Setiap Institusi mempunyai fungsi dan tugas masing - masing . Kadang kadang ada yang terlalu berani menggelar pernyataan / konprensi pers namun juga ada yang sebaliknaya. Kalau pernytaan tsb menyangkut hal yg strategis dan mengundang perhatian publik apalagi dg disertakan data yg kuantitif biasanya publik tidak melihat institusinya namun melihatnya Ini suatu yg baru. Rasanya hal ini sering terjadi. Mungkin untuk pernyataan pernyataan yg sifatnya strategis dan akan mendapat perhatian publik yg besar , mbok yao dilakukan konsultasi publik dulu ... e....maksudnya konsultasi institusi dulu terutama yg menyangkut masalah lintas sektoral. Kita ini kan sudah punya Badan Geologi , saya dulu berpikir setelah adanya suatu Badan tersendiri maka semua aspek pergeologian ini akan dikomando oleh yang empunya Badan , ternyata masih jalan sendiri sendiri juga . Kalau diperhatikan mungkin kita itu punya lebih 5 institusi yang semuanya melakukan penelitian penelitian G & G.yg kadang kadang antara yg satu dg yg lain batasnya abu abu . Mungkin nggak ya Badan tsb sifatnya Nasional dibawah Presiden langsung tidak seperti sekrang ada dibawah ESDM shg sulit untuk bergerak lintas sektoral. yah seperti Bakosurtanal itu atau Bulog dll.

ISM


"Eksplorasi BPMIGAS" <[EMAIL PROTECTED]>; "IAGI" <[email protected]>
Sent: Tuesday, February 12, 2008 1:27 AM
Subject: [iagi-net-l] Re: [Forum-HAGI] Kritisi atas Berita Penemuan "Lapangan2 Super-Raksasa" di Aceh West Offshore (BPPT-BGR)


Jaman baheula, pada daerah2 open area ada yang melakukan speculative survey, biasanya juga tidak memunculkan besaran sumberdaya yang ada. Kini survey riset yang dilakukan oleh BPPT/BGR dengan interval yang sangat lebar menghasilkan gambar tentang kandungan migas yang sangat spektakuler. Alhamdulillah. Dan, adalah tugas pak Yusuf yang dipercaya untuk menginventarisir sumberdaya alam di BPPT mengungkapkan potensi yang ada di negeri ini.

Sekalian menegakkan kepala sebagai bangsa, alangkah baiknya jika putra-putri Indonesia sendiri berani bahu membahu melakukan usaha-usaha pembuktian. Sebelum eksplorasi, lakukan spec survey, masak orang luar terus yang melakukannya, padahal BPPT/LIPI punya kapal, mungkin PPGL punya peralatan, pemerintah dapat bonus2 tandatangan kontrak PSC, semua sumberdaya yang ada tersebut kan bisa didayagunakan. Masak sih Migas mengandalkan partner luar terus..... mbok yao potensi nasional dikoordinir yang rapih.

lam-salam,
ar-


----- Original Message ----
From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum-HAGI] Kritisi atas Berita Penemuan "Lapangan2 Super-Raksasa" di Aceh West Offshore (BPPT-BGR)


Harus hati-hati dan kritis menyikapi berita ini.

BPMIGAS tak punya urusan dengan berita ini. Wilayah ini kosong dari blok perminyakan yang menjadi pengawasan BPMIGAS.

Beberapa hal dari berita itu yang perlu dikritisi.

Yang baru teridentifikasi hanya terumbu2 yang belum diketahui umurnya, katakanlah terumbu ini berumur Miosen Awal-Miosen Tengah mengacu kepada terumbu yang menjadi objektif di Cekungan Sibolga sebelah selatan, di dekat wilayah survey BPPT-BGR ini. Terumbu2 ini pernah dieksplorasi Union Oil dan Caltex pada tahun 1970-an dan akhir 1980/awal 1990 dan telah dibor (Suma, Singkel, Ibu Suma) menghasilkan gas biogenik non-komersil.

Terumbu2 ini hanya didapat dari survey geomarin yang punya jarak lintasan 60 km. Prospek/lead apa yang bisa diidentifikasi dengan space seismik 60 km ? Yang namanya prospek ia harus diidentifikasi oleh jarak lintasan seismik <5 km.

Mengapa menganggap terumbu2 ini sebagai lapangan minyak ? Keberadaan terumbu tak mengindikasi keberadaan lapangan minyak. Keberadaan bright spot pun tak otomatis mengindikasi keberadaan gas column. Banyak brightspot sebagai akibat kontras impedansi litologi saja, dan telah banyak perusahaan tertipu oleh hal ini. Sumur terdalam dan terjauh di Makassar Strait dibor mengejar brightspot semacam ini, ternyata hanya kontras impedansi litologi akibat lapisan tuf di tengah lempung.

Cara perhitungan sumberdaya/cadangan sangat kasar, hanya mengalikan BRV (bulk rock volume) dengan porositas; padahal kita tahu bahwa untuk sampai ke angka sumberdaya si BRV harus dipotong oleh N/G (net to gross), dipotong lagi oleh porositas, dipotong lagi oleh Sw (saturasi air) atau Shc (saturasi HC), lalu dibagi oleh FVF (formation volume factor). Kalau mau menghitung terkurasnya berapa harus banyak dipotong lagi oleh RF (recovery factor). Kalau hanya menghitung sumberdaya dengan mengalikan BRV dengan porositas, maka yang dihitung hanyalah ruang pori, bukan hidrokarbon.

Mengapa mesti minyak ? Sibolga Basin dan semua cekungan muka busur di Sumatera-Jawa terkenal punya termal yang dingin (HFU <1.5; GG < 2 C/100 feet), kecuali Bengkulu Basin yang sedikit lebih panas; maka wajar saja kalau Union Oil dan Caltex menemukan gas biogenik saja di terumbu besar Singkel, Suma, Ibu Suma yang dibornya, padahal terumbu ini umurnya Miosen Awal. Minyak butuh termal yang lumayan panas.

Tak cocok menganalogikan terumbu2 temuan BPPT-BGR ini ke lapangan2 migas di Arakan atau Mergui Terrace offshore Myanmar. Mereka bukan pada posisi forearc basin, tetapi berlokasi di passive margin dengan delta Gangga di teluk Benggala dan Delta Irawadi dengan Andaman Sea Floor Spreading. Belum ada terbukti lapangan minyak/gas komersil di forearc basin.

Gempa Aceh Desember 2004 menggeser source rocks sehingga mengeluarkan panas dan mematangkan minyak adalah pernyataan yang menggelikan. Apakah kita tahu pasti lapisan source rocks di situ apa, apakah ia tergeser gempa ? Source rocks tak mengeluarkan panas, yang mengeluarkan panas adalah heat flow dari mantel dan panas konduktif dari tumpukan sedimen. Taruhlah gempa membuat sesar yang menghubungkan mantel dengan source rocks; tetapi harus diingat bahwa heat flow di sini minimal karena di wilayah barat Sumatera terjadi sel konveksi mantle downwelling yang membawa subduksi kerak samudera Hindia, jadi terhubung ke mantel yang dingin percuma saja.

Membandingkannya dengan sumberdaya lapangan2 di Arab sungguh tak sepadan, membandingkannya bukan "apple to apple" sebab lapangan2 raksasa di Arab memang sudah dihitung menurut kaidah perhitungan sumberdaya/cadangan dalam perminyakan, bahkan membandingkannya dengan lapangan Bayu Urip pun tak sepadan.

Tetapi, tak salah kalau BPPT/BGR mau menindaklanjuti temuan ini. Tetapi, pikirkanlah aspek2 negatifnya juga; dan sebaiknya berhati-hatilah mengeluarkan pendapat yang bombastis ini ke publik, dasar ilmiahnya masih sangat kurang, dan status evaluasinya masih teramat dini. Kalau sudah terlanjur terlempar ke publik, lalu bagaimana ?

Mimpi boleh, tetapi tak perlu ribut-ribut dulu ke mana2.

Salam,
awang

Guruh Didi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Selasa, 12 Feb 2008,
Ditemukan, Lapangan Migas Raksasa di Aceh

BPPT: Lebih Besar dari Milik Arab Saudi
JAKARTA - Bencana dahsyat tsunami di Aceh 26 Desember 2004 memunculkan
berkah tak terduga empat tahun kemudian. Berawal dari studi pascagempa
tsunami di perairan barat Sumatera, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
(BPPT) kemarin (11/2) memublikasikan temuan blok dengan potensi kandungan
migas raksasa.

Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surahman
mengatakan, Survei BPPT bersama Bundesanspalp fur Geowissnschaften und
Rohftoffe (BGR Jerman) itu menemukan kawasan perairan yang di dalam buminya
diperkirakan terkandung migas 107,5 hingga 320,79 miliar barel. Lapangan
migas tersebut terletak di daerah cekungan busur muka atau fore arc basin
perairan timur laut Pulau Simeuleu, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
"Kandungan migas itu luar biasa besar," ujar Yusuf di Kantor BPPT Jakarta
kemarin (11/2).

Sebagai perbandingan untuk menunjukkan besarnya kandungan migas di Aceh
tersebut, Yusuf menyebutkan, saat ini cadangan terbukti di Arab Saudi
mencapai 264,21 miliar barel atau hanya 80 persen dari kandungan migas di
Aceh. Sementara itu, cadangan Lapangan Banyu Urip di Cepu diperkirakan hanya 450 juta barel. Lapangan migas dapat dikategorikan raksasa atau giant field
jika cadangan terhitungnya lebih dari 500 juta barel.

Menurut Yusuf, angka potensi tersebut didapat dari hitungan porositas 30
persen. Artinya, diasumsikan hanya 30 persen dari volume cekungan batuan itu
yang mengandung migas. Meski demikian, lanjut dia, belum tentu seluruh
cekungan tersebut diisi hidrokarbon yang merupakan unsur pembentuk minyak.
"Karena itu, penemuan ini perlu kajian lebih lanjut," katanya.

Dia menyatakan, meski belum diketahui secara pasti, salah satu indikasi awal
keberadaan migas di cekungan tersebut dapat dilihat dari adanya carbonate
build ups sebagai reservoir atau penampung minyak serta bright spot yang
merupakan indikasi adanya gas.

Sejauh ini, lanjut Yusuf, Tim BPPT optimistis perairan timur laut Pulau
Simeuleu mengandung migas skala raksasa. Sebab, beberapa daerah yang
memiliki karakteristik sama sudah terbukti mengandung migas. Di antaranya,
di wilayah Myanmar, Andaman, serta California, AS.

Meski demikian, BPPT akan tetap membuat perhitungan realistis. Menurut
Yusuf, jika porositas diperkecil menjadi 15 persen, artinya diasumsikan
hanya 15 persen dari volume cekungan yang mengandung migas, angka minimal
cadangannya masih 53,7 miliar barel. "Tetap saja angka itu masih sangat
besar," terangnya.

Penemuan BPPT tersebut mendapat tanggapan positif dari ahli geologi
perminyakan Andang Bachtiar yang kemarin juga hadir di Kantor BPPT. Chairman PT Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) itu mengatakan, wilayah perairan
Indonesia memang memiliki banyak cekungan atau basin yang berpotensi
mengandung migas. "Banyak di antaranya yang belum teridentifikasi, " ujarnya.

Hingga saat ini, kata dia, sudah ada 66 cekungan plus 6 cekungan fore arc
basin yang teridentifikasi berisi minyak. Pada 2003, lanjut dia, Ikatan Ahli
Geologi Indonesia (IAGI) berhasil mengidentifikasi hipotesis cadangan gas
sebesar 26,7 triliun kaki kubik (TCF) yang tersebar di beberapa wilayah.
"Kebanyakan memang berada di sebelah barat Sumatera," terangnya.

Terkait dengan penemuan BPPT itu, Andang menyatakan masih perlu kajian lebih
lanjut untuk bisa mendekati hitungan berapa besar cadangan terbuktinya.
Menurut dia, lokasi studi seismik 2D yang dilakukan BPPT dengan interval
jarak 60 km masih terlalu longgar. "Harus lebih rapat lagi, paling tidak
intervalnya 20 km," katanya.

Karena itu, lanjut dia, BPPT harus segera berkoordinasi dengan pemerintah
untuk segera menindaklanjuti temuan tersebut. Sebab, untuk mengkaji lebih
teliti, dibutuhkan dana cukup besar.Dia menyebut, untuk proses studi seismik 2D yang lebih rapat, dibutuhkan
dana sekitar USD 7 juta.

Kemudian, untuk mengetahui angka cadangan migas,
perlu dilakukan minimal 14 pengeboran sumur di 14 titik cekungan. Biaya
pengeboran satu sumur, lanjut alumnus Colorado School of Mines, AS, itu,
sekitar USD 30 juta. Dengan demikian, minimal dibutuhkan dana USD 427 juta.
"Itu baru untuk studi eksplorasi. Untuk pengembangan lapangan, jumlahnya
jauh lebih besar," jelasnya.

Andang menambahkan, yang saat ini harus segera dilakukan BPPT dan pemerintah
adalah koordinasi. Menurut dia, meskipun lapangan migas tersebut paling
cepat baru dapat dikembangkan dalam waktu tujuh tahun ke depan, pemerintah
harus bergerak cepat. "Jangan sampai potensi ini salah urus," tegasnya.

Dia mengatakan, karakter lapangan yang berada di laut dalam (kedalaman lebih dari 200 meter) jelas membutuhkan dana besar dan teknologi tinggi yang belum tentu dimiliki Pertamina selaku perusahaan nasional. Meski demikian, lanjut
dia, jangan sampai tersebarnya informasi potensi tersebut justru
dimanfaatkan pihak-pihak yang punya modal besar dan teknologi, yakni
perusahaan asing. "Intinya, pemerintah harus berusaha agar potensi ini bisa
dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan bangsa," jelasnya.

Terkait dengan hal itu, Kepala BPPT Said Jenie menyatakan sudah melaporkan
penemuan tersebut ke Departemen ESDM. Selain itu, pihaknya sudah memberikan tembusan yang ditindaklanjuti Pertamina dengan mengirimkan letter of intent
kerja sama untuk menindaklanjuti temuan tersebut. "Kami harap semua pihak
terkait bisa cepat merespons temuan ini. Sehingga bisa segera
ditindaklanjuti, " ujarnya.

BPPT juga telah menyiapkan satu kapal riset yang dilengkapi alat khusus
seismik untuk meneliti lebih lanjut dan telah meminta kepada pemerintah
untuk mengamankan daerah perairan barat Aceh tersebut. (owi/kim)

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ

[Non-text portions of this message have been removed]


__._,_.___
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar
Moderators:
Budhi Setiawan '91 <[EMAIL PROTECTED]>
Edi Suwandi Utoro '92 <[EMAIL PROTECTED]>
Sandiaji '94 <[EMAIL PROTECTED]>
Wanasherpa '97 <[EMAIL PROTECTED]>
Satya '2000 <[EMAIL PROTECTED]>
Andri'2004 <[EMAIL PROTECTED]>

Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity
2New Members
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart
Sign up today!
Find great recruits
for your company.
Y! Messenger
Group get-together
Host a free online
conference on IM.
Y! Groups blog
the best source
for the latest
scoop on Groups..
__,_._,___




Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.


-----Inline Attachment Follows-----

_______________________________________________
Pertemuan Ilmiah Tahunan HAGI ke-33
_______________________________________________
The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
[EMAIL PROTECTED]
www.hagi.or.id



____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs




----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.

---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke