Perubahan iklim telah terjadi sepanjang sejarah Bumi. Catatan2 geologi yang tersimpan dalam fosil dan batuan menunjukkan bahwa pada masa lalu Bumi pernah lebih hangat (hothouse) atau lebih dingin (icehouse) daripada sekarang. Hal tersebut disebabkan peristiwa2 katastrofik atau siklus2 alam.
Saat ini, temperatur global rata-rata sedang meningkat, tetapi peningkatan ini tak tersebar secara merata ke seluruh permukaan Bumi, beberapa wilayah malahan menjadi lebih dingin. Beberapa faktor berkontribusi terhadap penghangatan saat ini. Sebagian besar ahli iklim sepakat bahwa sebagian fenomena ini disebabkan enhanced greenhouse effect, yang disebabkan lepasnya gas-gas tertentu ketika bahan bakar fosil -batubara, minyak, dan gas alam - dibakar. Saya percaya bahwa global warming saat ini disebabkan baik oleh alam (natural) maupun manusia (man made). Fluktuasi dalam orbit Bumi mengelilingi Matahari dan rotasi pada porosnya dicerminkan oleh perubahan-perubahan iklim di Bumi yang bersifat siklik. Milutin Milankovich, ahli matematika dan iklim berkebangsaan Serbia (1879-1958) menemukan kaitan tersebut. Ketika fluktuasi2 ini terjadi bersamaan, temperatur Bumi turun cukup signifikan sampai mampu mendatangkan zaman es. Jalur orbit Bumi bervariasi dari mulai hampir berbentuk lingkaran sampai sedikit elips dalam siklus sekitar 100.000 tahun, menyebabkan variasi dalam jarak Bumi-Matahari. Poros Bumi pun bervariasi kemiringannya dalam siklus sekitar 42.000 tahun, menyebabkan variasi luas permukaan Bumi yang terpapar kepada Matahari. Lalu, poros rotasi Bumi pun bergoyang dalam siklus 25.800 tahun, menyebabkan tibanya tanggal-tanggal solstices dan equinoxes bergerak terus. Periode2 variasi orbit dan gerak poros Bumi itu telah mempengaruhi perubahan iklim sepanjang zaman. Ini adalah penyebab alam perubahan iklim. Penyebab alam lain adalah sebagai kompensasi setelah Bumi berada dalam Little Ice Age pada abad ke-15 sampai pertengahan abad ke-19. Osilasi alam juga penyebab yang lain, North Atlantic Oscillation (NAO) misalnya, yaitu perubahan iklim karena variasi siklik dalam distribusi tekanan udara selama periode tertentu. NAO disebabkan perbedaan tekanan antara wilayah Azores yang tinggi dan Iceland yang rendah, para ahli iklim menyebutnya index NAO positif ketika tekanan di Azores jauh lebih tinggi daripada di Iceland. Kondisi ini akan menyebakan gerak massa udara yang cepat (jet stream) mengalir dengan kuat di atas Atlantik, menyebabkan musim dingin yang basah di Eropa dan musim dingin yang kering dan lebih hangat di Mediterania. NAO juga membawa aliran air hangat ke Arctic Basin, meleburkan es di beberapa tempat. NAO tak dapat diprediksikan, tetapi selalu terjadi setiap beberapa tahun. Osilasi alam lain penyebab perubahan iklim adalah El Nino yaitu pembalikan aliran normal Arus Ekuator Selatan di Pasifik yang menyebabkan perubahan drastis cuaca di sekitarnya dalam periode waktu dua-tujuh tahun. Tahun paling panas akhir2 ini, yaitu yang terjadi pada 1998, adalah akibat peristiwa El Nino yang kuat. Perubahan dalam solar output juga dapat mempengaruhi perubahan iklim. Sepanjang sejarah, periode aktivitas noda Matahari minimum biasanya terjadi bersamaan dengan periode dingin di Bumi. Periode paling dingin Little Ice Age abad ke-15 sampai pertengahan abad ke-19 terjadi bersamaan dengan periode low sunspot activity yang terkenal dengan istilah Maunder Minimum. Sebaliknya, ketika solar output meningkat, seperti pada tahun 1990-an, solar wind, semburan jet partikel2 Matahari meningkat. Solar wind ini akan membelokkan radiasi kosmik yang partikel2-nya bereaksi dengan molekul2 