Sekilas info mengenai biofuel, kalau di Indonesia dalam hal ini
biodiesel. 

Kampanye penggunaan biofuel secara massal memang ditujukan untuk
diversifikasi sumber energi (pengurangan fosil fuel) serta mengurangi
polutan dalam aspek lingkungan. Hasil studi dari berbagai institusi (US
DOE, California Air Resources Board, Auto Alliance,etc.) menyebutkan
telah terjadi pengurangan yang signifikan dari produk diesel zaman
sekarang dan juga GTL :

5,000 PPM (parts-per-million) maximum count of sulfur for common diesel
15 year ago
500   PPM (parts-per-million) maximum count of sulfur in Low Sulfur
Diesel (LSD)
15    PPM (parts-per-million) maximum count of sulfur in Ultra Low
Sulfur Diesel (ULSD) 
< 5   PPM (parts-per-million) sulfur level in Gas-To-Liquid diesel (GTL)


Mengapa kok perlu diesel sebagai biodiesel ? Keuntungan biodiesel adalah
: diversitas dari supplai energi (alternatif terhadap petroleum fuel)
dan lebih ramah lingkungan (tingkat biodegradasi lebih tinggi,
renewable, mengurangi polutan emisi mesin diesel). Berhubung biodiesel
membutuhkan bahan dasar tanaman (sebagian dari animal fat), maka inilah
yang masih mengandung bad news terutama dikaitkan issu pangan (tahu
tempe jadi mahal), lahan, dan proses pembuatannya. Untuk di US soybean
menjadi most cost-effective sedangkan di Indonesia dipilihlah jarak.
Untuk produk biodiesel sendiri, berhubung penggunaan unblended biodiesel
(100%) memerlukan mesin khusus, maka konsekuensinya biodiesel harus
blended (dicampur dengan petroleum-based diesel atau solar). Secara umum
hampir semua mesin diesel bisa menggunakan 5% blended biodiesel tanpa
dilakukan modifikasi mesin, sedangkan 20% blended memerlukan modifikasi
mesin (sifat biodisel yang lebih banyak mengandung pelarut memudahkan
untuk menyumbat filter mesin). Hampir semua pabrik mesin mobil tidak
merekomendasikan penggunaan blended biodisel > 20%. Berapa ya konsumsi
minyak diesel di Indonesia (baik mobil maupun industri) ? Sebagai
perbandingan, untuk di US:
- 46 Billion Gallons of diesel consumed by U.S. in 2005(source: API) 
- 75 Million Gallons of biodiesel consumed in the U.S. in 2005(source:
National Biodiesel Board) - atau sekitar 0.16% dari total konsumsi
diesel
- 500,000 Gallons of biodiesel consumed in the U.S. in 1998(source:
National Biodiesel Board) - atau terjadi peningkatan 150 kali lipat
setelah 6 tahun
Berbagai studi menyatakan biodiesel sendiri diharapkan bisa digantikan
oleh BTL (biomass to liquid) yang diharapkan bisa menggunakan sampah
organik, daripada menggunakan tanaman pangan atau keras sebagai bahan
dasarnya.

GTL yaitu bahan bakar cair yang dibuat dari gas alam, sebenarnya lebih
baik dari biodiesel baik dari segi pemanfaatan bahan bakunya maupun
hasilnya. Sehingga ke depan GTL sebagai sumber minyak diesel lebih
berpotensi menguntungkan dibandingkan dengan biodiesel yang rawan dengan
berbagai issue. Meskipun demikian, berbeda dengan CNG (compressed
natural gas), GTL memerlukan modifikasi dari mesin mobil. 

Salut untuk kompleks Pertamina di Prabumulih yang mampu memanfaatkan gas
sebagai sumber energi di perumahannya, dan saya dengar juga beberapa
daerah percontohan di Cirebon melakukan hal yang sama. Di wilayah
operasi Chevron di Riau pemanfaatan gas alam juga dilakukan untuk bisa
mengurangi minyak sebagai bahan penghasil uap panas dan listrik untuk
kegiatan operasi steamflood dengan penerapan teknologi co-generation
(generator yang sekaligus menghasilkan uap panas dan listrik). Sekitar
50,000 bopd bahan bakar minyak yang digantikan oleh gas pada akhirnya
bisa diklaim sebagai bagian lifting oil nasional oleh Dept.energi

Tapi saya sangat setuju dengan pernyataan Pak Agus di bawah mengenai:
"Teknologi Tepat Guna ....setiap daerah mempunyai potensi sumber energi
apa yg cocok harus dikembangkan di daerah tsb". Biofuel adalah produk
untuk alternatif solusi problem wilayah perkotaan (yang rakus bbm dan
diterpa issue polusi), sedangkan issue kekurangan energi di pedesaan
mungkin lebih akan kebutuhan listrik. Banyak pemanfaatan alternatif
energi lain yang bersifat mikro dan teknologi sederhana (biogas dari
ternak, tenaga angin, matahari) yang sangat cocok untuk pengadaan
listrik lokal daerah pedesaan, yang seharusnya mendapatkan porsi
perhatian pemerintah baik dana maupun teknologi. Banyak sekarang
pesantren di desa yang nggak perlu beli minyak tanah lagi karena bisa
swadaya energi dengan pemanfaatan kotoran ternak mereka untuk dijadikan
biogas. Teknologi sederhana tapi bermanfaat. Bentuk-bentuk koperasi
bidang energi mungkin bisa mendukung program untuk pengembangan suplai
energi di lingkungan yang lebih luas (desa atau kecamatan).

