Barang siapa geologist yang pernah melihat atau membaca peta cuaca, maka akan 
takjublah ia sebab simbol2 yang biasa digunakan dalam tektonik muncul juga di 
peta cuaca dan ternyata menggambarkan hal yang sama; bedanya, di geologi massa 
litosfer di meteorologi massa udara. Massa udara pun dibagi menjadi massa udara 
kontinental dana massa udara maritim, cukup kalau mau kita bandingkan dengan 
kerak benua dan kerak samudera. Massa udara pun bisa subducted bisa obducted, 
untuk itu digunakan simbol2 yang biasa digunakan dalam tektonik.

Keduanya bertemu di Indonesia, sebuah negeri yang sangat unik dalam banyak 
ilmu. Indonesia adalah wilayah yang dikepung oleh lempeng-lempeng besar yang 
saling berkonvergen. Untuk hal ini, saya tak akan membicarakannya lebih jauh. 
Kali ini saya akan membicarakan keunikan massa udara di atas Indonesia, coba 
kita lihat, dunia tak nampak ini sangat mirip dunia kita (geologi) sehari-hari.

Ceritanya dimulai dari hujan lebat di wilayah Indonesia dan negeri-negeri 
tropis lainnya. Hujan lebat ini pada umumnya disebabkan konvergensi angin pasat 
yang berasal dari kedua belahan bumi utara dan selatan. Hujan lebat ini terjadi 
di sepanjang Zone Konvergensi Inter-Tropis (ZKIT) yang bergerak ke sebelah 
utara dan ke selatan ekuator mengikuti gerakan Matahari.

ZKIT merupakan daerah sumber energi yang menggerakkan sirkulasi umum di dalam 
atmosfer tropis melalui panas laten kondensasi yang dilepaskan. Sebagian energi 
yang dibebaskan oleh kondensasi pada bagian atas ZKIT, dibawa ke arah kutub 
sebagai energi potensial yang kemudian diubah menjadi energi panas, terutama 
oleh subsidensi di sekitar 30 derajat LU dan LS. Subsidensi partikel udara 
inilah yang mengakibatkan kekurangan hujan pada zone yang dibatasi garis 
lintang 30 derajat LU dan LS sehingga pada wilayah ini terjadi gurun-gurun 
subtropis. Sirkulasi udara semacam ini disebut Sirkulasi Hadley. Bandingkan 
dengan gerak sirkulasi arus konveksi di astenosfer, yang naik di pematang 
tengah samudra dan turun di zone penunjaman kerak samudera.

Di wilayah Indonesia, pita ZKIT bergeser ke selatan ekuator pada bulan-bulan 
Desember-Februari, sedangkan ia bergeser ke utara ekuator pada bulan-bulan 
Juni-Agustus. Maka, hujan-hujan di Jawa akan lebih sering pada 
Desember-Februari; sedangkan  hujan-hujan di Sumatra Utara atau Kalimantan 
sebelah utara akan lebih sering pada bulan-bulan Juni-Agustus.

Mengapa ZKIT membawa banyak hujan ? Ini berhubungan dengan terjadinya 
konvergensi massa udara yang dalam bahasa meteorologi disebut "front". Front 
adalah batas pertemuan dua massa udara yang mempunyai sifat fisik (temperatur, 
tekanan, densitas) yang berbeda. Pertemuan dua massa udara ini bila 
diproyeksikan ke dalam peta akan digambarkan sebagai sebuah garis atau kurva. 
Bayangkan sebuah garis atau kurva konvergensi lempeng baik berupa subduction 
maupun collision. Seperti halnya pertemuan subduction, garis front tidak lurus 
vertikal dari tanah ke atas, melainkan berupa bidang miring (bandingkan dengan 
bidang miring subduction yaitu zone Wadati-Benioff). Pada bidang miring front 
ini ia terbalik dengan zone Wadati-Benioff, kalau zone Wadati-Benioff miring 
masuk ke dalam mantel, maka bidang miring front miring naik ke langit. Pada 
suatu front, massa udara panas akan naik di atas massa udara yang lebih dingin. 
Udara dingin punya densitas lebih besar dibandingkan udara panas (bandingkan 
dengan kerak samudera yang densitasnya lebih berat dibandingkan kerak benua, 
maka kerak samudera akan menyusup di bawah kerak benua; persis seperti massa 
udara dingin menyusup di bawah massa udara panas). Hal yang menarik, "front 
dingin" ini digambarkan persis simbolnya seperti simbol subduction, yaitu kurva 
bergerigi.

Dalam suatu front atau konvergensi massa udara, udara mengalami deformasi 
kompresi (bandingkan dengan deformasi yang terjadi di prisma akresi pada zone 
konvergensi lempeng). Tahap-tahap deformasinya biasa dibagi ke dalam empat 
tingkat :


 1.  tingkat normal : udara kutub  dari utara dan udara tropis dari selatan 
saling bertemu.
 2.  tingkat deformasi : suatu putaran udara terjadi, arahnya berlawanan jarum 
jam di belahan utara dan searah jarum jam di sebelah selatan.
 3.  tingkat deformasi frontal : bidang front (diskontinuitas) terdeformasi 
kuat, massa udara terbelah, udara panas terjepit di antara udara dingin, udara 
dingin menunjam di bawah udara panas, udara panas naik ke langit yang lebih 
tinggi dalam bidang miring; di sepanjang bidang front panas akan terbentuk 
awan-awan cirrus, altostratus, dan altocumulus; di sepanjang bidang front 
dingin (selalu ada dua "subduksi" massa udara karena udara panas terjepit di 
antara dua massa udara dingin - bandingkan dengan dua subduction berlawanan 
seperti di Laut Maluku yang mengangkat Sangihe-Talaud di tengah) udara panas 
bersinggungan dengan udara dingin menyebabkannya tidak stabil sehingga udara 
panas naik dengan cepat dan menumbuhkan awan-awan konvektif cumulus, cumulus 
congestus, dan cumulonimbus. Front dingin ini terkenal menyebabkan hujan lebat, 
badai guruh, dan hujan es.
 4.  tingkat occlusion : front dingin akan bergerak lebih cepat dibandingkan 
front panas, front dingin akan mengejar front panas, dan menutup jalannya 
dengan cara menyatukan kedua front yang akhirnya akan kabur kemudian mati 
(occlusion).

Di mana lokasi front ? Di palung tekanan rendah (bandingkan dengan palung 
depresi pada konvergensi tektonik). Kalau siklus Wilson dalam tektonik lempeng 
bisa berumur puluhan-ratusan juta tahun, maka siklus front dari lahir sampai 
matinya hanya perlu waktu 3-7 hari.

Mengapa saya tiba-tiba menulis soal cuaca yang dihubungkan dengan geologi ini ? 
Sudah lama sebenarnya saya ingin menuliskannya setelah lama mengamati peta2 
cuaca; tetapi baru kemarin saya membaca berita di harian Bisnis Jakarta tentang 
cuaca di atas Selat Sunda yang berubah tenang, dijelaskan oleh BMG penyebabnya 
adalah karena bergeraknya zone konvergensi di atas Selat Sunda ke arah 
Bangka-Belitung.

Nah, begitulah; udara atau astenosfer sama-sama fluida (astenosfer "fluida" 
dalam arti terbatas), maka mereka pun mengikuti hukum-hukum dinamika yang 
berlaku di sistem Bumi (Earth system).

Indonesia : where two worlds collide.

Salam,
awang








Kirim email ke