atmosfer memicu pembentukan awan. Meningkatnya solar output karena itu, akan mengurangi banyaknya awan. Dalam kondisi seperti ini sedikit saja sinar Matahari yang akan dipantulkan puncak-puncak awan kembali ke luar angkasa, kebanyakan mereka akan sampai ke permukaan Bumi dan memanaskan temperatur udara. Pemanasan pada tahun 1990-an menurut beberapa ilmuwan terjadi dengan cara tersebut. Pemanasan global juga jelas dipercepat datangnya oleh aktivitas manusia. Sejak awal 1800-an, tingkat CO2 di atmosfer telah meningkat hampir setengah asalnya, ini terutama disebabkan meningkatnya penggunaan bahan bakar fosil. Peningkatan CO2 di atmosfer akan meningkatkan efek rumah kaca (greenhouse), membuat Bumi lebih cepat menghangat. Belakangan ini para ilmuwan cenderung lebih percaya bahwa global warming adalah man-made phenomenon daripada sebagai akibat natural climate change. Mungkin ini benar, terutama untuk peningkatan emisi karbon secara tajam yang terjadi sejak 1950-an. Bukan hanya karbon yang berupa gas2 rumah kaca, tetapi juga metana dan CFC. Meskipun pemicunya mungkin dominan man-made untuk kasus percepatan pemanasan global belakangan ini, efek globalnya sebenarnya sukar diprediksi sebab banyak sekali variabel yang terlibat. Juga, sistem dinamika Bumi, seperti variabilitas atmosferik dan perubahan dalam arus2 samudera, tak akan membuat pemanasan dirasakan global secara sama di seluruh permukaan Bumi. Menurut prediksi komputer saat ini, wilayah2 berlintang besar akan mengalami pemanasan paling cepat dalam 50 tahun ke depan. Ini misalnya sudah terlihat di Antarktika pada saat summer, temperaturnya sudah 2 derajat C lebih tinggi dibandingkan biasanya. Dalam sebuah planet yang menghangat, permukaan laut juga akan memuai melalui thermal expansion, karena, di atas 4 degC, air yang hangat lebih ringan dibandingkan air yang dingin. Permukaan air laut juga jelas bertambah tinggi karena volumenya bertambah oleh leburnya lapisan2 es di kedua kutub Bumi. Kalau saja West-Antarctic Ice Sheet lebur, maka bertambahnya air laut akan lebih cepat lagi. Hitungan pulau2 Indonesia tak akan 17.000 lagi, pulau2 rendahnya (di bawah ketinggian 1 meter) akan hilang selamanya. Hujan dan badai akan bertambah banyak dan sering di satu tempat, di tempat lain malahan kekeringan akan melanda. Habitat juga akan berubah, bioma akan berubah, sehingga akan ada perubahan wildlfe. Mau tak mau, global warming akan menjadi issue lingkungan yang paling banyak dibahas dalam puluhan tahun ke depan. Seperti kita lihat, tak semuanya karena ulah manusia, tetapi juga karena siklus alam. Walaupun Protokol Kyoto 1997 untuk mengurangi emisi karbon telah diratifikasi semua negara di dunia, masalah global warming akan tetap sulit diatasi. Kita berhadapan dengan satu massa planet, apa manusia sanggup mengatasinya ? Tetapi sekecil apapun usaha untuk mengurangi emisi karbon ke udara adalah tetap lebih baik dibandingkan tidak sama sekali. Tidak menggantungkan seluruhnya ke bahan bakar fosil adalah baik dan sebenarnya harus sudah dimulai dari dulu. Emisi karbon akan mulai menurun pada tahun 2050 menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), tetapi meskipun ini terjadi, kita harus melalui beberapa puluh tahun lagi setelahnya sebelum warming trend berakhir. Lakukanlah bagian yang bisa kita lakukan, sekecil apapun tetap lebih baik daripada tidak melakukan apapun. Saya sudah sebulan ini tidak menyalakan beberapa lampu di luar rumah yang tak menyolok diperlukan sebelum pukul 22 dan tetap memilih berkendaraan umum apabila tak harus berkendaraan pribadi. Lumayan mengurangi emisi karbon kan... Salam, awang

