Maaf rekans, masih menambah sedikit info lagi nih.
Peta Isostatic gravity yang diproses menjadi Horizontal derivation
gravity dari daerah sekitar Pulau Simaleu sampai lokasi Arun Field yang
umumnya dataran rendah memang tampak beberapa paleohigh yang cukup
menarik.
Dengan membandingkan paleohigh yang ditempati oleh Arun field dengan
kontras density yang cukup kuat dan membentuk lingkaran kecil yang
dikelilingi low density kontras yang cukup luas (Lho-Sukon sub basin),
ternyata di sekitar pulau Simeulue terdapat beberapa indikasi paleohigh
yang ukurannya ada yang sama dan ada yang lebih besar dari paleo-high
Arun Field. Teramati ada 4 paleohigh.
Problem yang tampak dari HDR gravity tersebut, tidak meluasnya
penyebaran low density contras batuan yang umumnya mencirikan adanya
cekungan-cekungan besar di sekitar pulau Simaleu itu. Yang ada hanya
indikasi cekungan kecil kecil diantara paleo ridge yang berarah 90N.
EGS.
-----Original Message-----
From: yanto salim [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, 18 February, 2008 5:13 PM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Trs: [Forsino-Nusantara] Lapangan Migas Raksasa di
Aceh.
hanya meneruskan beritqa dari Jawa Pos.
----- Pesan Diteruskan ----
Dari: bambang kuntjoro <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Senin, 18 Febuari, 2008 7:25:27
Topik: [Forsino-Nusantara] Lapangan Migas Raksasa di Aceh.
Bagi yang belum membaca dan sulit mengakses beritanya di Jawa Pos, saya
sampaikan berikut dibawah ini.
BPPT: Lebih Besar dari Milik Arab Saudi
JAKARTA - Bencana dahsyat tsunami di Aceh 26 Desember 2004 memunculkan
berkah tak terduga empat tahun kemudian. Berawal dari studi pascagempa
tsunami di perairan barat Sumatera, Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT) kemarin (11/2) mempublikasikan temuan blok dengan
potensi kandungan migas raksasa.
Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf
Surahman mengatakan, Survei BPPT bersama Bundesanspalp fur
Geowissnschaften und Rohftoffe (BGR Jerman) itu menemukan kawasan
perairan yang di dalam buminya diperkirakan terkandung migas 107,5
hingga 320,79 miliar barel. Lapangan migas tersebut terletak di daerah
cekungan busur muka atau fore arc basin perairan timur laut Pulau
Simeuleu, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). "Kandungan migas itu luar
biasa besar," ujar Yusuf di Kantor BPPT Jakarta kemarin (11/2).
Sebagai perbandingan untuk menunjukkan besarnya kandungan migas di Aceh
tersebut, Yusuf menyebutkan, saat ini cadangan terbukti di Arab Saudi
mencapai 264,21 miliar barel atau hanya 80 persen dari kandungan migas
di Aceh. Sementara itu, cadangan Lapangan Banyu Urip di Cepu
diperkirakan hanya 450 juta barel. Lapangan migas dapat dikategorikan
raksasa atau giant field jika cadangan terhitungnya lebih dari 500 juta
barel.
Menurut Yusuf, angka potensi tersebut didapat dari hitungan porositas 30
persen. Artinya, diasumsikan hanya 30 persen dari volume cekungan batuan
itu yang mengandung migas. Meski demikian, lanjut dia, belum tentu
seluruh cekungan tersebut diisi hidrokarbon yang merupakan unsur
pembentuk minyak. "Karena itu, penemuan ini perlu kajian lebih lanjut,"
katanya.Dia menyatakan, meski belum diketahui secara pasti, salah satu
indikasi awal keberadaan migas di cekungan tersebut dapat dilihat dari
adanya carbonate build ups sebagai reservoir atau penampung minyak serta
bright spot yang merupakan indikasi adanya gas.
Sejauh ini, lanjut Yusuf, Tim BPPT optimistis perairan timur laut Pulau
Simeuleu mengandung migas skala raksasa. Sebab, beberapa daerah yang
memiliki karakteristik sama sudah terbukti mengandung migas. Di
antaranya, di wilayah Myanmar, Andaman, serta California, AS.Meski
demikian, BPPT akan tetap membuat perhitungan realistis. Menurut Yusuf,
jika porositas diperkecil menjadi 15 persen, artinya diasumsikan hanya
15 persen dari volume cekungan yang mengandung migas, angka minimal
cadangannya masih 53,7 miliar barel. "Tetap saja angka itu masih sangat
besar," terangnya.Penemuan BPPT tersebut mendapat tanggapan positif dari
ahli geologi perminyakan Andang Bachtiar yang kemarin juga hadir di
Kantor BPPT. Chairman PT Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) itu
mengatakan, wilayah perairan Indonesia memang memiliki banyak cekungan
atau basin yang berpotensi mengandung migas. "Banyak di antaranya yang
belum teridentifikasi," ujarnya.Hingga saat ini, kata
dia, sudah ada 66 cekungan plus 6 cekungan fore arc basin yang
teridentifikasi berisi minyak. Pada 2003, lanjut dia, Ikatan Ahli
Geologi Indonesia (IAGI) berhasil mengidentifikasi hipotesis cadangan
gas sebesar 26,7 triliun kaki kubik (TCF) yang tersebar di beberapa
wilayah. "Kebanyakan memang berada di sebelah barat Sumatera,"
terangnya.
Terkait dengan penemuan BPPT itu, Andang menyatakan masih perlu kajian
lebih lanjut untuk bisa mendekati hitungan berapa besar cadangan
terbuktinya. Menurut dia, lokasi studi seismik 2D yang dilakukan BPPT
dengan interval jarak 60 km masih terlalu longgar. "Harus lebih rapat
lagi, paling tidak intervalnya 20 km," katanya.
Karena itu, lanjut dia, BPPT harus segera berkoordinasi dengan
pemerintah untuk segera menindaklanjuti temuan tersebut. Sebab, untuk
mengkaji lebih teliti, dibutuhkan dana cukup besar.
Dia menyebut, untuk proses studi seismik 2D yang lebih rapat, dibutuhkan
dana sekitar USD 7 juta. Kemudian, untuk mengetahui angka cadangan
migas, perlu dilakukan minimal 14 pengeboran sumur di 14 titik cekungan.
Biaya pengeboran satu sumur, lanjut alumnus Colorado School of Mines,
AS, itu, sekitar USD 30 juta. Dengan demikian, minimal dibutuhkan dana
USD 427 juta. "Itu baru untuk studi eksplorasi. Untuk pengembangan
lapangan, jumlahnya jauh lebih besar," jelasnya.
Andang menambahkan, yang saat ini harus segera dilakukan BPPT dan
pemerintah adalah koordinasi. Menurut dia, meskipun lapangan migas
tersebut paling cepat baru dapat dikembangkan dalam waktu tujuh tahun ke
depan, pemerintah harus bergerak cepat. "Jangan sampai potensi ini salah
urus," tegasnya.
Dia mengatakan, karakter lapangan yang berada di laut dalam (kedalaman
lebih dari 200 meter) jelas membutuhkan dana besar dan teknologi tinggi
yang belum tentu dimiliki Pertamina selaku perusahaan nasional. Meski
demikian, lanjut dia, jangan sampai tersebarnya informasi potensi
tersebut justru dimanfaatkan pihak-pihak yang punya modal besar dan
teknologi, yakni perusahaan asing. "Intinya, pemerintah harus berusaha
agar potensi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan
bangsa," jelasnya.
Terkait dengan hal itu, Kepala BPPT Said Jenie menyatakan sudah
melaporkan penemuan tersebut ke Departemen ESDM. Selain itu, pihaknya
sudah memberikan tembusan yang ditindaklanjuti Pertamina dengan
mengirimkan letter of intent kerja sama untuk menindaklanjuti temuan
tersebut. "Kami harap semua pihak terkait bisa cepat merespons temuan
ini. Sehingga bisa segera ditindaklanjuti," ujarnya.
BPPT juga telah menyiapkan satu kapal riset yang dilengkapi alat khusus
seismik untuk meneliti lebih lanjut dan telah meminta kepada pemerintah
untuk mengamankan daerah perairan barat Aceh tersebut. (owi/kim)
Sumber : Jawa Pos
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo!
Search.
__._,_.___
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members |
Calendar
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch
format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent
Activity
21New Photos
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart
Sign up today!
Be a career mentor
for undergrads.
Y! Messenger
Send pics quick
Share photos while
you IM friends.
Best of Y! Groups
Discover groups
that are the best
of their class..
__,_._,___
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
DISCLAIMER : This e-mail and any files transmitted with it ("Message") is
intended only for the use of the recipient(s) named above and may contain
confidential information. You are hereby notified that the taking of any
action in reliance upon, or any review, retransmission, dissemination,
distribution, printing or copying of this Message or any part thereof by
anyone other than the intended recipient(s) is strictly prohibited. If
you have received this Message in error, you should delete this Message
immediately and advise the sender by return e-mail. Opinions, conclusions
and other information in this Message that do not relate to the official
business of PETRONAS or its Group of Companies shall be understood as
neither given nor endorsed by PETRONAS or any of the companies within the
Group.
----------------------------------------------------------------------------
CALONKAN DIRI ANDA SEBAGAI KETUA UMUM IAGI 2008-2011 !!!!!
PENDAFTARAN CALON KETUA 13 FEB S/D 6 JUNI 2008
PENGHITUNGAN SUARA: PIT IAGI 37 DI BANDUNG
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event
shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to
direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with
the use of any information posted on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------