Tambahan juga, perlu dikampanyekan untuk budaya MALU MEMBELI BAHAN BAKAR
BERSUBSIDI khususnya warga di kota. Subsidi kalau untuk umat muslim
adalah seperti uang zakat yang hanya layak untuk warga yang kurang
mampu. Sungguh malu bila seorang muslim yang mampu berzakat tapi masih
membeli bbm bersubsidi. Demikian juga untuk warga yang lainnya yang
mampu. "Bisa beli mobil harganya di atas 100 jt, tapi masak nggak malu
sih belinya bbm subsidi ?". 

Salam,
ww

-----Original Message-----
From: Agus Irianto [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, January 17, 2008 2:53 PM
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [iagi-net-l] Many Biofuels Have More Climate Impact Than
Oil

Rekanss,

Makin nggegirisi wae.......kayaknya perlu pengkajian ulang ttg Bio Fuel
ini.....Mungkin cerita dibawah ini ada manfaatnya :

Rumah kami di kampung masih punya dapur yg luas, ada tumpukan kayu yg
diambil dari kebon dibelakang rumah, blarak daun kelapa, ranting2 kayu
sering jadi kegiatan utk dikumpulkan sbg bahan bakar utk masak2 air,
nanak nasi dll, ada juga kompor dari minyak tanah dan juga kompor gas.

Ibu paling cerewet kalau sdikit2 harus menggunakan kompor gas atau
minyak sampai menelantarkan ranting2 kayu yg tidak  dimanfaatkan
omongannya mesti sbb : "
Lhe/nduk mbok yao ojo mboros  kayune kui mbok yo
dimanfaatkan....sitik2 gunakke gas/ minyak tanah...khan saiki opo2
larang......"
Biasanya kita langsung nimpali wah ibu ki kuno.....saiki ora jamanne
masak nganggo kayu meneh..?

Banyak kita lihat masyarakat kita di desa2 yg sudah jarang lagi kumpulin
ranting kayu utk kayu bakar....mereka berbangga2 memasak dgn kompor gas
padahal masih banyak kayu2 kering berserakan, akhirnya lapuk tidak
dimanfaatkan......di Prabumulih di komplex Pertamina gas alam yg banyak
berlimpah itu dialirkan ke rumah2 komplex pertamina ...jadi kalo utk
masak2 bahan bakar sdh gak masalah lagi......sebagian masyarakat sana
masih masak pake kayu...............jadi belum semua menikmati gas alam
spt yg ada di komplex pertamina.

Jadi menurut saya masalah Biofuel ini hanya salah satu energi alternatif
yg TIDAK seharusnya di produksi secara masal.............pemerintah atau
kita (IAGI,
HAGI) harus mengendalikan ini.....Tidak semua lahan cocok utk ditanami
pohon Jarak dgn mengorbankan tanaman keras hutan lainnya......kita harus
kembali ke filosofi : Teknologi Tepat Guna ....setiap daerah mempunyai
potensi sumber energi apa yg cocok harus dikembangkan di daerah tsb.
Kita belum mengembangkan energy Pasang surut diutamakan utk kebutuhan
listrik
daerah2 Nelayan di pesisir pantai, energy Geothermal untuk masyarakat
disekitar sirkulasi hidrologi dan panas buminya baik,spt Kamojang, Gn.
Salak, Dieng ; PLTA juga masih banyak yg belum
dikembangkan.......kiprahnya Ibu Tri Mumpuni dirut IBEKA (Institut
Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan) patut kita jadikan contoh. KEN (Kebijakan
Energi Nasional) harus di kaji ulang tidak melulu Oil&Gas
saja...........

