Abah,...kalau ada yang niat/rajin dan mau melakukannya sih gampang aja...karena 
data-data nya lengkap: isopach, log bor, debit fluida setiap lubang bor, data 
pumping test, hasil analisis hidrokimia dari setiap sumur, batas cekungan, well 
loging, dll. Caranya minta ijin dulu ke Kantor Pusat PT. Kimia Farma di Bandung 
(kalau nggak salah di Jl. Pajajaran, Dekat Pabrik Kina)terus dikasih surat 
untuk ke Kepala UPT-Y di Watudakon, dulu sih saya berhubungan dengan geologist 
lulusan UGM (lupa namanya). Cuman kayak di Pertamina.....bisa dibaca ditempat, 
tidak boleh dibawa keluar atau difotokopi sendiri (dulu karena Amdal nya untuk 
kepentingan mereka juga, saya boleh meng copy hanya yang akan jadi lampiran 
laporan AMDAL saja).

Penentuan kadar Yodium (kisaran konsentrasinya tertentu) betul dilakukan secara 
empiris mengacu kepada data-data hidrokimia sumur belanda, kalau akifer nya 
masih itu itu juga dan nggak kelihatan gejala struktur yang signifikan, maka di 
puncak antiklin ditentukan titik bor produksi.

Salam:
TPS

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, January 31, 2008 12:30 PM
To: [email protected]
Subject: Spam:Re: [iagi-net-l] RE: Spam:Re: [iagi-net-l] RE: Spam:Re: 
[iagi-net-l] Yodium & mud diapirism



Jadi menentukan kadar yodium yang diharapkan pada pemboran bagaimana ?
Apa empiris saja ? Atau adakah suatu gambaran (ump isojod map )
berdasarkan korelasi sumur ?

Maaf , hanya penasaran ingin tahu
saja. Kalau mau nanya sama "walanda paeh " mah saya - nya juga
harus ........ dulu .hehehehe

Aya aya wae si Wilher mah.

Si Abah

____________________________________________________________________________


> Abah, setahu saya eksplorasi geologi untuk Yodium di
Watudakon dan 
> sekitarnya sdh dilakukan sejak zaman baheula. Bor
pertamanya saja th 
> 40-an. Jadi sebaiknya ditanyakan pada
'walanda paeh' (eh punten eta teh 
> istilah Bang Wilher
Simanjuntak)di Perpustakaan Geologi jl. 
> Diponegoro....Tapi Ijk
mah Holland Sprechken neicht.... 
> 
> Salam 
>
TPS 
> 
> -----Original Message----- 
> 
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent:
Wednesday, January 30, 2008 2:26 PM 
> To: [email protected] 
> Subject: Spam:Re: [iagi-net-l] RE: Spam:Re: [iagi-net-l] Yodium
& mud 
> diapirism 
> 
> 
> 
>> 
> Tony 
> 
> Yang saya maksud , apakah
pada awal sekali ada 
> kegiatan eksplorasi (non drilling) yang
kemudian menemukan "cebakan 
> air beryodium tinggi" ?.

> 
> Kalau soal nama , keren Abah Anom 
> atuh :

> Kahiji pasti masih anom , kasep gagah 
> Kadua 
pasti 
> taat beragama , mendalami agama , sakti
deui siga Abah Anom di 
> Suralaya 
> 
> Ari
Abah mah pasti kolot, peot  jeung sok bodo 
> titotoloyo mun
aur urang Sunda mah , heheheh. 
> 
> Si Abah 
>

> 
> 
>  Pada th 1992, saat PT. Kimia Farma
(pemilik Watu 
> Dakon) akan meningkatkan 
>> kapasitas
produksinya melalui 
> penambahan beberapa titik bor yang baru, sy

>> terlibat dalam 
> pembuatan dokumen AMDAL nya.
Beberapa catatan yang menarik 
>> 
> perhatian saya dan
masih bisa diingat (selama sekitar 1 bulan 
>> 
>
disana/tinggal di Mess KF Watudakon mengobrak abrik data-data geologi, 
>> geokimia, produksi, processing, cara pembuangan limbah) anatara

> lain 
>> adalah: 
>> 1. Terkait dengan
mula jadi Iod saya 
> setuju dengan pendapat yang 
>>
menyatakan telah terjadinya 
> 'pengayaan' (apapun penyebabnya)
dengan sumber 
>> berasal dr air 
> laut mengingat
komposisi kimiawi 'brine' nya kira kira sama 
>> 
>
dengan komposisi kimiawi air laut. 
>> 2. Terdapat lebih dari
satu 
> 'Iod bearing Aquifer'. Sumur sumur Belanda 
>>
(lama) kedalamannya 
> sekitar 350 meteran. Sumur sumur baru di
bor hingga 
>> kedalaman 
> 650 meter. Data-data
geofisika mereka cukup lengkap. 
>> 3. Yang 
> lebih
menarik perhatian kami saat itu adlh limbah mereka 'sangat 
>>
destruktif' terhadap tanaman di sekitar pabrik. Segala jenis 
>
daun-daunan 
>> di sekitar pabrik (radius 800 meter) pada
kering 
> dan mati hanya karena uap 
>> yg turun di
pagi hari/pengembunan 
> atau setelah hujan turun. 
>>
4. Cara membuang limbah mereka yang 
> 'jorok' lebih menarik
perhatian sy. 
>> Setelah Yodium diekstraksi 
> di
pabrik, limbahnya DIINJEKSIKAN ke lubang 
>> yang lain (khusus

> utk buang limbah) tetapi OPEN HOLE..Hal ini merusak 
>> tatanan 
> (kualitas) akifer airtanah dangkal di
kawasan tersebut. Buat para 
>> hidrogeolog hal ini akan sangat
menarik untuk dipelajari/membuat 
> 
>> pemodelan:
"Fenomena Transportasi Brine dalam Medium 
> Porous".
Bayangkan 
>> Jutaan m3 brine diinjeksikan selama 
>
kurun waktu puluhan tahun (sejak mulai 
>> produksi tahun
40an). 
> 
>> 
>> Salam: 
>> TPS
(Abah ANOM), abis Abah SEPUH 
> (Kang Yanto) keburu 'declared' 
>> 
>> -----Original 
> Message----- 
>> 
> 
From: [EMAIL PROTECTED] 
>
[mailto:[EMAIL PROTECTED] 
>> Sent: Wednesday, January 30,
2008 
> 12:25 AM 
>> To: [email protected] 
>> Subject: Spam:Re: 
> [iagi-net-l] Yodium & mud
diapirism 
>> 
>> 
>> 
> 
>>> Andang , Awang (akh jago jago A A namanya) 
>> 
> 
>> Si Abah 
>> jadi ketari
neich . 
>> Asal usul kok 
> ngebor itu pake eksplorasi
apa ya 
>> ? 
>> Mungkin tahu 
> ?  
>> 
>> Si Abah 
>> 
>> 
>
_________________________________________________________________ 
>> 
>> 
>>    Kembali ke
pertanyaan mas BM: 
> "Bagaimana 
>> asal-usul
iodine di Watudakon 
>>> 
> tersebut"? 
>>> 
>>> Selain merujuk ke referensi 
>
yg terserak ttg geologi yodium dari 
>> internet, 
>>> 
> beberapa 
>>> "fakta"
dari yodium di 
>> 
> Watudakon tersebut nampaknya juga
bisa dijadikan 
>>> 
>> 
>
"clue" sekaligus "constraint" dari genesanya. 
>>> 
>>> 1. Asosiasi-nya dengan
"connate-water" 
> yang 
>> punya salinity
20.000 ppm NaCl 
>>> equivalent 
> menandakan bahwa

>> initial pore-water dari aquifer Yodium 
>>>
tersebut 
>>> 
>> berasal dari pengendapan 
> laut (marine - seawater) dengan "sedikit 
>>
sekali" 
>>> (kalaupun ada) encroachment meteoric
water. 
>>> 
>>> 2. Hal tersebut juga
dikuatkan oleh informasi independen 
>> lainnya yang 
>>> menyatakan bahwa lingkungan pengendapan 
> aquifer

>> tersebut adalah "bathyal" 
>>> dan

> mekanisme 
>> pengendapannya "arus
turbid". 
>>> 
>>> 3. 
>>
Konsentrasi Yodium di air laut 
> terbuka di daerah tropis, normal

>>> 
>> rata2nya 
>>> 0.064 ppm
(Turekian, 1968); bahkan di Jepang malah 
>> 
> 0.05
ppm 
>>> 
>> 
>
(http://www.gasukai.co.jp/english/iodine/materials.html) . Dengan demikian

> 
>> 
>>> konsentrasi yodium s/d 100
ppm (2000 kali lipat) 
> di Watudakon 
>> 
>>> seharusnyalah 
>>> 
> diakibatkan
oleh proses pengayaan, yg 
>> salaha satunya mungkin 
>
diakibatkan 
>>> oleh konsentrasi 
>>> 
>> 
> berlebihan dari organisme penyerap yodium (ganggang,
karang, dsb) 
>>> 
>>> 4. Sayangnya,...
seperti diungkapkan juga oleh 
> mas BM, 
>> ganggang
dan coral 
>>> yang 
>>> 
> biasa
menyerap yodium 
>> berlebihan itu hidupnya di laut dangkal -

> photic 
>>> zone, 
>>> yang jauh
dari batimetri 
> bathyal seperti disyaratkan oleh 
>>
interpretasi 
>>> 
> sedimentologi-biostrat. Dengan
demikian 
>> konsentrasi berlebihan 
> akibat 
>>> akumulasi organisme penyerap 
>> yodium dalam

> sedimen menjadi tidak mungkin 
>>> dijadikan 
>> 
> "alasan" konsentrasi yang tinggi tersebut.

>>> 
>>> 
>> 5. Kemungkinan
lainnya adalah: pengayaan yodium yang 
> diakibatkan oleh 
>>> pelarutan yodium dari fragmen-fragmen 
> batuan
volkanik yang menjadi 
>> 
>>> komponen 
>>> penyusun turbidit. Pelarutan terjadi pada 
>>
waktu 
> proses diagenesa 
>>> penguburan 
>>> sedimen yang 
> cepat 
>> sehingga masuk
ke jendela temperatur dimana kestabilan 
> 
>>>
yodium 
>> dalam mineral terganggu. Bersamaan dengan 
>
pemerasan air dalam 
>>> 
>> sedimen 
>>> yang 
> diakbatkan kompaksi, maka yodium terlarut
itu akan 
>> tertransport 
> 
>>>
bersamaan dengan air asin (air laut yg 
>> 
>
terperangkap dalam lempung) 
>>> kemudian 
>>>
masuk 
> dalam 
>> carrier bed / aquifer batupasir
volkanik yang porous dan 
> 
>>> 
>>
meningkatkan konsentrasi yodium di aquifer 
> tersebut. Dengan
demikian yang 
>> 
>>> perlu ditelisik 
>
lebih lanjut adalah: jenis batuan volkanik apa 
>> di Jawa 
>>> Timur 
>>> yang punya kandungan yodium agak
di 
>> luar anomali? Beberapa literatur 
>>>
menyebutkan: 
> andesit-baslat 
>> tertentu mempunyai
kadar yodium yang relatif 
>>> lebih tinggi dari 
>> volkanik lainnya. Mungkin 
> kawan-kawan volkanologist

>>> dapat 
>>> memberikan 
>
enlightment dari titik diskusi ini. (Note: mungkin saja 
>>
jenis 
> 
>>> volkanik di Jawa Timur ini berbeda
dengan jenis volkanik 
> 
>> yang ada Jawa 
>>> Barat, sehingga kita tidak 
> menemukan fenomena

>> pengayaan yodium yang serupa 
>>> 
>
di Cekungan Bogor). 
>>> 
>>> 6. Dengan alur
pemikiran 
> spt diungkapkan di nomer 5 di atas, maka 
>> dapat 
>>> 
> dijelaskan kenapa kita
tidak menjumpai anomali yodium di 
>> 
> connate-water
di 
>>> Cekungan Kutai, terutam di bagia hilir: 
>
dimana 
>> influx fragmen volkaniknya 
>>> hampir
bisa 
> dikatakan minor,.. 
>> komponen pembentuk
butir/fragmen sedimennya 
> 
>>> pada umumnya 
>> recycled quartz. 
>>> 
>>> 7. Di
daerah mud-diapir Kutai pun 
>> kita tidak 
>
mendapatkan kadar yodium yang 
>>> mencurigakan, walaupun

>> air formasi yang terkait dengan sedimen2 yang 
>>> 
> dikeluarkan oleh 
>> diapir tersebut
juga asin - air laut (+/- 
> 20.000 ppm 
>>> NaCl)

>>> 
>>> Salam 
>>> 
>>> Andang Bachtiar 
>>> 
>> GDA 
> Sedimentologist 
>>> 
>>> -----
Original Message ----- 
> 
>>> 
>> 
> 
From: "Awang Harun Satyana" 
>>
<[EMAIL PROTECTED]> 
>>> To: 
>
<[email protected]> 
>>> Sent: Monday, January 28,
2008 
> 8:19 AM 
>>> Subject: RE: 
>>
[iagi-net-l] Yodium & 
> mud diapirism 
>>> 
>>> 
>>> 
>> Pak 
> Suratman,
guru saya sewaktu di PPT-Migas Cepu (1990), pernah menulis 
>>

>>> soal geologi yodium, khususnya yang di Jawa Timur, 
> di 
>> Proceedings PIT 
>>> IAGI. 
>>> Edisi ke 
> berapa, nanti saya 
>> cek
lagi. 
>>> 
>>> Saat 
> ini 95 %
kebutuhan yodium dunia 
>> dipasok oleh Chili, Amerika, 
> Jepang 
>>> yang mengekstraksi yodium 
>>
dari 
> "Chili salt", semacam halit sepertinya, di 
>>> 
>> Indonesia sulit kelihatannya mendapatkan
deposit semacam saltrock 
> seperti 
>> 
>>> Chili salt. 
>>> 
>>> Yodium
kan terdapat juga di 
>> air laut atau ganggang 
>
seperti yang Pak 
>>> Bambang 
>>> 
>> 
> sebutkan. Kelihatannya dari asal itulah yang
diekstraksi di PT Kimia Farma 
> 
>> 
>>>
Watudakon, Mojokerto. Produksinya 100-120 
> ton/tahun, bisa 
>> memenuhi pasar 
>>> domestik. 
>
Perusahaan tersebut memproduksi iodium 
>> dari bahan baku air

> sumur 
>>> artesis yang digali hingga kedalaman

>> 200 
> meter untuk sumur dangkal dan 700 
>>> meter untuk sumur dalam. 
> 
>>
Kandungan ion iodida air sumur berkisar antara 
>>> 
> 60-130 mg/L. 
>>> 
>>> Menggenjot
produksinya, kiranya 
> bisa dilakukan dengan 
>> dua
cara : 
>>> intensifikasi 
> dan ekstensifikasi
(jadi ingat program 
>> peningkatan 
>>>
pangan/padi 
>>> yang digulirkan oleh alm. 
>>

> Pak Suharto, presiden RI ke-2). Intensifikasi, 
>>> ya 
>>> 
>> membor sumur2 baru di
sekitar Watudakon atau 
> memperbaiki sumur2 tua yang 
>> 
>>> sudah 200 tahun 
> umurnya itu.
Ekstensifikasi, ya mencari deposit 
>> yodium 
>>> baru, 
>>> sementara ini ikuti saja jalur 
>> 
> Watudakon ke arah barat, masih sama kok 
>>> geologinya. 
>> Ekstensifikasi ini terbukti di
lapangan2 Cepu. Berdasarkan 
>>> 
>> hasil 
>>> survei dan penelitian yang 
> dilakukan sebuah
perusahaan 
>> sebenarnya 
>>> 
>
sumur-sumur tersebut mempunyai cadangan deposit 
>> iodium yang

> potensial. 
>>> Diantaranya adalah sumur minyak
bumi 
>> 
> Lapangan Ledok dan Nglobo, yang 
>>> dikelola oleh 
> Pertamina-Cepu, 
>>
masing-masing mempunyai kapasitas air total 
>>> sebesar 500
m3/hari 
>> dan 700 m3/hari serta mengandung 
> iodida
sebesar 60-170 
>>> mg/L. 
>> 
>>>

>>> Sampai saat ini limbah cair itu belum dimanfaatkan 
>> 
> dan dibuang begitu saja 
>>> ke sungai
atau laut. Tidak ada 
>> perbedaan teknologi proses yang
digunakan 
>>> dalam 
> produksi iodium 
>> dari air asosiasi minyak ini, kecuali 
> penambahan 1

>>> buah unit 
>> pre-treatment. Unit 
>
tersebut berperan memisahkan sisa-sisa 
>>> 
>>
partikel 
> minyak dan dapat dilakukan pemisahan secara mekanis
atau adsorbsi 
>> 
>>> menggunakan batuan
aluminosilikat-seperti kaolin, 
> bentonit atau 
>>
zeolit. 
>>> 
>>> Pemanfaatan 
>
limbah air sumur minyak jelas 
>> banyak gunanya : mengurangi

>>> pencemaran, menghasilkan yodium, 
>>
menghemat devisa 
> negara untuk impor, dan 
>>>
jelas mengatasi 
>> 
> penyakit2 GAKI (gangguan akibat
kekurangan iodium). 
>>> 
>>> 
>>
Salam, 
>>> awang 
>>> 
>>>
-----Original Message----- 
>> 
>>> 
>> 
> 
> 
From: Bambang Satya Murti
[mailto:[EMAIL PROTECTED] 
>>> 
> Sent: Sunday,
January 27, 2008 11:45 C++ 
>>> To: IAGI NET 
>>

>>> Subject: [iagi-net-l] Yodium & mud diapirism 
>>> 
>>> Sharing knowledge saja 
>>> Yodium 
> merupakan salah satu 
>>
komponen vital dalam kehidupan 
>>> kita...cerita-nya 
>>> 
>> bisa panjang 
> ditinjau dari segi
medis. Njenengan luka, hmm, perlu Iodine 
>> 
>>>
Providon ("Betadin"), dalam garam dapur, hmm, 
>>
mencegah kretinisme 
>>> 
>
("kerdil")...dst..dst.. 
>>> Lha di Indonesia,
yodium 
> di ekstrak secara komersial di plant 
>>
Watudakon, 
>>> 
> Jombang, dari deep water well
yang memproduksi brine 
>> water dari 
> formasi 
>>> Pucangan - Kalibeng, dengan konsentrasi NaCl 
>>
sekitar 20,000 ppm. Tinggi 
>>> kan? 
>>> 
> Sementara, 
>> konsentrasi iodine-nya hanya sekitar 100
ppm. 
>>> Nah, yang 
>> menarik, aquifer dari
kedua formasi 
> tersebut di daerah 
>>> 
>> Watudakon, 
>>> 
> berdasarkan core dan
data biostrat yang pernah 
>> dilakukan, 
> menunjukkan
umur 
>>> Plio-Pleistosen, dan besar 
>> 
> kemungkinan diendapkan dalam lingkungan bathyal 
>>>
dan arus 
> 
>> turbid. 
>>> Menjadi
semakin menarik, karena dalam 
> beberapa 
>>
literatur, iodine merupakan 
>>> hasil 
>
dekomposisi red algae, yang 
>> umumnya dijumpai dalam
lingkungan 
> laut 
>>> dangkal yang beriklim 
>> hangat. 
>>> Sekarang, pertanyaannya, bagaimana
asal-usul iodine di 
>> Watudakon tersebut? 
>>>
Jelas, "beliau"-nya 
> bukan 
>> merupakan
"mahluk" indigenous di aquifer-nya. 
> 
>>> 
>> Barangkali lateral migration dari facies
lain di 
> formasi yang setara? ATau 
>> 
>>> justru migrate dari 
> deepr & older formation,
let's say, 
>> setara Ngimbang? 
>>> Barangkali
ada yang pernah 
>> "utak-atik" 
> mengenai
hal tersebut? Rekan-rekan 
>>> di 
>>> Kaltim

> barangkali ada yang pernah melakukan extraksi atau analysis 
>> 
> water 
>>> content dari air yang ter
produksi dan melihat 
> keberadaan 
>> unsur I 
>>> tersebut? 
>>> 
> Adakah dia-nya 
>> "bersimbiose" dengan let's say, mud 
>
diapirism? 
>>> 
>>> Salam, 
>>>
Bambang 
>>> 
>>> 
>>> 
>>> 
>>> 
>> 
>
____________________________________________________________________________________

> 
>> 
>>> Be a better friend,
newshound, and 
>>> know-it-all with 
>> Yahoo!
Mobile. Try it now. 
>>> 
>> 
>
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 
>>> 
> 
>>> This email was Anti Virus
checked by Administrator. 
>>> 
>>
http://www.bpmigas.com 
>>> 
>>> 
>

>>> 
>>> 
>> 
>
----------------------------------------------------------------------------

> 
>> 
>>> To unsubscribe, send email
to: 
>> 
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
>>> To subscribe, send email 
> to: 
>>
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
>>> Visit IAGI 
>
Website: 
>> http://iagi.or.id 
>>> Pembayaran
iuran 
> anggota ditujukan ke: 
>>> Bank Mandiri
Cab. Wisma Alia Jakarta 
> 
>>> No. Rek: 123 
>> 0085005314 
>>> Atas 
> nama: Ikatan Ahli
Geologi Indonesia (IAGI) 
>>> Bank BCA KCP. 
>
Manara Mulia 
>>> No. Rekening: 255-1088580 
>>> A/n: 
> Shinta Damayanti 
>>>
IAGI-net Archive 1: 
>> 
>
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
>>>
IAGI-net 
> 
>> Archive 2:
http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>>> 
> 
>> 
>
--------------------------------------------------------------------- 
>>> 
>>> DISCLAIMER: IAGI disclaims all
warranties with 
> regard to 
>> information 
>>> posted 
>>> on 
> its mailing lists,
whether 
>> posted by IAGI or others. In no 
> event
shall 
>>> IAGI and its 
>> members be liable for

> any, including but not limited to 
>>> direct 
>> 
>>> or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever, 
>> resulting from 
>>> loss 
>>> of use, data or 
> profits, arising 
>>
out of or in connection with the use of 
>>> any 
>>> 
>> information posted on IAGI 
>
mailing list. 
>>> 
>>> 
>> 
>
--------------------------------------------------------------------- 
>>> 
>>> 
>>> 
>> 
>
----------------------------------------------------------------------------

> 
>> 
>>> To unsubscribe, send email
to: 
>> 
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
>>> To subscribe, send email 
> to: 
>>
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
>>> Visit IAGI 
>
Website: 
>> http://iagi.or.id 
>>> Pembayaran
iuran 
> anggota ditujukan ke: 
>>> Bank Mandiri
Cab. Wisma Alia Jakarta 
> 
>>> No. Rek: 123 
>> 0085005314 
>>> Atas 
> nama: Ikatan Ahli
Geologi Indonesia (IAGI) 
>>> Bank BCA KCP. 
>
Manara Mulia 
>>> No. Rekening: 255-1088580 
>>> A/n: 
> Shinta Damayanti 
>>>
IAGI-net Archive 1: 
>> 
>
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
>>>
IAGI-net 
> 
>> Archive 2:
http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>>> 
> 
>> 
>
--------------------------------------------------------------------- 
>>> 
>>> DISCLAIMER: IAGI disclaims all
warranties with 
> regard to 
>> information 
>>> posted on its mailing 
> lists, whether posted by
IAGI 
>> or others. In no event 
>>> shall IAGI
and its members be liable for 
>> any, 
> including but
not limited to 
>>> direct or indirect damages, 
>

>> or damages of any kind whatsoever, resulting 
>>> 
> from loss of use, 
>> data or
profits, arising out of or in 
> connection with 
>>> the use 
>> of any information 
> posted
on IAGI mailing list. 
>>> 
>>> 
>>

>
--------------------------------------------------------------------- 
>>> 
>>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>
----------------------------------------------------------------------------

> 
>> To unsubscribe, send email to: 
>
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
>> To subscribe, send email
to: 
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
>> Visit IAGI
Website: 
> http://iagi.or.id 
>> Pembayaran iuran
anggota ditujukan ke: 
>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta

>> No. Rek: 123 
> 0085005314 
>> Atas
nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
>> Bank BCA KCP.
Manara Mulia 
>> No. Rekening: 255-1088580 
>> A/n:
Shinta Damayanti 
>> IAGI-net Archive 1: 
>
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
>> IAGI-net

> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>>

>
--------------------------------------------------------------------- 
>> 
>> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with
regard to 
> information 
>> posted on its mailing
lists, whether posted by IAGI 
> or others. In no event 
>> shall IAGI and its members be liable for 
> any,
including but not limited to 
>> direct or indirect damages,

> or damages of any kind whatsoever, resulting 
>>
from loss of use, 
> data or profits, arising out of or in
connection with 
>> the use 
> of any information
posted on IAGI mailing list. 
>> 
>> 
>
--------------------------------------------------------------------- 
>> 
>> 
> 
> 
> 
>
----------------------------------------------------------------------------

> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id 
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta 
> No. Rek: 123
0085005314 
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
> Bank BCA KCP. Manara Mulia 
> No. Rekening: 255-1088580 
> A/n: Shinta Damayanti 
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
information 
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI
or others. In no event 
> shall IAGI and its members be liable for
any, including but not limited to 
> direct or indirect damages,
or damages of any kind whatsoever, resulting 
> from loss of use,
data or profits, arising out of or in connection with 
> the use
of any information posted on IAGI mailing list. 
> 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 
> 



----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.

---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke