angkasa pertama yang terbang keluar dari Tata Surya, komunikasi terakhir dengannya dilakukan pada 22 Januari 2003 pada jarak sejauh 7,6 milyar km dari Bumi. * 14 Mei 1973 : Skylab (AS), stasiun angkasa luar pertama diluncurkan * 15 Juli 1975 : Kerja sama pertama di angkasa luar, Soyuz (US) dan Apollo (AS) melakukan docking/saling menyambung * 20 Agustus 1975 : Viking 1 (AS) mengorbit dan mendarat di Mars * 20 Agustus 1977 : AS meluncurkan Voyager 2 untuk meneliti Yupiter dan Saturnus. Agustus 2007 lalu wahana ini telah keluar sampai sejauh 10 milyar km dari Bumi. * 12 April 1981 : AS meluncurkan wahana ulang-alik pertama, Columbia. * 28 Januari 1986 : Kecelakaan besar eksplorasi angkasa luar ketika wahana ulang-alik Challenger meledak di angkasa 73 detik setelah diluncurkan * 19 Februari 1986 : Uni Soviet meluncurkan stasiun angkasa luar pertama, MIR * 25 April 1990 : Hubble Space Telescope, satelit teleskop pertama di angkasa luar diluncurkan. * 2 Desember 1995 : SOHO Solar Observatory diluncurkan, pengamat Matahari dari dekat. * 20 November 1998 : Keping pertama Stasiun Angkasa Luar Internasional diluncurkan. Selama beberapa bulan secara bergantian astronot dan kosmonot dari AS, US dan negara lain bertugas di angkasa luar membangun stasiun ini. * 1999 : Stardust, wahana penguntit komet kembali ke Bumi membawa sampel ekor komet (coma) * 1 Februari 2003 : Wahana ulang-alik Columbia meledak ketika akan kembali ke Bumi, tujuh astronot tewas. Pengetahuan manusia tentang angkasa luar oleh 250-275 peluncuran selama 50 tahun itu sudah banyak tentunya, bahkan pengetahuan kita tentang angkasa luar adalah lebih banyak dan lebih detail daripada bagian dalam Bumi sendiri. Kita lebih tahu soal quasar, benda di tepi jagad raya yang milyaran tahun cahaya jaraknya dari Bumi daripada apa yang terjadi di bagian dalam inti Bumi yang jaraknya hanya 6300 km di bawah kaki kita. Berikut beberapa contoh pengetahuan kita tentang Alam Semesta yang dihasilkan oleh wahana-wahana angkasa luar. COBE (Cosmic Background Explorer) satelit yang diluncurkan AS pada 1989 adalah satelit yang dirancang khusus untuk mencari bukti Big Bang. Suatu letusan besar 18 milyar tahun yang lalu yang dianggap sebagai asal Alam Semesta akan menyisakan gelombang mikro yang mestinya masih bisa "didengar" sampai sekarang. Dengan melaksanakan riset keseluruhan langit menggunakan panjang gelombang mikro, COBE menemukan adanya variasi kecil (riak) pada radiasi yang merupakan peninggalan Big Bang. Ini menggembirakan para ahli kosmologi, bagian astronomi yang mempelajari asal-usul Alam Semesta. Di orbit nun jauh di sana, di angkasa luar, terdapat sebuah teleskop optik yang paling kuat di dunia sampai saat ini - Teleskop Angkasa Luar Hubble. Banyak teleskop besar dibangun di permukaan Bumi untuk mempelajari Alam Semesta. Tentu semua ini tak bisa kita bandingkan dengan teleskop satelit Hubble yang mengorbit di angkasa luar mengintip ke seluruh penjuru Alam Semesta dan mengirimkan datanya ke Bumi. Dibangun dengan biaya hampir 1,5 milyar USD, teleskop angkasa luar Hubble diluncurkan ke orbit dengan pesawat ulang-alik Discovery pada bulan April 1990. Apa yang sudah dilakukan oleh teleskop Hubble itu ? Tentu banyak sekali. Ini beberapa contoh. Merekam kerusakan pada Yupiter akibat benturan komet Shoemaker-Levy pada tahun 1994. Melihat pilar2 penciptaan pada EagleNebulae, tempat bintang2 terbentuk. Menunjukkan secara tepat protostar dengan proplyd (proto-planetary disc), yaitu kepingan pembungkus tempat planet-planet terbentuk. Menangkap gambar-gambar awan gas yang meledak ke dalam ruang angkasa pada peristiwa supernova (matinya bintang). Mengintip hingga ke pusat-pusat galaksi yang aktif. Menemukan bidang dalam galaksi-galaksi di kejauhan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Apa sebenarnya yang dicari manusia dengan usaha tak kenal lelah, berbahaya, rumit, dan memakan biaya jutaan-milyaran USD ini ? Yang pertama tentu adalah "curiosity" - keingintahuan manusia, kepentingan ilmu pengetahuan; ilmu pengetahuan tak akan berhenti untuk dirinya sendiri, ia selalu akan punya aplikasinya untuk manusia, sedikit maupun banyak. Mencari planet lain yang seperti Bumi, yang bisa ditinggali makhluk hidup seperti manusia, adalah salah satu tujuan akhir eksplorasi angkasa luar. Berdasarkan eksplorasi angkasa luar selama 50 tahun ini dan pengetahuan astronomi yang didasarkan kepadanya, secara teoretis kemungkinan adanya planet seperti Bumi di tempat lain sangatlah besar. Matahari hanyalah sebuah bintang biasa saja, terdapat milyaran bintang seperti Matahari di galaksi kita sendiri saja (Bima Sakti), dan kita tahu terdapat jutaan galaksi di Alam Semesta ini. Dengan asumsi bahwa planet2 lain terbentuk dengan cara yang sama seperti Tata Surya kita, maka sangat mungkin terdapat planet yang seperti Bumi. Tetapi, apakah ada bukti yang mendukungnya ? Hingga sekarang tidak ditemukan bukti2 langsung tentang adanya planet2 lain di luar Tata Surya kita. Sebelumnya, tidak ada planet lain yang teramti yang mengelilingi bintang-bintang lain. Tidak mengherankan, mengingat sulitnya melihat hal tersebut dari kejauhan. Tetapi, terdapat beberapa bukti tidak langsung. Misalnya, beberapa bintang terlihat bergoyang sedikit yang mungkin disebabkan gravitasi planet2 yang mengorbitnya. Bulan Maret 1998, Teleskop Angkasa Luar Hubble mengirimkan gambar yang mengejutkan para astronom, ia mengirimkan gambar tentang sesuatu yang terlihat sebagai sebuah planet besar yang terlempar dari sistem bintang ganda yang baru. Planet ini masih dapat terlihat karena ia masih memancarkan cahaya dari panas yang dihasilkan pada proses pembentukannya dan umurnya masih muda, baru sekitar 100.000 tahun. Kolonisasi angkasa luar adalah tujuan lain eksplorasi angkasa luar. Apakah beberapa satelit di planet2 di Tata Surya bisa dihuni manusia Bumi ? Itu yang sekarang sedang rajin dipelajari dengan mengrimkan berbagai wahana angkasa luar mengorbit dan mendarat di permukaannya. Begitulah, sering dikatakan bahwa "outer space is the last frontier" wilayah penghunian manusia Bumi selanjutnya karena di Bumi sudah sesak dan terdesak ? Banyak yang telah dilakukan manusia dalam mempelajari Alam Semesta, tetapi lebih banyak lagi misteri Alam Semesta yang belum terungkap. Rasa ingin tahu manusia tak akan ada habisnya, inilah yang akan terus mendorong eksplorasi angkasa luar tahun-tahun ke depan. Profundum abyssi quis dimensus est ? Salam, awang