Salam,
Agus Irianto











--- prasiddha Hestu Narendra <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Biofuel dihubungkan dgn ramah lingkungan? memang belum tentu coba 
> bayangkan bahan baku biofuel dari kelapa sawit, tanaman jarak dll yg
> rata2 bukan tanaman keras
> jika ini sudah jadi industri, artinya apa? banyak lahan hutan tanaman 
> keras yg bakal disulap jadi ladang sawit atau jarak....efeknya tahu 
> sendiri jika hutan berkurang saya lebih melihat biofuel sebagai orang 
> yg cari energi alternatif dibanding energi fosil....
> 
> phn
> 
> 
> On 1/16/08, Rovicky Dwi Putrohari
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > pernah baca artikel dibawah ini ? - Many Biofuels
> Have More Climate
> > Impact Than Oil
> > Banyak yang kaget pastinya, aku sendiri pernah
> menuliskan keraguan
> > saya sejak hampir dua tahun lalu disini :
> >
> >
>
http://rovicky.wordpress.com/2006/04/17/indonesia-produksi-biodiesel-mul
ai-2007-environmental-impact-2/
> >
> > We need to re think !
> >
> > RDP
> > =====
> >
> > Many
> >
>
http://www.planetark.com/dailynewsstory.cfm/newsid/44555/story.htm
> >
> > BEIJING - Most crops grown in the United States
> and Europe to make
> > "green" transport fuels actually speed up global
> warming because of
> > industrial farming methods, says a report by Nobel
> prize winning
> > chemist Paul J. Crutzen.
> >
> > The findings could spell particular concern for
> alternative fuels
> > derived from rapeseed, used in Europe, which the
> study concluded could
> > produce up to 70 percent more planet-warming
> greenhouse gases than
> > conventional diesel.
> >
> > The study suggested scientists and farmers focused
> on crops, which
> > required less intensive farming methods, to
> produce better benefits
> > for the environment.
> >
> > Biofuels are derived from plants which absorb the
> planet-warming
> > greenhouse gas carbon dioxide as they grow, and so
> are meant as a
> > climate-friendly alternative to fossil fuels.
> >
> > But the new study shows that some biofuels
> actually release more
> > greenhouse gases than they save, because of the
> fertiliser used in
> > modern farming practices.
> >
> > The problem greenhouse gas, nitrous oxide, is more
> famous as the
> > dentists' anaesthetic "laughing gas," and is about
> 300 times more
> > insulating than the commonest man-made greenhouse
> gas carbon dioxide.
> >
> > "The nitrous oxide emission on its own can cancel
> out the overall
> > benefit," co-author Professor Keith Smith told
> Reuters in a phone
> > interview.
> >
> > The results, published in "Atmospheric Chemistry
> and Physics
> > Discussions," were based on the finding that
> fertiliser use on farms
> > was responsible for three to five times more such
> greenhouse gas
> > emissions than previously thought.
> >
>
http://www.atmos-chem-phys-discuss.net/7/11191/2007/acpd-7-11191-2007.pd
f
> >
> > They cast further doubts on the credibility of
> biofuels as a climate
> > cure, following the revelation of other unintended
> side effects such
> > as rainforest clearance and raised food prices,
> from competition with
> > forests and food for land. Brazil and the United
> States produce most
> > of the world's bioethanol, as a substitute for
> gasoline, while the
> > European Union is the main supplier of biodiesel.
> >
> > "FUTILE EXERCISE"
> >
> > Using biodiesel derived from rapeseed would
> produce between 1 and 1.7
> > times more greenhouse gas than using conventional
> diesel, the study
> > estimated.
> >
> > Biofuels derived from sugar cane, as in Brazil,
> fared better,
> > producing between 0.5 and 0.9 times as much
> greenhouse gases as
> > gasoline, it found.
> >
> > Maize is the main biofuels feedstock used in the
> United States, and
> > produced between 0.9 and 1.5 times the global
> warming effect of
> > conventional gasoline, it said.
> >
> > "As it's used at the moment, bioethanol from maize
> seems to be a
> > pretty futile exercise," Smith said.
> >
> > The study did not account for the extra global
> warming effect of
> > burning fossil fuels in biofuel manufacture, or
> for the planet-cooling
> > effect of using biofuel by-products as a
> substitute for coal in
> > electricity generation.
> >
> > "Even if somebody decides that our numbers are too
> big ... if you add
> > together the undoubted amount of nitrous oxide
> that is formed, plus
> > the fossil fuel usage, with most of the biofuels
> of today you are not
> > going to get any benefit," Smith said.
> >
> > However, the study did not condemn all biofuels,
> suggesting that
> > scientists and farmers should focus on crops
> needing little
> > fertiliser, and harvesting methods that were not
> energy intensive.
> >
> > "In future if you use low nitrogen demanding
> crops, and low impact
> > agriculture, then we could get a benefit," Smith
> said.
> >
> > The study singled out grasses and woody coppice
> species -- like
> > willows and poplars -- as crops with potentially
> more favourable
> > impacts on the climate. (Additional reporting by
> Nigel Hunt in London)
> >
> > Story by Emma Graham-Harrison
> >
> > Story Date: 28/9/2007
> > -
> > http://tempe.wordpress.com/
> > None one right solution !
> > No one can monopolize the truth !
> >
> >
> >
> >
>
------------------------------------------------------------------------
----
> > To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota 
> > ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas 
> > nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara 
> > Mulia No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> > IAGI-net Archive 1:
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net Archive 2:
> http://groups.yahoo.com/group/iagi
> >
>
---------------------------------------------------------------------
> >
> > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with
> regard to information
> > posted on its mailing lists, whether posted by
> IAGI
=== message truncated ===



 
________________________________________________________________________
____________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping


------------------------------------------------------------------------
----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event shall IAGI and its members be liable for any, including but not
limited to direct or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of
or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing
list.

---------------------------------------------------------------------


----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.

---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke