> Tony
Yang saya maksud , apakah pada awal sekali ada kegiatan eksplorasi (non drilling) yang kemudian menemukan "cebakan air beryodium tinggi" ?. Kalau soal nama , keren Abah Anom atuh : Kahiji pasti masih anom , kasep gagah Kadua pasti taat beragama , mendalami agama , sakti deui siga Abah Anom di Suralaya Ari Abah mah pasti kolot, peot jeung sok bodo titotoloyo mun aur urang Sunda mah , heheheh. Si Abah Pada th 1992, saat PT. Kimia Farma (pemilik Watu Dakon) akan meningkatkan > kapasitas produksinya melalui penambahan beberapa titik bor yang baru, sy > terlibat dalam pembuatan dokumen AMDAL nya. Beberapa catatan yang menarik > perhatian saya dan masih bisa diingat (selama sekitar 1 bulan > disana/tinggal di Mess KF Watudakon mengobrak abrik data-data geologi, > geokimia, produksi, processing, cara pembuangan limbah) anatara lain > adalah: > 1. Terkait dengan mula jadi Iod saya setuju dengan pendapat yang > menyatakan telah terjadinya 'pengayaan' (apapun penyebabnya) dengan sumber > berasal dr air laut mengingat komposisi kimiawi 'brine' nya kira kira sama > dengan komposisi kimiawi air laut. > 2. Terdapat lebih dari satu 'Iod bearing Aquifer'. Sumur sumur Belanda > (lama) kedalamannya sekitar 350 meteran. Sumur sumur baru di bor hingga > kedalaman 650 meter. Data-data geofisika mereka cukup lengkap. > 3. Yang lebih menarik perhatian kami saat itu adlh limbah mereka 'sangat > destruktif' terhadap tanaman di sekitar pabrik. Segala jenis daun-daunan > di sekitar pabrik (radius 800 meter) pada kering dan mati hanya karena uap > yg turun di pagi hari/pengembunan atau setelah hujan turun. > 4. Cara membuang limbah mereka yang 'jorok' lebih menarik perhatian sy. > Setelah Yodium diekstraksi di pabrik, limbahnya DIINJEKSIKAN ke lubang > yang lain (khusus utk buang limbah) tetapi OPEN HOLE..Hal ini merusak > tatanan (kualitas) akifer airtanah dangkal di kawasan tersebut. Buat para > hidrogeolog hal ini akan sangat menarik untuk dipelajari/membuat > pemodelan: "Fenomena Transportasi Brine dalam Medium Porous". Bayangkan > Jutaan m3 brine diinjeksikan selama kurun waktu puluhan tahun (sejak mulai > produksi tahun 40an). > > Salam: > TPS (Abah ANOM), abis Abah SEPUH (Kang Yanto) keburu 'declared' > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Wednesday, January 30, 2008 12:25 AM > To: [email protected] > Subject: Spam:Re: [iagi-net-l] Yodium & mud diapirism > > > >> Andang , Awang (akh jago jago A A namanya) > > Si Abah > jadi ketari neich . > Asal usul kok ngebor itu pake eksplorasi apa ya > ? > Mungkin tahu ? > > Si Abah > > _________________________________________________________________ > > > Kembali ke pertanyaan mas BM: "Bagaimana > asal-usul iodine di Watudakon >> tersebut"? >> >> Selain merujuk ke referensi yg terserak ttg geologi yodium dari > internet, >> beberapa >> "fakta" dari yodium di > Watudakon tersebut nampaknya juga bisa dijadikan >> > "clue" sekaligus "constraint" dari genesanya. >> >> 1. Asosiasi-nya dengan "connate-water" yang > punya salinity 20.000 ppm NaCl >> equivalent menandakan bahwa > initial pore-water dari aquifer Yodium >> tersebut >> > berasal dari pengendapan laut (marine - seawater) dengan "sedikit > sekali" >> (kalaupun ada) encroachment meteoric water. >> >> 2. Hal tersebut juga dikuatkan oleh informasi independen > lainnya yang >> menyatakan bahwa lingkungan pengendapan aquifer > tersebut adalah "bathyal" >> dan mekanisme > pengendapannya "arus turbid". >> >> 3. > Konsentrasi Yodium di air laut terbuka di daerah tropis, normal >> > rata2nya >> 0.064 ppm (Turekian, 1968); bahkan di Jepang malah > 0.05 ppm >> > (http://www.gasukai.co.jp/english/iodine/materials.html) . Dengan demikian > >> konsentrasi yodium s/d 100 ppm (2000 kali lipat) di Watudakon > >> seharusnyalah >> diakibatkan oleh proses pengayaan, yg > salaha satunya mungkin diakibatkan >> oleh konsentrasi >> > berlebihan dari organisme penyerap yodium (ganggang, karang, dsb) >> >> 4. Sayangnya,... seperti diungkapkan juga oleh mas BM, > ganggang dan coral >> yang >> biasa menyerap yodium > berlebihan itu hidupnya di laut dangkal - photic >> zone, >> yang jauh dari batimetri bathyal seperti disyaratkan oleh > interpretasi >> sedimentologi-biostrat. Dengan demikian > konsentrasi berlebihan akibat >> akumulasi organisme penyerap > yodium dalam sedimen menjadi tidak mungkin >> dijadikan > "alasan" konsentrasi yang tinggi tersebut. >> >> > 5. Kemungkinan lainnya adalah: pengayaan yodium yang diakibatkan oleh >> pelarutan yodium dari fragmen-fragmen batuan volkanik yang menjadi > >> komponen >> penyusun turbidit. Pelarutan terjadi pada > waktu proses diagenesa >> penguburan >> sedimen yang cepat > sehingga masuk ke jendela temperatur dimana kestabilan >> yodium > dalam mineral terganggu. Bersamaan dengan pemerasan air dalam >> > sedimen >> yang diakbatkan kompaksi, maka yodium terlarut itu akan > tertransport >> bersamaan dengan air asin (air laut yg > terperangkap dalam lempung) >> kemudian >> masuk dalam > carrier bed / aquifer batupasir volkanik yang porous dan >> > meningkatkan konsentrasi yodium di aquifer tersebut. Dengan demikian yang > >> perlu ditelisik lebih lanjut adalah: jenis batuan volkanik apa > di Jawa >> Timur >> yang punya kandungan yodium agak di > luar anomali? Beberapa literatur >> menyebutkan: andesit-baslat > tertentu mempunyai kadar yodium yang relatif >> lebih tinggi dari > volkanik lainnya. Mungkin kawan-kawan volkanologist >> dapat >> memberikan enlightment dari titik diskusi ini. (Note: mungkin saja > jenis >> volkanik di Jawa Timur ini berbeda dengan jenis volkanik > yang ada Jawa >> Barat, sehingga kita tidak menemukan fenomena > pengayaan yodium yang serupa >> di Cekungan Bogor). >> >> 6. Dengan alur pemikiran spt diungkapkan di nomer 5 di atas, maka > dapat >> dijelaskan kenapa kita tidak menjumpai anomali yodium di > connate-water di >> Cekungan Kutai, terutam di bagia hilir: dimana > influx fragmen volkaniknya >> hampir bisa dikatakan minor,.. > komponen pembentuk butir/fragmen sedimennya >> pada umumnya > recycled quartz. >> >> 7. Di daerah mud-diapir Kutai pun > kita tidak mendapatkan kadar yodium yang >> mencurigakan, walaupun > air formasi yang terkait dengan sedimen2 yang >> dikeluarkan oleh > diapir tersebut juga asin - air laut (+/- 20.000 ppm >> NaCl) >> >> Salam >> >> Andang Bachtiar >> > GDA Sedimentologist >> >> ----- Original Message ----- >> > From: "Awang Harun Satyana" > <[EMAIL PROTECTED]> >> To: <[email protected]> >> Sent: Monday, January 28, 2008 8:19 AM >> Subject: RE: > [iagi-net-l] Yodium & mud diapirism >> >> >> > Pak Suratman, guru saya sewaktu di PPT-Migas Cepu (1990), pernah menulis > >> soal geologi yodium, khususnya yang di Jawa Timur, di > Proceedings PIT >> IAGI. >> Edisi ke berapa, nanti saya > cek lagi. >> >> Saat ini 95 % kebutuhan yodium dunia > dipasok oleh Chili, Amerika, Jepang >> yang mengekstraksi yodium > dari "Chili salt", semacam halit sepertinya, di >> > Indonesia sulit kelihatannya mendapatkan deposit semacam saltrock seperti > >> Chili salt. >> >> Yodium kan terdapat juga di > air laut atau ganggang seperti yang Pak >> Bambang >> > sebutkan. Kelihatannya dari asal itulah yang diekstraksi di PT Kimia Farma > >> Watudakon, Mojokerto. Produksinya 100-120 ton/tahun, bisa > memenuhi pasar >> domestik. Perusahaan tersebut memproduksi iodium > dari bahan baku air sumur >> artesis yang digali hingga kedalaman > 200 meter untuk sumur dangkal dan 700 >> meter untuk sumur dalam. > Kandungan ion iodida air sumur berkisar antara >> 60-130 mg/L. >> >> Menggenjot produksinya, kiranya bisa dilakukan dengan > dua cara : >> intensifikasi dan ekstensifikasi (jadi ingat program > peningkatan >> pangan/padi >> yang digulirkan oleh alm. > Pak Suharto, presiden RI ke-2). Intensifikasi, >> ya >> > membor sumur2 baru di sekitar Watudakon atau memperbaiki sumur2 tua yang > >> sudah 200 tahun umurnya itu. Ekstensifikasi, ya mencari deposit > yodium >> baru, >> sementara ini ikuti saja jalur > Watudakon ke arah barat, masih sama kok >> geologinya. > Ekstensifikasi ini terbukti di lapangan2 Cepu. Berdasarkan >> > hasil >> survei dan penelitian yang dilakukan sebuah perusahaan > sebenarnya >> sumur-sumur tersebut mempunyai cadangan deposit > iodium yang potensial. >> Diantaranya adalah sumur minyak bumi > Lapangan Ledok dan Nglobo, yang >> dikelola oleh Pertamina-Cepu, > masing-masing mempunyai kapasitas air total >> sebesar 500 m3/hari > dan 700 m3/hari serta mengandung iodida sebesar 60-170 >> mg/L. > >> >> Sampai saat ini limbah cair itu belum dimanfaatkan > dan dibuang begitu saja >> ke sungai atau laut. Tidak ada > perbedaan teknologi proses yang digunakan >> dalam produksi iodium > dari air asosiasi minyak ini, kecuali penambahan 1 >> buah unit > pre-treatment. Unit tersebut berperan memisahkan sisa-sisa >> > partikel minyak dan dapat dilakukan pemisahan secara mekanis atau adsorbsi > >> menggunakan batuan aluminosilikat-seperti kaolin, bentonit atau > zeolit. >> >> Pemanfaatan limbah air sumur minyak jelas > banyak gunanya : mengurangi >> pencemaran, menghasilkan yodium, > menghemat devisa negara untuk impor, dan >> jelas mengatasi > penyakit2 GAKI (gangguan akibat kekurangan iodium). >> >> > Salam, >> awang >> >> -----Original Message----- > >> > From: Bambang Satya Murti [mailto:[EMAIL PROTECTED] >> Sent: Sunday, January 27, 2008 11:45 C++ >> To: IAGI NET > >> Subject: [iagi-net-l] Yodium & mud diapirism >> >> Sharing knowledge saja >> Yodium merupakan salah satu > komponen vital dalam kehidupan >> kita...cerita-nya >> > bisa panjang ditinjau dari segi medis. Njenengan luka, hmm, perlu Iodine > >> Providon ("Betadin"), dalam garam dapur, hmm, > mencegah kretinisme >> ("kerdil")...dst..dst.. >> Lha di Indonesia, yodium di ekstrak secara komersial di plant > Watudakon, >> Jombang, dari deep water well yang memproduksi brine > water dari formasi >> Pucangan - Kalibeng, dengan konsentrasi NaCl > sekitar 20,000 ppm. Tinggi >> kan? >> Sementara, > konsentrasi iodine-nya hanya sekitar 100 ppm. >> Nah, yang > menarik, aquifer dari kedua formasi tersebut di daerah >> > Watudakon, >> berdasarkan core dan data biostrat yang pernah > dilakukan, menunjukkan umur >> Plio-Pleistosen, dan besar > kemungkinan diendapkan dalam lingkungan bathyal >> dan arus > turbid. >> Menjadi semakin menarik, karena dalam beberapa > literatur, iodine merupakan >> hasil dekomposisi red algae, yang > umumnya dijumpai dalam lingkungan laut >> dangkal yang beriklim > hangat. >> Sekarang, pertanyaannya, bagaimana asal-usul iodine di > Watudakon tersebut? >> Jelas, "beliau"-nya bukan > merupakan "mahluk" indigenous di aquifer-nya. >> > Barangkali lateral migration dari facies lain di formasi yang setara? ATau > >> justru migrate dari deepr & older formation, let's say, > setara Ngimbang? >> Barangkali ada yang pernah > "utak-atik" mengenai hal tersebut? Rekan-rekan >> di >> Kaltim barangkali ada yang pernah melakukan extraksi atau analysis > water >> content dari air yang ter produksi dan melihat keberadaan > unsur I >> tersebut? >> Adakah dia-nya > "bersimbiose" dengan let's say, mud diapirism? >> >> Salam, >> Bambang >> >> >> >> >> > ____________________________________________________________________________________ > >> Be a better friend, newshound, and >> know-it-all with > Yahoo! Mobile. Try it now. >> > http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ >> >> This email was Anti Virus checked by Administrator. >> > http://www.bpmigas.com >> >> >> >> > ---------------------------------------------------------------------------- > >> To unsubscribe, send email to: > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id >> To subscribe, send email to: > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >> Visit IAGI Website: > http://iagi.or.id >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 > 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >> Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> IAGI-net Archive 1: > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >> IAGI-net > Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> > --------------------------------------------------------------------- >> >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to > information >> posted >> on its mailing lists, whether > posted by IAGI or others. In no event shall >> IAGI and its > members be liable for any, including but not limited to >> direct > >> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, > resulting from >> loss >> of use, data or profits, arising > out of or in connection with the use of >> any >> > information posted on IAGI mailing list. >> >> > --------------------------------------------------------------------- >> >> >> > ---------------------------------------------------------------------------- > >> To unsubscribe, send email to: > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id >> To subscribe, send email to: > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >> Visit IAGI Website: > http://iagi.or.id >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 > 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >> Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> IAGI-net Archive 1: > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >> IAGI-net > Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> > --------------------------------------------------------------------- >> >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to > information >> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI > or others. In no event >> shall IAGI and its members be liable for > any, including but not limited to >> direct or indirect damages, > or damages of any kind whatsoever, resulting >> from loss of use, > data or profits, arising out of or in connection with >> the use > of any information posted on IAGI mailing list. >> >> > --------------------------------------------------------------------- >> >> > > > > ---------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event > shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to > direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with > the use of any information posted on IAGI mailing list. > > --------------------------------------------------------------------- > >

