Jadi menentukan kadar yodium yang diharapkan pada pemboran bagaimana ? Apa empiris saja ? Atau adakah suatu gambaran (ump isojod map ) berdasarkan korelasi sumur ?
Maaf , hanya penasaran ingin tahu saja. Kalau mau nanya sama "walanda paeh " mah saya - nya juga harus ........ dulu .hehehehe Aya aya wae si Wilher mah. Si Abah ____________________________________________________________________________ > Abah, setahu saya eksplorasi geologi untuk Yodium di Watudakon dan > sekitarnya sdh dilakukan sejak zaman baheula. Bor pertamanya saja th > 40-an. Jadi sebaiknya ditanyakan pada 'walanda paeh' (eh punten eta teh > istilah Bang Wilher Simanjuntak)di Perpustakaan Geologi jl. > Diponegoro....Tapi Ijk mah Holland Sprechken neicht.... > > Salam > TPS > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Wednesday, January 30, 2008 2:26 PM > To: [email protected] > Subject: Spam:Re: [iagi-net-l] RE: Spam:Re: [iagi-net-l] Yodium & mud > diapirism > > > >> > Tony > > Yang saya maksud , apakah pada awal sekali ada > kegiatan eksplorasi (non drilling) yang kemudian menemukan "cebakan > air beryodium tinggi" ?. > > Kalau soal nama , keren Abah Anom > atuh : > Kahiji pasti masih anom , kasep gagah > Kadua pasti > taat beragama , mendalami agama , sakti deui siga Abah Anom di > Suralaya > > Ari Abah mah pasti kolot, peot jeung sok bodo > titotoloyo mun aur urang Sunda mah , heheheh. > > Si Abah > > > > Pada th 1992, saat PT. Kimia Farma (pemilik Watu > Dakon) akan meningkatkan >> kapasitas produksinya melalui > penambahan beberapa titik bor yang baru, sy >> terlibat dalam > pembuatan dokumen AMDAL nya. Beberapa catatan yang menarik >> > perhatian saya dan masih bisa diingat (selama sekitar 1 bulan >> > disana/tinggal di Mess KF Watudakon mengobrak abrik data-data geologi, >> geokimia, produksi, processing, cara pembuangan limbah) anatara > lain >> adalah: >> 1. Terkait dengan mula jadi Iod saya > setuju dengan pendapat yang >> menyatakan telah terjadinya > 'pengayaan' (apapun penyebabnya) dengan sumber >> berasal dr air > laut mengingat komposisi kimiawi 'brine' nya kira kira sama >> > dengan komposisi kimiawi air laut. >> 2. Terdapat lebih dari satu > 'Iod bearing Aquifer'. Sumur sumur Belanda >> (lama) kedalamannya > sekitar 350 meteran. Sumur sumur baru di bor hingga >> kedalaman > 650 meter. Data-data geofisika mereka cukup lengkap. >> 3. Yang > lebih menarik perhatian kami saat itu adlh limbah mereka 'sangat >> destruktif' terhadap tanaman di sekitar pabrik. Segala jenis > daun-daunan >> di sekitar pabrik (radius 800 meter) pada kering > dan mati hanya karena uap >> yg turun di pagi hari/pengembunan > atau setelah hujan turun. >> 4. Cara membuang limbah mereka yang > 'jorok' lebih menarik perhatian sy. >> Setelah Yodium diekstraksi > di pabrik, limbahnya DIINJEKSIKAN ke lubang >> yang lain (khusus > utk buang limbah) tetapi OPEN HOLE..Hal ini merusak >> tatanan > (kualitas) akifer airtanah dangkal di kawasan tersebut. Buat para >> hidrogeolog hal ini akan sangat menarik untuk dipelajari/membuat > >> pemodelan: "Fenomena Transportasi Brine dalam Medium > Porous". Bayangkan >> Jutaan m3 brine diinjeksikan selama > kurun waktu puluhan tahun (sejak mulai >> produksi tahun 40an). > >> >> Salam: >> TPS (Abah ANOM), abis Abah SEPUH > (Kang Yanto) keburu 'declared' >> >> -----Original > Message----- >> > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] >> Sent: Wednesday, January 30, 2008 > 12:25 AM >> To: [email protected] >> Subject: Spam:Re: > [iagi-net-l] Yodium & mud diapirism >> >> >> > >>> Andang , Awang (akh jago jago A A namanya) >> > >> Si Abah >> jadi ketari neich . >> Asal usul kok > ngebor itu pake eksplorasi apa ya >> ? >> Mungkin tahu > ? >> >> Si Abah >> >> > _________________________________________________________________ >> >> >> Kembali ke pertanyaan mas BM: > "Bagaimana >> asal-usul iodine di Watudakon >>> > tersebut"? >>> >>> Selain merujuk ke referensi > yg terserak ttg geologi yodium dari >> internet, >>> > beberapa >>> "fakta" dari yodium di >> > Watudakon tersebut nampaknya juga bisa dijadikan >>> >> > "clue" sekaligus "constraint" dari genesanya. >>> >>> 1. Asosiasi-nya dengan "connate-water" > yang >> punya salinity 20.000 ppm NaCl >>> equivalent > menandakan bahwa >> initial pore-water dari aquifer Yodium >>> tersebut >>> >> berasal dari pengendapan > laut (marine - seawater) dengan "sedikit >> sekali" >>> (kalaupun ada) encroachment meteoric water. >>> >>> 2. Hal tersebut juga dikuatkan oleh informasi independen >> lainnya yang >>> menyatakan bahwa lingkungan pengendapan > aquifer >> tersebut adalah "bathyal" >>> dan > mekanisme >> pengendapannya "arus turbid". >>> >>> 3. >> Konsentrasi Yodium di air laut > terbuka di daerah tropis, normal >>> >> rata2nya >>> 0.064 ppm (Turekian, 1968); bahkan di Jepang malah >> > 0.05 ppm >>> >> > (http://www.gasukai.co.jp/english/iodine/materials.html) . Dengan demikian > >> >>> konsentrasi yodium s/d 100 ppm (2000 kali lipat) > di Watudakon >> >>> seharusnyalah >>> > diakibatkan oleh proses pengayaan, yg >> salaha satunya mungkin > diakibatkan >>> oleh konsentrasi >>> >> > berlebihan dari organisme penyerap yodium (ganggang, karang, dsb) >>> >>> 4. Sayangnya,... seperti diungkapkan juga oleh > mas BM, >> ganggang dan coral >>> yang >>> > biasa menyerap yodium >> berlebihan itu hidupnya di laut dangkal - > photic >>> zone, >>> yang jauh dari batimetri > bathyal seperti disyaratkan oleh >> interpretasi >>> > sedimentologi-biostrat. Dengan demikian >> konsentrasi berlebihan > akibat >>> akumulasi organisme penyerap >> yodium dalam > sedimen menjadi tidak mungkin >>> dijadikan >> > "alasan" konsentrasi yang tinggi tersebut. >>> >>> >> 5. Kemungkinan lainnya adalah: pengayaan yodium yang > diakibatkan oleh >>> pelarutan yodium dari fragmen-fragmen > batuan volkanik yang menjadi >> >>> komponen >>> penyusun turbidit. Pelarutan terjadi pada >> waktu > proses diagenesa >>> penguburan >>> sedimen yang > cepat >> sehingga masuk ke jendela temperatur dimana kestabilan > >>> yodium >> dalam mineral terganggu. Bersamaan dengan > pemerasan air dalam >>> >> sedimen >>> yang > diakbatkan kompaksi, maka yodium terlarut itu akan >> tertransport > >>> bersamaan dengan air asin (air laut yg >> > terperangkap dalam lempung) >>> kemudian >>> masuk > dalam >> carrier bed / aquifer batupasir volkanik yang porous dan > >>> >> meningkatkan konsentrasi yodium di aquifer > tersebut. Dengan demikian yang >> >>> perlu ditelisik > lebih lanjut adalah: jenis batuan volkanik apa >> di Jawa >>> Timur >>> yang punya kandungan yodium agak di >> luar anomali? Beberapa literatur >>> menyebutkan: > andesit-baslat >> tertentu mempunyai kadar yodium yang relatif >>> lebih tinggi dari >> volkanik lainnya. Mungkin > kawan-kawan volkanologist >>> dapat >>> memberikan > enlightment dari titik diskusi ini. (Note: mungkin saja >> jenis > >>> volkanik di Jawa Timur ini berbeda dengan jenis volkanik > >> yang ada Jawa >>> Barat, sehingga kita tidak > menemukan fenomena >> pengayaan yodium yang serupa >>> > di Cekungan Bogor). >>> >>> 6. Dengan alur pemikiran > spt diungkapkan di nomer 5 di atas, maka >> dapat >>> > dijelaskan kenapa kita tidak menjumpai anomali yodium di >> > connate-water di >>> Cekungan Kutai, terutam di bagia hilir: > dimana >> influx fragmen volkaniknya >>> hampir bisa > dikatakan minor,.. >> komponen pembentuk butir/fragmen sedimennya > >>> pada umumnya >> recycled quartz. >>> >>> 7. Di daerah mud-diapir Kutai pun >> kita tidak > mendapatkan kadar yodium yang >>> mencurigakan, walaupun >> air formasi yang terkait dengan sedimen2 yang >>> > dikeluarkan oleh >> diapir tersebut juga asin - air laut (+/- > 20.000 ppm >>> NaCl) >>> >>> Salam >>> >>> Andang Bachtiar >>> >> GDA > Sedimentologist >>> >>> ----- Original Message ----- > >>> >> > From: "Awang Harun Satyana" >> <[EMAIL PROTECTED]> >>> To: > <[email protected]> >>> Sent: Monday, January 28, 2008 > 8:19 AM >>> Subject: RE: >> [iagi-net-l] Yodium & > mud diapirism >>> >>> >>> >> Pak > Suratman, guru saya sewaktu di PPT-Migas Cepu (1990), pernah menulis >> >>> soal geologi yodium, khususnya yang di Jawa Timur, > di >> Proceedings PIT >>> IAGI. >>> Edisi ke > berapa, nanti saya >> cek lagi. >>> >>> Saat > ini 95 % kebutuhan yodium dunia >> dipasok oleh Chili, Amerika, > Jepang >>> yang mengekstraksi yodium >> dari > "Chili salt", semacam halit sepertinya, di >>> >> Indonesia sulit kelihatannya mendapatkan deposit semacam saltrock > seperti >> >>> Chili salt. >>> >>> Yodium kan terdapat juga di >> air laut atau ganggang > seperti yang Pak >>> Bambang >>> >> > sebutkan. Kelihatannya dari asal itulah yang diekstraksi di PT Kimia Farma > >> >>> Watudakon, Mojokerto. Produksinya 100-120 > ton/tahun, bisa >> memenuhi pasar >>> domestik. > Perusahaan tersebut memproduksi iodium >> dari bahan baku air > sumur >>> artesis yang digali hingga kedalaman >> 200 > meter untuk sumur dangkal dan 700 >>> meter untuk sumur dalam. > >> Kandungan ion iodida air sumur berkisar antara >>> > 60-130 mg/L. >>> >>> Menggenjot produksinya, kiranya > bisa dilakukan dengan >> dua cara : >>> intensifikasi > dan ekstensifikasi (jadi ingat program >> peningkatan >>> pangan/padi >>> yang digulirkan oleh alm. >> > Pak Suharto, presiden RI ke-2). Intensifikasi, >>> ya >>> >> membor sumur2 baru di sekitar Watudakon atau > memperbaiki sumur2 tua yang >> >>> sudah 200 tahun > umurnya itu. Ekstensifikasi, ya mencari deposit >> yodium >>> baru, >>> sementara ini ikuti saja jalur >> > Watudakon ke arah barat, masih sama kok >>> geologinya. >> Ekstensifikasi ini terbukti di lapangan2 Cepu. Berdasarkan >>> >> hasil >>> survei dan penelitian yang > dilakukan sebuah perusahaan >> sebenarnya >>> > sumur-sumur tersebut mempunyai cadangan deposit >> iodium yang > potensial. >>> Diantaranya adalah sumur minyak bumi >> > Lapangan Ledok dan Nglobo, yang >>> dikelola oleh > Pertamina-Cepu, >> masing-masing mempunyai kapasitas air total >>> sebesar 500 m3/hari >> dan 700 m3/hari serta mengandung > iodida sebesar 60-170 >>> mg/L. >> >>> >>> Sampai saat ini limbah cair itu belum dimanfaatkan >> > dan dibuang begitu saja >>> ke sungai atau laut. Tidak ada >> perbedaan teknologi proses yang digunakan >>> dalam > produksi iodium >> dari air asosiasi minyak ini, kecuali > penambahan 1 >>> buah unit >> pre-treatment. Unit > tersebut berperan memisahkan sisa-sisa >>> >> partikel > minyak dan dapat dilakukan pemisahan secara mekanis atau adsorbsi >> >>> menggunakan batuan aluminosilikat-seperti kaolin, > bentonit atau >> zeolit. >>> >>> Pemanfaatan > limbah air sumur minyak jelas >> banyak gunanya : mengurangi >>> pencemaran, menghasilkan yodium, >> menghemat devisa > negara untuk impor, dan >>> jelas mengatasi >> > penyakit2 GAKI (gangguan akibat kekurangan iodium). >>> >>> >> Salam, >>> awang >>> >>> -----Original Message----- >> >>> >> > > From: Bambang Satya Murti [mailto:[EMAIL PROTECTED] >>> > Sent: Sunday, January 27, 2008 11:45 C++ >>> To: IAGI NET >> >>> Subject: [iagi-net-l] Yodium & mud diapirism >>> >>> Sharing knowledge saja >>> Yodium > merupakan salah satu >> komponen vital dalam kehidupan >>> kita...cerita-nya >>> >> bisa panjang > ditinjau dari segi medis. Njenengan luka, hmm, perlu Iodine >> >>> Providon ("Betadin"), dalam garam dapur, hmm, >> mencegah kretinisme >>> > ("kerdil")...dst..dst.. >>> Lha di Indonesia, yodium > di ekstrak secara komersial di plant >> Watudakon, >>> > Jombang, dari deep water well yang memproduksi brine >> water dari > formasi >>> Pucangan - Kalibeng, dengan konsentrasi NaCl >> sekitar 20,000 ppm. Tinggi >>> kan? >>> > Sementara, >> konsentrasi iodine-nya hanya sekitar 100 ppm. >>> Nah, yang >> menarik, aquifer dari kedua formasi > tersebut di daerah >>> >> Watudakon, >>> > berdasarkan core dan data biostrat yang pernah >> dilakukan, > menunjukkan umur >>> Plio-Pleistosen, dan besar >> > kemungkinan diendapkan dalam lingkungan bathyal >>> dan arus > >> turbid. >>> Menjadi semakin menarik, karena dalam > beberapa >> literatur, iodine merupakan >>> hasil > dekomposisi red algae, yang >> umumnya dijumpai dalam lingkungan > laut >>> dangkal yang beriklim >> hangat. >>> Sekarang, pertanyaannya, bagaimana asal-usul iodine di >> Watudakon tersebut? >>> Jelas, "beliau"-nya > bukan >> merupakan "mahluk" indigenous di aquifer-nya. > >>> >> Barangkali lateral migration dari facies lain di > formasi yang setara? ATau >> >>> justru migrate dari > deepr & older formation, let's say, >> setara Ngimbang? >>> Barangkali ada yang pernah >> "utak-atik" > mengenai hal tersebut? Rekan-rekan >>> di >>> Kaltim > barangkali ada yang pernah melakukan extraksi atau analysis >> > water >>> content dari air yang ter produksi dan melihat > keberadaan >> unsur I >>> tersebut? >>> > Adakah dia-nya >> "bersimbiose" dengan let's say, mud > diapirism? >>> >>> Salam, >>> Bambang >>> >>> >>> >>> >>> >> > ____________________________________________________________________________________ > >> >>> Be a better friend, newshound, and >>> know-it-all with >> Yahoo! Mobile. Try it now. >>> >> > http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ >>> > >>> This email was Anti Virus checked by Administrator. >>> >> http://www.bpmigas.com >>> >>> > >>> >>> >> > ---------------------------------------------------------------------------- > >> >>> To unsubscribe, send email to: >> > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id >>> To subscribe, send email > to: >> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >>> Visit IAGI > Website: >> http://iagi.or.id >>> Pembayaran iuran > anggota ditujukan ke: >>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > >>> No. Rek: 123 >> 0085005314 >>> Atas > nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >>> Bank BCA KCP. > Manara Mulia >>> No. Rekening: 255-1088580 >>> A/n: > Shinta Damayanti >>> IAGI-net Archive 1: >> > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >>> IAGI-net > >> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >>> > >> > --------------------------------------------------------------------- >>> >>> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with > regard to >> information >>> posted >>> on > its mailing lists, whether >> posted by IAGI or others. In no > event shall >>> IAGI and its >> members be liable for > any, including but not limited to >>> direct >> >>> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, >> resulting from >>> loss >>> of use, data or > profits, arising >> out of or in connection with the use of >>> any >>> >> information posted on IAGI > mailing list. >>> >>> >> > --------------------------------------------------------------------- >>> >>> >>> >> > ---------------------------------------------------------------------------- > >> >>> To unsubscribe, send email to: >> > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id >>> To subscribe, send email > to: >> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >>> Visit IAGI > Website: >> http://iagi.or.id >>> Pembayaran iuran > anggota ditujukan ke: >>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > >>> No. Rek: 123 >> 0085005314 >>> Atas > nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >>> Bank BCA KCP. > Manara Mulia >>> No. Rekening: 255-1088580 >>> A/n: > Shinta Damayanti >>> IAGI-net Archive 1: >> > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >>> IAGI-net > >> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >>> > >> > --------------------------------------------------------------------- >>> >>> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with > regard to >> information >>> posted on its mailing > lists, whether posted by IAGI >> or others. In no event >>> shall IAGI and its members be liable for >> any, > including but not limited to >>> direct or indirect damages, > >> or damages of any kind whatsoever, resulting >>> > from loss of use, >> data or profits, arising out of or in > connection with >>> the use >> of any information > posted on IAGI mailing list. >>> >>> >> > --------------------------------------------------------------------- >>> >>> >> >> >> >> > ---------------------------------------------------------------------------- > >> To unsubscribe, send email to: > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id >> To subscribe, send email to: > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >> Visit IAGI Website: > http://iagi.or.id >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 > 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >> Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> IAGI-net Archive 1: > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >> IAGI-net > Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> > --------------------------------------------------------------------- >> >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to > information >> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI > or others. In no event >> shall IAGI and its members be liable for > any, including but not limited to >> direct or indirect damages, > or damages of any kind whatsoever, resulting >> from loss of use, > data or profits, arising out of or in connection with >> the use > of any information posted on IAGI mailing list. >> >> > --------------------------------------------------------------------- >> >> > > > > ---------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event > shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to > direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with > the use of any information posted on IAGI mailing list. > > --------------------------------------------------------------------- > >

