Hem, makin cocok saja kalenderku. Malaise, kelemahan ekonomi, ada pada pancarboda2. Pada siklus 70 th, maka itu terjadi pada 7 th, dengan tengah-tengahnya 1440, 1510, 1580, 1650, 1720, 1790, 1860, 1930, 2000, 2070, dst. KU sebut saja, dari tahun itu, maka perusahaan terawal, lalu tahun berikutnya naik, hingga jatuh pada 70 th berikutnya. Ini membentuk segitiga ekonomi, terendah di suatu tahun, dan puncak di 70 th berikutnya, di mana juga di situlah lalu jatuh ekonomi, sebagai awal segitiga ekonomi berikutnya.
Mulai saja th 1860. Jaman sebelumnya adalah uap air sebagai tenaga mesin, misal juga untuk menarik gerbong kereta api. Pancaroba2 ini, dengan dunia yang bergerak cepta perubahan temperature memanas, juga curah hujan mengecil tercepat. Th 1860, di ketemukan (sebelumnya hilang kemana ya ?), discovered, invented mesin dengan pembakaran, pertama di temukan oleh Jean Joseph Leonir. Lalu, 6 th kemudian, di ketemukan mesin 4 tak (4 langkah satu pembakaran), oleh Nikolas Otto. Makanya, nama itu melekat dengan kata pra-otto, sebagai nama awal yang di sebut sekarang sebagai mobil. Mobil, dari kata "mobile", yang berarti bergerak. Nah kotak bergerak ini, yang sekarang di sebut mobil. Lalu, Rudolf Diessel, temukan mesin diesel th 1892. Awalnya, dengan "slenger", besi bengkok, di letakkan diputarkan dengan tenga tangan manusia untuk "mensrater". Dan baru "self starter, di temukan oleh Charless F. Kettering, dan pada mobil Cadillac th 1912. Jaman malaise 1857-1864 (atau tahun tenhanya th 1960) itu juga menjadi awal-awal penemuan, awal perusahaan. Th 1857, secara "official produksi minyak pertama" di nyatakan yakni di Romania, 1719 barrel/year. Setahun kemudian, th 1858 produksi pertama di Ontario. Dua tahun berikutnya, th 1859 pengeboran ladang minyak dunia, sumur pertama oleh Drake di Pennsylvania(sumber di tulis di bawah sono). Ramelah explorasi minyak kemudian, termasuk di temukan di Jatim, sekitar 1882 (Ladang Kuti ?), dan awal nama Shell oil company di dunia itu. Dan 35 th kemudian, th 1895, mobil pertama di jual di pasar, yakni mobil Ford. Laris manis hingga 1913. Ini juga awal perang dunia I, sdi setengan dari 7 th berikutnya, maksudnya 3.5 th saja, yakni 1914-1918. Th 1913 adalah global temeprature terdigin di siklus 70 th itu. Th ini berakitan dengan awal pemenasan global, dan melemahnya ekonomi. Dan seperempat dari 70 th berikutnya, th 1927-1934, adalah malaise ekonomi lagi. Malaise 1930. Selama 7 th itu, 1927-1934, ekonomi global jatuh dunia, dan Ford bangkrut, perusahaan di tutup, dan awal segitiga ekonomi lagi. Belanda lemah, maka bisalah mberdiri PNI oleh Soekarno, 1927. Th ini juga awal kepemimpinan Soekarno, dan baru berakhir separo 70 th kemudian, 1927-1965. Lalu setahun berikutnya seetlah awal malaise bisalah ada Sumpah Pemuda, 1928. Explorasi minyak dari Jatim terus di galakkan di Indonesai lain, termasuk Sumatra. Di temukanlah di SumUt dan SumSel, namun di nyatakan negatif, cekungan jelek karena sedimen tipis. Dan pernyataan itu, jadikan Ladang Duri, Minas, terlambat 50 an tahun untuk di ketemukan. Malaise 1930 tadi, lahirkan perusahan-perusahan baru, kecil-kecil awalnya, lalu membeesar berikutnya, dan mulai jatuh th 3/4 pereode dari 70 th berikutnya. Du atahun setelah berakhir malaise 1927-1934, berdirilah perusahaan yang barusaja temukan minyak di Timur Tegah. Keduanya SOCAL dan Texaco, keduanya dari Amerika negara bagian California, dan negara bagian Texaco. Gabungan kata CAL, dan TEX di situ jadilah CALTEX, 1936 di Indonesia. Dari Timur Tengah jugalah, Caltex ada. Setelah 7 th berkahir malaise itu (1934-1941), maka 7 sumur explorasi, menemukan ladang besar pertama, ladang Duri (1941). Gemparlah dunia, jepang melirik, dan perang dunia kedua di lancarkan dengan mengejar gundukan antiklin di 70 km selatan Ladang Duri. Dan setahun pengeboran 1943-1944, di temukannya ladang Minas itu (1944). Pada pancaroba1, 1962-1969, maka jatuhlah Soekarno, usaha memulai kontrak dengan contract of work term, 1963. Akibat pancaroba1 ini, Soekarno jatuh, dan 1966, di mulailah KPS. Jumlah KPS di awrd pertahunpun ikuti kalenderku. Sampai 3/4 x 70 th setelah segitiga ekonomi di mulai 1930, maka 1983 adalah awal global temperatur naik, ekonomi merosot. Perusahaan kecil dulu mati. Merging terjadi. Sevice company dari amat banyak menjadi tinggal dua besar Halliburton, dan Schlumberger pada th 2000. Oli Company dunia juga melemah. Yang kecil di beli sama yang besar. Pun yang besar akhirnya kolapse. Malaise 1997-2004, adalah malise ekonomi berikutnya. PHK tak terelakkan. PHD di mulai Mobil 1998 (?), ARCO 1999, perusahan ternayak pegawaipun loyo Caltex 2003. Hilanglah nama perusahaan besar termasuk ARCO, UNOCAL, TEXACO, dll. Nah. Awal segitaga ekonomi berikutnya adalah 2004, yang akan sedikit di perbaiki 35 th berikutnya, yakni th 2039, atau revisi banyak pada 2074. Awal th 2004, awal segitiga ekonomi di cirikan dengan banyaknya tumbuh perusahaan kecil-kecil. Kini, yang dulu paling 50 perusahaan minyak sebelum malaise 1997, kini dengan 350 perusahaan kecil. Ini semua akan membesar, yakni yang dapat survive. Pun kontrak perusahaan minyak juga di perbaiki. Begitu ya Pak Awang? Sebutannya "new PSC term". Semua itu, ternyata sudah di kalenderkanNYa. Atawa tanpa berkahNya, semua tadi tak bisa ada. Ini juga yang kupikir bagaimana kondisi minyak Indonesia di jaman misal di Amerika selatan ada kontrak model baru: Venezuella, Brazil, dll. Wassalam, Maryanto. http://scitation.aip.org/getabs/servlet/GetabsServlet?prog=normal&id=LEE DFF000019000003000321000001&idtype=cvips&gifs=yes -----Original Message----- From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, January 25, 2008 9:13 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Cost Recovery Capai US$ 8,33 Miliar Selama 2007 Pak Mufti, Terima kasih atas pemikirannya. Saya menampung semua pemikiran dari rekan2 di milis, pendapat2 di media, dll. Menyaringnya lalu mendiskusikannya di dalam tim, tim akan meninjau aspek teknik-ekonomi-bisnis-legal, dan akhirnya akan merekomendasikannya kepada pucuk pimpinan. Semoga dengan makin banyak pemikiran yang baik, kita dapat menyelenggarakan urusan investasi migas ini dengan lebih baik sehingga Negara tidak dirugikan, beruntung, begitupun investor. Umumnya tim berusaha agar aturan2 semakin baik dan bukannya kelak malahan merugikan Negara. salam, awang Muhammadi Darissalam <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Awang, kelihatannya bagus sekali buat Gov, Kontraktor akan hati2 dalam explorasi meskipun sudah produksi / boleh cost recovery. Bagi kontraktor sebetulnya yang diinginkan adalah untung besar, slamet dan mudah/tidak banyak repot. Maka bagaimana ya kalau ketentuan2 PSC dirubah sbb.: - Oil Share: Royalty (misalkan 20%), Gov Share (50%), Contractor Share (30%), tergantung dari resiko dan prospectivity level dari blocknya. - Tidak ada Cost Recovery, - Tidak ada company income/profit tax, - Yang ada bea masuk, vat, income tax buat karyawan - Commerciality - Financial yang menentukan kontraktor sendiri; Engineering/Teknisnya BPMIGAS yang menyetujui. - Work Program ada, tapi tanpa budget - disini perlu BPMIGAS approval - dan pengawasannya - AFE tidak ada, yang ada Technical Program atau Engineering Design - harus diapproved oleh BPMIGAS - Keselamatan dan Lingkungan biar diawasi Dept. Tenaga Kerja, Dept. Lingkungan dan Pemda. - Tidak perlu audit dari BPKP, BPK & BPMIGAS, mungkin hanya dari PAJAK. - Lainnya yang harus tetap ada adalah Signature bonus dan bonus2 lainnya, Firm commitment adalah kerjaannya, Relinquishments, dll sama Jadi BPMIGAS tidak terlalu repot dan besar tanggung jawabnya. Ini wacanna saja atau "waton bedo" (asal lain) saja. Salam, mufti ----- Original Message ---- From: Awang Satyana To: [email protected]; Forum HAGI ; Geo Unpad Sent: Friday, January 25, 2008 11:34:20 AM Subject: Re: [iagi-net-l] Cost Recovery Capai US$ 8,33 Miliar Selama 2007 Kalau jadi, kontrak PSC yang akan datang (rencananya akan mulai diterapkan kepada 26 blok yang sekarang sedang ditawarkan) akan mengalami perubahan besar soal sunk cost, komersialitas blok/lapangan, cost recovery dan relinquishment. Perubahannya begitu signifikan sahingga boleh saja kalau mau kita sebut sebagai PSC generasi baru. Jadi diberlakukan atau tidak kita lihat nanti. Komersialitas blok oleh lapangan pertama tidak akan lagi menjadi tiket untuk cost recovery kegiatan2 eksplorasi berikutnya bila lapangan ke-2, ke-3 dan seterusnya tidak ditemukan dan dikembangkan. Di kontrak PSC lama, setelah lapangan pertama ditemukan dan blok menjadi komersial maka seluruh usaha eksplorasi berikutnya akan bisa di-cost recovery baik ia gagal maupun berhasil, jadi lapangan atau tidak. Apa pun yang dibelanjakan akan diganti. Sistem ini telah mendorong PSC2 melakukan eksplorasi kurang hati2, tokh biayanya akan diganti ini. Di sistem PSC baru nanti, biaya eksplorasi setelah lapangan pertama akan dianggap sebagai upaya untuk menemukan lapangan ke-dua. Bila lapangan kedua ditemukan dan dapat dikembangkan menjadi lapangan maka biaya2 eksplorasi setelah lapangan kedua itu bisa di-cost recovery; bila tidak jadi lapangan,maka biaya2 tersebut sepenuhnya menjadi tanggungan PSC. Upaya2 eksplorasi setelah lapangan kedua akan dianggap sebagai upaya menemukan lapangan ke-3. Bila gagal menemukan lapangan ke-3, maka biaya2 itu tak bisa di-cost recovery, bila lapangan ke-3 ditemukan, upaya2 eksplorasi untuk menemukannya bisa di-cost recovery, dst..dst.. Aturan baru itu disertai aturan baru relinquishment. Relinquishment terakhir akan dilakukan pada akhir tahun ke-8 dan hanya mempertahankan lapangan2 yang sudah ditemukan. Area di luar lapangan harus dikembalikan ke Pemerintah. Ini untuk mengatasi banyaknya lahan2 tidur yang tetap dimiliki PSC sementara investor baru yang berminat tidak bisa masuk. Aturan lain adalah bahwa bonus tanda-tangan kontrak akan disesuaikan dengan jumlah sumberdaya di dalam blok itu, semakin kaya semakin tinggi bonusnya. Masih ada beberapa lagi hal signifikan yang akan berubah dalam kontrak PSC kita. Itu kalau jadi diberlakukan. Untuk diberlakukan akan banyak bergantung kepada banyak faktor teknis dan nonteknis, politik dan nonpolitik. Saya pribadi berpendapat bahwa sudah saatnya diberlakukan perubahan2 signifikan atas kontrak saat ini. Pemerintah kita menjual terlalu murah untuk lahannya yang subur. Dalam investasi migas internasional pun berlaku bahwa barang bagus harganya mahal, tetapi di Indonesia sering terjadi barang bagus malah diobral, setelah itu tidak pula ada jaminan bahwa si pemilik barang mendapatkan uangnya. Menyedihkan. Sudah saatnya berubah ! salam, awang (anggota tim penilai teknis tender WKP migas & CBM) Andang Bachtiar wrote: Dod,... di dalam perhitungan internal perusahaan dan untuk kepentingan evaluasi prospek (ranking, risk, economics, dsb).... biaya untuk usaha-usaha eksplorasi di blok yang berproduksi di Indonesia bisa juga disebut sebagai dan/atau dimasukkan kedalam kategori finding-cost, no problem at all. Tetapi, menurut pemahamanku ttg aturan kontrak PSC dan prakteknya yang terjadi selama ini, begitu suatu blok berproduksi dari suatu discovered field, maka finding-cost dari lapangan-lapangan lain akan dikonsolidasikan dalam overall block-cost. Jadi terminologi finding cost dalam PSC term kita nampaknya hanya berguna / diapresiasi pada waktu penemuan lapangan komersial yang pertama. Setelah itu, cost2 sejenis akan dimasukkan sebagai "production cost" dari block tersebut. Usulan sampeyan untuk "tidak mengutak-atik (existing) PSC" tapi meredefinisi cost-recovery dg tanpa memasukkan finding cost lapangan ke 2, 3 dst (apalagi kalau juga mencakup lapangan pertama), maka itu sama saja dengan "membangkitkan macan IPA tidur" (?) Mungkin untuk next PSC dalam tender2 mendatang bisa kita usulkan term-term sampeyan tersebut. Masih sangat terbuka kemungkinan berkontribusi pemikiran ke kawan2 di Migas (Ditjen, BPMigas) dalam rangka perubahan PSC (mendatang). Malah dalam bulan2 terakhir ini makin santer Pak Dirjen dan Pak Ka BPMigas dan Pak Menteri me-wacana-kan perubahan PSC tersebut. Ayo, rek ..... podho ngomongo Salam Andang Bachtiar Exploration Think Tank Indonesia ----- Original Message ----- From: "Doddy Suryanto" To: Sent: Thursday, January 24, 2008 9:58 AM Subject: RE: [iagi-net-l] Cost Recovery Capai US$ 8,33 Miliar Selama 2007 Sam, apakah usaha2 eksplorasi (seismik, g&g, dsb) di blok-blok yang sudah berproduksi tidak bisa dimasukkan dalam finding cost? Apakah production cost yang ada di sistem sekarang mencakup finding and development cost (F&D) yang dalam hal ini lifting cost masuk dalam kategori development cost? Kalo memang system PSC susah dirubahnya, apakah bisa yang finding cost ini ngga masuk cost recovery? -doddy- -----Original Message----- From: Andang Bachtiar [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, 24 January, 2008 9:40 AM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Cost Recovery Capai US$ 8,33 Miliar Selama 2007 "Production cost" tersebut juga bukan real secara teknis semata-mata terkait dengan proses produksi dari lapangan-lapangan yang ada, tapi juga mencakup cost dari eksplorasi di blok-blok yang sudah berproduksi. Hal ini dimungkinkan karena sistim PSC yang sekarang berjalan di Indonesia juga mengakomodasi cost-recovery dari usaha2 eksplorasi (seismik, drilling, g&g, dsb) di blok-blok yang sudah berproduksi. Dengan demikian kalau kita ingin membandingkan production cost tersebut dengan di negara-negara lain, harus kita periksa dulu apakah angka-angka di negara lain juga dihasilkan dari sistim pengusahaan yang menganut cost-recovery spt di Indonesia atau tidak. Bisa saja production cost di negara-negara lain lebih rendah dari US$14/Bbl karena perhitungannya tidak memakai aturan cost-recovery eksplorasi. ------------------------------------------------------------------------ ---- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. --------------------------------------------------------------------- --------------------------------- Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. ________________________________________________________________________ ____________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

